Believe (FanFic by Violetkecil)

Believe

By violetkecil

♥♥♥

Raein menelungkupkan wajah pada kedua tangannya. Angin berhembus perlahan menepuk-nepuk dirinya seakan berusaha menyadarkan. Angin yang hangat di senja yang begitu jingga. Raein menghembuskan nafas berat dan mengangkat kepalanya. Sorot matanya kini tertuju pada dua sosok yang sedang bercengkerama di bawah jejeran pohon maple yang rindang.

Pandangan Raein mengikuti setiap gerakan kedua sosok itu. Pasangan paruh baya yang terlihat begitu damai. Hingga kemudian pria paruh baya itu mendorong pelan kursi roda yang diduduki pasangannya—seorang wanita yang terlihat cantik diusianya. Mereka menuju sebuah bangunan serba putih. Dari kejauhan Raein bisa melihat ada gurat penyesalan dan kesedihan yang terpatri pada wajah pria itu.

Appa, Eomma…” ucap Raein lirih. Ya, kedua orang itu adalah orangtuanya.

Raein masih memandang sayu pada sosok yang perlahan-lahan menghilang di balik tembok. Matanya mulai terasa panas. Air mata mulai mendesak keluar tapi berusaha dia tahan dan hasilnya adalah dadanya yang terasa sesak. Raein selalu meyakinkan dirinya untuk tidak menangis. Kenapa? Karena dia ingin terlihat kuat untuk orang-orang yang dicintainya. Dia benci menangis. Bahkan dia lupa kapan terakhir kali air matanya itu jatuh.

Perlahan Raein memejamkan mata dan berusaha memasukan sebanyak mungkin udara ke rongga dadanya. Sejuk dan hangat. Tiba-tiba Raein merasakan belaian tangan lembut di kepalanya. Sejenak dia seakan bisa melupakan masalah. Rasa sakit hati, penyesalan dan keputusasaan yang belakangan ini tidak berhenti menguasai. Belaian tangan hangat itu tiba-tiba berhenti dan Raein membuka matanya. Mendadak tubuhnya membeku justru ketika sebuah kehangatan lain hadir. Kehangatan dari segaris senyum seorang pria yang sekarang tepat di depannya.

Oppa?” tanya Raein ragu.

Ne. Aku tahu hari ini kau pasti disini jadi aku menyempatkan waktu untuk menemuimu.”

Oppa tidak sibuk? Kenapa Oppa selalu menemuiku?”

Tidak ada alasan sibuk untuk menemuimu.”

Lalu kenapa Oppa selalu menemuiku? Oppa selalu tahu dimana aku berada? Apakah Oppa menyuruh orang lain untuk mengikutiku?”

Aniyo.”

Lalu?”

Entahlah. Aku sudah tersesat begitu jauh…

Raein mengernyitkan dahi. Bingung dan penasaran menunggu kata-kata selanjutnya.

Aku sudah tersesat di hatimu. Tiba-tiba saja aku tahu kapan dan dimana harus menemuimu. Sesederhana itu Raein-ah.”

Jawaban yang semakin membuat Raein bingung, “Tersesat di hatiku?” gumam Raein.

Iya. Tapi kau masih menutup pintu hatimu sehingga aku semakin tersesat dan terkurung disana.”

Raein menatap sendu. Dia membuang pandangan ke riak air kolam di depannya. Dia tidak berani membalas tatapan mata yang hangat itu. Sekali dia memberanikan diri menatap balik, dia tidak akan bisa mengendalikan diri. Raein takut. Takut dan belum berani terjatuh dalam hangatnya cinta yang berulang kali dia tepis itu.

Raein-ahgwencana?”

NeOppa. Maaf,” ucap Raein lirih.

Tidak apa-apa,” jawabnya sambil mengelus lembut kepala Raein. “Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik,” pamitnya.

Ne. Jaga kesehatan Oppa. Jangan terlalu lelah dan memaksakan diri ya.”

Sosok hangat itu perlahan menjauh. Raein merapatkan jaket yang dia kenakan. Senja mulai digantikan gelap. Malam merangkak hadir. Raein berusaha menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat.

Oppa… Lee Donghae Oppa,” ucapnya pelan.

Siapa yang tidak mengenal seorang Lee Donghae–anggota Super Junior. Perkenalannya dengan Reina berawal dari ketertarikan Donghae ketika melihat Raein selalu duduk di sebuah kursi di taman rumah sakit sambil menatap pasangan paruh baya. Pandangan mata sayu Raein menarik seluruh pengendalian diri Donghae. Tanpa bisa menolak tiba-tiba saja Dongahe merasa tidak bisa melepaskan ketertarikan itu.

Ketika seperti biasa tiap bulannya Donghae dan anggota Super Junior lainnya memeriksakan kesehatan, untuk kedua kalinya Dongahe melihat Raein berada di tempat dimana pertama kali Dongahe melihatnya. Dia memberanikan diri untuk mengenal Raein. Donghae tidak tahu apa yang terjadi pada Raein. Dia tidak ingin bertanya dan hanya ingin berada di sisi Raein. Setelah itu setiap minggunya Donghae selalu menyempatkan diri menemui dan menemani Raein.

♥♥♥

Hyung, kenapa kau lama sekali?” tanya Ryeowook ketika melihat Donghae datang. Semua anggota Super Junior sudah berkumpul di restoran untuk merayakan keberhasilan promosi album.

Mianhae Wookie-ya. Aku singgah ke rumah sakit dulu,” jawab Donghae.

Kau menemuinya lagi Hyung?”

Ne,” jawab Donghae singkat.

Ryeowook masih ingin bertanya tapi karena Donghae menjawab sesingkat itu, artinya Donghae sedang tidak ingin diberondong pertanyaan. Mereka pun menikmati acara makan malam dengan suasana yang sangat ramai tapi tidak dengan Donghae. Dia tertawa tapi hatinya justru terasa kosong.

Donghae menyesap pelan teh lemon yang tersaji dan pikirannya tidak tinggal diam disana. Donghae memikirkan sampai kapan Raein–gadis yang dia cintai itu akan mengabaikan kehadirannya dan menepis cintanya. Sampai kapan Raein akan larut dalam kesedihan. Sudah satu tahun ini Donghae mengenal Raein, tapi tidak sedikit pun hati Raein terbuka untuk Donghae. Donghae tidak tahu peristiwa seperti apa yang membuat gadis semanis itu menjadi begitu dingin. Luka sedalam apa? Karena apa? Yang Donghae tahu hanya alasan Raein berada di rumah sakit itu.

Itu ibunya Raein. Ibunya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan seluruh ingatannya hilang. Selain itu juga mengalami depresi dan kondisi fisik yang sangat lemah sehingga harus dirawat disini. Kami tidak tahu penyebab depresinya. Tapi ibunya sungguh beruntung karena memiliki suami yang begitu setia mendampingi setiap harinya.”

Hal itu yang dikatakan perawat ketika Donghae menanyakan siapa orang yang selali dipandang Raein. Donghae menghembuskan nafasnya. Mencoba mengosongkan dadanya yang terasa sesak. Mencoba menghapus bayangan Raein yang terus hadir. Menepis aroma lembut Raein yang menguasai indra penciumannya. Tapi sia-sia. Gadis itu berhasil memenjarakan Donghae dalam pesonanya.

Donghae merasakan ponselnya bergetar dan dilihatnya ada nama Raein tertera di layar. Dia memang sering menelepon Raein tapi ini pertama kalinya Raein menelepon Donghae terlebih dahulu. Donghae segera mengangkat telepon itu dan semakin panik ketika mendengar suara Raein.

Oppa,” ucap Raein lirih diantara isak tangisnya.

Donghae panik. Selama mengenal Raien, gadis itu tidak pernah sekalipun menangis, “Raein-ahgwencana?”

OppaEomma…”

Wae? Raein-ah?” tanya Dongahe panik tapi Raein tidak bersuara apapun. Dia hanya menangis. “Kau masih di rumah sakit? Aku akan ke sana.”

Donghae buru-buru mengambil tasnya dan setengah berlari keluar. Dia hanya sempat berpamitan sebentar pada Leeteuk.

Donghae-ya mau kemana kau?” teriak Eunhyuk.

Donghae tidak mempedulikan teriakan Eunhyuk. Yang ada dipikirannya hanya bagaimana caranya agar segera menemui Raein. Dia khawatir terhadap apa yang terjadi pada gadis itu.

♥♥♥

Donghae berlari melewati lorong rumah sakit dan mendapati Raein sedang duduk di kursi di depan ruangan tempat ibunya dirawat. Tanpa menunggu Donghae langsung menghampiri Raein. Raein melihat Donghae datang dan langsung memeluk pria itu. Donghae membalas pelukan Raein erat. Dia bisa merasakan Raein menangis sesenggukan di dadanya. Dia mengelus lembut rambut Raein.

Tenanglah. Semua pasti akan baik-baik saja,” bujuk Donghae. Donghae melepaskan Raein dari pelukannya dan menangkupkan kedua tangannya di wajah Raein.

Tatap mataku. Percayalah semua akan baik-baik saja,” pinta Donghae. Ujung jarinya menghapus air mata Raein.

Kali ini Raein memberanikan diri menatap Donghae. Dia bisa melihat ada kehangatan dan cinta dalam tatapan mata itu. Dia percaya sekarang. Dia berani dan tidak akan takut lagi. Dia akan mulai percaya untuk membuka pintu hatinya perlahan. Raein tidak ingin lagi menepis kehadiran Donghae. Mengabaikan cinta seperti yang pernah dilakukan ayahnya pada cinta ibunya. Malam ini Raein menyadari itu semua ketika melihat apa yang terjadi pada ibunya dan bagaimana ayahnya mencoba menebus rasa bersalah.

♥♥♥

Oppa, kau tahu kenapa aku selalu menepis cinta yang kau beri?” tanya Raein sambil menyenderkan kepalanya di bahu Donghae. Sekarang mereka berada di kursi taman biasa mereka menghabiskan sore bersama. Dinginnya malam tidak terasa karena Raein terselimuti oleh kehangatan yang selalu Donghae berikan.

Kenapa?” tanya Donghae lembut.

Karena aku takut. Aku takut cinta itu hanya akan melukai seperti apa yang terjadi pada Eomma. Aku takut Oppa. Tapi apakah Oppa tahu?”

Iya?”

Sebelum Eomma pingsan tadi, Eomma memanggil Appa dan dia mengingat Appa. Eomma menangis dan hanya memeluk Appa erat.”

Donghae meraih tangan Raein dan menggenggamnya erat.

 “Aku ingin Eomma bisa mengingat semuanya lagi. Aku ingin Eomma tersenyum seceria dulu,” lanjut Raein.

Donghae masih terdiam dan hanya menggenggam erat tangan Raein. Dia mencoba memberikan kehangatan. Ini pertama kalinya Raein mau bercerita seperti itu pada Donghae. Selama setahun mereka bersama Raein lebih banyak diam dan hanya menjadi pendengar yang baik saat Donghae sedang bercerita.

Oppa tahu kenapa aku selalu memandang Eomma dan Appa jika mereka sedang bersama setiap sore?” tanya Raein lagi.

Karena kau menyayangi mereka?” tebak Donghae.

Aku tentu saja menyayangi mereka tapi bukan itu alasannya. Aku sebenarnya ingin bersama mereka tapi aku takut tidak mampu mengontrol emosiku. Aku sedih melihat Eomma dan kadang aku marah pada Appa. Aku selalu berpikir ini semua salah Appa. Andai Appa tidak pernah bersama wanita itu dan saat itu Eomma tidak menemui Appa, kecelakaan itu tidak akan terjadi dan Eomma tidak akan sakit hati. Oppa tahu? Sakit hati itu yang membuat Eomma jadi depresi. Sejak itu aku tidak percaya cinta. Tapi hari ini aku membuka mataku. Seperti Eomma yang masih selalu membuka hatinya untuk memaafkan Appa dan semua pengorbanan yang Appa lakukan untuk menebus kesalahannya. Aku tahu cinta tidak selalu seperti cerita indah yang terajut manis. Cinta memberikan luka tapi bukan luka yang menyakiti tapi luka yang mengajari agar mencintai dengan tulus. Cinta bukan sesuatu yang sempurna tapi bagaimana mencoba menyempurnakannya dengan cinta. Apakah aku benar Oppa?”

Donghae menoleh dan mendapati Raein sedang menatapnya. Donghae merasa haru mendengar semua kata-kata Raein. Raein—gadis yang sangat Donghae cintai akhirnya menemukan jalan keluar dari rasa takut dan ketidakpercayaannya pada cinta. Donghae meletakkan tangannya di kepala Raein dan mengelus lembut rambut gadis itu.

Kau benar. Dan cinta itu ada disini sekarang. Dia menunggu untuk masuk ke hatimu. Apakah kau sudah membuka kuncinya?” ucap Donghae lembut.

Aku tidak mengunci hatiku. Aku hanya menutupnya dan kini aku akan membukanya perlahan,” jawab Raein.

Donghae menatap lekat mata Raein. Donghae mencoba mencari keraguan dalam tatapan mata itu tapi yang ditemukannya adalah keyakinan. Keyakinan untuk percaya pada cinta. Donghae menarik Raein ke dalam pelukannya.

Aku mencintaimu. Masih mencintaimu dan selalu seperti ini,” ucap Donghae lirih.

Oppa, maukah kau membuatku mempercayai cintamu?”

Ne,” jawab Donghae sambil mengangguk mantap.

Raein meletakkan tangannya di dada Donghae, “Aku mempercayakan hatiku pada Oppa. Aku tidak punya penggantinya jadi jangan pernah Oppa sakiti. Dan disini tetaplah jaga hati ini untukku. In your heart, my love is there. Inside my heart all of your love is there.”

Donghae masih menatap lembut Raein. Dia tidak percaya apa yang baru saja dia dengar. Donghae bahkan tidak tahu harus mengatakan apa. Dia hanya bisa memeluk Raein. Erat. Pelukan itu sudah cukup untuk menyampaikan apa yang Donghae rasakan. Penantiannya selama ini. Cintanya. Dan tekad Donghae untuk membuat Raein percaya padanya.

Ya, ketika kau percaya pada cinta maka biarkanlah cinta itu mengisi hatimu. Percayalah cinta itu tidak akan menyakitimu.

♥♥♥END♥♥♥

Author note: Kangen mau posting ff disini, hehehe… tapi maaf FF ini udah pernah diposting diblog pribadi n SOFF. Mohon komennya ^^

 

8 thoughts on “Believe (FanFic by Violetkecil)

  1. First commentator hehehehehe…

    Diriku udah baca FF ini sebelumnya di SOFF dan emang yah pangeran ikan itu ngga pernah ada matinya buat cerita romantis macem begini hihihihi

    Pangeran ikan bisa aja deh pas bilang tersesat di hatinya Raein… gombal banget deh itu kata-kata, dikira hatinya Raein itu hutan belantara :p

    • nana eonnie ^^ makasih udah dipost ^^ hehe… pangeran ikan mah emang paling cocok untuk cerita2 begini, tadinya mau Kyuppa tapi dia mah evil, hehe…

      Hutan belantara cinta eon ^^ hahaha….

  2. Wah curang nie nana.. dh baca dluan, tp seSUJU.. si ikan sllu nak dbca critny pa lg klo romantis kyk gtu.. wah gelar Don Juanny keep in His Soul
    ffny so sweet.. putput ska ^^

  3. seneng deh bisa baca cerita dari violet kecil yang selalu membuat haru biru. *apasih.
    ceritanya selalu ringan untu di baca. nice job ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s