Sorry, I Love You Both ~Part 2-Ending (FanFic by Rryfishy)

Part~2 (Ending)

 

-Leeteuk’s POV-

Hubunganku semakin dekat dengan Shiyeon dan Jigeun. Kadang aku yang menjemput Jigeun di sekolah dan menunggu Shiyeon selesai bekerja. Walaupun aku belum mengungkapkan perasaanku, tapi sepertinya Shiyeon sudah menangkap sinyal-sinyal itu dariku. Dia tidak pernah menolak jika aku mengajaknya dan Jigeun jalan-jalan. Dia selalu menerimaku dengan ramah saat aku datang ke rumahnya.

Managerku sempat khawatir, dia takut Shiyeon hanya memanfaatkan aku. Tapi entah kenapa aku sangat yakin pada Shiyeon. Dia tidak pernah menggodaku atau merayuku. Sikapnya natural. Selama ini akulah yang gencar mendekatinya. Aku tidak peduli seandainya dia berpikir aku terlalu agresif. Bukankah tugas pria adalah mengejar dan meraih apa yang dibutuhkannya dalam hidup?

Hari ini aku mengajak Jigeun ke dorm. Saat kami masuk, semua member yang kebetulan sedang berkumpul menyambut kami.

Annyeonghaseyo, joneun Jigeun imnida,” ucap Jigeun di depan semua member sambil membungkuk. Sudah kubilang kan dia lucu sekali? Semua member tersenyum gemas melihat tingkahnya. Bahkan Heechul langsung mencubit pipinya.

“Jigeun-ah, kau ingat ini siapa?” tanyaku pada Jigeun sambil menunjuk pada Eunhyuk.

Sorry Sorry Ahjussi,” jawab Jigeun dengan suara cemprengnya yang lucu. Sontak seisi ruangan tertawa mendengarnya.

Sorry Sorry Ahjussi?!?” tanya Eunhyuk lagi yang menahan tawa.

“Dia sangat suka lagu Sorry Sorry. Tapi sayangnya dia hanya mengingat wajahku, Eunhyuk dan Siwon saja,” jelasku pada mereka.

Mwo? Dia tidak mengingatku yang tampan ini?” seru Heechul tiba-tiba.

“Kau itu bukan tampan Hyung, tapi cantik. Hahaha…” ledek Kyuhyun dan sedetik kemudian tawanya pecah setelah berhasil membuat evil seniornya itu tersipu malu. Heechul yang aneh. Dia lebih suka dibilang cantik daripada tampan.

Dalam sekejap Jigeun sudah menarik perhatian semua member. Semua berebut ingin bermain dengan Jigeun. Bahkan akupun tak sempat bermain dengannya. Suasana dorm mendadak ramai karena tingkah lucu Jigeun.

“Jigeun-ah, ayo kita menari Sorry Sorry. Kau bisa kan?” ajak Eunhyuk. Saat ini Jigeun berada dalam genggamannya. Aku hanya bisa memantau mereka saja.

Kulihat Eunhyuk menyetel lagu Sorry Sorry dan saat itu juga Jigeun mengatupkan tangannya ke depan dan mulai menggerakan tubuhnya mengikuti irama Sorry Sorry. Bahkan dia bisa meniru part dancenya Eunhyuk. Eunhyuk terbahak-bahak melihat tingkah Jigeun.

“Ternyata aku sangat terkenal di kalangan anak kecil,” kata Eunhyuk narsis.

Hyung, aku mau mengajaknya main game,”

Kulihat Kyuhyun sudah berada di samping Eunhyuk.

“Jangan lama-lama main gamenya. Setelah itu dia harus menemui Ddangkoma,” kata Yesung kemudian.

Begitulah, hingga semua member dapat giliran bermain dengannya. Aku baru bisa meraihnya dari tangan mereka saat Jigeun kelelahan dan dia ingin tidur di pangkuanku, seperti yang biasa ia lakukan akhir-akhir ini jika bersamaku.

Aku sedang fokus menatap wajah Jigeun lagi. Seperti menjadi kebiasaan saat dia sedang tidur di pangkuanku. Tiba-tiba ada sebuah suara yang membuatku memalingkan wajah dari malaikat kecil ini.

“Lamar saja ibunya Hyung,” Donghae saat ini sudah duduk di sampingku.

Bukan rahasia lagi, mereka semua tahu bahwa aku mencintai Jigeun terlebih lagi ibunya. Walaupun mereka belum bertemu langsung dengan Shiyeon, nama Shiyeon sudah tak asing lagi di telinga mereka.

“Pasti Hae, aku tidak akan melepaskan mereka,” tegasku.

“Walaupun mungkin awalnya akan sedikit sulit bagi ELF untuk menerimanya mengingat adanya Jigeun. Tapi aku yakin suatu saat mereka akan mengerti,”

Gomawo Hae-ya atas pengertian kalian,” ujarku pelan. Beruntung sekali memiliki mereka yang selalu mendukungku.

Aku membaringkan Jigeun ditempat tidurku lalu keluar kamar. Saat itu juga terdengar bel pintu yang berbunyi. Kulihat Eunhyuk yang membukakan pintu.

Annyeonghaseyo…

Terdengar suara seorang gadis yang akrab ditelingaku. Tadi aku yang menyuruhnya kemari dengan alasan aku tidak bisa mengantar Jigeun pulang. Padahal sebenarnya aku hanya ingin mengenalkannya pada member yang lain.

Annyeong… Nuguseyo?” tanya Eunhyuk.

“Aku Ibunya Jigeun,”

 “Shiyeon-ah, ayo masuk,” kataku saat melihat dia masih berdiri di depan pintu. Dia sedikit menundukkan kepalanya pada Eunhyuk sebelum masuk ke dorm. Kulihat Eunhyuk terus menatapnya. Jangan katakan bahwa monyet itu terpana dengan Shiyeon. Aku langsung membelalakkan mataku padanya, mengisyaratkan dia untuk berhenti menatap Shiyeon seperti itu.

“Jigeun mana Oppa?” tanya Shiyeon ketika kupersilahkan dia duduk.

“Jigeun sedang tidur. Tadi semua member mengajaknya bermain makanya dia kelelahan.”

Aku lalu memperkenalkan member satu per satu. Walaupun dia sudah tahu semuanya, tapi aku tetap harus memperkenalkan mereka.

Hyung, dia cantik sekali,” bisik Eunhyuk padaku. “Tapi tubuhnya itu tidak seperti wanita yang sudah punya anak,” lanjutnya. Tapi detik berikutnya dia sudah meringis karena mendapat jitakan dariku.

“Kau itu, tak bisakah kau hilangkan pikiran yadongmu itu?” kataku menekan suaraku. Dia hanya mendesis pelan.

Oppa, kami pulang sekarang saja,” ujar Shiyeon tiba-tiba.

“Sering-seringlah kemari bersama Jigeun, Shiyeon-ssi,” ujar Eunhyuk.

“Jigeun pasti sangat merepotkan kalian,” kata Shiyeon.

Ani, kami senang dia ada disini,” jawab Donghae.

“Kalau begitu biar kuantar kalian,” kataku cepat dan berlalu dari hadapannya. Aku masuk ke kamar mengangkat tubuh Jigeun yang masih tidur.

“Tapi tadi Oppa bilang Oppa tidak bisa mengantar Jigeun pulang, makanya aku datang kemari,” tanyanya heran.

“Tidak apa-apa, itu semua bisa diatur. Kajja.”

Aku langsung menarik tangannya tak peduli dengan wajah bengongnya.

-Shiyeon’s POV-

Halmeoni…” Jigeun berlari ke arah Eomma dan Appaku yang baru tiba di rumah.

Aigoo… Cucu Halmeoni, kau semakin berat saja,” kata Eomma lalu menggendong Jigeun.

“Shiyeon-ah,” Appa memelukku lalu mencium Jigeun. Aku rindu sekali pada pria ini. Pria yang selalu mendukungku. Dibandingkan dengan Eomma, Appa lebih pengertian dan lebih bijaksana. Sedangkan Eomma sering terbawa emosi jika sedang menghadapi masalah. Tapi bagaimanapun aku mencintai mereka.

Saat aku sedang menyiapkan makan malam bersama Eomma sementara Jigeun sedang bermain bersama Appa, bel pintu rumah kami berbunyi.

“Biar Eomma saja yang buka,” kata Eomma lalu berjalan ke arah pintu.

Nuguseyo?” tanya Eomma pada sang tamu.

Annyeonghaseyo Eomonim. Joneun Park Jungsoo imnida.”

Ternyata Leeteuk Oppa. Untuk apa dia datang kemari? Bukankah sudah kukatakan bahwa ada orangtuaku di rumah? Aku melihat Eomma masuk dan Leeteuk Oppa mengikutinya dari belakang.

Oppa, ada apa?”

“Hanya sekedar mampir.”

“Oh, kenalkan ini Eommaku dan ini Appaku,” kataku saat Appa dan Jigeun keluar dari kamar.

Annyeonghaseyo. Jeoneun Park JungSoo imnida,” ucapnya lagi dan membungkuk sopan.

Ahjussi…” seru Jigeun yang langsung menghambur ke pelukan Leeteuk Oppa. Leeteuk Oppa langsung menggendongnya.

Bisa kulihat wajah Eomma yang terus menatapnya. Kagumkah akan ketampanannya? Tak bisa kupungkiri saat ini Leeteuk Oppa benar-benar terlihat tampan. Eomma itu masih suka kagum dengan pria tampan. Tapi aku menangkap tatapan Appa yang lain pada Leeteuk Oppa. Saat Jigeun bergelayut manja padanya, Appa tersenyum penuh arti.

Oppa, kau ikut makan bersama kami ya? Kebetulan Eomma masak makanan yang enak,” kataku mengalihkan suasana.

Ahjussi ayo makan, aku lapar,” seru Jigeun.

“Kau ingin makan bersama Ahjussi?” tanya Leeteuk Oppa pada Jigeun. Jigeun hanya mengangguk.

Arasseo,” jawab Leeteuk Oppa.

“Silahkan duduk Jungsoo-ssi. Senang sekali rasanya bisa makan bersama banyak orang,” kata Appa.

Ne Abonim,”

“Jigeun-ah, ayo sini sama Halmeoni,” ajak Eomma yang melihat Jigeun masih duduk di pangkuan Leeteuk Oppa.

Sireo,” jawab Jigeun. Eomma menatap Jigeun heran. Pasti Eomma berpikir, sejak kapan Jigeun menolaknya?

“Tidak apa-apa Eommonim. Biasanya jika kami makan bersama seperti ini, Jigeun selalu minta di pangku,” seru Leeteuk Oppa.

Eomma dan Appa lalu menatapku, sedangkan aku hanya bisa tertunduk. Aku tahu apa yang mereka pikirkan. Appa dan Eomma kembali terpaku melihat Leeteuk Oppa dan Jigeun saling menyuapi satu sama lain. Mereka memang terlihat sangat dekat bahkan seperti tidak ada jarak.

Setelah selesai makan, Leeteuk Oppa langsung berpamitan. Saat aku sedang di kamar Jigeun, Eomma masuk dan duduk tepat di sampingku.

“Shiyeon-ah,”

Ne Eomma,”

“Jungsoo itu pacarmu?” aku tersenyum sekilas. Sudah kuduga Eomma akan menanyakan hal ini.

Aniyo.  Kami hanya berteman saja,” tukasku.

“Tapi Eomma melihat dia sangat dekat dengan Jigeun,”

“Dia memang menyayangi Jigeun Eomma dan Jigeun pun sudah terbiasa dengan kehadirannya,”

“Kenapa kalian tidak pacaran saja? Kau itu…”

Eomma, aku sedang tidak ingin membahasnya,” potongku cepat bahkan saat Eomma belum menyelesaikan kalimatnya.

Eomma hanya ingin kau bahagia Shiyeon-ah…” kata Eomma dengan nada putus asa.

“Aku tahu Eomma,” aku memandang wajahnya yang sayu. Kulihat Eomma menarik nafas dan mengehmbuskannya dengan berat.

Araseo. Tapi satu pesan Eomma, pikirkan masa depanmu juga,” tegas Eomma sebelum akhirnya meninggalkan kamar.

Kata-kata Eomma tadi membuatku berpikir lagi. Siapapun yang melihat keakraban Leeteuk Oppa dan Jigeun pasti berpikir seperti Eomma. Apalagi kami sering jalan bertiga. Seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia. Sejujurnya, jauh di dalam lubuk hatiku, aku menyimpan sebuah harapan sederhana. Harapan bahwa kami bisa terus bersama-sama seperti ini. Melihat kebahagiaan Jigeun saat bersama Leeteuk Oppa benar-benar membuatku merasa sempurna.

Tapi kembali ke kenyataan, harapan itu sepertinya bukanlah harapan yang sederhana. Mengingat dia adalah sosok yang sempurna, tidak mungkin akan menerima kami dalam keadaan seperti ini. Imageku sebagai wanita yang memiliki anak tanpa suami, image Jigeun sebagai anak haram, mungkin membuatnya berpikir seribu kali untuk menjadi bagian dari hidup kami.

Untuk itulah, saat ini aku hanya bisa menikmati semua yang terjadi. Melihat kebahagiaan Jigeun di sisi Leeteuk Oppa, membuatku tidak bisa menolak kehadirannya.

-Leeteuk’s POV-

Aku menghentikan langkahku tepat di depan sekolah Jigeun. Aku berniat menjemputnya karena hari aku free sampai sore, dan aku ingin melepaskan rasa rinduku pada Jigeun. Apakah hanya Jigeun? Tentu saja tidak. Aku sangat merindukan ibunya. Baru 2 hari tidak bertemu rasanya aku hampir masuk rumah sakit jiwa karena gila. Semakin hari rasa cintaku semakin besar pada wanita itu. Ketika bertemu dengannya, aku merasa seperti menemukan harta karun yang tidak ternilai harganya dan aku harus memilikinya. Pada saat berpisah, aku seperti kehilangan jiwaku. Serasa tidak ingin berpisah dengannya, karena mungkin saja aku akan mati jika hal itu terjadi. Terlalu berlebihankah? Tapi itulah yang kurasakan.

 Aku menghentikan langkahku di depan sekolah Jigeun karena aku melihat Eomma Shiyeon juga sedang menunggu Jigeun. Lalu terbesit sebuah rencana yang harus aku lakukan. Aku lalu menghampirinya. Dia sempat terkejut ketika kukatakan bahwa aku juga sering menjemput Jigeun. Lalu aku meminta waktu untuk bebicara dengannya dan juga Appa Shiyeon. Dan saat ini kami sudah berada di sebuah restoran sederhana.

Sepertinya Jigeun mengerti posisiku. Dia memilih duduk sendiri di sampingku dan menikmati es krim porsi besarnya.

Abonim, Eommonim, mianhae meminta kita bertemu secara mendadak. Tapi aku merasa inilah saat yang tepat,” ucapku tenang. Tapi sebenarnya tidak dengan jantungku saat ini yang seperti ingin keluar dari dadaku. Rasanya lebih berat daripada saat aku membawakan sebuah acara di depan ribuan orang.

“Ada apa Jungsoo-ssi?” tanya Abonim padaku. Inilah saatnya.

“Aku… ingin menikahi Shiyeon,” jawabku tenang. Bisa kurasakan jantungku mulai bekerja normal perlahan-lahan setelah kata-kata itu keluar dari mulutku.

Sesaat kami bertiga hanya diam. Sepertinya Abonim dan Eommonim sedikit terkejut dengan permintaanku yang tiba-tiba ini. Mereka berdua lalu saling menatap, kemudian Eommonim mengusap kepala Jigeun lembut. Kulihat ada setitik air mata yang mulai menggenangi matanya.

“Aku…sangat mencintai Shiyeon dan Jigeun,” sambungku lagi karena Abonim dan Eommonim hanya diam.

“Jungsoo-ssi, kau tidak tahu tentang masa lalu Shiyeon. Shiyeon…tidak pernah menikah. Orang menganggap Jigeun anak haram,” kata Abonim yang suarnya mulai serak.

“Aku tidak peduli dengan masa lalunya Abonim. Aku akan menjadikan mereka masa depanku,” aku sangat yakin dengan apa yang aku katakan sekarang. Air mata Eommonim tidak tertahan lagi. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa sejak tadi, hanya bisa menggambarkan perasaannya melalui air mata dan aku mengerti.

“Apakah kau sudah melamar Shiyeon secara langsung? Tapi Shiyeon belum mengatakan apa-apa pada kami?” tanya Abonim lagi.

“Aku akan melakukannya setelah mendapatkan restu dari Abonim dan Eommonim,” kataku mantap.

“Aku harap kau bisa menerima Shiyeon dengan segala kekurangannya,” kata Abonim bijak.

“Aku tidak melihat apa yang dia tidak miliki Abonim, aku hanya melihat apa yang dia miliki.”

-Shiyeon’s POV-

Aku menurut saja saat Leeteuk Oppa menyuruhku berdandan dan saat ini aku sudah berada di dalam mobilnya bersama Jigeun.

Oppa, kenapa kau terus menatapku seperti itu? Apakah dandananku terlihat aneh?” tanyaku karena sedari tadi dia terus saja memperhatikanku. Walaupun dia dalam posisi menyetir, dia masih sering menoleh ke arahku. Bagaimana kalau dia menabrak sesuatu? Aku belum mau mati.

Ani, kau sangat cantik malam ini,” pujinya. Dia tersenyum pelan ketika melihat wajahku yang tersipu. Aku yakin wajahku saat ini seperti kepiting rebus saat dia memujiku.

“Tapi, kita mau kemana Oppa?”

“Nanti kau akan tahu,” jawabnya.

Lagi-lagi dia berbuat semaunya sendiri. Aku menoleh ke jok belakang, kulihat Jigeun sedang asyik bermain sendiri. Dia menempelkan wajahnya di kaca mobil dan jari-jarinya seperti menggambar sesuatu di kaca mobil.

Lalu kami tiba di sebuah rumah 2 lantai yang cukup besar. Ada seseorang yang membukakan pintu pagar, mungkin pembantu rumah ini.

Ahjussi, ini rumah siapa?” tanya Jigeun.

“Ini rumah Ahjussi. Ayo turun,”

Aku tersigap mendengar jawabannya. Dia melakukan hal seenaknya lagi sekarang, tanpa meminta persetujuanku.

Dia membukakan pintu mobil untukku dan aku langsung turun tanpa mengucapkan apa-apa. Mungkin sedang ada acara keluarga di rumah ini dan dia ingin mengajakku dan Jigeun. Tapi kenapa rumah ini terlihat sepi? Aku berjalan di sampingnya dan dia menggendong Jigeun. Ada 2 orang wanita yang menyambut kami.

“Jungsoo-ya, kau sudah datang. Jigeun-igo? Aigoo…” kata seorang wanita muda sambil memegang Jigeun.

“Shiyeon-ah, kenapa hanya berdiri saja? Masuklah…” kata wanita yang lebih tua sambil menarik tanganku. Aku masih mencerna apa yang terjadi. Darimana mereka tahu namaku dan Jigeun?

Aku pasrah ketika mereka membawa kami ke ruang keluarga. Aku terus menatap mata Leeteuk Oppa meminta penjelasan.

“Shiyeon-ah, ini Eommaku dan ini In-Young Nuna,”

Aku lalu memperkenalkan diriku secara resmi pada mereka. Sebenarnya Eommonim wanita yang sangat lembut. In-Young Eonni juga sangat baik. Saat ini dia malah duduk sambil memangku Jigeun.

Appa Jungsoo sedang ada urusan penting, jadi dia tidak bisa menemuinmu. Padahal dia ingin sekali bertemu denganmu dan Jigeun,” kata Eommonim.

Abonim ingin bertemu dengan kami?” tanyaku seperti orang bodoh. Yah, aku memang sedang menjadi orang bodoh di rumah ini karena tidak tahu apa-apa.

Pertanyaanku hanya dijawab dengan anggukan oleh Eommonim.

“Ada urusan apa Abonim ingin bertemu dengan kami?”

“Sudah pasti dia ingin bertemu dengan calon menantunya. Dia bahagia sekali ketika mendengar Jungsoo akan datang bersama calon istrinya dan anaknya. Tapi sayang, Appa ada urusan yang sangat penting, jadi tidak bisa menemui calon menantunya ini,”

MWO?!?” aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi bodohku sekarang. Benar-benar seperti orang tolol.

Apa aku tidak salah dengar? Calon menantu? Calon istri? Ada yang bisa menjelaskan padaku apa yang baru saja aku dengar?

Selanjutnya Eommonim mulai menjabarkan panjang lebar tentang konsep pernikahan yang benar-benar tidak kumengerti sedikitpun. Aku terus menatap Leeteuk Oppa mencari jawaban, tapi dia bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa saat Eommonim dan Eonni menanyakan padaku apakah aku suka dengan konsep pernikahan kami. Kami?

Bagus. Kau berhasil mempermainkanku Leeteuk-ssi. Kau ingin membuatku terlihat bodoh karena sepertinya hanya aku saja yang tidak tahu apa-apa disini, hah? Tidak bisakah kau sedikit menghargaiku dengan cara mengatakannya terlebih dahulu padaku apa yang terjadi?

Calon istri, calon menantu, konsep pernikahan. Semuanya benar-benar membuat kepalaku sakit. Aku menatap Leeteuk Oppa sangar. Aku benar-benar tidak percaya dia membuatku bodoh seperti ini. Sebegitu burukkah aku hingga tidak ada perasaan untuk menghargaiku sedikit saja?

Lalu Eommonim mengajak kami makan malam. Tidak banyak yang bicara. Aku hanya bisa diam dan menyantap makananku yang kurasakan begitu hambar. Sedangkan Leeteuk Oppa justru lebih banyak berbicara dengan Jigeun dan In-Young Eonni. Dia sepertinya sedang menghindari percakapan denganku. Dia tahu saat ini aku sedang marah.

“Shiyeon-ah, gwaenchana? Wajahmu pucat,” tanya In-Young Eonni saat melihat raut wajahku yang berubah.

“Aku hanya kurang enak badan Eonni, mianhae,” aku berharap dengan alasan ini bisa membawaku keluar dari sini.

Jinjja? Kalau begitu malam ini kalian menginap disini saja.”

“Ah, kami langsung pulang saja Eonni,”

“Menginap disini saja Shiyeon-ah,” sela Eommonim.

Mianhae Eommonim, aku sedang tidak enak badan. Kurang nyaman rasanya tidur di tempat lain dalam keadaan seperti ini,” bagaimanapun aku harus keluar dari sini.

“Hmm… arasseo. Ah, satu lagi. Mulai sekarang panggil aku Eomma,”

Ne?” tanyaku cepat, benar-benar seperti orang bodoh.

“Kau akan segera menjadi anakku. Jadi panggil saja aku Eomma, dan Shiyeon-ah, sering-seringlah kemari bersama Jigeun. Eomma ingin mendekatkan diri dengan cucu Eomma.”

N-Ne.”

Astaga, kepalaku menjadi lebih berat ketika mendengar semuanya. Aku hanya ingin cepat-cepat keluar dari sini.

Akhirnya kami berhasil keluar dari rumah itu. Mungkin jika lebih lama di rumah itu, aku yakin mereka sudah menganggapku gila karena sekarang pertahanan emosiku sudah di ambang batas. Park Jungsoo, apa maksudmu melakukannya?

Di mobil, kami hanya diam. Aku benar-benar tidak ingin mendengar suaranya. Jigeun sudah tertidur di jok belakang. Sesekali Leeteuk Oppa menoleh ke arahku, tapi aku tidak tertarik untuk melihat wajahnya.

“Shiyeon-ah,” akhirnya dia berani membuka suara.

“Aku sedang tidak ingin bicara,” jawabku dingin.

Dia tidak melanjutkan kata-katanya. Dia tahu jika aku sudah mengeluarkan nada seperti itu, artinya aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan.

45 menit di dalam mobil tanpa bicara terasa begitu lama. Saat kami sampai di depan rumahku, dia sudah bersiap turun terlebih dahulu. Biasanya dia melakukannya untuk mengambil Jigeun di jok belakang.

“Biar aku saja. Oppa bisa langsung pulang,” ucapku yang masih dingin tanpa menatap wajahnya. Aku bisa merasakan tatapannya yang ingin menjelaskan semuanya. Maaf Oppa, tapi saat ini aku tidak ingin mendengar suaramu.

-Leeteuk’s POV-

“Biar aku saja. Oppa bisa langsung pulang,” ucapannya masih dingin. Dia lalu mengambil Jigeun di jok belakang dan langsung masuk rumah tanpa mengucapkan sepatah katapun padaku.

Aku menatapnya yang masuk ke dalam rumah lalu dia menutup pintu tanpa berbalik ke arahku. Sial! Ini semua terjadi di luar kendaliku. Aku memang sudah memberitahukan Eomma dan Nuna bahwa aku sudah melamar Shiyeon pada orang tuanya langsung dan rencananya aku akan melamarnya malam ini saat kami berada di rumah orang tuaku. Tapi, aku lupa memberitahu pada Eomma dan Nuna bahwa jangan memberitahukan apapun sebelum aku melamarnya. Mungkin Eomma dan Nuna terlalu bahagia. Saat aku bilang ingin menikah, mereka sangat bahagia, apalagi Appa. Appa senang saat mengetahui dia akan punya cucu laki-laki yang saat ini sudah berusia 4 tahun. Keluargaku memang tak pernah memandang seseorang dari statusnya.

Aku tahu dia merasa seperti orang bodoh saat berada di rumahku tadi. Aku tahu dia sangat terkejut saat Eomma bilang dia adalah calon menantunya. Aku tahu saat wajahnya pucat tadi itu karena dia benar-benar shock dengan semua yang terjadi.

Tapi aku benar-benar serius dengan semua yang terjadi tadi Shiyeon-ah. Aku benar-benar serius dengan ucapan Eomma.

Aku bergegas turun dari mobil saat melihat lampu rumahnya belum dipadamkan. Aku mengetuk pintu rumahnya pelan.

“Shiyeon-ah, kumohon dengarkan aku.”

Tidak ada suara dari dalam.

“Shiyeon-ah, kumohon. Kau tidak tahu betapa tersiksanya aku melihat sikapmu yang acuh padaku. Jika kau ingin marah, marahilah aku sepuasnya. Makilah aku sepuasnya. Tapi kumohon jangan abaikan aku seperti, kumohon…”

1 menit…

5 menit…

10 menit…

Tidak ada jawaban apapun dari dalam. Aku terduduk lesu di depan pintu.

“Shiyeon-ah, kumohon…”

20 menit…

Mungkin ini cara satu-satunya.

“Shiyeon-ah, saranghae…”

Ucapku akhirnya. Kutatap daun pintu yang sedang kusandari kini berharap pintu itu terbuka dan bidadariku menampakkan wajah cantiknya. Aku hanya bisa menunggu pasrah.

30 menit kemudian…

Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku menyerah begitu saja? Jika aku menyerah, bisakah malam ini aku tidur dengan hati berbunga-bunga? Padahal hal itu sudah aku impikan sejak lama. Tidur dengan hati berbunga-bunga karena dia menerima lamaranku.

Aku benar-benar pasrah dan mulai putus asa. Sepertinya aku harus mulai mempersiapkan diri menghadapi hari-hari kelamku tanpa mereka walaupun aku benar-benar tidak siap sekarang.

 Aku berdiri gontai dan mulai berjalan dengan susah payah meninggalkan rumahnya. Lalu aku tiba-tiba mendengar suara pintu yang dibuka.

Oppa…”

Aku langsung berbalik, melihat bidadariku benar-benar membuka pintunya untukku. Ingin segera kuberlari dan memeluk tubuhnya. Sayangnya aku harus menahan keinginan itu. Wajahnya masih dingin.

“Masuklah,” ucapnya.

Aku lalu masuk dan dia menutup pintunya.  Aku terus memandangi wajahnya, mencari matanya agar dia bisa melihatku dan percaya padaku.

“Shiyeon-ah,”

“Saat ini biarkan aku yang bicara,” potongnya cepat.

Aku menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi persediaan paru-paruku agar bisa bertahan saat menerima amarahnya nanti. Beberapa saat dia masih diam. Aku bersabar menunggunya bicara. Akan kuturuti semua perintahnya jika itu bisa membuatnya memaafkanku.

Lalu kulihat dia tersenyum miris. Seperti menertawakan dirinya sendiri.

“Terlalu banyak yang ingin aku katakan saat ini hingga aku bingung harus katakan yang mana terlebih dahulu,” ucapnya akhirnya. Dia terlihat lebih tenang sekarang.

Oppa, apakah aku tidak pantas untuk dihargai?” tanyanya pelan sambil menatap ke arah manik mataku. Aku tahu apa maksud pertanyaan itu. Aku masih diam menunggu kata-kata selanjutnya. “Kau bisa menjawabnya sekarang Oppa. Hanya itu yang aku tanyakan,”

Aku menghembuskan napasku dan menatap wajahnya yang rapuh. Laki-laki seperti apa aku ini yang menyakiti hati wanita yang seharusnya aku lindungi.

“Shiyeon-ah,” dia menundukkan wajahnya. “Menikahlah denganku,”

Sontak dia mengangkat wajahnya dan menatap lekat mataku.

Ne?” tanyanya dengan wajah shock. Sepertinya hari ini aku sudah membuatnya shock berkali-kali.

“Menikahlah denganku Shiyeon-ah.” Kataku mantap. Aku terus menatap matanya, meminta dia percaya padaku.

“Kau tidak tahu apa-apa tentangku, Oppa. Kau tidak tahu masa laluku seperti apa,”

“Aku tidak peduli dengan masa lalumu. Bukankah cinta hanya perlu melihat ke depan? Dan menjawab pertanyaanmu yang tadi… Aku sangat menghargaimu, Shiyeon-ah. Aku menghargaimu dengan cara aku mencintaimu dan menjadikanmu nyonyaku. Aku ingin kau dan Jigeun menjadi penghuni rumahku. Aku ingin setiap aku bangun tidur, yang kulihat pertama kali adalah wajahmu. Aku ingin kau selalu berada dalam jarak pandangku. Tak akan kubiarkan kau menghilang dari penglihatanku sedetik saja Chagiya. ”

Aku melihatnya mematung memandangku dengan tatapan tak berkedip. Aku melangkah pelan mendekatinya. Dia benar-benar cantik.

 “Kenapa kau tidak mengatakannya padaku terlebih dahulu? Semua orang sudah tahu bahwa kau melamarku tapi aku sendiri tidak tahu apa-apa. Kau anggap apa aku ini?” tanyanya ketus. Aku terkekeh pelan melihatnya. Dia sudah tidak marah lagi sekarang.

“Itu sengaja kulakukan agar kau tidak menolakku. Semua orang di sekeliling kita sudah merestui kita sekarang. Jadi kau tak punya kuasa untuk menolakku. Bagaimana Jigeun Eomma?” tanyaku mencoba menggodanya.

“Bagaimana aku bisa menolak jika kau sudah seperti itu?” dia menjawab dengan wajah cemberutnya, tapi dia tetap cantik. Aku tersenyum mendengarnya.

Lalu kulihat ada cairan bening yang mulai menggenangi matanya. Aku memegang wajahnya yang mungil dengan kedua tanganku dan menghapus air matanya dengan jariku. Tak kulewatkan kesempatan mataku untuk menyusuri setiap sudut wajahnya. Sudah kubilangkan kalau calon istriku ini sangat cantik? Dia memejamkan matanya saat kukecup lembut keningnya.

“Kau tidak marah lagi padaku?” tanyaku lagi.

“Siapa bilang? Kau tadi sudah membuatku seperti orang bodoh,” tukasnya lagi lalu memukul lenganku pelan. Dia lucu sekali jika seperti itu. Aku terkekeh pelan dan menariknya ke dalam pelukanku.

Mianhae, sebenarnya aku ingin melamarmu di rumahku tadi. Tapi Eomma dan Nuna mendahuluiku. Sepertinya mereka terlalu bahagia. Huhft, dasar perempuan, mereka memang tidak bisa mengontrol mulutnya,”

Yaak, kau ini sedang memeluk perempuan. Bisa-bisanya kau mengatakan hal itu padaku,” sergahnya lagi. Aku tertawa pelan.

“Sebaiknya Oppa pulang. Tidak enak dilihat tetangga,” katanya lalu melepas pelukanku.

Tiba-tiba saja aku ingin menggodanya.

“Bagaimana kalau kita tidur bersama saja?” godaku lalu mendekatkan wajahku ke wajahnya. Sontak dia menjauhkan wajahnya dengan tatapan mengerikan.

Yaak Oppa jangan macam-macam. Awas kau,” ancamnya dengan mata melotot. Aku tertawa lepas mendengarnya. Menikmati setiap inchi kebahagiannku yang baru saja di mulai.

-Shiyeon’s POV-

Semuanya terjadi begitu cepat. Leeteuk Oppa sekarang adalah calon suamiku. Waktu dia melamarku dengan kejadian yang tidak biasa malam itu, aku langsung menerimanya. Bukan berarti aku tidak berpikir terlebih dahulu. Aku bahkan sudah sering memikirkannya. Seandainya suatu hari dia melamarku, aku pasti langsung menerimanya. Dan itu benar-benar terjadi. Harapan sederhanaku akan terwujud. Harapan untuk melihat dia dan Jigeun setiap hari berada di depan mataku.

Semua berjalan lancar. Bahkan Leeteuk Oppa sudah mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan pernikahan kami. Aku dan Jigeun ikut hadir dalam konferensi itu, bahkan PD Lee Sooman pun ikut hadir untuk menyampaikan pada publik maupun ELF bahwa dia sangat mendukung keputusan Leeteuk Oppa dan semuanya akan baik-baik saja.

Ada beberapa ELF yang hadir terlihat kecewa, tapi tidak sedikit dari mereka yang malah menyukai Jigeun. Memang semuanya tidak semulus yang dibayangkan. Pernah beberapa kali aku mendengar cibiran gadis-gadis SMU yang mengataiku sebagai penggoda. Tapi aku tidak peduli. Mereka bahkan tidak tahu apa-apa tentangku. Akhirnya aku bisa bernafas lega saat Heechul Oppa mengatakan padaku bahwa bahwa ELF mendukung kami sepenuhnya.

**

Oppa, kau dimana? Bisakah kita bertemu? Ada yang ingin kusampaikan,” tanyaku di telepon.

Bukankah kita akan bertemu di rumahku malam ini? Kita bicarakan di rumah saja,

“Tapi aku ingin memberitahukanmu terlebih dahulu Oppa,”

Kau ingin memberitahukan apa? Kau ingin bilang bahwa kau mencintaiku?

Oppa, aku sedang tidak ingin bercanda”

Kita bertemu di rumah saja Chagiya. Aku benar-benar sibuk hari ini,

Arasseo

Kataku akhirnya. Aku ingin sekali menceritakan semua padanya langsung. Aku tidak ingin dia mendengarkannya dari orang lain. Sebuah fakta yang dia harus tahu. Selama ini aku menyimpannya rapat. Hanya keluargaku dan Hyosan saja yang tahu. Aku tidak ingin ada rahasia di dalam rumah tangga kami nantinya. Milikku adalah miliknya dan miliknya adalah milikku.

Malam harinya, rumah Leetuk Oppa sangat ramai. Semua keluarganya berkumpul. Bahkan sepupu Leeteuk Oppa yang bernama Hyemi dan Yubin juga sedang ada di rumah. Saat ini kami semua sedang berkumpul di ruang keluarga yang sangat luas.

Eomma, Jigeun main di kolam renang yah?” tanya Jigeun padaku.

“Nanti kalau Jigeun jatuh ke kolam bagaimana?” tanyaku khawatir. Bagaimanapun akan sangat berbahaya membiarkan anak kecil main di pinggir kolam sendirian.

“Biar Jigeun main bersamaku Eonni,” jawab Yubin.

“Baiklah kalau begitu. Hati-hati yah,” pesanku. Lalu sedetik kemudian mereka sudah berlalu dari hadapanku.

“Shiyeon-ah, kau beruntung sekali memiliki Jigeun. Dia sangat lucu. Sopan dan penurut. Kau merawatnya dengan baik,” kulihat Eomma mengatakannya dengan raut wajah penuh kekaguman padaku. Aku hanya tersenyum membalasnya.

“Jungsoo-ya, nanti kau jangan terlalu keras pada Jigeun. Kalau kau membuat Jigeun dan menantuku ini terluka, awas kau. Kau akan berhadapan dengan Aboji,” kali ini ayah Leeteuk Oppa bersuara dengan nada mengancam.

Aboji tenang saja, aku akan menjaga mereka berdua dengan baik,” kata Leetuk Oppa membela diri. Aku tersenyum geli melihat pertengkaran kecil mereka. Mereka benar-benar keluarga yang luar biasa, penuh rasa kasih sayang.

“Bukan saja berurusan dengan Appa, tapi denganku dan juga Eomma,” kali ini In Young Eonni ikut-ikutan mengancam. Aku semakin terkekeh mendengarnya. Betapa bahagianya aku mendapatkan keluarga baru seperti mereka.

Eonni, bagaimana rasanya melahirkan? Apakah terasa sakit? Atau Eonni melahirkan dengan cara Caesar?”

Aku mematung mendengar pertanyaan Hyemi. Kenapa dia tiba-tiba menanyakan itu? Lalu kulihat Hyemi meringis sambil memegangi kepalanya.

Aww… Eonni, appo...” ternyata In Young Eonni baru saja menjitak kepala gadis itu.

“Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu? Kau itu baru 19 tahun, belum tahu apa-apa,” ujar In Young Eonni sambil melotot pada Hyemi.

“Justru karena aku tidak tahu apa-apa makanya aku bertanya. Eonni kan tahu aku ingin menikah muda, siapa tahu pengalaman Shiyeon Eonni bisa menambah pengetahuanku,” jawabnya enteng. Lalu kulihat In Young Eonni menjitak kepalanya lagi.

“Kau jangan macam-macam. Selesaikan kuliahmu dulu baru menikah,” kata In Youn Eonni.

Mendengar pertanyaan Hyemi tadi, seakan menandakan bahwa aku harus menceritakan semuanya sekarang. Aku menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, menyiapkan diriku untuk menceritakan semuanya.

Appa, Eomma, Eonni, Hyemi-ya, aku ingin mengatakan sesuatu,”

Lalu mendadak ruangan ini menjadi sepi. Semua mata terarah padaku dengan rasa penasaran yang dalam. Aku lalu menatap Leeteuk Oppa yang duduk di sampingku. Dia mengernyitkan dahi saat membalas tatapanku.

Mianhae Oppa, aku sudah lama ingin mengatakan ini padamu secara langsung, tapi kita jarang sekali bertemu. Kebetulan sekali dalam kesempatan ini semuanya sedang berkumpul, dan alangkah baiknya jika kukatakan saja langsung pada semuanya,” wajahnya masih penuh tanda tanya. Lalu kuraih tangannya dan kugenggam tangannya, “Percayalah padaku,” dia membalas genggaman tanganku dan tersenyum lalu mengangguk pelan. Aku merasa sangat siap saat melihatnya percaya padaku.

“Saat aku kuliah, aku punya sahabat yang bernama Chaerin. Bisa di bilang kami sangat dekat bahkan seperti saudara. Saat itu Chaerin punya seorang kekasih. Tapi sayang, keluarga Chaerin tidak menyetujui hubungan mereka dan akhirnya mereka berdua memutuskan untuk melarikan diri. Tapi Chaerin tidak bisa melarikan diri dariku. Aku berhasil menemukannya. Keadaan Chaerin benar-benar kacau saat itu. Dan yang membuatku tak percaya adalah, aku menemukan Chaerin seorang diri tanpa kekasihnya. Keadaan Chaerin bertambah kacau saat tahu dia hamil dan kekasihnya menyuruhnya untuk menggugurkannya. Chaerin menolak dan berusaha mempertahankan bayinya. Lalu kekasihnya meninggalkannya karena dia tidak siap mempunyai anak,” aku berhenti sejenak saat kurasakan Leeteuk Oppa mempererat genggamannya di tanganku.

“Sembilan bulan Chaerin menghidupi dirinya dan kandungannya seorang diri. Keluarganya tak mau menerimanya lagi karena menganggap Chaerin telah memalukan keluarga. Chaerin bahkan menolak ajakanku untuk tinggal bersamaku. Tapi aku tetap tidak melepaskannya. Setiap hari aku terus memantaunya. Hingga saatnya tiba Chaerin untuk melahirkan. Chaerin berjuang keras melahirkan anaknya tanpa di dampingi satupun keluarganya. Bahkan kekasihnya pun tak menampakkan batang hidungya. Saat itu, hanya aku yang ada di rumah sakit sebagai kerabat Chaerin. Akhirnya kegelisahanku berakhir saat aku mendengar tangisan bayi itu. Aku melihat salah satu perawat membawa keluar sang bayi dari ruang bersalin. Seorang bayi laki-laki. Sangat menggemaskan. Aku tidak sabar untuk memberikan kabar bahagia pada Chaerin, bahwa dia tidak perlu khawatir, kami akan merawat bayi itu bersama-sama. Tapi apa yang kulihat di dalam ruangan itu benar-benar membuatku kehabisan energi. Seakan tak mampu untuk melanjutkan langkahku mendekati Chaerin yang saat ini terbaring dengan mata tertutup. Aku menggoncangkan tubuhnya tapi dia tetap tidak mau membuka matanya, hingga suara dokter itu berhasil mengeluarkan semua air mataku. Chaerin tidak bisa bertahan saat melahirkan bayinya. Seorang perawat menyerahkan bayi Chaerin padaku. Dan bayi itu kuberi nama Jigeun,” aku mengakiri kata-kataku dengan mata berat menahan genangan air mataku..

Kulihat semua penghuni ruangan ini tak bisa menahan air mata sama sepertiku. Terlebih Eomma. Bahkan matanya sudah memerah.

“Jigeun tetap anakku. Walau dia bukan terlahir dari rahimku, dia terlahir dari hatiku. Aku tidak peduli jika ada yang memandang jijik padaku karena menganggap Jigeun itu anak haram. Mereka tidak tahu apa-apa. Jigeun itu bukan anak haram. Jigeun itu anakku,” aku semakin terisak saat Leeteuk Oppa menarikku dalam pelukannya dan membelai rambutku. Dia hanya memelukku tanpa mengatakan apapun.

Kurasakan Leeteuk Oppa melepaskan pelukannya dan menghapus air mataku. Dia mengecup keningku lembut.

Lalu Eomma menarikku dalam pelukannya. “Kami beruntung memilikimu,” katanya yang masih terisak. Pelukan yang sama jika Eommaku memelukku.

Eonni, kau benar-benar luar biasa,” kata Hyemi yang memandangku kagum. Aku tahu jika orang mendengar kisahku, mereka akan melakukan hal yang sama dengan Hyemi. Tapi aku tidak butuh semua itu. Aku tidak ingin jika semua orang tahu yang sebenarnya, Jigeun akan merasa tersiksa nantinya karena dia merasa dia bukan anak kandungku.

“Shiyeon-ah, kami tak ragu menyerahkan Jungsoo padamu,” ujar In Young Eonni.

Geunde, apakah ayah Jigeun tahu tentang Jigeun?” kali ini Appa yang bertanya.

Aku melepaskan diri dari pelukan Eomma, “Dia tidak tahu tentang Jigeun Appa. Maka dari itu aku khawatir jika suatu saat nanti dia tahu tentang Jigeun, dia akan mengambil Jigeun dariku.”

“Tak akan kubiarkan itu terjadi, aku akan melindungi cucuku,” jawab Appa lantang.

“Jigeun anak kita Chagi, tidak akan ada seorangpun yang bisa mengambilnya dari kita,” ucap Leeteuk Oppa meyakinkanku. Dan entah mengapa aku menjadi lebih tenang setelah mendengarnya.

Eomma…” teriakan Jigeun berhasil memecah suasana haru di sekeliling kami. Dia berlari ke arahku, “Eomma, Jigeun tidur di sini yah?” aneh sekali mendengarnya meminta tidur di rumah orang lain.

“Memangnya kenapa Jigeun ingin tidur di sini?” tanyaku.

“Jigeun ingin melihat bintang dengan teropong itu,” katanya sambil menunjuk sebuah teropong yang ada di balkon samping rumah..

“Baiklah, kita akan tidur di sini,” jawab Leeteuk Oppa.

“Jigeun-ah, mau lihat bintang bersama Haraboji tidak?” tanya Appa yang sudah bangkit dari kursinya dan menghampiri Jigeun.

“Mau, mau…” seru Jigeun penuh semangat. Sedetik kemudian Appa sudah menggendong Jigeun dan membawanya menuju balkon.

-Leeteuk’s POV-

Aku berdiri di depan kamar tamu dan kulihat Shiyeon sedan merapikan tempat tidur karena malam ini mereka akan tidur di kamar ini. Aku bejalan mendekatinya. Dia masih tidak sadar akan kehadiranku. Kuraih tubuhnya dan memeluknya dari belakang. Dia sempat terkejut tapi setelah itu dia hanya diam saja. Kusandarkan daguku di bahunya.

“Kau kenapa Oppa?” tanyanya tenang dalam pelukannya.

Gomawo. Jeongmal gomawoyo.” Ucapku pelan. Bahagia sekali rasanya bisa memeluk orang kucintai. Bidadari yang kucintai lebih tepatnya.

“Terima kasih untuk apa?”

“Untuk semuanya. Terima kasih karena membuatku jatuh cinta pada seorang bidadari sepertimu. Terima kasih karena mengijinkanku memilikimu. Terima kasih karena kau sudah hadirkan Jigeun untukku. Terima kasih karena kau sudah membuatku menjadi laki-laki paling bahagia di muka bumi,” dia hanya diam di dalam pelukanku.

Oppa, kau tidak pernah bertanya padaku apakah aku mencintaimu atau tidak,” tanyanya lagi. Aku tersenyum simpul mendengarnya.

“Wanita hanya perlu di cintai untuk bisa bertahan. Dan aku mencintaimu,” kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulutku. Padahal memikirkannya saja tidak pernah.

Dia melepaskan pelukanku dan berbalik menghadapku. Dia tersenyum sekilas lalu melingkarkan tangannya di pinggangku dan menyandarkan dagunya di bahuku. Kulingkarkan kedua tanganku di pundaknya seraya membalas pelukannya. Kubenamkan wajahku di rambutnya dan mempererat pelukanku. Untuk beberapa saat kami terdiam. Lalu aku mendengar bisikannya.

Oppa, saranghae,”

Aku tersenyum bahagia mendengarnya. Kami terdiam lagi beberapa detik. Menikmati pelukan hangat ini.

Chagiya,” lirihku akhirnya.

“Hm?”

Mianhae,” ucapku pelan.

“Untuk apa?”

“Karena aku harus membagi cintaku,” kataku lagi. Dia menoleh ke arahku tapi aku masih membenamkan wajahku di rambutnya. “Aku harus membagi cintaku untukmu dan Jigeun.” Kudengar dia terkekeh pelan lalu dia hanya mengangguk. “Sorry, I Love You Both.

“Sepertinya kita memang harus membagi cinta kita Oppa. Oppa dan Jigeun mempunyai porsi yang sama di hatiku. Jadi, Oppa tidak usah cemburu jika suatu saat aku lebih memperhatikan Jigeun daripada Oppa terlebih  saat dia membutuhkanku,”

“Jigeun membutuhkanmu hanya pada siang hari. Malah hari kau adalah milikku seutuhnya,” ucapku menggodanya. Kudengar dia terkekeh lagi.

Aku melepas pelukanku dan mulai melakukan hal yang paling aku sukai. Menatap semua komponen wajahnya dengan baik. Inilah wajah yang tak akan pernah aku lupakan. Wajah yang hanya dengan melihatnya saja aku merasa hidupku sangat sempurna. Aku melihat wajahnya bersemu merah saat aku menatapnya begitu lama.

Matanya sedikit melebar saat aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Semakin dekat hingga aku bisa mendengar hembusan napasnya yang memburu. Berada dengan jarak sedekat ini dengannya membuatku semakin sadar bahwa gadisku ini sangat cantik. Aku memegang pipinya yang sudah bersemu merah. Wajah sangat dekat hingga nyaris tak ada jarak antara bibir kami hingga..

BRAAK!!!

Eomma...”

Jigeun membuka pintu kamar dengan kasar. Refleks Shiyeon mendorong tubuhku menjauh begitu mendengar suara Jigeun.

“Ada apa?” tanya Shiyeon pada Jigeun. Suaranya sedikit bergetar karena gugup.

“Aku mau tidur,” ucapnya sambil menguap. Sepertinya dia sudah terlalu lelah bermain dengan Aboji.

“Baiklah, ayo tidur di sini dengan Eomma,” kata Shiyeon. Kulihat Jigeun berjalan menuju arah kami.

Sesaat sebelum Jigeun tiba di hadapan kami, aku berbisik pada Shiyeon.

“Kau tidak ingin tidur denganku?” tanyaku dengan senyum menggoda. Kulihat dia menatapku dengan tatapan garang, seperti ingin memakanku hidup-hidup. Aku harus segera menyelamatkan nyawaku saat ini juga sebelum dia benar-benar membunuhku.

“Yaakk.. Kau ingin mati Park Jungsoo…” katanya lalu melempar bantal ke arahku yang sudah berlari keluar kamar dengan kecepatan tinggi.

“Hahahhahaaa…” tawaku membahana saat sampai di luar kamar. Pasti saat ini wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Aku berbalik memandang pintu kamar yang sudah di kunci dari dalam. Di dalam kamar ini ada orang-orang yang akan aku lindungi dan menjadi tujuan hidupku selamanya.

END :):)

Gimana-gimana? Hancur kah?s

Walaupun hancur tetap di komen yach..heheee..

Kamsahamnida..^o^

8 thoughts on “Sorry, I Love You Both ~Part 2-Ending (FanFic by Rryfishy)

  1. First…. Hahahahahaha *like always*

    Ih ada yang ditambahin tuh endingnya, awalnya kan endingnya ngga begitu hehehehehe

    Kata-kata ‘Jigeun tetap anakku. Walau dia bukan terlahir dari rahimku, dia terlahir dari hatiku.’ Itu similar sama yang ada di novel Fate, karena dia bukan anak kandungnya hehehehe

    Oh iya sengaja diriku tambahin foto biar rada ada geregetnya *apa deh Nana suka ngga penting* hahahahaha

    • Yeah.. like always, hihihihihiiii…

      iya.. endingnya saya tambah mumpung ada ide.
      tapi setelah di lihat lagi ternyata ada typo nya pas bagian tambahan itu, wkwkwkkkk…

      kata-kata yg seperti nana bilang di atas itu sebenarnya saya dngar dr sebuah film.. tapi mungkin udah jadi kalimat umum yang sering di gunakan para penulis kali ya makanya similiar..

      Hm-mm, fotonya bagus. sering2 aja na tambahin fotonya biar tambah bagus, wkwkkwkwkkkk…

      makasih nana dh di posting n lgsg d komen,,^^

      • Hehehehehe jadi ngga enak gini, besok-besok nunggu yang laen dulu deh :p

        Wah? ada yang typo kah? waduh kudu di check ulang nie hehehehehe

        Betul banget kata-kata itu sering banget muncul jadi udah similar banget hahahaha

        Kalo posting pake PC mungkin bakal ada fotonya, tapi kalo posting pake hape yah maaf-maaf deh fotonya rada susah hihihihihi

  2. Asyik lgsg ending..
    Iri ma Shiyeon,
    pnya calon kya leadernim,mertua dah kya keluarga sndiri,smw srba perfect..g mgkn lah Shiyeon nolak..
    sbenernya dah duga Jigeun psti bkan dr rahim Shiyeon,,
    hufh sdih jg rhasia Shiyeon.

    knapa hancur FF’a!!
    Menurutku bagus kok!.*_^

    • hehee.. ini sbnarx mau d jadiin one shot tp kpanjangan makanya d bagi jd 2.

      namanya jg fiksi Dwi, makanya d buat perfect.
      klo d khidupan nyata gak akan semudah itu.

      heh? udah tau y klo Jigeun tu bkn anak kandung? dari mana?
      *author kurang lihat mengelabui readers.. perlu bljar lg

      waaaaa.. FFnya bagus???? *loncat-loncat

      makasih y Dwi dh komen n gak jd silent reader^^

  3. tuh bnr kan klo jigeun bkn nak kandungny shiyeon..
    tumbn cm 2 part.. biasany klo teuk2ppa bs mpe 8 ato 10 part gtu.. Salute!!! keren na walaupun sedikit partny tp ga asal2an wat jln critny

    • Puput-ssi like I said before, FF ini bukan buatan Nana, coba dilirik judul di atas, itu ada nama authornya dan ini bukan buatan Nana hehehehehe

    • esebenarnya mau d bikin one shot aja tp kepanjangan, jadinya d bagi 2 dch..

      haduh, para reader udah bs nebak y klau itu bkn anak Shiyeon?? *gagal mngelebaui reader.. ;(

      makasih puput, udah komen wlwpn salah orang.. hihiihiiii..
      It’s okey..^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s