Only One Perso ~Part 1 (FanFic by Rinchunn)

Author : Rinchunn (@elfrinn)

Tag : Super Junior, Cho Kyuhyun

Part : 1

Judul : Only One Person

**

Kyuhyun menghentakkan kakinya kesal saat menaiki sebuah mobil van yang biasa membawa separuh dari Super Junior pergi. Diapun menghempaskan tubuhnya yang terlihat benar-benar kelelahan di sebuah bangku di tengah, dia mengambil posisi itu agar tidak memiliki teman sebangku karena saat ini dia sedang ingin sendiri. Sedangkan bangku tersebut adalah bangku kesayangan Eunkyuk. Eunhyuk menatap Kyuhyun, dan sedari tadi hanya berdiri di luar dengan tangan yang dilipatkan di dadanya.

“Sedang apa kau? Kenapa tidak masuk?” hentakan suara dari seorang manajer yang terlihat kelimpungan membawa beberapa tas yang berdiri tepat di belakang Eunhyuk, membuat Eunhyuk tersadar bahwa dirinya sedang mengganggu jalan si manajer. Mengerti kalau dia nyaris membuat masalah dengan manajernya, diapun memilih menyingkir dari jalan itu dan mendengus pelan, bahkan nyaris berbisik di telinga manajer yang bernama Kim Jonghoon.

“Dia mengambil kursiku.” Bisik Eunhyuk. Tatapannya menatap Kyuhyun dengan wajah kesal, tetapi dia sendiri tidak berani angkat bicara langsung pada sang magnae. Manajer Kim yang melihat arah tatapan Eunhyuk, hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya pelan.

“Aku sedang tidak ingin meneriaki siapapun hanya karena masalah kecil. Dan kurasa kau bisa mengerti bukan?” jawab Manajer Kim santai dan melanjutkan pekerjaannya menaruh beberapa tas dan perlatan lainnya di dalam van. Dia menatap Kyuhyun yang terlihat begitu nyaman terlelap dengan duduk di bangku kesayangan Eunhyuk. Setelah merapikan beberapa barang, manajer Kim bersiap untuk mengecek para member di van yang satunya. Tetapi saat dia mulai berjalan mundur, dia menyadari bahwa di dalam van yang barusan dinaikinya, tidak ada Eunhyuk.

“Kyuhyun, Ryeowook, Yesung. Kenapa hanya ada kalian bertiga?” kata manajer Kim keheranan. Dia keluar dari van dan mencari Eunhyuk yang entah berada dimana sekarang, matanya mengelilingi seluruh parkiran dan tidak mendapatinya.

“Dia ada di van bersama Leeteuk Hyung.” Teriakan Ryewook menyadarkan pencarian manajer Kim yang sedari tadi tatapannya mencari kesetiap sudut parkiran ini. Pandangannya teralihkan pada mobil yang ada dihadapannya. Kim Ryeowook, membuka kaca jendela van dan memberikan isyarat bahwa semua baik-baik saja.

“Benarkah? Oh baiklah, lebih baik kita segera pulang. Dan kalian harus istirahat sebaik mungkin besok.” Ucap Manajer Kim. Diapun masuk kedalam mobil van itu, dan duduk di seberang Kyuhyun yang terlihat sudah terlelap karena sangat kelelahan. Tak berapa lama berselang, mesin mobilpun dihidupkan. Dan perjalanan pulang mereka terjadi dalam keheningan. Dan tak lama kemudian, Yesung membuka pembicaraan sambil menatap Kyuhyun dengan wajah sedih.

“Seandainya tubuhnya seperti Leeteuk Hyung yang selalu tahan banting dan secerewet Eunhyuk, kurasa dia akan baik-baik saja.” Ucap Yesung sedari tadi mengutak-atik ponselnya.

“Kau salah, kurasa diantara kita justru dialah yang lebih lama hidupnya daripada kita, karena dia selalu saja selamat dari ‘kematian’.” Ucap Ryewook bangga, walaupun sedikit ngeri di matanya saat mengatakan kalimat itu.

“Hentikan, aku mendengar semuanya.” Bentak Kyuhyun tiba-tiba. Matanya masih tertutup dan dia tak bergeming sama sekali dari posisinya. Semua member yang ada disana menelan ludah pelan, merasa tidak enak dengan percakapan barusan.

Akhirnya Kyuhyun membuka matanya perlahan, dan menatap manajer Kim yang ada di sebelahnya dengan tatapan kesal, dan melanjutkan menatap Yesung dan Ryewook yang duduk di belakang dengan posisi yang berjauhan.

“Sebagai gantinya, kalian harus memberikan waktu istirahatku lebih banyak dari kalian. Dan kau Hyung, aku harap kau membantuku untuk mengatakan pada Leeteuk hyung bahwa aku baik-baik saja, tidak usah menganggapku seperti bayi yang baru lahir.” Ucap Kyuhyun menatap manajer Kim yang hanya diam di sebelahnya.

“Terserah kau saja, asalkan kau menjaga tubuhmu sampai kau mendapatkan waktu liburmu kembali. Kau membuang-buang waktu liburmu hanya karena seoarang gadis.” Kata manajer Kim mengejek Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun yang mendengarnya, langsung menengadahkan kepalanya, menatap tajam laki-laki yang ada di seberangnya.

“Jangan bawa-bawa yeoja dalam pekerjaan.” Kata Kyuhyun membela diri. Sedangkan Yesung yang dari tadi tidak ambil suara, langsung membuka mulutnya yang sedari tadi ditahan karena tidak ingin mendapat masalah dari si manajer. Yesung berdiri dan menopang dagu dengan tangannya yang bersandar di puncak bangku tempat Kyuhyun bersandar.

“Perjanjiannya memang tidak ada yeoja dalam kehidupan Super Junior.” Kata Yesung dengan tatapan penuh makna pada Kyuhyun, Yesung memain-mainkan rambut Kyuhyun dengan menggulungnya menjadi kecil dan diputar-putar. Kyuhyun yang merasa tidak nyaman dengan perlakuan Yesung, memajukan badannya kedepan dan membalikkan badannya menghadap Lead vocal 1 di Super Junior itu.

“Jangan mencari-cari kesalahanku kalau kau sendiri berpacaran seperti Donghae dan Siwon!” teriak Kyuhyun kesal. Yesung menghemuskan nafas panjang, seolah pasrah dengan perkataan Kyuhyun. Yesung memutar mata sebentar dan menatap manajer Kim.

“Apa peraturan itu tak bisa sedikit lunak?” ucap Yesung dengan mata memohon lemas pada manajer Kim. Sedangkan manajer Kim pura-pura tidak memperhatikan Yesung, padahal dia mendengarkan semua pembicaraan mereka sedari tadi.

“Sudahlah, aku mendukung siapapun yang berpacaran, asalkan tidak ketahuan media dan penggemar.” Kata Kyuhyun santai. Diapun membalikkan badannya kedepan dan memasang headset dan menyalakan ipod kesayangannya.

“Kau berkata seperti itu karena kau ingin mempunyai pacar. Padahal gadis yang kau sukai itu tidak menyukaimu.” Kata Ryeowook pelan, perkataannya sangat menusuk Kyuhyun. Kyuhyun yang mendengarnya, mencoba mempertahankan emosinya agar tidak terbawa. Dia menahannya sendiri, melawan kelemut dalam hatinya.

“Kita lihat saja nanti, apakah Super Junior akan menjadi grup yang separuh dari membernya mempunyai pacar. Bukankah begitu Kyuhyun?” ucap Yesung dengan nada penuh mengejek.

Yesung kesal, karena perkataan Kyuhyun yang sangat terus terang di sebuah acara tv yang mengatakan bahwa separuh dari member yang dating di acara itu telah memiliki pacar. Kurang dari separuh, yang berarti empat member. Yah, Donghae, Siwon, Yesung dan Sungmin. Mereka berempat langsung menghajar Kyuhyun dengan berbagai macam ancaman agar Kyuhyun tidak mencoba membuka identitas pacar mereka. Mereka juga mendapat peringatan keras dari pihak direksi, karena dengan adanya pernyataan Kyuhyun tersebut membuat penggemar dan media bertanya-tanya.

“Terimakasih atas perhatiaanmu Hyung, karena aku juga tak akan menyerah mendapatkannya.” Kata Kyuhyun pelan, walaupun nada suaranya parau karena dia kelelahan dan juga karena memikirkan gadis itu.

**

“Mau kemana kau?” Tanya Sungmin pada Kyuhyun yang terlihat rapi, bahkan nyaris berlebihan. Kyuhyun memakai blazer hitam terbaiknya, sepatu kets hijau kesayangannya dan kaos putih dengan kerah V-neck yang jarang dipakainya karena dia tidak suka jika bagian dadanya terlalu terekspose. Tetapi, Kyuhyun yang ada dihadapan Sungmin terlihat begitu menikmati pakaian yang menempel di badannya.

“Seperti biasa, aku ingin melepaskan penatku di taman.” Jawab Kyuhyun dengan singgungan pelan. Sungmin yang mendengar perkataannya langung meninggalkan kamarnya, seolah jijik dengan perkataan Kyuhyun.

“Ya! Apa salah jika ingin melepaskan penat?” hardik Kyuhyun pada Sungmin, sayangnya Sungmin tidak menanggapi perkataan Kyuhyun sama sekali. Dan Kyuhyunpun tidak ambil pusing dengan itu. Kyuhyun mengambil sebotol parfum kesukaannya. Tiba-tiba dia mengerutkan dahinya pelan.

Mwo? Kenapa bisa habis?” kata Kyuhyun panik. Diapun mengeram dan melangkahkan kakinya keluar kamar. Mendapati Eunhyuk dan Sungmin sedang duduk di kursi mereka.

“Siapa yang menghabiskan parfumku?” teriak Kyuhyun mengisi seluruh ruangan. Sungmin menengadahkan kepalanya sedangkan Eunhyuk langsung mengambil remot tv dan mengganti saluran tv tiba-tiba.

“Siapa lagi kalau bukan kau sendiri?” jawab Sungmin santai. Dia membalikkan kepalanya pada tv dan menyadari kalau saluran tv berubah. Pandangannya menghadap Eunhyuk yang terlihat panik dan tegang. Tangannya masih memegang remot tv.

“Kenapa salurannya diganti?” bentak Sungmin. Eunhyuk pun mengembalikan saluran tv kembali seperti semula.

“Lantas, kenapa bisa habis? Aku tidak pernah memakai parfumku secara berlebihan. Dan semua tau itu.” Kata Kyuhyun kesal. Diapun mengacak rambutnya yang sudah tertata rapi.

“Buka saja hadiah penggemarmu, kalau tidak salah saat itu ada yang memberikanmu parfum yang sama dengan milikmu. Kutaruh di dalam laciku, ambil saja.” Kata Sungmin santai. Mata Kyuhyun langsung bersinar terang saat mendengar perkataan Sungmin. Apa selalu seperti itu? Entahlah, pasti Kyuhyun terlalu sempurna untuk melewatkan sebuah parfum mahal kesayangannya. Kyuhyun kembali masuk kekamarnya dengan senyum yang mengambang di bibirnya. Sedangkan Eunhyuk terlihat lega saat menyadari Kyuhyun tidak mencoba mencari lebih jauh penyebab parfumnya habis tiba-tiba.

“Kau sudah berhutang padaku.” Kata Sungmin, tatapannya menghadap Eunhyuk. Sedangkan Eunhyuk memandangnya dengan tatapan panik.

“Aku tidak pernah merasa memiliki hutang pada siapapun.” Kata Eunhyuk ragu.

“Dan kurasa kau barusan saja berhutang padaku, bahkan berhutang sebuah laptop padaku.” Kata Sungmin dengan mata penuh menyelidik.

“Ya!! Laptop? Aku bahkan tidak pernah merusakkan laptopmu!” teriak Eunhyuk tiba-tiba. Dia merasa ketakutan kalau laptop berisi video kesayangannya terancam hilang dan lenyap.

“Bukan laptopku yang kau rusakkan. Tapi kau kuselamatkan dari seorang maniak game yang akan menghancurkan sebuah laptopmu yang berisi seluruh koleksi yadong jika kau menggagalkan rencana yang sudah dia susun rapi selama dua minggu, hanya karena sebuah parfum.” Kata Sungmin, bahkan dia melebih-lebihkan nada bicaranya agar menakut-nakuti Eunhyuk yang terlihat menelan ludah saat itu.

“Aku tidak mengerti maksudmu.” Jawab Eunhyuk. Dia membuang matanya menghadap tv, tetapi pikirannya tidak dia berada disana. Sungmin berhasil membaca situasi, dan diapun tersenyum simpul. Dia memiliki rencana hebat untuk memanfaatkan situasi ini. Anggap saja itu sebuah hutang piutang yang akan berguna di masa yang akan datang. Sungminpun mendekatkan diri pada Eunhyuk, dan berbisik pelan di telinganya.

“Aku tau tadi pagi kau menukar botol parfum Kyuhyun dengan botol kosong yang tadi dia bawa dihadapan kita.” Kata Sungmin. Eunhyuk yang mendengar perkataan Sungmin, langsung meloncat panik kedepan sofa dan membelakangi tv.

Mwo? Kau melihatnya?” teriak Eunhyuk.

“Kalau kau tidak ingin dia mendengarnya, segera pelankan suaramu dan duduklah kembali disini!” Bentak Sungmin. Eunhyuk menuruti perkataan Sungmin. Dia kembali duduk dan menghadap Sungmin dengan tatapan takut dan ragu.

“Aku harap kau tidak mengadukannya pada yang lain, termasuk Kyuhyun.” Ucap Eunhyuk cemas. Sungmin tersenyum girang mendengar perkataan Eunhyuk dan menepuk pundaknya secara reflek.

“Kau bisa percaya itu. Ah, dan kurasa kau harus segera melupakan rasa kesalmu kemarin karena dia telah mengambil kursi kesayanganmu di van. Karena melihat kondisi badannya yang sedang tidak fit, kurasa semua orang akan membelanya. Sekalipun Kyuhyun menghancurkan dorm, semua orang pasti akan memaafkannya jika dia tidak enak badan, seperti kemarin.” Kata Sungmin.

“Aku tau itu, karena itu aku mohon bantuanmu.” Kata Eunhyuk lemas. Eunhyuk memang menyembunyikan parfum Kyuhyun agar bisa membalas perbuatannya kemarin karena telah mengambil kursi kesayangannya. Tapi dia tak menyangka kalau hari ini adalah hari penting bagi Kyuhyun.

“Dan ini tidak gratis, mulutku akan terkunci sempura. Dan sekali lagi, ini tidak akan pernah gratis.” Kata Sungmin dengan penuh ejekan di matanya. Eunhyuk membuang muka kearah manapun asalkan itu bukan Sungmin dan mengambil bantal duduk yang ada di sampingnya. Eunhyuk berdiri dan melemparkan bantal itu tepat di wajah Sungmin.

“Aku tau itu tidak akan pernah gratis!” teriak Eunhyuk dan dia berlari menuju kamarnya dan menutup pintu saat itu pula.

“Ya!! Lee Hyukjae!!” teriak Sungmin yang jatuh kelantai karena kekuatan lemparan bantal Eunhyuk menggoyangkan posisi duduknya yang tidak kokoh di atas sofa. Sungmin pun mengeram pelan dan menaiki sofa dengan pikiran melayang kemana-mana, seakan membayangkan apa imbalan yang akan didapatkannya atas tutup mulutnya.

**

Kyuhyun duduk di sebuah bangku taman yang tidak terlalu panjang. Taman itu sendiri tidak terlalu jauh jika dijangkau dengan berjalan kaki dari arah Dorm mereka. Taman yang cukup sepi, dan cukup untuk menghilangkan penat Kyuhyun selama lima tahun belakangan ini. Kyuhyun selalu berkeluh kesah dalam hati sambil duduk di bangku taman dan memejamkan mata di balik kacamata hitamnya. Terkadang diapun bisa tersenyum di balik masker yang dia kenakan saat melihat beberapa pemandangan bagus dihadapannya.

“Aah, dingin sekali.” Ucap Kyuhyun pelan. Diapun menggosokkan tangannya yang tidak memakai sarung tangan. Walaupun dari atas sampai bawah pakaiannya telah menggunakan pakaian hangat, tapi tetap saja dia terlalu gengsi jika harus memakai sarung tangan.

Kyuhyun menunggu dan terus menunggu. Bahkan dia tidak tau harus sampai kapan dia akan menunggu disana. Mungkin memang seperti inilah kegiatan menghilangkan penatnya. Pernah suatu ketika, Sungmin diajak ikut menghilangkan penat bersama Kyuhyun disini. Sayangnya Sungmin tidak tahan, karena tidak ada yang bisa dilakukannya disini. Taman ini terlalu sepi menurut Sungmin. Tapi entah kenapa, Kyuhyun menganggap taman yang sepi ini adalah sebuah kedamaian.

Kyuhyun menyunggingkan bibirnya tiba-tiba, mengingat pertemuan yang terjadi dengan seorang gadis, gadis yang saat itu masih berstatus siswa SMA tepatnya. Gadis yang selalu membuatnya menunggu di taman ini seperti orang gila. Gadis yang tidak pernah mengetahui perasaan Kyuhyun. Dan gadis yang bisa mengambil hati Kyuhyun, lima tahun yang lalu.

Flashback

Aku duduk di sebuah taman yang tak jauh dari dorm, taman yang cukup damai. Dimana orang tidak banyak berlalu lalang mengitariku dan ingin melihat wajahku dari dekat. Taman yang cukup strategis menurutku, karena aku bisa berlari sampai ketempat ini kapanpun aku mau. Sayangnya, tidak ada yang pernah tau jika tempat ini adalah tempat favoritku semenjak masuk menjadi Super Junior. Yah itulah sumber masalahku.

Super Junior. Semua karena hal itu. Menjadi seorang member terakhir, dimusuhi beberapa member, sangat menyakitkan. Seberapapun aku mencoba untuk tersenyum dan sabar dihadapan mereka, tapi tetap saja hati ini terasa ingin berteriak. Walaupun di tempat ini aku tidak bisa berteriak, tetapi rasanya bisa melegakan hati. Aku tidak pintar untuk mengungkapkan berbagai macam kata untuk menggambarkannya. Hanya saja, tempat ini begitu mistis bagiku. Seluruh emosi yang ada di dalam hati dan kepalaku, hilang entah kemana saat kakiku menginjakkan taman ini.

“Hei Ahjussi”, ujar seseorang tiba-tiba. Mataku menangkap arah suara dan kudapati seorang gadis sedang menatapku heran. Gadis itu duduk di bangku seberangku, jarak kami tidak terlalu jauh karena bangku yang kami duduki hanya berkapasitas dua orang.

Siapa dia? tanyaku pelan dalam hati. Gadis itu memandangku dengan tatapan aneh. Tapi tak lama dia mencoba tersenyum.

“Udara sangat bagus, kenapa menggunakan masker?” tanyanya dengan tersenyum.

“Lihat? Bagus bukan? Nafasku begitu lega.” Lanjutnya lagi, sesekali dia mengambil nafas panjang seolah ingin memperlihatkan betapa bagusnya udara saat ini. Dan kurasa dia benar, udara begitu bagus. Dan sangat sayang jika tidak menghirupnya tanpa menggunakan masker. Reflek tangankupun meraih tali masker yang menempel di telingaku, tapi tiba-tiba gerakan tanganku tertahan. Bukankah aku adalah artis? Bagaimana jika dia mengenaliku dan terjadi keributan?

Mwo? Kenapa tidak jadi dilepas?” tanyanya lagi, akupun tersenyum simpul dbalik maskerku. Sebaiknya tidak kulepas, bisikku dalam hati.

“Yasudahalah, terserah kau saja.” Ucap gadis itu. Diapun berdiri dari tempat duduknya dan beranjak pergi.

Annyeong. Mianhanmida telah mengganggumu.” Ucapnya pelan. Dan dia membungkuk pelan dan meninggalkanku tanpa pernah kuucapkan sepatah katapun dari tadi. Apa benar ini baik-baik saja? Apa aku sangat jahat? Ah sudahlah, toh dia sendiri yang pergi meninggalkanku.

….

Sehari kemudian, akupun kembali ketempat itu, kali ini penyamaranku tidak selengkap kemarin karena hanya menggunakan masker untuk menutupi sebagian wajahku. Tetapi kali ini gadis itu sudah ada disana. Duduk di bangku seperti kemarin dengan pakaian yang berbeda dari kemarin. Kemarin dia memakai baju seragam sekolah, sekarang dia memakai baju santai. Dari arahku, bisa kulihat aura kecantikan dan kebaikan hatinya. Gadis itu sedang duduk dan membaca buku, entah buku apa. Sesekali dia mengutak-atik sebuah kalkulator yang ada di pahanya.

Gadis itu tidak menyadari keberadaanku yang akan duduk di bangku sampingnya, dia terlihat serius membaca dan sesekali mengutak-atik kalkulatornya lagi. Sedang apa sebenarnya dia? Mataku terasa gatal untuk tidak menatapnya, menatap segala aktifitasnya.

“Aaargh!! Kenapa susah sekali?” teriaknya pelan dengan tangan di kepalanya. Dia terlihat begitu frustasi. Tanpa sengaja kalkulatornya jatuh kedekat kakiku. Dan tentu saja harus kupungut bukan? Kupungut kalkulator itu dengan hati-hati dan memberikan benda itu pada gadis yang ada di sampingku ini. Saat mata kami bertemu, dia terlihat begitu tegang dan sedikit malu.

“Ah, Kamshahamnida!” teriaknya. Diapun membungkuk kikuk dihadapanku dan mengambil kalkulator yang barusan kuulurkan padanya. Kali ini bibirku yang gatal untuk tidak menyapanya, bertanya apa yang sedang dilakukannya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku pelan, sedangkan gadis itu tersenyum pelan dan terlihat kaget saat mendengar ucapanku.

“Aku, mengerjakan beberapa soal yang pernah dibahas guru. Aku ingin mengulangnya.” Jawabnya pelan.

“Matematika?” tanyaku penasaran dengan mata menuju arah kalkulator yang ada digenggaman tangannya.

“Bukan, akuntansi.” Jawabnya cepat. Aku tersenyum mendengar perkataannya barusan.

“Aku belum pernah belajar akuntansi.” Jawabku dengan tawa renyah di bibirku. Gadis itu memandangku heran dengan pandangan sedikit bertanya.

“Apa jurusanmu IPA?” tanyanya ragu, dahinya mengernyit.

“Bukan, tetapi seni musik.” Jawabku pelan. Mataku memandang matanya, begitu teduh. Terasa lengkap bisa melihat matanya di taman ini, seolah dialah pelengkap sebenarnya dari pusat taman yang sedang kutapaki.

“Bukan itu, maksudku saat di sekolah. Ahjussi, kau pasti mahasiswa kan?” tanyanya lagi.

“Apa wajahku setua itu?” tanyaku heran. Sedangkan gadis itu tersenyum, kali ini senyum itu benar-benar mengalihkan pandanganku. Aku yang tidak mengerti kenapa bisa seperti ini, langsung menyunggingkan bibirku saat melihat senymumannya.

“Karena rambutmu di cat, murid sekolah mana mungkin memiliki rambut berwarna cokelat.” Ujarnya pelan. Kuhembuskan nafas pelan.

“Tebakanmu tidak salah.” Jawabku pelan.

“Lee Rinka imnida.” Ucapnya, dan sedikit membungkukkan badan.

“Cho Kyuhyun imnida.” Kataku, aku menyebutkan nama asliku, toh namaku masih baru dikalangan artis, dan dia pasti tidak akan menyadari kalau aku adalah seorang member dari sebuah boy band.

“Aku kelas 3 SMA, berarti aku harus menganggilmu Oppa?” tanyanya ragu.

“Tidak usah, cukup Kyuhyun. Toh akupun baru masuk kuliah tahun ini, di Kyunghee.” Jawabku santai, sedikit berbangga hati saat menyebutkan nama kampusku. Dan diapun tersenyum pelan saat mendengarnya.

“Hebat sekali! Itu juga pilihan universitas nomer satuku! Kalau begitu aku harus bertanya banyak hal padamu.” Ucapnya girang.

“Tanyakan saja, aku akan berusaha menjawabnya.” Jawabku pelan. Entah kenapa, rasanya mudah akrab dengannya. Lagipula dia bukan seoarang penggermar yang akan mengejar-ngejar kami selama kami ada, karena aku merasa tidak nyaman. Dan yang kubutuhkan adalah sesuatu yang baru, dan hatiku mengatakan bahwa gadis yang ada di depanku adalah kepingan hilang yang kucari selama ini.

….

“Hei, kenapa tidak membuka maskermu?” Tanya Rinka sesaat setelah meneguk coklat panas yang ada dihadapannya. Dia memandang masker yang menutupi sebagian wajahku, yang selalu kugunakan saat bersamanya.

“Tidak apa-apa, hanya saja ada sesuatu yang harus kututupi.” Jawabku santai dan meneguk susu hangat dihadapanku.

“Apa wajahmu jelek?” tanyanya dengan nada mengejek. Seketika itu pula tangankupun meluncur mulus didahinya. Memukul pelan dahi yang tertutupi poni.

“Sembarangan!” umpatku pelan.

Appo Kyu!!” teriaknya pelan. Sehingga beberapa pasang mata langsung menghadapkan wajahnya kearah kami. Ya, kami berada di café yang tak jauh dari taman itu. Semenjak pertemuan di taman, kami sering bertemu walaupun hanya sebentar dan itupun sangat jarang. Jadwal kami sangat padat, dan juga keluar dengan alasan tidak jelas seperti menghilangkan penat bukanlah alasan yang masuk akal bagi manajer untuk mengijinkanku keluar dari dorm.

“Bagaimana tidak? Kau selalu saja tidak melepaskan maskermu, walaupun ini di ruangan hangat. Dan lihat, beberapa orang sedari tadi mengarahkan pandangannya padamu.” Bisiknya pelan. Kuhembuskan nafas panjang, apa mereka yang sedang menatapku saat ini curiga kalau aku adalah member Super Junior?

“Kurasa mereka hanya penasaran wajah tampan seperti apa yang ada di balik maskerku ini.” Jawabku mengalihkan pembicaraan dengan sedikit membanggakan ketampananku.

Aish, kau berlebihan Cho Kyuhyun!!” bentaknya padaku. Sedangkan aku kembali terkekeh di balik maskerku ini.

“Hanya mengungkapkan kenyataan.” Jawabku lagi. Rinka hanya tersenyum kecut seolah tidak terima dengan perkataanku. Dan aku sendiri mulai membalik-balikkan buku akuntansi yang sedari tadi di pegangnya. Jujur, aku memang tidak mengerti akuntansi. Tapi namanya pelajaran berhitung, pasti cara berhitungnya sama dengan matematika bukan? Kalau hal itu, pasti andalanku.

Kuambil beberapa kertas yang berserakan di meja ini dan kuperhatikan baik-baik. Tanganku pun mulai menggerakkan beberapa pensil di sebuah kertas putih yang masih kosong dan menggoreskan coretan-coretan yang aku sendiri tidak mengerti apakah perhitunganku ini benar atau salah. Setelah merasa selesai mengerjakannya, akupun memperlihatkan pekerjaanku pada Rinka yang masih mengutak-atik pekerjaan rumahnya.

“Lihat dulu, apa jawabannya benar?” tanyaku ragu saat Rinka mulai memperhatikan jawaban yang kutuliskan pada lembar kertas ini. Tiba-tiba matanya membulat seakan tidak percaya dengan apa yang kukerjakan. Diapun menyambar kertas yang sedaritadi kupegang, Rinka membandingkan pekerjaanku dengan jawaban yang ada di buku catatannya.

“Bagaimana bisa kau melakukannya?” Tanya Rinka dengan nada terkejut.

“Anggap saja itu hasil menemanimu belajar selama tiga minggu belakangan ini. Sehingga mau tak mau, aku sedikit mengerti tentang teori akuntansi.” Jawabku santai. Rinka masih asyik memandang kertas berisi pekerjaanku dan juga buku catatannya.

“Caranya berbeda, tetapi hasilnya sama.” Kata Rinka. Dia memandangku dengan wajah takjub, dan aku berbangga hati untuk sanjungannya.

“Kau Enstein versi modern Kyu!” teriaknya lagi. Puas dengan membangga-banggakan pekerjaanku, Rinka pun membereskan beberapa kertas dan buku yang berserakan di meja. Dia mulai memasukkannya satu-persatu kedalam tasnya.

“Kurasa kau harus pindah jurusan. Kejurusan kami tentunya.” Katanya lagi.

“Tidak, terimakasih. Tapi aku menikmati semua hal yang berhubungan dengan musik.” Jawabku. Rinka yang dari awal tidak tertarik dengan perkataanku tentang musik, kini terlihat tertarik untuk membicarakannya. Diapun kembali menyeruput coklat hangat yang ada dihadapannya dengan senyum mengambang memenuhi wajahnya.

“Seandainya tidak ada kau, aku pasti tidak bisa belajar sebaik ini. Terimakasih Kyu.” Katanya singkat. Seketika itu pula wajahku terasa panas. Rasanya salah tingkah. Tanpa sadar tanganku sudah berada di telingaku dan menggaruk beberapa bagian di sekitar telinga.

“Sekarang kaupun mengakui betapa hebatnya aku.” Jawabku menyembunyikan semua perasaan senangku dengan memperlihatkan betapa besar kenarsisanku padanya. Rinka biasanya akan menyangkal apapun yang kubanggakan, tetapi kali ini dia hanya diam dan mendengarkan dengan sesekali tersenyum.

“Ya, aku tau. Bahkan saat pertama kali melihatmu, aku tau kau adalah takdirku.” Kata Rinka. Dia mencoba mengalihkan pandangannya dariku, wajahnya terlihat memerah saat mengatakan itu.

“Hash, aku tidak bisa mengatakannya ala ‘shakespierre’!” katanya tiba-tiba, dan dia mulai tersenyum padaku. Dia mencoba menatap wajahku dalam, sedangkan aku hanya bisa diam mematung menahan semua ledakan yang ada di hatiku. Ini bukan sebuah lelucon bukan? Gadis yang selalu kupandang tanpa henti ini terlihat menunjukkan sinyal kalau diapun memiliki rasa yang sama denganku. Bolehkah aku sedikit berharap?

“Ceritakan lebih jauh, pendapatmu tentangku.” Jawabku pelan. Masih berusaha menutup semua rasa yang nyaris akan meledak. Tidak pernah menyangka akan hal ini, selama ini hanya bisa diam memandangnya yang mengutak-atik lembar ujian dan catatan akuntansi miliknya. Tapi kini, sinyal itu begitu kuat. Rasa ingin melindungi dan rasa ingin memilikinya begitu besar.

“Jujur, sebenarnya aku sudah menyadari keberadaanmu dari awal.” Kata Rinka pelan. Membuatku terkejut. Dia tau aku adalah Super Junior?

“Suatu hari saat pulang sekolah, kau duduk membelakangi jalan utama, menghadap arah yang sepi, berbeda dengan orang lain yang ada disana. Diam dengan seribu bahasa. Bahkan saat disana kau tak pernah memainkan ponselmu sama sekali.” Kata Rinka. Pandangankupun beralih serius padanya. Ketakutan menjalar di seluruh tubuhku. Apa Rinka selama ini mendekatiku karena mengetahui identasku?

“Dalam hatiku, selalu bertanya. Wajah tampan seperti apa yang ada di balik masker yang menutupi separuh wajahmu dan juga mata yang indah di balik kacamata hitam yang selalu bertengger tepat di matamu. Bahkan dari belakangpun, kau terlihat begitu tampan.” Kata Rinka. Pandangannya mengudara kesembarang tempat, kecuali arahku. Akupun bernafas lega, sepertinya dia tidak mengetahui identitasku.

“Karena penasaran, akupun mendekatimu. Dan taraaa!! Akhirnya kau ada tepat dihadapanku! Aku suka matamu, dan aku yakin matamu menunjukkan kebaikan hatimu. Dan akupun menyukai apapun yang ada di balik masker itu, karena aku tidak akan mempermasalahkannya.” kata Rinka. Dia terlihat begitu lega dan gembira karena telah mengeluarkan seluruh isi hatinya padaku. Dan tentu saja, semua ini membuatku nyaris terbang tinggi bagaikan kapas yang ditiup mendadak keudara.

“Terimakasih. Aku senang mendengarnya. Dan aku tidak keberatan kalau kau mempunyai perasaan padaku.” Kataku sombong. Bahkan akupun tidak mengerti kenapa kalimat itu bisa meluncur lancar dari mulutku. Semuanya terkesan sia-sia saja sekarang ini. Tapi tak kusangka, Rinka langsung menggulungkan kertas yang tadi kuutak-atik dan memukulkannya padaku.

“Aw!! Appo!!” umpatku kesal. Gadis ini, bukankah tadi dia mengatakan perasaannya padaku? Kenapa dia kasar sekali dan memukulku dengan kertas itu. Huh, sial.

“Berhenti membanggakan dirimu sendiri sebelum aku benar-benar muak dengan semua ucapanmu! Dan menarik semua yang sudah kukatakan tadi!” ucapnya kesal.

“Sudahlah, yang penting kita punya perasaan yang sama bukan?” uampatku kesal, tangankupun meluncur kearah belakang kepalaku dan mengelus pelan di bagian itu. Ternyata lumayan sakit juga pukulannya. Bagaimana kalau benjol? Apa yang harus kukatakan pada Leeteuk hyung saat menyadari magnae Super Junior pulang dengan kepala tidak utuh seperti saat meninggalkan dorm. Dan parahnya lagi tidak utuh bukan karena ada bagian yang hilang, tapi karena kelebihan muatan alias benjol. Huh.

“Kau ini, apa tidak bisa sedikit ramah pada gadis yang kau sukai?” bentaknya lagi. Diapun mengembalikan bentuk kertas yang dia gunakan tadi untuk memukulku.

“Maaf saja ya, memang dasar sifatku seperti ini. Dan kuharap kau bisa memakluminya. Oh ya, apa di rumah kau tidak mempunyai Tv?” kataku mengejeknya yang benar-benar tidak mengenaliku.

“Aw!! Appo!!!” teriakku lagi. Sakit sekali, sekarang jidatku yang dipukulnya. Dan hei, sejak kapan dia menggulung kertas itu lagi? Huh. Sekarang aku harus benar-benar bekerja dua kali untuk menghilangkan banjol yang ada di jidatku.

End of Flashback

….

Kyuhyun tersenyum lebar saat mengingat masa-masa perkenalan bersama gadis yang sangat disukainya dulu. Kini gadis itu tidak lagi dihadapannya, tidak lagi ada untuk menopang kesedihannya jika dia mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari Hyungnya. Walaupun dia selalu saja berbohong dengan bercerita kalau di kampus, dia tidak disukai oleh seniornya. Kyuhyun memilih kampusnya sebagai alasan menggantikan Super Junior sebagai perumpamaannya, saat berbohong dengan menceritakan seluruh keluh kesahnya.

Yah, gadis itu menghilang begitu saja seiring terjadi kecelakaan besar yang terjadi pada Kyuhyun beberaoa tahun yang lalu. Kyuhyun yang harus dirawat berbulan-bulan di rumah sakit, kehilangan kontak dengan gadis itu. Hingga dia melupakan gadis itu, sampai suatu hari pertemuan mereka terjadi kembali setelah empat tahun kemudian. Tepatnya saat Kyuhyun merayakan debut ke lima tahunnya dia di Super Junior.

Kyuhyun tersenyum sedih saat mengingat kejadian itu. Hari dimana dia bertemu lagi setelah sekian tahun dengan Lee Rinka. Hari itu dia benar-benar senang, tetapi merasakan ada suatu kepingan yang hilang, karena tempatnya berkeluh kesah selama masa-masa sulit di Super Junior saat itu, kini tidak ada di sampingnya. Kyuhyun masih saja mencoba tersenyum, mengingat hari itu. Dia berjalan gontai, kelelahan dengan semua jadwal yang ada untuknya, dan tiba-tiba rasa ingin menghilangkan penat itu begitu kuat. Dan seperti itulah saat itu, tanpa sadar langkah kakinya menuju taman favoritnya. Taman yang sudah lama tidak dia pijaki semenjak popularitasnya menanjak, dan semenjak para member dengan tulus telah berbesar hati menerimanya sebagai keluarga.

Flashback again (?)

“Rasanya ada yang kurang.” Gumamku sambil berjalan di jalan yang dipenuhi orang berlalu lalang. Saat ini sudah lebih dari pukul 10 malam. Tapi entah kenapa aku belum ingin pulang dan merayakan hari ini di dorm bersama yang lainnya. Tanpa terasa kakiku sudah melangkah terlalu jauh dari dorm, apa ini sesuatu yang baik?

“Kurasa aku bisa pulang naik taxi.” Gumamku lagi. Bukan sesuatu yang buruk, jika ingin berjalan-jalan di malam hari seperti orang gila yang tidak mempunyai tempat tujuan. Cukup nikmati saja udara yang begitu segar dan semuanya akan baik-baik saja. Walaupun udara sudah sangat dingin, tapi tentu saja itu yang membuatku semakin aman. Orang yang berlalu-lalang memiliki wujud sepertiku, lengkap dengan masker, kacamata dan juga jaket tebal yang membungkus tubuhku. Sehingga sekalipun aku ingin berjalan, tidak ada tatapan yang menganggapku aneh dan menatapku dengan curiga. Dan tentu saja, aku menyukai semua tatapan itu.

Tanpa terasa kakiku sampai pada taman ini, taman yang sudah lama tidak kupijaki. Dan masih saja tidak terlalu berunbah seperti empat tahun yang lalu. Senyumku mengambang seketika saat melihat dua buah bangku yang biasa kududuki bersama gadis itu. Gadis penyemangatku. Tapi sayangnya berbeda, aku tidak tau keberadaan gadis itu ada dimana.

Kutatap bangku kecil yang biasa kududuki, lagi-lagi senyum mengambang muncul di bibirku. Tanpa terasa rasanya sudah tidak sabar untuk mencoba duduk di tempat itu. Dan sekarang, duduklah diriku di kursi itu. Setelah merasa nyaman dengan bangku itu, akhirnya kuberanikan diri melepas masker dan kacamata hitam yang menutupi wajahku.

“Pemandangannya tidak berubah.” Kataku pelan. Mencoba menikmati pemandangan yang ada di hadapanku, tidak buruk juga. Dan benar kata Rinka, udara di taman ini begitu bagus. Sayang jika tidak menghirupnya

“Uh?” gumamku. Kenapa teringat gadis itu? Yah, sudah beberapa tahun tidak bertemu dengannya. Bagaimana kabarnya? Aku tidak berusaha mencari-cari keberadaannya. Jujur, aku sangat menikmati kehidupanku sebagai public figure. Dan tidak munafik jika sesuatu yang bodoh jika mencari-cari keberadaannya. Karena kurasa diapun pasti sudah mengetahui identitasku sekarang, karena wajahku lebih sering muncul di tv semenjak kecelakaan itu. Dan Rinka sendiri, sepertinya tidak berusaha mencari-cariku.

Pernah suatu ketika, karena iseng, aku mencari namanya di sebuah situs penggemarku. Dan memang benar ada namanya, hatiku nyaris meloncat saat itu. Tapi sayanganya, bukan Lee Rinka yang kukenal. Nama Lee Rinka bukan nama yang jarang di Korea. Dan tidak berarti nama itu pasaran. Hanya saja ada beberapa nama Lee Rinka, tapi bukan Lee Rinka, gadis yang kucari. Dan itu membuatku syok seketika. Semenjak itu, aku berusaha tidak peduli padanya, tidak ingin mencarinya sampai sekarang.

“Cho Kyuhyun?” kata seseorang tiba-tiba di tengah lamunanku. Mataku menengadah mencari sumber suara. Di bangku sampingku, sudah ada seorang gadis duduk dengan senyum simpul di bibirnya. Matanya terlihat begitu sendu. Tidak terlalu banyak perubahan yang dia tunjukkan setelah perpisahan empat tahun lamanya. Hanya saja dia terlihat lebih dewasa. Rambutnya ditata tidak berponi dan memiliki belahan rambut yang tidak tepat di tengah. Setiap sudut wajahnya begitu sempurna karena semua titik kelemahan dalam wajahnya tertutupi make up. Tiba-tiba hatiku serasa ingin meloncat, tapi kutahan. Dan senyumku pun berusaha tidak kubuat kebgitu lebar.

“Kau tidak banyak berubah.” Ucapku santai. Gadis itu tertawa lebar mendengar perkataanku.

“Itu sebuah hinaan setelah lama kita bertemu.” Jawabnya. Ringan. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan pelan di hadapanku. Hatiku, lagi-lagi ingin berteriak. Sungguh tak kusangka bisa bertemu dengannya, dan dia juga terlihat begitu sempurna. Apakah semuanya ini hanya sandiwara? Kutatap sepasang mata yang berdiri tepat di depanku. Rasanya tidak tahan untuk tidak memeluknya. Tapi rasa gengsiku lebih besar dari itu.’

“Itu sebuah pujian.” Ucapku. Rasanya sulit untuk tidak memperlihatkan rasa bahagiaku. Tanpa terasa tubuhku sudah beranjak dari bangku dan berdiri di hadapannya. Dari jarakku bisa kulihat dengan jelas tinggi badannya.

“Kau semakin tinggi.” Katanya. Dia menyamakan tinggi badannya dengan tinggi badanku. Tangannya berusaha menggapai puncak kepalaku dan kakinya sedikit berjinjit untuk mengukur tinggi badanku.

“Kau yang tidak bertambah tinggi.” Umpatku dengan senyum di bibirku. Bukannya dia marah padaku, tetapi dia malah merebahkan tubuhnya di tubuhku. Tangannya menarik tubuhku erat. Da meletakkan kepalanya tepat di bahuku. Dia memelukku?

“Tolong biarkan ini sebentar saja.” Katanya berat. Bisa kurasakan pelukannya begitu hangat. Kurasakan curahan rindu yang begitu besar dari pelukannya ini, sehingga membuatku menghilangkan sedikit gengsiku untuk membalas pelukannya. Tanganku menyelimuti tubuhnya yang terbalut jaket tebal yang kurasa cukup hangat. Bisa kurasakan wangi rambutnya yang begitu harum. Benar-benar aroma yang kurindukan selama beberapa tahun belakangan ini.

“Kau merindukanku?” ejekku. Bukannya dia membantahku, tapi dia mengiyakan gombalanku.

“Ne, neomu neomu bogoshipo!” teriaknya di bahuku. Secercah senyum kulayangkan di bibirku. Aku senang, selama ini dia merindukanku. Kukira dia melupakanku begitu saja.

Nado bogoshipo. Neomu neomu bogoshipoya, Lee Rinka.” Ucapku.

….

Kami melepas rindu, saling merasakan getaran yang sudah lama tidak kurasakan. Duduk berdua seperti empat tahun yang lalu. Tapi kali ini berbeda. Dulu saat kami bersama, kami hanya bertengkar dan saling mengejek. Kali ini, akupun menahan semua itu dengan mencoba tersenyum selalu. Walaupun gengsiku begitu besar untuk tidak mengeluarkan semua rasa rinduku, tapi kurasa Rinka tau yang sebenarnya kurasakan. Dia hanya tersenyum simpul saat kulontarkan beberapa kata seolah tidak peduli dengan dirinya.

“Hentikan sifat sombongmu. Suatu saat kau benar-benar memilih antara kematian atau menghilangkan rasa gengsimu dan memilih kebahagiaan.” Bentaknya. Dia mengerucutkan bibirnya. Lucu. Sudah lama tidak melihat wajahnya dari dekat. Dan tak pernah kusangka, jika akan bertemu dengannya disini.

“Aku akan menunggu sampai saat itu datang.” Jawabku santai.

“Memang susah memperingatkan orang pintar!” umpatnya pelan. Sepertinya dia terlalu sayang membuang waktu diantara kami. Dia memilih duduk dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Yah, justru hal itu menguntungkanku, karena aku bisa merasakan hangatnya dirinya. Kami diam, tanpa mengatakan apapun. Sedangkan hatiku meloncat kegirangan. Mencoba melepaskan rasa rinduku dengan menikmati setiap aromanya. Tetapi, Rinka membuka mulutnya lebih dulu. Mengejutkanku dengan sebuah pernyataan.

“Kau menyukai kakakku?” tanyanya.

Mwo?” tanyaku kaget. Menyukai kakaknya? Bahkan melihatnya saja belum pernah. Dan kurasa pertanyaannya sedikit konyol bagiku. Tapi tak apa, selama dia masih bersandar di bahuku, aku akan mencoba untuk menikmati seluruh rasa rinduku yang kuluapkan.

“Kakakku, yang kau kira suster di rumah sakit saat kau kecelakaan.” Katanya. pernyataannya bagaikan petir di kepalaku. Jadi gadis di rumah sakit itu kakaknya?

“Dia kakakmu?” tanyaku terkejut. Sedikit memundurkan bahuku dari bahunya. Dan diapun melepaskan tangannya yang sedari tadi melingkar di lenganku.

“Kau mengumbar di semua orang kalau jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang suster di rumah sakit. Suster di resepsionis bukan? Dia kakakku babo! Kakak kandungku!” teriaknya tepat di telingaku. Aku hanya bisa diam dan melongo. Menatapnya dengan perasaan tidak percaya dengan semua perkataannya.

“Jangan membohongiku!” pintaku keras. Rinka hanya tertawa pelan saat mendengar perkataanku.

“Dia dokter magang yang kau kira suster. Dia diminta menggantikan seorang suster yang sedang pergi ketoilet saat itu. Dan hei, kau tidak pernah jujur padaku dulu kalau kau seorang artis!” teriaknya lagi. Sedangkan aku hanya bisa tertawa keheranan. Takdir? Ya, bahkan aku tidak percaya takdir. Tapi darimana dia tau kalau gadis yang di rumah sakit waktu itu adalah kakaknya? Bisa saja gadis yang dimaksudkannya berbeda dengan gadis yang kumaksud.

“Dia tidak mungkin kakakmu. Disana banyak suster, dan jangan mengambil kesimpulan sembarangan!” umpatku kesal. Seharusnya kami mengalami masa-masa indah dan romantis, tapi itu semua hancur begitu saja dengan perkataannya barusan. Darahku nyaris naik ke ubun-ubun. Sangat disayangkan situasinya jadi memanas seperti ini.

“Pasti kakakku! Kau bilang sendiri kalau dia sudah punya pacar dan menyukai Eunhyuk, siapa lagi kalau bukan kakakku? Dan dia datang saat fansign yang kau katakan di acara itu. Tentu saja aku sudah memastikannya dengan menanyakan langsung pada kakakku, kalau saat itu dia memang menggantikan seorang temannya di resepsionis dan ada seseorang yang menanyakan nomor ponselnya!” kata Rinka dengan nada yang sedikit meninggi. Nafasnya memburu dan juga matanya menggebu-gebu menatapku tidak terima. Akupun diam, memikirkan perkataannya barusan. Cukup masuk akal.

“Apa benar begitu?” tanyaku ragu. Rinka menyipitkan matanya, menatapku tidak percaya.

“Untuk apa aku membohongimu. Harusnya kau berteriakasih karena kakakku tidak tertarik dengan hal itu dan sudah melupakan Super Junior.” Kata Rinka, wajahnya memanas. Sepertinya dia benar-benar kesal padaku.

“Hei, apa maksudmu melupakan Super Junior?” tanyaku kesal. Sedangkan Rinka hanya tertawa pelan mendengarnya.

“Umurnya sudah tidak pantas menyukai idola.” Jawabnya singkat. Kalau hal ini, masih bisa kumengerti. Memang masuk akal. Umur seorang fans yang membuat mereka meninggalkan kami. Selama kami masih bisa berkarya, selama itu pula semuanya akan baik-baik saja. Kurasa seperti itulah.

“Kenapa diam?” tanyanya ringan. Dia menatapku, sepertinya dia menyadari kesedihan yang terpancar di wajahku. Dia menatapku dengan prihatin, dan mencoba memasang senyum di bibirnya. Tak berapa lama kemudian, dia mengalungkan tangannya di lenganku dan meletakkan kepalanya di bahuku.

“Jangan dipikirkan. Kalian tidak akan mati hanya karena kehilangan seorang penggemar. Karena aku menggantikan kakakku, menyukai Super Junior.” Jawabnya pelan. Dia tidak menatapku, tapi menatap lurus kedepan. Sedangkan aku hanya diam-diam menatapnya dari arahku. Aku memang pengecut bukan? Tapi seperti itulah. Gengsiku terlalu besar untuk itu. Semuanya nyaris terasa sia-sia karenanya.

Gomawo.” Kataku pelan, dan mengutak-atik rambutnya yang tepat di pipiku. Aromanya masih sama seperti dulu. Apa perasaannya masih sama padaku? Karena akupun mengharapkan ‘iya’, aku sangat berharap untuk itu. Semoga dia masih memiliki perasaan yang sama denganku.

Kami diam, mencoba meresapi perasaan masing-masing. Tidak begitu buruk. Sayangnya hanya ini yang bisa kumiliki. Aku terlalu gengsi untuk menanyakan perasaanku padanya. Sedangkan dalam hatiku, rasa penasaran ini begitu mencambuk hatiku. Semuanya terlihat begitu berbeda saat ini. Kemarin, dirinya tidak ada di dalam kepalaku. Tetapi, saat bertemu kembali, rasa ini nyaris akan meledak.

“Astaga, sudah jam 12 malam! Aku harus pulang.” Kata Rinka tiba-tiba. Dia melepaskan pelukan kami dan berdiri di depanku.

“Kuantar.” Jawabku cepat. Dan dia langsung tersenyum mendengar perkataanku.

Gomawo.” Jawabnya. Kami berjalan pelan beriringan menuju pintu gerbang taman.

“Bukankah rumahmu jauh?” tanyaku. Dulu dia pernah mengatakannya padaku, kalau rumahnya bukan di daerah sini. Hanya saja taman ini dekat dengan tempat lesnya, makanya kami sering bertemu disini setelah dia belajar.

“Sekarang tempat tinggalku di sebuah dorm kecil. Aku tinggal sendirian.” Jawabnya pelan. Kami diam lagi. Rasanya bingung ingin menanyakan hal kecil seperti apapun. Aku tak menyangka akhirnya dia menjadi seorang penggemar. Tapi, apa dia benar-benar tak mengenaliku dulu saat kami bertemu? Ah, tapi rasanya terlalu malu untuk menanyakan hal itu. Kurasa hal seperti itu tidak usah untuk ditanyakan.

“Hei, bagaimana rasanya menjadi artis?” tanyanya tiba-tiba. Aku menoleh pelan kearahnya. Sedikit tawa kurasakan dalam bibirku, dan dia hanya menunjukkan wajah penasaran.

“Cukup menyenangkan dicintai begitu banyak orang.” Jawabnya singkat. Kurasa Rinka jijik mendengar perkataanku. Karena raut mukanya berubah menjadi kecut dan sepertinya malas mendengar perkataanku lebih lanjut.

“Kau tidak berubah. Masih sangat menyebalkan.” Umpatnya pelan. Dan itu membuatku tertawa.

….

Tanpa terasa, perjalanan kami sudah sampai di depan apartemennya. Aku cukup terkejut saat melihat apartemen ini. Cukup, mewah. Jadi dia anak orang kaya rupanya. Sedikit mengejutkanku karena dia tidak pernah menceritakan keluarganya semenjak kami berkenalan. Ah, kenapa tadi aku tak menyadarinya kalau dia memiliki kakak seorang dokter? Dasar, pikiranku begitu lambat jika sudah mengenainya.

“Kyuhyun, terimakasih sudah mengantarku. Aku senang bertemu denganmu hari ini.” Ucapnya dengan tersenyum, sebelum memasuki gedung apartemennya.

Ne, sama-sama. Akupun senang bertemu denganmu.” Jawabku kikuk. Sementara Rinka nyaris melangkahkan kaki menjauhiku, perasaanku masih campur aduk. Aku tidak ingin melepaskannya begitu saja, tidak akan kulepaskan.

“Tunggu!” teriakku sambil berlalu menyusulnya yang sudah nyaris masuk kedalam gedung. Rinka langsung menoleh saat kupanggil namanya. Langkahku kupercepat saat mendekatinya. Aku tidak ingin kehilangannya lagi untuk kedua kali, tidak akan kulepaskan.

“Nomor ponsel, pin imessage, pin blackberry, twitter, dan me2day.” Pintaku dengan nafas tersengal karena sambil berlari. Rinka yang mendengar perkataanku langsung mengerutkan kepalanya bingung.

Mwo?” tanyanya dengan dahi mengernyit.

“Pokoknya berikan itu semua, karena aku tidak ingin kau menghilang lagi. Araso?” pintaku memohon. Untuk kali ini, entah kenapa gengsiku menghilang begitu saja. Entahlah, mungkin dalam hatiku, rasanya tidak ingin kehilangannya. Tidak ingin merasakan untuk kedua kalinya dia menghilang dalam hidupku.

“Kau bercanda?” tanyanya memastikan perkataanku, seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.

“Harus kuminta berapa kali agar kau percaya?” tanyaku balik padanya. Rinka tertunduk lesu mendengar perkataanku. Dan tak lama menjawabnya.

“Tapi Kyuhyun, kau seorang artis.” Jawabnya singkat. Rasanya geram saat mendengar perkataannya.

“Memangnya ada yang salah jika aku adalah artis? Aku hanya tidak ingin kehilanganmu, lagi.” Jawabku dengan nada yang sedikit meninggi. Entah kenapa rasanya emosiku begitu meluap. Aku hanya ingin bersamanya, memulai semuanya dari awal lagi. Apakah itu juga tidak boleh? Apakah tuhan tidak mengijinkan?

“Baiklah, akan kuberikan nomor ponselku.” Jawabnya dengan tersenyum kikuk. Sedangkan aku tidak bisa menyembunyikan perasaan senangku saat mendengar perkataannya barusan. Bahkan aku nyaris ingin bernyanyi dengan perasaan luar biasa! Ini sungguh keajaiban tuhan. Terimakasih, tuhan.

….

Halo.. Rinchun imnida, salam kenal semuanya. FF ini lebih ke kehidupan Kyuhyun yang keras dan besar kepala, dan justru tema cinta disini tidak begitu diangkat. Hanya ejekan dan perjuangan Kyuhyun yang akan dibahas. Follow twitter saya yah @elfrinn , Gomawo😀

 

One thought on “Only One Perso ~Part 1 (FanFic by Rinchunn)

  1. HBT!! bs nyangkut pautin ma suster Love @ 1st sightny Kyu.. Bru part 1.. weits dateny blm nie.. so dtnggu y ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s