You Complete Me… (FanFic by Sachakarina)

You Complete Me..

By Sachakarina

Untuk Nana Onnie. Aku nggak yakin cerita seperti ini yang Onnie inginkan, tapi semoga suka ya^^ Maaf kelamaan :p

***

Mencintai secara diam-diam adalah pekerjaan yang sangat melelahkan sedangkan berusaha mengungkapkannya langsung adalah sesuatu yang terasa berat. Sepertiku. Yang hanya bisa mencintai diam-diam, mengagumi dari dekat tapi tak pernah bisa mengutarakannya meski kesempatan sudah di depan mata—setiap kali. Hampir setiap hari.

Kukantongi persahabatan darinya, yang perlahan-lahan seperti akan membunuhku sendiri. Jika dia bukan sahabatku, bisakah aku berterus-terang? Jika aku tak pernah takut kehilangan dia, sudahkah aku mencoba?

***

Jemari tangan Kang Minhwa berhenti melenggang di atas keyboard komputernya setelah menuliskan dua paragraf yang tak bisa dibilang panjang tapi nyaris menghabiskan seluruh energinya. Ia merasa sangat lelah setelahnya. Sepuluh menit berikutnya digunakan Minhwa hanya untuk terdiam, kemudian dicobanya menuliskan beberapa kata lagi. Ia menggelengkan kepala lalu menekan tombol shift+backspace beberapa kali agar kalimat tadi terhapus dengan lebih cepat.

Minhwa ingin cepat-cepat menyelesaikan cerita itu karena beberapa pembacanya sudah menanti-nanti kelanjutan cerita dari novel online (diupdate secara berkala) yang dipostingnya di sebuah forum sejenis. Minhwa tak menyangka bahwa novelnya sangat diminati di forum itu, mengingat dia baru bergabung beberapa minggu. Di forum yang lama saja ia tak pernah mendapatkan pembaca sebanyak saat ini, padahal menurutnya, cerita yang ditulisnya saat ini biasa-biasa saja. Hanya sebuah cerita mengenai cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Based on true story.

Dari semua komentar-komentar yang ditinggalkan oleh para pembacanya, Minhwa selalu tertarik dengan seorang pembaca yang sekalipun tak pernah absen untuk mengomentari karyanya. Bukan hanya sekedar komentar tapi juga memberikan saran-saran yang sangat membangun.

Mr. P said

Ceritamu memang biasa, bahkan terlalu sering diceritakan. Tapi kamu mengemasnya dengan apik hingga tampak berbeda dari cerita yang lainnya. Hanya saja sepertinya kamu butuh seorang tokoh baru yang bisa mendampingi tokoh utamamu. Kau terlalu terfokus pada kepedihan yang dirasa tokoh utamamu hingga membuat ceritamu memiliki sisi yang sedikit bercela.

Minhwa selalu bertanya-tanya siapa orang itu sebenarnya, apakah seseorang yang dikenalnya? Minhwa sendiri tidak yakin dengan hal itu karena di forum baru itu dia menggunakan nama pena lain, bahkan sahabatnya sendiri tidak ia beritahu. Ibarat kata, ia pindah rumah diam-diam.

Saran yang diberikan Mr. P sangat berarti untuk Minhwa. Yang jadi masalah hanya bagaimana menuliskan untuk memasukkannya ke dalam cerita. Otaknya sekarang seperti jalanan yang sedang macet total.

Minhwa kembali terdiam, lebih kepada mengkhayal daripada berpikir. Tiba-tiba saja pikirannya melayang pada seseorang yang hampir setahun ini mengisi seluruh sudut di hatinya. Ruang itu nyaris tak punya tempat lagi untuk menyisipkan orang lain di dalamnya. Senyumnya sedikit mengembang membayangkan makan siang mereka berdua yang sangat hangat dan menyenangkan hari ini, dengan Yesung, teman sekantornya, hanya saja mereka berada di divisi berbeda. Andai setiap hari bisa mereka habiskan seperti itu.

Sebelah tangan Minhwa terjulur untuk mengambil sebuah cangkir berisi teh chamomile yang sengaja disiapkannya sebagai teman menulis hari ini. Stok cokelatnya sedang habis jadi ia beralih ke teh untuk sementara. Tepat saat Minhwa meletakkan kembali cangkirnya di tempat yang sama ia mengambilnya tadi, ponselnya berdering, memperdengarkan suara seseorang yang memanggil namanya dengan mesra.

Nada dering itu Yesung rekam beberapa waktu lalu saat mereka bercanda di tengah makan siang. Pria itu tak tahu bahwa Minhwa masih menyimpannya bahkan sampai menggunakannya sebagai nada dering khusus.

Yesung Oppa!” seru Minhwa ceria. “Ada apa?”

Kau mau cokelat?”

Hah?” Minhwa melongo sebentar. Ditatapinya jam dinding dengan tidak percaya.

Hey. Minhwa-ya.” panggil Yesung karena tak ada jawaban dari ujung telepon. Minhwa sedikit tersentak.

Tentu. Aku sangat ingin.”

Aku ada di depan toko di perempatan menuju blok rumahmu? Aku merasa sedikit malas untuk ke sana jadi bisakah kau saja yang ke sini? Aku punya cokelat dan sesuatu yang ingin kukatakan.”

Cokelat dan sesuatu hal yang ingin dikatakan adalah satu-kesatuan yang sangat tepat. Tepat sekali membuat asa Minhwa melambung semakin tinggi dan membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ceritanya akan berakhir bahagia. Begitukah?

Masih mengenakan celana pendek dan baju kaos yang sudah tampak lusuh karena terlalu sering dipakai, Minhwa langsung berlari meninggalkan apartemen kecilnya tanpa mengunci pintu. Dia berlari secepat yang ia bisa. Hanya dalam beberapa menit ia sudah berdiri di hadapan Yesung dengan nafas tersengal-sengal.

Kau berlari sampai ke sini hanya untuk sekotak cokelat?” tanya Yesung. Minhwa hanya mengangguk karena tak mampu berkata apa-apa, ia masih sibuk membetulkan aliran udara yang masuk ke dalam paru-parunya. “Gwaenchana?” Yesung murni khawatir.

Agar kau tak menunggu lama.” ucap Minhwa akhirnya. “Apa yang ingin kau katakan, Oppa?” kata Minhwa sedikit menuntut, ia tak sabar dengan apa yang akan dikatakan Yesung padanya.Sesuai janjinya, Yesung memberikan sekotak cokelat dengan pita yang sangat manis kepada Minhwa. Apa artinya ini kalau bukan Yesung akan memintanya jadi pacar?

Di kepala Minhwa mulai tersusun sebuah skenario terbaik, apa yang akan dia katakan dan apa yang akan dia lakukan setelahnya. Tanpa Minhwa bisa tebak, Yesungmengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam sakunya. Mata Minhwa berbinar melihat sebuah cincin cantik yang berkilau saat diterpa sinar lampu toko.

Untuk siapa itu, Oppa?” Entah darimana pertanyaan itu muncul hingga terlisan oleh bibir Minhwa. Hanya saja ia tak menyangka jawabannya adalah sebuah bencana bagi hatinya.

Aku baru saja membelinya atas saran orang tuaku. Kau tahu, ternyata selama ini mereka telah menjodohkanku dengan Ji Young, sahabat kecilku dulu.” Senyum Minhwa langsung memudar, sekuat tenaga ia pertahankan ekspresinya agar tampak biasa-biasa saja. Berikutnya ia memasang senyum palsu.

Minhwa pernah mendengar nama itu disebutkan Yesung berkali-kali dalam obrolan mereka, terutama mengenai masa kecil mereka yang menyenangkan dan selalu ingin diulang kembali oleh Yesung. “Dulu kami sering bermain pengantin-pengantinan dan dia akan segera menjadi pengantinku yang sebenarnya.” Yesung memulai lagi bernostalgia. Minhwa tak tahu akan berkata apa untuk menanggapinya.

Komentar Mr. P di ceritanya terngiang-ngiang. Selama ini ia hanya terfokus pada Yesung dan rasa sukanya. Dia tak pernah mempertimbangkan hal lain, kisahnya benar-benar bercela.

Sekarang dia merasa penuh celah. Kosong.

Setelah membeli ini, aku melewati sebuah toko cokelat dan teringat padamu. Makanya aku menemuimu sekaligus memberitahukan kabar gembira ini.”

Gomawoyo, Oppa.” Minhwa bergumam dengan susah payah. Dadanya terasa sesak, matanya terasa perih karena air mata yang mendesak tumpah. “Chukkaeyo.

Ne. Kau pulanglah.”

Minhwa mengangguk lalu berbalik dan berjalan seperti orang linglung menuju apartemennya. Sebelah tangannya otomatis terangkat ke bagian dada, menekan daerah itu dengan keras, berharap bisa meredakan nyeri yang semakin menjadi-jadi. Air mata yang sedari tadi ditahannya mulai jatuh. Minhwa berhenti melangkah, dia jatuh merosot di tepi jalanan yang sepi sambil memeluk tubuhnya sendiri, menangis dalam diam.

Dia berharap hujan jatuh saat itu juga untuk menghapus air matanya tapi langit malam itu sangatlah cerah, menunggu hujan turun hanyalah perbuatan sia-sia.

Tling… Tling.. Tling..

Tiga buah uang koin jatuh tepat di hadapan Minhwa, berputar-putar sebentar sebelum berhenti sempurna di atas jalan. Minhwa mendongak, seorang pria tengah menatapnya dengan prihatin, pria itu semakin kaget saat melihat wajah Minhwa yang bersimbah air mata. Buru-buru pria itu merogoh kantong celananya dan mengeluarkan selembar uang dengan nominal seribu won dari sana kemudian meletakkannya dengan lebih hati-hati tepat di depan Minhwa, di dekat uang-uang koin tadi.

Mata Minhwa sontak melebar. Memangnya ia seorang pengemis? Dengan kondisi seperti itu, emosi Minhwa meningkat dengan cepat. Diraupnya uang senilai seribu tiga ratus won itu dari hadapannya dan dilemparkan ke arah si pemberi. Uang-uang itu terpental kembali ke jalanan setelah menumbuk dada pria itu.

Aku bukan pengemis. Tak usah sok kaya!” kata Minhwa tajam kemudian meninggalkan pria yang kebingungan itu.

***

DIA-AKAN-SEGERA-MENIKAH.

Itu adalah kenyataan yang harus aku hadapi. Lalu bagaimana dengan hatiku? Bagaimana aku mengobati luka dalam ini? Tak ada dokter yang bisa mendiagnosisnya dengan tepat, tak ada satupun jenis formula yang bisa menguraikannya, dan tak ada matematika yang mampu menjabarkannya. Mati.

Aku seperti mati.

Hya, Kang Minhwa, kau pindah forum tanpa memberitahuku. Kenapa?” tuntut sahabat Minhwa—Yoora, saat mereka berpapasan di lift menuju ruangan mereka. Minhwa tak memberikan jawaban, dia sedang tidak mood berbicara—dengan siapapun itu. Begitu pintu lift terbuka, Minhwa buru-buru keluar. “Hya, hya.” Yoora setengah berteriak sambil berlari mengejar Minhwa.

Jangan menggangguku. Aku sedang sibuk!” pesan Minhwa sebelum duduk di depan kubikelnya. Sekali-sekali Yoora melirik ke arah sahabatnya dan mencibir. “Huh, sibuk apanya? Sibuk mengkhayal?” cela Yoora lalu kembali tenggelam dalam layout-layout gambar yang ditampilkan komputernya.

Mereka berdua bekerja di sebuah biro periklanan dan tergabung dalam creatif department. Yoora adalah seorang art director sedangkan Minhwa adalah seorang copywriter.

Disaat sedang sibuk-sibuknya Minhwa menatapi kosong layar komputernya yang menyajikan rangkaian-rangkaian kalimat panjang dalam beberapa paragraf, sapaan Yoora berkali-kali membuatnya terganggu.

Wae?” serunya jengkel pada sang sahabat. Yoora memberi kode dengan mata, mengisyaratkan agar Minhwa mengangkat wajah untuk melihat sesuatu yang lumayan penting. Minhwa langsung bangkit berdiri saat melihat creative director-nya, Mrs. Hwan berdiri di hadapannya bersama seorang pria yang membuat mata Minhwa melotot. Pria itu juga sama kagetnya seperti Minhwa.

Tidak hanya sampai disitu karena berikutnya Mrs. Hwan memberitahukan bahwa pria yang bernama Park Jungsoo itu adalah creative director mereka yang baru. Mrs. Hwan memang sudah mengajukan surat penguduran diri sejak sebulan lalu karena akan mengikuti suaminya pindah ke luar negeri.

Mrs. Hwan memperkenalkan keduanya. Minhwa memperkenalkan dirinya dengan tatapan sinis. Bagaimana dia bisa berbaik-baik pada orang yang pernah melemparkan uang padanya, mengiranya seorang pengemis hanya karena ia menangis di pinggir jalan dengan pakaian sedikit lusuh. Pria sok kaya itu akan menjadi atasannya. Bukankah sangat menyebalkan?

***

Satu hari panjang yang terasa berat. Minhwa menggunakan segala cara untuk menghindari Yesung saat di kantor. Tidak begitu sulit karena mereka tidak berada di departemen yang sama, dia hanya perlu makan siang agak terlambat dari biasanya agar tidak berpapasan di kantin dengan Yesung, atau berbelok ke sembarang arah saat melihat Yesung dari jauh, akibatnya dia harus mengambil jalan memutar menuju ruangannya dan pulang agak telat agak tidak berpapasan di lobi saat jam bubaran kantor.

Kegiatan-kegiatan itu berhasil dilakukannya dengan baik di kantor, tapi tidak di rumah. Karena pikirannya selalu jatuh pada pria itu, menimbulkan denyut nyeri di dadanya saat mengingat bagaiman ekspresi bahagia Yesung mengatakan bahwa dia akan menikah.

Melihat orang yang kita cintai bahagia, itu sudah cukup. Selama ini Minhwa selalu yakin dengan pernyataan semacam itu yang selalu dilontarkan orang-orang, termasuk dirinya—dulu. Sebelum dia dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit. Bahwa orang yang dicintainya berbahagia dengan gadis yang bukan dirinya.

Sebuah tanya mulai terngiang, benarkah dia bahagia melihat orang dicintainya bahagia?

Kenapa kisah cintanya tidak semulus Putri Salju, Cinderella, Rapunzel atau tokoh Disney lain yang tak pernah salah dan kecewa dalam memilih pasangan hidup. Pangeran pertama yang datang berarti itulah yang terakhir, lalu mereka akan hidup bahagia selamanya.

Happily ever after.

Memuakkan!

Slogan dari cerita tidak masuk akal yang tidak mendidik.

Minhwa mengukir janji dalam hati, ia tidak akan pernah membacakan dongeng-dongeng itu untuk anak-anaknya kelak. Agar anak-anaknya tidak termakan cerita-cerita palsu macam itu.

Minhwa menyambar mug berisi cokelat yang ia siapkan untuk memperbaiki suasana hatinya. Andai saja memakan berkotak-kotak cokelat dapat menyelesaikan masalah, ia pasti dengan senang hati melakukannya.

Ia ingat, disaat PMS yang mengganggu dimana moodnya naik turun seperti roller coaster, Yesung selalu memberinya cokelat (Bagaimana pria itu tahu siklusnya?). Setiap memakannya, Minhwa merasa cokelat itu menjadi sangat manis dan moodnya menjadi baik sekali karena menganggap cokelat itu dibumbui dengan rasa cinta juga.

Cukup!!

Minhwa meletakkan mugnya dengan sedikit kasar di tempat semula, menimbulkan bunyi gedebuk pelan saat alasnya bertubrukan dengan meja. Minhwa beralih ke komputernya yang menampilkan layar berwarna hitam, sekali sentuhan mouse membuat layarnya kembali ke halaman forum. Ia baru saja mengupdate cerita.

Minhwa me-refresh forumnya. Ada sebuah komentar.

Mr.P said

Cukup sudah untuk bersikap menyenangkan kalau hidup seperti lagu. Tapi orang yang hebat adalah yang bisa tersenyum saat semua berantakan, sebab ujian terbesar bagi hati adalah kesulitan. Namun kesulitan selalu datang setiap waktu dan senyuman yang bersinar menembusi air mata.

Minhwa merasa tersentuh dengan kalimat itu, seperti memberinya sebuah kekuatan baru. Ia tersenyum. Mr. P ini seperti mengerti keadaannya.

Tunggu! Minhwa membaca sekali lagi komentar itu. Komentar yang seolah-olah ditujukan padanya, bukan pada ceritanya. Tidak mungkin Yoora yang mengerjainya seperti ini.

Jadi, siapa si Mr. P ini sebenarnya?

***

Astaga, jadi cerita yang kamu bikin di forum itu pasti kisah nyatamu kan?” todong Yoora saat mereka makan siang di kantin. Setelah membaca cerita itu—yang menurutnya terlalu banyak kesamaan dengan kisah Minhwa di dunia nyata, ia akhirnya menyimpulkan begitu. Mereka hanya punya makan siang sebagai saat yang tepat untuk mengobrol karena iklan yang mereka garap sedang banyak-banyaknya dan semuanya tidak bisa dikerjakan dengan asal-asalan.

Minhwa melotot ke arah Yoora karena sahabatnya itu berbicara lumayan keras. Yoora segera mengatakan maaf hanya dengan bahasa bibir, tidak mengeluarkan suara.

Apa aku bisa bergabung di sini?” Baik Yoora maupun Minhwa sama-sama menoleh dan mendapati atasannya berdiri di depan meja mereka dengan membawa nampan berisi makanannya.

Silahkan,” jawab Yoora ramah sedangkan Minhwa mendengus dengan sangat kentara. Apa sih maksudnya si Mr. Park (begitu dia terbiasa menyapa atasannya) ini bergabung dengan mereka segala? Kan masih banyak meja kosong yang lain.

Aku tidak begitu suka makan siang sendiri, kebetulan aku melihat kalian jadi aku memutuskan bergabung. Tidak keberatan kan Miss Kang?” Park Jungsoo berbicara seolah bisa membaca apa yang ada di kepala Minhwa. Minhwa tidak menjawab apa-apa. Dia tidak mungkin bilang tidak, apalahgi orang yang ada di hadapannya ini adalah atasannya.

Tidak apa-apa. Minhwa tidak akan keberatan.” Yoora menjawab cepat, berusaha mencairkan suasana. Yoora melirik Minhwa tapi sahabatnya itu sibuk menyumpit nasinya butir perbutir. Pikiran Minhwa jelas bukan di depan tempat itu. Pasti sedang dikuasai oleh Yesung. Minhwa sudah bercerita padanya—sedikit—dan Yoora bisa membaca di cerita yang ditulis Minhwa juga. Cerita-itu-sangat-Minhwa-sekali.

Yoora tidak suka diabaikan, jadi dia mencari topik pembicaraan yang bisa memancing Minhwa untuk bicara. Syukur-syukur kalau atasannya juga bisa ikut bergabung dalam obrolan itu.

Minhwa-ya, apakah peristiwa di pinggir jalan itu benar-benar nyata? Saat seseorang mengira dirimu sebagai pengemis dan memberimu uang?” Mendengar kalimat Yoora, Minhwa langsung melotot lagi. Memberi isyarat agar Yoora tidak banyak bicara, apalagi di depan si pelaku. Minhwa memang tidak menceritakan peristiwa itu pada Yoora karena takut si cerewet satu itu bisa saja bertanya macam-macam pada Mr. Park, Minhwa melirik atasannya tapi pria itu seperti tidak mendengar apa-apa.

Aku suka kalimat-kalimat iklan yang kau buat, Miss Kang.” puji Jungsoo tulus.

Minhwa tersenyum sekilas, berbasa-basi. “Gamsahamnida.

Minhwa juga adalah seorang penulis novel. Dia sering memposting karya-karyanya di beberapa forum dan memiliki banyak pembaca.” Yoora dengan senang hati memberitahu Jungsoo. Dia tidak suka suasana di sekitar mereka yang seketika menjadi formal. Jika di dalam kantor mungkin tidak masalah, tapi ini adalah jam makan siang. Yoora tidak suka makan siangnya menjadi tidak nyaman hanya karena masalah seperti ini.

Benarkah?”

Ne. Apalagi ceritanya di forum—aw.” Yoora mengaduh karena tulang keringnya ditendang oleh Minhwa sedikit keras. Minhwa melotot lagi. “—benar-benar menarik. Ya, cerita yang ditulis Minhwa memang menarik. Jadi wajar saja jika ia menjadi seorang copywriter.” lanjut Yoora, melenceng daripada yang akan dikatakannya tadi.

Tahu-tahu seseorang datang menghampiri mereka. Ketiganya serentak menoleh tapi hanya jantung Minhwa yang mencelos.

Minhwa, akhirnya kita bisa bertemu di sini.” Yesung sedang berdiri di hadapan mereka dengan senyum merekah. “Oh, kau ada disini juga Jungsoo Hyung? Menyenangkan sekali, aku tidak perlu repot-repot mencari kalian satu-persatu.” Yesung tak perlu menyebutkan Yoora karena selama itu di kantor, dimana ada Minhwa selalu ada Yoora juga. Yesung menarik kursi dan duduk di kursi kosong di samping Minhwa.

Kalian kenal?” tanya Yoora sambil bergantian menunjuk Yesung dan Jungsoo.

Tentu, kami sudah saling kenal sejak zaman kuliah.” jawab Yesung. “Oh, ini.” Yesung mengangsurkan tiga lembar kertas yang lumayan tebal berwarna maroon, berhiaskan bordiran simple dipinggirannya. Minhwa bisa menebak itu apa.

Jungsoo mengambil kertas itu dan membaca isinya. “Kau sudah akan menikah? Selamat, aku tidak menyangka kau mendahuluiku.”

Yesung tertawa. “Kau terlalu sibuk bekerja hingga lupa mencari pasangan, Hyung. Kau juga sebaiknya cepat menyusul.” Jungsoo tertawa renyah menanggapinya.

Minhwa berusaha menahan diri agar tidak pergi saat itu juga, sedangkan Yoora mengawasi Minhwa.

Apa kau sibuk sekali akhir-akhir ini? Kita jadi jarang bertemu.” Yesung beralih kepada Minhwa. Minhwa menoleh ke arah Yesung dengan sedikit gugup.

Ne, banyak iklan.” jawabnya singkat.

Ah, tapi jangan sampai lupa istirahat, kau bisa saja sakit lagi seperti dulu.” Kenapa Yesung mesti mengatakannya? Kembali mengingatkannya? Padahal Minhwa ingin selalu lupa peristiwa itu. Dulu, dia menganggap itu adalah hal terromantis dalam hidupnya ketika Yesung memasakkan bubur khusus untuknya yang sedang sakit.

Minhwa memucat, untung saja Yesung cepat beranjak pergi setelah mewanti-wanti agar ketiga orang yang ada disitu harus hadir di pernikahannya dua minggu lagi.

Sepeninggal Yesung, Minhwa segera berlari pergi. Yoora yang kebingungan terpaksa mengikuti Minhwa yang berlari ke arah toilet. Bisa saja Minhwa memang sedang ingin buang air kecil atau apa, tapi kali ini Yoora yakin bahwa Minhwa berlari ke kamar mandi untuk membuang air matanya.

Jungsoo hanya bisa menerka-nerka, sepertinya telah terjadi sesuatu.

Mungkinkah karena hari itu?

***

Minhwa terus saja cemberut selama di perjalanan. Mereka akan ke pulau Nami. Harusnya dia senang bisa ke pulau kecil yang terkenal sejak sebuah drama menjadikan tempat itu sebagai lokasi syuting. Dia mungkin bisa bersenang-senang, jika tidak pergi bersama atasannya ini. Hanya berdua.

Yoora tidak bisa ikut karena terkena flu sejak dua hari yang lalu. Jika ini bukan urusan pekerjaan, Minhwa pasti sudah menolak dengan keras. Sebuah agen pariwisata yang menawarkan tour di sekitar pulau Nami bekerja sama dengan perusahaan mereka. Dan saat ini mereka ke pulau Nami untuk melakukan observasi. Minhwa sudah berkali-kali ke pulau Nami dan dia sangat menyukainya. Siapapun tahu bahwa pulau kecil itu terkenal karena keromantisannya apalagi saat musim gugur seperti ini, tidak sulit bermain kata dari sana—jika otak sedang tidak buntu. Tapi ini adalah kemauan atasannya, ia bisa apa selain menurut.

Mereka disambut dengan jejeran pohon-pohon tinggi yang daunnya kini beralih warna menjadi kuning, cokelat, dan merah. Minhwa berjalan meninggalkan Jungsoo yang sedang sibuk membidikkan kamera ke spot-spot yang menarik. Sepanjang perjalanan mereka hanya bicara seperlunya, lebih tepatnya Mihwa hanya bicara seperlunya. Ia masih mengingat dengar jelas, bagaimana bunyi dentikan uang koin jatuh tepat di hadapannya, sangat menyebalkan, ditambah dengan kenyataan bahwa Jungsoo melihatnya menangis seperti anak kecil kehilangan ibunya di tempat ramai.

Hya, Minhwa.” teriak Jungsoo, memanggil Minhwa dengan nama kecilnya, bukan panggilannya yang biasa. Begitu Minhwa menoleh ke belakang, blitz kamera langsung menyambutnya. Untuk sesaat ia hanya berdiri terpaku sampai akhirnya Jungsoo melewatinya. “Ayo. Kita bahkan belum mengelilingi setengah dari pulau ini.”

Kali ini mereka berjalan beriringan karena Jungsoo berusaha menyamakan langkah. Setiap Minhwa berjalan lebih dulu ia akan segera mengejar, dan ketika Minhwa berjalan lebih lambat ia akan menunggu.

Apa kau tidak bisa menikmati liburan kita hari ini? jangan memikirkan hal lain. Lihatlah, semua orang nampak mesra dengan pasangannya. Apa kau tidak iri? Aku bisa berpura-pura menjadi pasanganmu selama di sini.”

Minhwa mendengus mendengar kalimat semi-gombal itu. “Kita disini untuk bekerja Mr. Park, bukan untuk bersenang-senang.”

Aish, kau terlalu serius. Nikmati saja suasananya sedikit. Padahal jika di kantor kau tampak lebih sering melamun daripada mengerjakan pekerjaanmu.” Minhwa tersentak karena kalimat itu.

Aku tidak melamun!” Minhwa mengutarakan pembelaaan diri.

Aku selalu memperhatikanmu.”

Minhwa terhenyak sebentar. Atasannya ini sering memperhatikannya tapi ia tidak sadar.

Kau tidak sadar kan? Karena kau melamun.” kata Jungsoo lagi. “Jadi hari ini aku tidak ingin melihatmu melamun. Aku tidak ingin diabaikan. Kita bisa menikmatinya bersama.” Minhwa mendengus lagi tapi kali ini dibarengi oleh senyum di wajahnya. “Nah, kau lebih cantik jika tersenyum. Sini, aku abadikan dulu.” Jungsoo membidikkan kameranya ke arah Minhwa yang terus berusaha menutupi lensa kamera menggunakan tangan agar ia tidak dipotret.

Mr. Park, aku tidak mau! Aku tidak suka!”

Jungsoo menurunkan kameranya. “Tunggu, jangan memanggilku Mr. Park. Ini bukan di kantor, ingat? Aish, kupingku jadi sakit karena panggilan itu.” Jungsoo berpura-pura mengorek telinganya. “Panggil aku Jungsoo. Atau kalau kau mau sedikit lebih romantis, panggil aku Oppa.

Minhwa mencebik. Memanggilnya Oppa? Hah. Jangan harap. Minhwa melangkahkan kakinya meninggalkan Jungsoo yang dengan segera mengikutinya.

Mereka kembali menyusuri jalan-jalan yang tertutupi daun berwarna kemerahan yang jatuh dari tanah, jika angin berhembus sedikit lebih kencang, daun-daun itu ikut beterbangan. Minhwa terpukau. Sangat indah.

Minhwa mengamati sekitaran, dimana-mana ada pasangan kekasih yang bermesraan, berusaha mengukir kenangan dengan berfoto di setiap sudut pulau itu. Minhwa merasa dadanya sesak. Ada rasa iri yang menyelusup. Mengapa ia tak bisa mengecap kebahagiaan sedikit saja? Seperti pasangan-pasangan itu?

Ia lelah dengan perasaannya tapi tak bisa berhenti dengan alasan yang tidak jelas. Minhwa duduk di tepi danau, dipungutnya sebuah kerikil kecil di dekat kakinya dan dilemparkan ke dalam danau yang menimbulkan riak kecil.

Minhwa terlonjak kaget saat sesuatu yang hangat menyentuh pipinya, Jungsoo berdiri di sebelahnya, menyodorkan sekaleng cokelat hangat untuknya, lengkap dengan senyum manis yang mengekspos lesung pipinya. Minhwa baru memperhatikan lesung pipi itu.

Gamsahamnida, Jungsoo ssi”kata Minhwa, memutuskan untuk memanggil Jungsoo dengan sedikit tidak formal. Paling tidak, tidak seformal saat mereka di kantor. Jungsoo duduk di sebelahnya, mereka memandangi danau itu bersama-sama.

Tidak lama lagi danau itu akan membeku,” Jungsoo mengisi keheningan di antara mereka. Minhwa menoleh sebentar lalu kembali menatapi riak-riak kecil di danau.

Maaf.” seru Jungsoo pelan. Minhwa menoleh sekali lagi, menatap Jungsoo yang sedang meneguk kopi kalengan hangatnya. “Malam itu, aku kira kau seorang—gelandangan. Aku hanya ingin menolong, bukan ingin menjadi sok kaya. Kupikir, jika kuberi kau sedikit uang, itu akan sedikit membantu. Aku tidak bermaksud apa-apa.”

Minhwa mengerjap mendengar pengakuan itu. Bukan sesuatu yang menyentuh, tapi bisa membuat hatinya sedikit merasa ringan. Tidak dipenuhi benci dan dendam pada pria satu ini. Kalau dipikir-pikir, saat itu dia memang sedikit emosional sehingga merasa sangat marah. Tapi sekarang, tidak ada alasannya untuk terus marah pada Jungsoo. Pria ini sudah sangat baik padanya seharian, juga hari-hari sebelumnya. Juga tidak pernah menegurnya saat ia melamun di sela-sela jam kerja padahal Jungsoo sangat berhak marah. Mungkin..

..dia bisa berbaikan dengan pria ini.

Tapi sungguh, saat itu kau menangis seperti anak kecil kehilangan Ibu. Untung saat itu aku tidak tertawa.”

Sial! Minhwa langsung menelan semua kata-kata yang sudah disusunnya, dia lebih memilih tidak berbaikan dengan Jungsoo jika pria itu berniat menjadikannya lelucon. Jungsoo memang tidak mengerti sama sekali dengan perasaannya saat itu tapi paling tidak hargai dia yang ada sekarang dengan tidak membuatnya malu. Aish..

Minhwa beranjak pergi meninggalkan Jungsoo yang kelabakan di belakang.

Sial. Apa maksudnya mengungkit-ungkit itu? Apa? Aku terlihat lucu? Hah. Beruntung saat itu dia melihatku masih utuh dan tidak pecah berkeping-keping seperti gelas kaca yang terjatuh. Aish..” Minhwa menggerutu kesal dan berjalan cepat-cepat. Tidak diperdulikannya teriakan Jungsoo yang terus memanggilnya.

Jungsoo segera mengejar dengan cepat, ia tidak menyangka Minhwa ternyata sesensitif itu. Padahal tadi dia yakin, mereka sudah merasa nyaman satu sama lain. Minhwa sudah merasa nyaman bersamanya. Karena Minhwa tidak mau berhenti berjalan, maka Jungsoo berusaha menghentikannya.

Ditangkapnya pergelangan tangan Minhwa dan disentaknya dengan tidak begitu keras, membuat Minhwa kesakitan hanya akan menghasilkan masalah baru. Wanita itu pasti akan langsung pulang. Padahal dia sengaja menyiapkan semua perjalanan ini. Bahkan meminta Yoora untuk bekerja sama.

Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung jadi maafkan aku. Aku tahu aku keterlaluan. Akan kulakukan apapun untuk menebusnya. Janji.” Jungsoo mengangkat jari tengah dan telunjuknya membentuk V.

Tinggalkan aku.” seru Minhwa kembali. Jungsoo bergeming. “Kau bilang akan melakukan apapun kan? Tinggalkan aku!” Jungsoo hanya mengamati Minhwa dengan intens membuat wanita itu jadi sedikit risih. “Aku bilang tinggalkan aku, Park Jungsoo ssi.”

Minhwa sengaja memberi penekanan di setiap kata. Ia benar-benar hanya ingin sendiri. Minhwa berbalik, ia menarik tangannya agar dilepaskan tangannya agar dilepaskan oleh Jungsoo.

Bukannya terlepas, genggaman tangan itu semakin erat. Tidak hanya sampai disitu, Jungsoo lalu menarik Minhwa hingga mendekat padanya. Satu kecupan didaratkan di bibir Minhwa dengan cepat.

Sesaat Minhwa tak bisa bereaksi, sarafnya sedikit lambat mengirimkan pesan ke otak mengenai apa yang sedang terjadi. Begitu ia tersadar, didorongnya tubuh Jungsoo. Ditatapnya Jungsoo dengan murka, ingin sekali rasanya ia menampar pria kurang ajar itu, tapi tangannya tak bisa bergerak.

Pada akhirnya ia tak melakukan apa-apa selain berbalik cepat dan pergi menjauh dari situ.

Dia ingin pulang.

Brengsek.” Minhwa menggeram, ia usapkan punggung tangannya ke bibir dengan kasar untuk menghapus bekas ciuman tadi.

Aku tahu semua tentang kau.” Samar-samar Minhwa mendengar seruan Jungsoo dari belakang.

Air mata Minhwa mulai jatuh.

***

Minhwa menjadikan ceritanya di forum sebagai diari terselubung. Semuanya ditulis dengan detail. Tentang surat undangan Yesung, tentang atasannya, tentang perjalanan ke Naminara, dan tentang ciuman itu. Hanya nama latar dan tokohnya saja yang diubah.

Banyak orang yang menyukai ceritanya, berarti banyak yang juga menyukai kisahnya, yang nyatanya terasa menyakitkan. Karena orang-orang itu tidak merasakan.

Mr. P said

Pria itu menyukaimu.

Mihwa mengernyit. Kalimat itu ditujukan padanya, bukan pada tokohnya (meski memang dialah si tokoh itu sendiri).

Thecuties said

Menyukaiku? Hahaha. Aku penulis Fiksi, jangan berpikir bahwa ini adalah kisah nyataku.

Tidak ada balasan.

Minhwa mulai bertanya-tanya lagi siapa pria (atau wanita yang berpura-pura jadi pria?) itu sebenarnya. Ini adalah komentar kesekian kali yang ditujukan padanya, bukan kepada tokohnya yang menjadi objek saat itu. Minhwa sedikit takut, siapa yang mengetahui identitasnya?

Besoknya, Minhwa menodong Yoora. Hanya sahabatnya itu yang tahu mengenai dirinya. Teman-temannya yang lain tidak tahu bahwa dia berpindah forum, apalagi dengan nama baru, sulit untuk dilacak.

Apa iya dari gaya penulisannya? Tidak mungkin. Banyak orang yang memiliki gaya penulisan yang hampir sama.

Eh, cerita yang baru kamu update itu nyatakah?” Yoora bertanya penuh selidik. Penasaran dengan adegan-adegan di Pulan Nami.

Tidak. Kamu tahu kan kalau aku adalah penulis Fiksi. Fiksi berarti tidak nyata. Aku bebas mengekspresikan imajinasiku dalam tulisan. Kalau aku mau menuliskan semua kisahku di novel itu, hanya akan membuat pembaca bosan. Tidak ada yang menarik.” kilah Minhwa.

Yoora mengangguk-angguk membenarkan. Para penulis fiksi memang tahu bagaimana berbohong dengan cantik—dalam tulisannya dan membuat semua orang menganggap seolah-olah itu nyata. Jadi siapa yang disalahkan? Pembaca tahu bahwa itu kebohongan tapi tetap menyukainya juga kan?

Sudahlah! Yang penting semua senang.

Tapi ceritanya hampir sama. Kamu kemarin pergi ke pulau Nami dengan Mr. Park kan? Di ceritamu juga seperti itu. Apa Mr. Park menciummu?”

Satu tebakan jitu. Tapi Minhwa menutupinya dengan lirikan panjang nan mematikan.

Jangan mengkhayal. Selesaikan saja pekerjaanmu.” kata Minhwa dengan jutek.

***

Hari ini Jungsoo tidak masuk. Minhwa mengatakan justru merasa sangat senang, tapi ketika mendapati kenyataan bahwa dua hari setelahnya atasannya itu belum masuk kantor juga, ia merasa ada yang salah.

Semenjak peristiwa di Naminara itu mereka memang menjadi semakin canggung satu sama lain, berbicara hanya seperlunya saja. Atau mereka meminta bantuan Yoora menjadi perantara. Yoora jelas semakin curiga dengan apa yang terjadi.

Mungkin ia merindukan melirik apa yang dilakukan Jungsoo saat itu, atau dengan takut-takut mengangkat kepala dan mendapatkan ketakutannya menjadi nyata: Jungsoo sedang mengamatinya. Dan pria itu tak pernah sedikit pun berusaha menyembunyikan tatapannya. Jika tatapan mata mereka bertemu, Minhwa yang akan pertama kali membuang muka—dengan dada yang bergemuruh. Dan lebih bergemuruh lagi saat mengingat ciuman mereka.

Minhwa menggeleng frustasi, semakin dia ingin mencoba melupakan peristiwa itu, semakin dia mengingatnya dengan sangat detail. Genggaman erat dan hangat Jungsoo di pergelangan tangannya, kecupan lembut yang mendarat di bibirnya, sorot mata Jungsoo.

Oh Tuhan. Ada apa dengannya?

***

Kian hari Minhwa kian penasaran mengenai identitas Mr. P karena belakangan orang itu bukan lagi memberi komentar dan saran untuk ceritanya tapi lebih kepada hidupnya. Sepertinya orang itu mengerti sekali dengan yang dialaminya.

Minhwa pernah mencoba mengiriminya email sekali dan mengajaknya untuk bertemu langsung, tapi orang itu hanya berkata bahwa akan ada saatnya untuk itu. Jika waktunya terasa sudah tepat, Minhwa tak perlu meminta.

Minhwa menelan bulat-bulat rasa penasarannya. Pandangan Minhwa jatuh pada lembaran undangan yang masih belum dibukanya sama sekali. Ia sudah tahu bahwa besok adalah hari dimana mimpi buruk itu akan menyata. Saat ini ia sedang mempertimbangkan apakah besok ia akan pergi atau tidak.

Seseorang mengetuk pintu apartemennya, begitu ia membuka pintu, Yesung berdiri disana. Minhwa hanya terdiam. Terkejut. Tidak lebih dari 24 jam, pria ini akan melaksanakan pernikahannya, mengapa sempat-sempatnya dia menemui Minhwa malam ini? Bukankah kalau ia lebih baik istirahat saja. Semua orang ingin terlihat sempurna di hari pernikahannya bukan?

Apa aku mengganggumu?” tanya Yesung.

Ani… Aniyo.” jawab Minhwa cepat-cepat sembari menggeleng.

Apa kita bisa bicara sebentar?” tanya Yesung lagi. Minhwa terdiam sebentar, rasanya ia ingin menggeleng saja tapi ia malah bergeser dari pintu mengisyaratkan agar Yesung masuk. “Tidak di sini.” tambah Yesung. Raut wajahnya yang tampak bersalah (?) membuat Minhwa makin tidak bisa menolak.

Tunggu sebentar, aku mengganti pakaianku dulu. Silahkan masuk, Oppa.” Minhwa merasa lidahnya tiba-tiba kelu karena satu kata tadi.

Aku menunggu di sini saja, jangan lama-lama.”

Tidak lama kemudian mereka sudah duduk di sebuah café yang tidak begitu ramai.

Cokelat hangat dan kopi.” kata Yesung saat pelayan menanyakan pesanan mereka. Minhwa terhenyak, Yesung sangat mengenalinya.

Apa kabarmu? Lama tak bertemu. Aku merasa sedikit rindu.” Yesung memulai. Minhwa tertawa pelan. Getir.

Baik. Jadi apa yang mengirimmu hingga kau datang menemuiku sedangkan besok adalah pesta pernikahanmu? Aku tak ingin disalahkan jika kau terlihat lelah besok.”

Maaf. Aku tidak tahu.” Yesung menunduk setelah mengatakannya.

Permintaan maaf untuk apa? Kau tidak tahu apa? Aku tidak mengerti.” balas Minhwa. Yesung mengangkat wajahnya dan menatap Minhwa langsung ke mata, wanita itu memalingkan pandangan.

Aku tidak tahu ternyata kau menyukaiku.” kata Yesung lirik. Mata Minhwa langsung melebar.

Mwo? Siapa yang memberitahumu? Pasti Yoora. Aish, dasar anak itu. Aku harus memberi perhitungan dengannya.” Minhwa mengoceh sendiri, ia bersiap meraih ponselnya yang tadi ia letakkan di atas meja saat tangan Yesung menahannya. Minhwa melepas ponsel itu dan segera menarik tangannya segera, meletakannya di atas paha.

Pelayan tadi kembali mengantarkan pesanan mereka. Yesung menyesap kopinya.

Bukan Yoora. Ada seseorang yang memintaku untuk memberitahumu, dia mencintaimu.” Minhwa mendengarkan Yesung dengan seksama, ia makin tidak mengerti. “Aku pasti menyakitimu. Aku sungguh tidak tahu.”

Kalimat itu. Sesuatu serasa membludak di dada Minhwa, meronta untuk dilontarkan.

Ya. Aku menyukaimu. Sejak dulu. Aku tahu aku bodoh karena tidak bisa mengungkapkannya padamu, tapi kau lebih-lebih bodoh karena tak bisa menyadarinya. Kau pikir kenapa selama ini aku selalu ingin bertemu denganmu? Kenapa aku tidak pernah bisa menolak permintaanmu? Dan kenapa suaraku selalu ceria jika di telepon—seperti yang kau tanyakan dulu? Karena aku menyukaimu, bodoh! Aku menyukaimu.” Minhwa setengah berteriak. Dikeluarkannya semua apa yang selama ini mengganjal. Tak dipikirnya apakah ada orang yang memperhatikannya atau tidak.

Yesung menghela nafas. Apa yang bisa dia lakukan untuk menebus kesalahannya. Dia benar-benar tidak tahu. “Aku—”

Hatiku benar-benar lebam karenamu. Kau merebut hatiku dengan manis dan meninggalkanku dalam kekosongan.” Kali ini Minhwa berujar dengan lebih pelan. “Ottokhe?” Ia bertanya lirih.

Maaf.”

Aku tahu ini bukan salahmu. Jika ada yang ingin disalahkan itu adalah aku.” Minhwa bangkit berdiri, sebelum meninggalkan tempat itu dia berujar untuk yang terakhir kali, “Setelah besok, aku mohon, jangan pernah menemuiku. Aku ingin membenahi hatiku yang terlanjur berantakan. Seharusnya kau tak usah datang.”

Yesung memandangi kopi hitamnya, menganggapnya suatu objek yang menarik. Ia menghela nafas panjang. Ia tahu ia sudah menyakiti Minhwa, dan wanita itu hanya menginginkan ia menghindar. Jika itu benar-benar bisa membantu Minhwa melupakan masa lalu mereka, ia akan melakukannya. Meski berat.

Perasaan Yesung kepada Minhwa memang hanyalah sekedar rasa sayang kakak ke seorang adik. Tapi itu cukup sulit, Minhwa sudah mengisi hari-harinya selama ini. Hari yang indah. Tak ada orang bisa dengan mudah melupakan kenangannya.

***

Minhwa berusaha mengatur nafasnya dan membenarkan detakan jantungnya saat tidak beraturan. Di sebelahnya, Yoora meliriknya dengan sedikit khawatir. Ia sudah menyarankan agar Minhwa sebaiknya tidak pergi saja, memaksakan diri hanya membuat Minhwa sendiri kesulitan.

Cukup hari ini saja. Hanya hari ini, lalu sudah. Aku tidak akan bertemu dengannya lagi setelah ini.” Alasan Minhwa sebelum berangkat tadi.

Kini mereka masuk ke dalam gedung resepsi yang sudah di dekor dengan sangat apik. Tidak berlebihan tapi indah dan nyaman. Setelah menyapa sang mempelai dan menyapa beberapa temannya yang juga hadir di situ, Minhwa menjauh dari keramaian.

Tahu-tahu datang seseorang berdiri di sampingnya. Jantung Minhwa mencelos.

Park Jungsoo. Atasannya.

Sangat benar sebuah penyataan yang mengatakan bahwa kita akan merasa bahwa sesuatu itu berarti jika sesuatu itu sudah tidak ada. Seperti yang dirasakannya.

Diam-diam, sepertinya ia merindukan pria yang ada dihadapannya saat ini. Sesuatu bergolak di perutnya dan menjalar naik ke dadanya. Dia merasa lebih utuh.

Jungsoo tersenyum playfull, “Merindukanku?” ujarnya dengan percaya diri. Minhwa tersenyum merendahkan. “Aku ada sesuatu untukmu.”

Sesuatu?”

Hmm, sebuah pengakuan. Jadi apa yang sangat ingin kau tahu saat ini?”

Minhwa tampak berpikir sebentar. “Darimana Anda selama ini?” tanyanya.

Oke, sesuai janji akan kujawab, aku ada beberapa urusan di luar negeri, urusan kantor. Ada lagi? Tapi jangan menggunakan bahasa formal. Kita sedang tidak di kantor kalau kau ingat.”

Kau menyukaiku?” Jungsoo tertawa mendengar pertanyaan itu. Sangat tepat, tapi bukan itu yang dia inginkan.

Jangan itu dulu. Harusnya itu pertanyaan pamungkas hari ini. Ada hal lain yang benar-benar membuatmu penasaran?” Minhwa terdiam lagi untuk berpikir, pada akhirnya dia menggeleng. “Mungkin kita mulai dengan nama pena Thecuties?” Jungsoo berusaha memberi clue.

Minhwa langsung melotot mendengar nama penanya—di forum terbaru.

Lalu sebuah cerita bersambung berjudul With Heart?”

Mr. P.” Minhwa mendesis. Inikah si Mr. P itu? Yang selalu mengomentari setiap cerita-ceritanya? Yang memberinya segudang saran? Yang seperti mengerti sekali dengan apa yang dialaminya?

Park Jungsoo. Mr. P. Seharusnya dia bisa menebak.

Aku adalah pengagum cerita-ceritamu. Yang ditulis dengan hati. Seperti judulnya.” ujar Jungsoo. Minhwa mengerjap beberapa kali.

Sejak kapan kau tahu itu aku?”

Sejak kau menuliskan tentang aku dalam ceritamu.”

Ah, cerita mengenai insiden di pinggir jalan itu. Ia hanya mengikuti saran Mr. P untuk memasukkan tokoh baru jadi dia memasukkan tentang kejadian itu. Tenyata berujung pada identitasnya yang terbongkar.

Jadi..

Aku senang kau menuliskan tentang aku dalam ceritamu, tentang kita. Karena tulisan itu ditulis dengan hati, pasti itu yang benar-benar kau rasakan kan?” Jungsoo mengerling. Minhwa teringat tentang detail cerita berdasarkan sudut pandangnya saat Jungsoo menciumnya di Naminara.

Astaga, seharusnya dia tidak menuliskan dengan detail seperti itu.

Sekarang kau tahu kalau komentar-komentar itu selalu kutujukan padamu. Jadi, aku tak perlu menjawab pertanyaan yang tadi kan? Aku yang akan bertanya, akan seperti apa akhir ceritamu? Aku selalu menantikan endingnya.”

Jadi, selama itu kau membohongiku? Pura-pura tidak tahu apa-apa jika kita bertemu. Menikmati permainanmu, hah?” Minhwa berteriak dengan marah. Satu titik air mata ikut jatuh melewati pipinya. Mengapa dia selalu dijadikan bahan lelucon seperti ini. Sangat-sangat tidak lucu.

Jungsoo terus membodohinya. Saat mereka makan bersama di kantin untuk pertama kalinya jelas Jungsoo sudah tahu. Tapi berpura-pura tidak tahu apa-apa saat Yoora dengan jelas menanyakan pertanyaan tentang kejadian di pinggir jalan.

Jungsoo juga tahu apa yang selalu membuatnya melamun, bagaimana luka di hatinya. Dan Jungsoo hanya melihatnya, menjadikannya tontonan yang mengasikkan. Seperti sebuah drama penuh air mata yang disukai banyak orang.

Kenapa kau melakukan ini padaku?” Minhwa bertanya lirih. Jungsoo merasa terkoyak mendengar nada sedih itu. Dia tidak bermaksud untuk menjadikan kisah Minhwa sebagai tontonan menarik, ia hanya mencari waktu yang tepat untuk masuk ke kehidupan yang mengosong itu.

Jungsoo maju selangkah dan menarik Minhwa dalam pelukannya. Wanita itu tidak meronta. Ia terlalu letih. Ia butuh sandaran. “Dia sudah menjadi milik orang lain. Aku ingin berhenti mencintainya.”

Kau bisa melakukannya. Dia akan melakukan apapun untuk membantumu.” Kata Jungsoo lagi, bisa dirasanya Minhwa membatu di dekapannya. “Tolong, jangan marah padaku, memang akulah yang memberitahu Yesung. Aku tak bisa membiarkan ini terus terjadi, aku tak bisa membiarkan dia tak tahu bagaimana perasaanmu sebenarnya kepadanya.”

Minhwa tidak bereaksi. Dekapan hangat itu seperti menenggelamkannya ke dalam dunianya sendiri, dunia yang baru terbentuk. Jungsoo menjauhkan tubuh Minhwa dan memegang kedua bahunya.

Aku menyukaimu. Kau percaya?”

Minhwa menunduk dalam.

Aku ingin berada di sisimu. Apakah kau mengizinkan? Bolehkah aku mengisi ruang kosong di hatimu?” Jungsoo melepaskan kedua tangannya dari bahu Minhwa digantikan juluran tangan kanannya di udara. Ia berharap Minhwa menyambutnya.

Sungguh. Aku mencintaimu.”

Ada jeda yang terasa panjang saat Minhwa hanya menatapi telapak tangan itu, lalu dengan ragu-ragu diangkatnya juga sebelah tangannya ke udara.

Sesuatu rasanya berpindah saat ia menyambut uluran Jungsoo. Ia bisa melihat dengan jelas lembaran baru yang akan dilaluinya. Mungkin bukan akhir dari perjalanan melainkan awal sebuah perjalanan baru yang—semoga saja—bisa dilaluinya dengan kebahagiaan.

Ia sedang mencoba. Berusaha mempercayakan hatinya kepada pria yang sedang menawarkan kebahagiaan untuknya.

Jungsoo menarik Minhwa ke dalam pelukannya lagi. Dikecupnya puncak kepala Minhwa.

Gomawo. Saranghaeyo.

-The End-

8 thoughts on “You Complete Me… (FanFic by Sachakarina)

  1. Omona… finally ada juga yah yang bikinin FF buat diriku, sump[ah tersanjung banget nie…. untung aja diriku g bersayap kalo bersayap dah terbang nie *apa sie lebay deh* okey skip deh yah

    Suka sama ceritanya, aduh Mr. P anda bener-bener deh pemerhati banget hehehehe…

    Thanks yah buat Icha yang udah buatin nie FF… *peluk+cium* diriku jadi kepikiran bikin after story-nya nie hehehehe

  2. Pingback: You’re My Every Reason « The Journal

  3. iyh kirain tadi komentnya masuk ternyata g…

    agh suka deh,, dah nyangka c kalo mr P ntu jung soo oppa…
    tapi tetep aja ceritanya menarik banget..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s