Sorry I Love You Both ~Part 1 (FanFic by Rryfishy)

Annyeonghaseyo..

Saya bawa FF baru nih.

Tokoh wanita di FF ini terinspirasi dari sebuah novel.

Sedangkan tokoh pria, sebenarnya saya ingin member yang lain selain Leader-nim karena di blog ini FF yang tokohnya Eeteuk Oppa udah bejibun. *di plototin author yang lain*

Tapi entah mengapa saya merasa Leader-nim lah yang paling cocok dengan karakter ini, dan khayalan saya saat menulis FF ini isinya Cuma Leader-nim doang.. JJ

Udah ah, selamat membaca.

 

SORRY, I LOVE YOU BOTH (Part~1)

-Leeteuk’s POV-

Aku berjalan pelan memasuki lobi gedung SM Ent. Beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan denganku sedikit membungkuk memberi sapaan hormat padaku. Aku membalas sapaan mereka dengan membungkuk dan tersenyum. Yah, hari aku dan leader lainnya sedang ada rapat khusus dengan Lee Sooman, pemilik agensi terbesar di Korea Selatan yang sekaligus menjadi big bosku.

Seharusnya hari ini aku datang bersama Yunho, tapi beberapa saat yang lalu dia bilang akan menyusul karena saat ini dia harus mengantar pacarnya ke rumah sakit. Sungguh beruntung Yunho yang sudah memiliki Yoonri, tidak seperti diriku yang tak kunjung memiliki pacar sampai saat ini. Huft, kenapa dalam urusan seperti inipun aku tidak becus?! Aku  tinggal memilih salah satu ELF yang ingin kujadikan pacar, dan tara…aku punya pacar. Tapi hati kecilku tidak mengijinkannya. Yang aku inginkan hanyalah wanita yang benar-benar aku cintai. Sampai kapanpun, aku akan menunggunya. Hingga aku menemukannya. Dan jika aku menemukannya, jangan harap aku akan melepasnya.

Langkah kakiku sudah menuntunku sampai ke lantai dimana ruang Sooman Sonsaengnim berada. Kami terbiasa memanggilnya seperti itu. Lantai 5 adalah lantai yang ditempati oleh karyawan-karyawan yang khusus menangani masalah internal perusahaan. Aku merasa nyaman ketika berada di tempat ini. Setidaknya aku tidak perlu bersusah payah menggunakan atribut penyamaranku. Semua orang di perusahaan ini sudah mengenaliku dengan baik, untuk apa mengelabui mereka.

Saat ini aku sudah berada di ruang kerja Sooman Sonsaengnim seorang diri. Menyebalkan! Leader yang lain kemana? Apa mereka tidak tahu ini sudah jam berapa? Kuraih ponsel dalam kantong celanaku dan memencet beberapa tombol.

Yoboseyo,” terdengar suara Yunho di seberang beberapa detik kemudian.

Yaak  Jung Yunho, kau masih di rumah sakit? Kenapa belum datang? Aku sendirian di sini!” nada suaraku mulai kesal.

“Aku masih di rumah sakit. Eomma Yoonri masih belum sadar. Untunglah Sooman Sonsaengnim membatalkan rapat kita, jadi aku bisa menemani Yoonri. Memangnya Hyung ada di mana?”

MWO?!? DIBATALKAN?!?”

Ne Hyung. Apa Kyuhyun tidak memberi tahu Hyung? Tadi aku berpesan padanya karena kebetulan dia sedang bersama Changmin. Aku tidak sempat mnghubungimu langsung karena panik mendengar ibu Yoonri yang masuk rumah sakit.”

Aish setan itu, akan kubunuh dia.

Geunde, bagaimana keadaan ibu Yoonri?” tanyaku kemudian setelah berhasil meredam emosiku.

“Masa kritisnya sudah lewat walaupun belum sadar Hyung.”

“Baiklah kalau begitu. Disaat-saat seperti Yoonri memang sangat membutuhkanmu. Sampaikan salamku padanya,” ucapku bijak.

Ne Hyung.”

Yunho sudah memutuskan sambungan telepon. Aku menarik napasku sekuat tenaga dan menghembuskannya dengan berat. Bersamaan dengan itu, terdengar suara ketukan pelan dari luar pintu. Kemudian seorang yeoja masuk sambil membawa nampan berisi cangkir kecil. Dia berjalan mendekat ke arahku sambil tersenyum dan membungkuk sopan. Aku terus menatapnya. Tanpa sadar, mataku seakan-akan tidak mau lepas dari wajahnya. Berusah mengamati setiap lekuk wajahnya. Dia sangat cantik. Lalu suaranya membuatku tersadar.

Annyeonghaseyo Juinnim, ini teh yang anda minta,” katanya sambil meletakkah cangkir tersebut di hadapanku.

Ah ne. Kamsahamnida…”

Dia tersenyum lagi setelah meletakkan cangkir itu. OMO… senyumnya begitu… manis. Sepertinya dia baru saja berhasil membangkitkan aura plaboyku. Aku terus menatapnya. Dia terlihat kikuk saat mataku tak lepas dari wajahnya. Hingga akhirnya aku tersadar lagi saat melihat tangannya yang melambai-lambai tepat di depan wajahku.

Juinnim, gwaenchansumnika?” tanyanya khawatir. Memangnya sudah berapa lama aku melongo seperti itu? Sungguh memalukan.

Nan gwaenchana,” ujarku sambil terkekeh pelan menertawai diriku sendiri yang bodoh ini. Aku melirik sekilas ID card yang terpasang di bajunya. Shin Shiyeon.

“Jika Juinnim tidak butuh apa-apa, saya permisi. Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan,” ujarnya.

Ah ne,jawabku. Dia membungkuk lalu hendak melangkah keluar saat aku menahannya.

“Shiyeon-ssi,”

Ne?”

“Kau tidak usah bersikap formal padaku. Kau cukup memanggilku Leeteuk,” ucapku sambil menyunggingkan senyum terbaik yang aku miliki. Aish, apa-apaan aku ini.

Ne, Leeteuk-ssi. Aku keluar dulu. Senang bertemu denganmu,” dia membungkuk lalu hendak akan keluar ketika aku menahannya lagi. Sepertinya aku tidak akan membiarkannya keluar begitu saja.

“Tunggu,” sergahku saat dia akan berbalik, seperti ada yang aneh dari kata-katanya. Senang bertemu denganku? Bukannya karyawan disini sering bertemu denganku?! “Kau karyawan baru disini?” tanyaku penasaran.

Ne. Aku baru 2 bulan bekerja disini,” ujarnya sambil tersenyum lagi. Seperti yang sudah kubilang, senyumnya itu manis sekali.

“Oh, baiklah kalau begitu. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu,” dia membungkuk lagi lalu menghilang di balik pintu. Aku masih tersenyum saat melihat dia menghilang ketika ponselku bergetar, pesan dari Kyuhyun.

Hyung, tadi Yunho Hyung bilang rapat dengan Sooman Sonsaengnim dibatalkan. Mian, aku lupa memberitahumu. Aku sedang asyik bertanding game dengan Changmin. Kekekkekekeee…

YAAKK,, CHO KYUHYUN… LEBIH BAIK SEKARANG KAU SELAMATKAN DIRIMU!!!!

Shiyeon’s POV-

Eomma…

“Jigeun-ah,” aku menangkap tubuhnya yang mungil itu saat dia berlari ke arahku. Aku mencium pipinya yang kenyal yang seperti bakpao.

“Aku lapar…” rengeknya. Pantas saja, tadi gurunya mengatakan bahwa Jigeun dan teman-temannya ditugaskan menanam pohon yang sudah pasti sangat menguras tenaga anak usia 4 tahun.

“Hmm, Jigeun mau makan apa?” tanyaku saat kami keluar dari sekolahnya. Seperti biasa aku akan menuruti permintaannya jika dia telah melakukan sesuatu yang baik seperti saat di sekolah tadi.

“Aku ingin makan Pizza. Bolehkan Eomma?” aku tersenyum mendengarnya. Salah satu sifatnya yang membuatku bangga. Dia selalu meminta persetujuanku mengenai apapun.

Araseo. Kita makan Pizza sekarang.”

“Yeeee…” dia bersorak kegirangan.

Jigeun, anakku. Baru berusia 4 tahun. Walaupun aku membesarkannya seorang diri, aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Tak akan kubiarkan dia kekurangan suatu apapun. Seluruh kasih sayangku, perhatianku, dan tujuanku adalah Jigeun. Yah, walaupun aku mendapatkan banyak cemohan karena aku tidak bersuami, aku tidak menghiraukannya. Banyak yang memandangku jijik karena mereka berpikir Jigeun itu anak haram. Sayangnya, aku tidak pernah menghiraukan perkataan orang-orang yang tidak tahu apa-apa itu. Aku tidak punya cukup waktu mengurus mereka.

Aku sudah memiliki Jigeun saat aku berumur 21 tahun. Hal terindah yang pernah aku dapatkan. Walau awalnya orang tuaku menentang keras keberadaan Jigeun, tapi melihat tingkah polah lucunya akhirnya mereka menyerah. Orang tuaku sangat menyayanginya. Untuk itulah mereka terus meminta kami tinggal di Busan bersama mereka, tapi aku menolaknya. Selama ini aku dan Jigeun bergantung pada orangtuaku karena aku harus menyelesaikan program masterku. Tapi setelah aku lulus, aku memilih pindah ke Seoul dan hidup mandiri bersama Jigeun. Aku sudah terlalu banyak merepotkan mereka walaupun mereka dengan senang hati melakukannya.

 Saat ini aku, Jigeun dan Hyosan sudah berada di sebuah restoran Pizza. Hyosan adalah teman satu kantor sekaligus sahabatku. Aku sengaja mengajaknya makan bersama mengingat dia sangat rakus jika hal itu adalah Pizza. Hyosan sedang menyuapi Jigeun saat dia memulai ceramahnya lagi.

“Shiyeon-ah, kau terlalu menikmati kesendirianmu. Itu tidak baik setidaknya bagi Jigeun. Dia semakin besar Shiyeon-ah. Suatu saat dia akan menanyakan siapa ayahnya,” kutatap wajah Hyosan sejenak kemudian kualihkan tatapanku pada Jigeun. Dia sedang mengunyah Pizza yang disuapi Hyosan padanya. Mulutnya bergerak lucu saat dia mengunyah. Aku menarik napas kemudian menghembuskannya pelan.

“Jangan egois, pikirkan dirimu dan Jigeun. Lagipula, apa kau tidak bosan mendengar omongan miring orang-orang tentangmu?” lanjutnya lagi.

“Untuk apa memikirkan mereka. Mereka tidak tahu apa-apa,” ucapku acuh.

“Pikirkan dirimu. Kau itu terlalu fokus memikirkan kebutuhan Jigeun tapi kau tidak pernah memikirkan kebutuhanmu sendiri,”

“Buatku yang penting Jigeun bahagia,” desisku.

“Tapi kau juga butuh bahagia Shiyeon-ah,” sahabatku ini bisa menjadi sangat cerewet jika menyangkut hal ini. Aku tahu dia hanya ingin aku mulai memikirkan kebutuhan diriku. Kebutuhan akan seorang laki-laki. Selama ini hidupku hanya terfokus pada Jigeun.

“Aku bahagia jika Jigeun bahagia,” kataku cepat. Kulihat Hyosan menghembuskan napas  dan akhirnya hanya menatapku pasrah. Dia tahu tidak akan ada artinya jika berdebat denganku tentang hal ini.

Kami kembali lagi ke kantor setelah makan siang. Jigeun sudah kutitipkan ke Park Ahjumma, tetangga kami. Park Ahjumma hanya tinggal dengan suaminya dan dia merasa sangat senang dengan keberadaan Jigeun. Maka itulah setiap pulang sekolah, Jigeun aku titipkan di tempat kerja atau rumah Park Ahjumma sampai aku kembali dari kantor.

Saat kami sedang sibuk di meja kami masing-masing, tiba-tiba Hyosan menjerit pelan dan menarik-narik tanganku. Walaupun dia menjerit pelan, tapi aku mendengar suaranya itu seperti petir. Bagaimana tidak, suaranya itu bisa melengking tinggi dan membuat orang di sampingnya segera berpikir untuk menyelamatkan kuping masing-masing.

Omonaa… Shiyeon-ah. Dia tampan sekali,” kulihat Hyosan memegang dadanya sambil memandang kagum ke arah seseorang. Tapi sayangnya aku tidak tertarik. Aku hanya menggeleng kepalaku melihat tingkahnya yang seperti remaja 15 tahun itu.

OMO, Shiyeon-ah, dia berjalan ke arah kita,” kali ini Hyosan sudah mencengkeram pergelangan tanganku.. “OMO, OMO. Ottokhae?” Hyosan mulai terlihat panik, tapi aku benar-benar tidak peduli dan terus fokus pada pekerjaanku.

Annyeong Shiyeon-ssi,” aku mendengar seseorang menyapaku. Aku mendongak melihat seseorang yang sudah berdiri di depan mejaku.

“Oh, annyeonghaseyo Leeteuk-ssi,” balasku dan tersenyum. Aku bisa melihat mata Hyosan melebar dan wajahnya yang melongo tak percaya melalui ekor mataku.

“Apakah Sooman Sonsaengnim ada di ruangannya?”

Ne. Sudah ada beberapa temanmu di sana,” jawabku.

“Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu,” ujarnya seraya berbalik meninggalkan kami menuju ruangan Lee Sooman.

Aku memalingkan wajahku menatap Hyosan yang terus melongo dengan tampang polosnya itu. Astaga, sampai kapan dia akan terus seperti itu.

Yaak Hyosan-ah,” aku menepuk pipinya pelan. Dia lalu menggelengkan kepalanya dan mengerdipkan matanya beberapa saat.

“Kau kenal dengan Leeteuk Super Junior?” tanyanya dengan wajah masih tak percaya.

“Hanya sekali kami saling menyapa, itupun di ruangan bos. Waktu itu dia meminta dibuatkan teh pada OB, tapi waktu itu para OB sedang sibuk. Jadi aku yang membuatkan teh untuknya. Wae?” aku menjelaskan tanpa melihatnya. Tapi sepertinya Hyosan masih belum puas.

“Lalu?” tanyanya lagi. Kali ini menarik kursinya mendekati mejaku.

“Dari situlah dia mengenalku,” jawabku cuek.

“Kau tahu, dia itu sangat terkenal di kalangan karyawati disini. Seperti…calon suami idaman. Haah, aku saja ingin punya suami seperti dia,” aku memalingkan wajah memandangnya. Dia masih memandangi punggung Leeteuk yang sudah menjauh dengan penuh kekaguman. Aku  hanya mengelengkan kepala. Dasar Hyosan.

-Leeteuk’s POV-

Saat sedang rapat, aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi. Senyum simpulnya saat aku menyapanya tadi benar-benar membuat syaraf otakku tidak bekerja dengan benar. Terdengar aneh memang, tapi itulah yang terjadi. Apakah ini yang dinamakan love at the first sight? Bukan, tapi love at the second sight. Yang pertama itu hanya sebatas kagum. Aish, apapun itu namanya, aku benar-benar tidak bisa fokus sekarang hanya karena senyumnya. Baru pertama kali kurasakan benar-benar ingin mengenal seorang gadis lebih jauh. Yah, Mulai detik ini kau akan terus berurusan denganku Shiyeon-ssi. Kau tidak boleh menolaknya.

Rapat akhirnya selesai. Bukan rapat menurutku, karena Sooman Sonsaengnim hanya menanyakan keadaan semua member. Biasanya dia hanya mendengar laporan dari para manager tapi kali ini dia ingin mendengar dari sudut pandang para leader. Dia tidak ingin anak didiknya merasa tidak nyaman dengan apa yang mereka kerjakan selama ini.

Aku berjalan melewati meja Shiyeon lagi, tapi sayangnya dia tidak ada. Padahal aku ingin sekali melihatnya. Baru 2 jam yang lalu aku melihatnya tapi saat ini aku merasa seperti sangat merindukannya. Di mana dia? Yang aku tahu ini belum waktunya pulang kantor. Kuedarkan pandanganku keseluruh ruangan. Yup, dia ada di pojok ruangan sedang bercakap-cakap dengan salah seorang temannya. Baru saja aku hendak melangkahkan kakiku menuju arahnya, tiba-tiba teriakan itu menghentikan langkahku.

Eomma…

Aku mematung menatap adegan yang hanya berjarak beberapa meter di depanku itu. Seorang namja berusia sekitar 4 tahun berlari dan berhambur ke pelukannya. Memanggilnya dengan sebutan…Eomma?!

Aku mendengarnya dengan jelas. Bocah itu memanggilnya… Eomma.

Semangatku yang tadi terisi penuh, mendadak terkuras habis seketika saat mendengar kata Eomma. Aku masih berusaha mencerna kejadian itu. Dia punya anak. Itu artinya dia sudah  berkeluarga dan sudah tentu dia memiliki..suami. Astaga, hari ini aku akan dibuat gila karenanya. Baru saja aku merasa seperti menemukan semangat baru. Begitu banyak harapan yang terlanjur tumbuh dan dalam sekejap dia menjatuhkanku begitu saja. Meruntuhkan harapan yang baru tumbuh beberapa jam yang lalu. Sebegitu kecewakah aku?

Aku mengubah arahku yang tadinya hendak ke arah Shiyeon menuju arah lobi kantor. Aku terduduk lemas di salah satu sofa yang tersedia di lobi dan mengatur napasku yang sempat tertahan.

“Apa yang harus kulakukan?” aku bergumam dan mengacak rambutku frustasi. Yang bisa kulakukan hanya menunduk, tak peduli dengan tatapan penasaran para karyawati yang berlalu lalang. Pasti hal ini akan menjadi bahan gosip yang hangat diantara mereka. Aku tidak peduli. Eomma… kata-kata itu terngiang lagi.

Eomma, itu kan Sorry Sorry Ahjussi…

Aish, bahkan aku hampir gila karena mendengar suara anak itu di mana-mana. Tapi tunggu dulu, Sorry Sorry Ahjussi?

Aku mengangkat wajahku mencari arah suara itu. Sorry Sorry Ahjussi? Lucu sekali. Tapi ketika kutemukan sosok pemilik suara itu, tubuhku menegang. Anak kecil itu sedang menarik-narik tangan Shiyeon sambil berlari ke arahku.

“Jigeun-ah, pelan-pelan saja,” seru Shiyeon memperingatkannya. Mereka mendekat. Aku bisa melihat jelas wajah anak itu. Benar-benar menggemaskan, tapi sama sekali tidak mirip Shiyeon, mungkin dia mirip ayahnya. Ah, memikirkannya ku jadi pusing. Aku berusaha tenang dan menyambut mereka dengan sewajarnya.

Annyeonghaseyo Ahjussi. Joneun Jigeun imnida…” dia langsung memperkenalkan diri begitu tiba di hadapanku dengan sopan. Aigoo… Aku tertawa pelan melihat pola tingkahnya.

Mianhae Leeteuk-ssi jika sudah mengganggumu. Tapi anakku ini sangat mengidolakanmu,” selanya sambil tersenyum lagi. Astaga, kumohon jangan tersenyum lagi. Itu akan semakin menyiksaku dengan kenyataan bahwa aku tidak bisa mendekatimu. Senyum itu sudah pasti ada yang memilikinya.

Kupaksakan menyungging senyumku dan mengalihkan tatapanku pada Jigeun yang masih diam menatapku. Aku tidak ingin menatap Shiyeon berlama-lama lagi, takut akan semakin terpesona olehnya.

“Jigeun-ah, kau mengenal Ahjussi?” tanyaku pada Jigeun. Dia hanya mengangguk.

“Nama Ahjussi siapa?” tanyaku lagi yang ingin mengetes kemampuannya mengenaliku.

Sorry Sorry Ahjussi,” jawabnya tanpa menunggu lama. Sontak tawaku pecah saat dia mengucapkan julukan baru bagiku itu.

Aigoo…” aku mencubit pipinya pelan dan meraihnya ke dalam pangkuanku. Shiyeon saat ini sudah duduk di sampingku.

“Leeteuk-ssi, boleh aku memotretmu bersama Jigeun?” tanyanya yang spontan membuatku menoleh ke arahnya. Dia tersenyum lagi. OMO… kendalikan perasaanmu Park Jungsoo.

“Tentu saja,” jawabku berusaha tersenyum. Lalu Shiyeon berdiri dan mulai mengambil beberapa gambarku dan Jigeun.

Bermacam-macam pose lucu yang kami buat. Ada salah satu pose saat Jigeun mencium pipiku, ada pose saat Jigeun melingkarkan tangannya ke leherku dari arah belakang. Aku juga meminta Shiyeon mengambil gambar kami melalui ponselku. Cklik. Satu pose kami yang sedang tertawa lepas sudah terpampang di ponselku. Aku tersenyum puas dan senang ketika melihat gambar itu. Benar-benar senang. Rasa senang yang berbeda, bahagia mungkin.

Sesaat aku melupakan kejadian ‘Eomma’ tadi karena saat ini aku malah asyik bergulat dengan Jigeun di sofa. Sedangkan Shiyeon hanya duduk memainkan ponselnya dan kadang tersenyum ke arah kami. Aku bisa melihat ada beberapa karyawati yang berbisik lalu menatap kami bertiga. Sekali lagi, aku tidak peduli.

Mianhae Leeteuk-ssi, hari sudah sore. Kami harus segera pulang,” ujar Shiyeon tiba-tiba menyadarkanku karena mungkin aku baru saja amnesia beberapa saat melupakan dunia yang lain. Dan harus kembali pada kenyataan, dia bukan milikku.

“Kalian pulang bersama siapa? Apakah ayah Jigeun akan menjemput?” aish, kata-kata bodoh apa yang baru aku utarakan? Aku bahkan berharap dia menjawab hal yang negatif. Dasar Leeteuk  babo.

Dia sedikit tersontak mendengar pertanyaanku, tapi kemudian tersenyum lagi.

“Ayah itu apa Ahjussi?” tanya Jigeun tiba-tiba.

Mataku sontak membulat saat mendengarnya. Aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutku mendengar pertanyaan Jigeun yang masih dalam pangkuanku itu. Aku menatap lekat mata Shiyeon hendak mencari jawaban. Sepertinya dia mengerti maksud tatapanku.

“Ayah itu seseorang yang akan tinggal bersama Jigeun selain Eomma, arrachi?” jawab Shiyeon penuh hati-hati.

“Hm-mm,” Jigeun menjawab hanya dengan anggukan kecil. Anak seusianya mungkin punya persepsi macam-macam dengan apa saja yang baru di jelaskan. Atau mungkin dia tidak terlalu peduli karena saat ini dia malah asyik memencet-mencet ponselku.

“Shiyeon-ssi, maaf kalau aku terlalu lancang. Tapi apakah Jigeun…”

“Tidak punya ayah,” potongnya cepat bahkan di saat aku belum menyelesaikan pertanyaanku. “Aku single parent,” tegasnya lagi.

Aku tahu ini sedikit kurang sopan mengingat kami baru saja kenal. Tapi, aku benar-benar tidak bisa menahan rasa ingin tahuku. Sedetik sesaat setelah mengatakannya, aku merasa harapanku kembali lagi. Tanpa sadar aku menghembuskan napas lega.

“Oh, mianhae,” ucapku dengan nada suara rendah, khawatir dia akan marah padaku karena mengungkit sesuatu yang mungkin tidak ingin dia bicarakan. Aku tahu hal seperti ini memang sensitif.

“Kau tidak perlu canggung seperti itu Leeteuk-ssi. Aku baik-baik saja,” katanya tenang lalu mengambil Jigeun dari pangkuanku.

Jigeun mencium pipiku terlebih dahulu sebelum mereka benar-benar menghilang di balik pintu utama. Aku lalu tersenyum puas. Sepertinya aku punya tujuan hidup baru saat ini.

-Shiyeon’s POV-

Aku meraih tas di mejaku dengan tergesa-gesa dan berlari menuju sekolah Jigeun.  Bagaimana aku bisa lupa menjemput Jigeun, ini sudah lewat 1 jam dari waktunya. Aku terus berlari menyusuri trotoar karena kebetulan sekolah Jigeun berada di jalan yang sama dengan kantorku. Napasku terengah-engah begitu sampai di sekolahnya. Aku melihat sekeliling sekolah yang sudah sepi.

Perasaan cemas dan khawatir menyelinap dalam hatiku. Aku langsung masuk ke dalam sekolah, meliarkan mataku ke seluruh penjuru sekolah. Tapi nihil, Jigeun tidak ada. Rasa khawatirku semakin bertambah. Aku lalu bertanya pada penjaga sekolah yang kebetulan masih ada. Katanya Jigeun dijemput oleh seorang pria. Astaga.. Aku mulai berpikir yang tidak-tidak. Jangan-jangan dia penculik anak. Apalagi di Seoul akhir-akhir ini  marak penculikan anak kecil.

Aku terduduk lemas dan mulai berpikir sesuatu yang akan terjadi pada Jigeun. Sungguh aku tak siap jika sesuatu terjadi padanya. Aku bisa gila atau bahkan lebih parahnya aku bisa mati. Jigeunlah tujuan hidupku sekarang. Apa jadinya diriku jika tidak ada Jigeun.

“Jigeun, kau di mana? Jangan tinggalkan Eomma…

Aku mulai terisak dan terduduk lesu di depan gerbang.  Tapi saat itu juga mataku tertumbu pada sosok yang kukenal di seberang jalan. Itu Jigeun, dan dia tidak sendirian. Seorang pria sedang menggandeng tangannya kirinya dan tangan kanannya sedang memegang es krim. Jigeun terlihat sangat menikmati es krimnya. Pria itu berkacamata hitam dan topi yang hampir menutupi sebagian wajahnya. Sangat mencurigakan.   Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari menghampiri mereka. Kau ingin menculik Jigeunku, hah?

Saat aku sudah mendekat, mereka masih tidak sadar akan kehadiranku. Baguslah, supaya aku bisa leluasa menghajar penjahat sepertinya. Aku langsung memukul kepala pria itu dengan tasku tanpa ampun. Kukerahkan semua tenagaku untuk menghajarnya. Apapun akan aku lakukan untuk melindungi Jigeun.

“Hiyaa… rasakan ini. Dasar penculik. Kau mau menculik anakku, hah? Kau tidak sadar akan berhadapan dengan siapa?” aku terus memukuli kepalanya dan merancau tak peduli dengan ringisannya menahan sakit.

“Aaaawww…. Tunggu, tunggu…” dia meringis dan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya menghadang hujaman tasku. Tapi aku tidak akan memberikan kesempatan untuknya untuk melarikan diri. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia menahan kepalanya sambil membelakangiku.

“Rasakan kau…” kataku lagi sambil terus memukuli kepalanya. “Tidak akan kubiarkan kau menyentuh anakku.”

Eomma…

Aku sontak menghentikan seranganku saat mendengar suara Jigeun. Bisa kulihat wajahnya yang terpaku menatap ke arahku. Mungkin dia tidak menyangka Eommanya bisa sebringas itu. Tepat saat itu juga pria itu langsung berbalik menghadapku dan melepaskan kaca matanya. Omonaa…

“Le-Leeteuk-ssi.”

Aku  tergagap melihat orang yang kupukuli tadi ternyata adalah Leeteuk. Ottokhae?!? Aish, aku malu sekali. Mau ditaruh di mana wajahku. Kalau bisa aku ingin menghilang saja sekarang. Sungguh memalukan.

Aku hanya bisa memandangnya yang masih memegangi kepalanya. Aku bahkan berpikir sebaiknya dia amnesia saja dan melupakan kejadian tadi. Aku masih memandang wajahnya dengan tatapan memelas. Sepertinya dia akan marah besar. Matilah kau Shin Shiyeon.

“Kau itu lihat-lihat dulu baru menyerang orang. Masa orang setampan aku mau menculik Jigeun. Kau tahu tidak, kekuatanmu tadi sama dengan bodyguard yang biasanya mengawalku. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padaku? Bagaimana kalau aku geger otak? Kalau hal itu sampai terjadi, aku akan menuntutmu,” cerocosnya panjang lebar. Tapi yang kutangkap tidak ada kesan marah dari omelan panjangnya itu, hanya omelan yang mengalir begitu saja.

“Hehee… Mianhae Leeteuk-ssi. Aku pikir kau mau menculik Jigeun,” ucapku menahan malu.

“Aku hanya ingin mengajak Jigeun makan es krim. Lagipula kenapa kau tadi lama sekali menjemputnya. Tadi waktu aku datang Jigeun sedang sendirian di sekolah,” ucapnya dengan nada suara yang sudah mulai tenang lalu dia mengangkat Jigeun dan menggendongnya. Tiba-tiba ada perasaan berbeda saat melihat dia menggendong Jigeun.

“Aku tadi banyak pekerjaan sampai-sampai aku lupa sudah waktunya menjemput Jigeun,” ujarku.

Geunde, darimana kau tahu sekolah Jigeun?” tanyaku lagi. Aku masih terkesima dengan pemandangan di hadapanku. Jigeun berada dalam pelukannya dan dia melakukannya dengan sangat baik. Jigeun bahkan tidak terlalu menghiraukan keberadaanku. Sepertinya pria ini sudah berhasil mengalihkan perhatian Jigeun dariku.

“Kau lupa ya? Kemarin waktu kita bertemu di kantor, Jigeun masih menggunakan seragam sekolahnya. Di Seoul ini kan cuma sekolah di samping kantor kita ini yang seragamnya seperti itu,” tukasnya.

Ah, benar sekali.

“Setelah ini kau mau kemana?” lanjutnya.

“Aku akan mengantarkan Jigeun ke tempat kerjanya Park Ahjumma, setelah itu aku kembali ke kantor. Letak tempat kerja Park Ahjumma dekat sini. Setiap hari aku menitipkan Jigeun pada beliau sampai aku pulang.”

“Siapa itu Park Ahjumma?”

“Dia tetangga kami. Biasanya setelah aku menjemput Jigeun, aku mengantarkan Jigeun ke tempat kerjanya. Jika Park Ahjumma yang pulang terlebih dahulu, dia juga akan membawa Jigeun pulang bersamanya dan menunggu sampai aku pulang.”

“Kalau begitu kita ke kantor saja. Aku dan Jigeun akan menunggumu menyelesaikan pekerjaanmu. Setelah itu kita makan bersama,” ucapnya santai.

Tapi tidak denganku. Apa aku salah dengar? Dia dan Jigeun akan menungguku di kantor? Apa dia sudah gila?

Mwo?!? Kau sudah gila Leeteukssi. Gadis-gadis di kantorku itu biangnya bergosip, kau tahu tidak? “

“Lalu?”

“Apa kau tidak takut digosipkan denganku?”

“Kau itu percaya diri sekali! Lagipula, aku rela digosipkan denganmu. Kajja,” tangan kanannya menarik tanganku dan tangan kirinya masih menggendong Jigeun. Aish, orang ini benar-benar sudah gila. Jangan-jangan gara-gara seranganku tadi hingga otaknya kini sudah bergeser dari tempatnya semula. Mudah-mudahan setelah ini otaknya masih bisa bekerja dengan baik.

-Leeteuk’ POV-

Saat memasuki lobi kantor, bisa kurasakan tatapan aneh dari para karyawan. Sebenarnya aku tidak terlalu khawatir jika itu masih dalam lingkup SM, karena seluruh karyawan yang bekerja disini harus menanda tangani kontrak terlebih dahulu. Kontrak itu berisikan para karyawan tidak boleh mengeksplor kehidupan para artis. Jika itu terjadi, mereka bisa dituntut. Bagi Sooman Sonsaengnim, reputasi para artis juga berdampak pada kemakmuran para karyawan. Jadi tidak heran jika ada artis SM yang berkeliaran bebas di sini dengan pacar mereka.

“Kami tunggu disini saja,” kataku begitu sampai di sofa lobi utama.

“Jigeun-ah, kau main di sini dulu bersama Ahjussi. Eomma mau menyelesaikan pekerjaan Eomma. Jangan menyusahkan Ahjussi, arrachi?”

Ne Eomma,” jawab Jigeun.

Kulihat Shiyeon mencium Jigeun sebelum beranjak ke lantai kerjanya. Sambil menunggu Shiyeon, aku terus bermain dengan Jigeun. Kadang tingkahku sudah seperti anak kecil karena harus beradaptasi dengannya. Aku sungguh menikmatinya. Bahagia rasanya melihat Jigeun tertawa karena ulahku yang konyol. Hingga tak terasa sudah beberapa jam kami seperti membuat dunia sendiri, tidak peduli dengan lingkungan sekitar.

Jigeun tampaknya mulai kelelahan. Dia tertidur dipangkuanku. Wajahnya sangat polos saat dia tertidur. Aku memandang wajahnya lalu tersenyum. Ada rasa yang berbeda saat dia tertidur dipangkuanku seperti ini. Rasa sayang yang sudah tertanam di hatiku untuk anak ini. Kusandarkan kepalaku di sandaran sofa dan Jigeun masih terlelap dalam pangkuanku. Rasanya lelah sekali.

**

“Leeteuk-ssi, ireona.”

Kurasakan ada yang mengguncang bahuku pelan. Saat kubuka mataku, wajah Shiyeon berada tepat di hadapanku. Aku tersenyum melihatnya. Sangat menyenangkan jika setiap aku bangun tidur hal yang pertama kali kulihat adalah wajahnya. Aku ingin itu terjadi setiap hari.

“Sepertinya kau lelah. Mianhae sudah merepotkanmu. Kalau kau lelah sebaiknya kau pulang saja. Kita bisa makan lain waktu,” ujarnya.

Gwaenchanayo Shiyeon-ah. Aku yang ingin menunggumu. Lagipula untuk apa aku menunggu jika akhirnya kau menyuruhku pulang,” kataku yang membuatnya tersenyum. Astaga,  kenapa dia suka sekali memamerkan senyumnya itu? Apa dia tidak tahu, aku selalu tersiksa melihat senyumnya itu karena harus mencari oksigen lebih untuk sekedar menarik napas.

Dia hendak mengambil Jigeun yang masih terlelap dari pangkuanku tapi aku menahannya.

“Biar aku saja,” kataku. Lalu dia sejenak menatapku.

Jeongmal Gomawoyo Leeteuk-ssi,” ucapnya pelan.

“Mulai sekarang jangan menggunakan bahasa formal lagi denganku. Bicaralah layaknya seorang teman,” kataku. Teman? Hei, aku ingin lebih dari sekedar teman.

Aku bangkit dan menggendong Jigeun, menyandarkan kepalanya di bahuku.

Oppa…

Aku mengentikan langkahku. Dia memanggilku Oppa? Baguslah, jadi aku tak perlu repot-repot memintanya.

“Hm?”

“Memangnya kita mau makan dimana? Jigeun masih tidur,”

Aku berpikir beberapa saat. Benar sekali. Mungkin akan sedikit kewalahan jika makan bersama Jigeun yang sedang tidur sekarang.

“Kita makan di rumahmu saja,”

Mwo? Tapi apakah kau tidak ada jadwal hari ini?”

“Aku hanya ada siaran di Sukira saja nanti malam. Kajja,”

Dia berjalan di sampingku yang masih menggendong Jigeun saat kami menuju parkiran. Aku meliriknya sekilas. Dia hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Terkejutkah dengan tindakanku yang terlalu cepat atau bahkan seenaknya saja? Yang aku tahu, aku tidak harus menunggu lama.

-Shiyeon’s POV-

“Kita makan di rumahmu saja,” jawabnya enteng.

Mwo? Tapi apakah kau tidak ada jadwal hari ini?”

“Aku hanya ada siaran di Sukira saja nanti malam. Kajja,”

Dia lalu berjalan tanpa menghiraukanku aku yang sedang berpikir. Sifatnya yang seenaknya sendiri, memutuskan sesuatu tanpa minta persetujuanku terlebih dahulu. Seolah-olah aku tidak punya pilihan lain selain menuruti kata-katanya. Jika jujur, aku membenarkan semuanya. Saat dia memutuskan sesuatu yang seenaknya itu, aku seperti tidak punya pilihan lain selain menurutinya. Herannya aku tidak pernah merasa keberatan menuruti semua kata-katanya. Semua kulakukan tanpa ada tekanan. Saat dia bilang dia dan Jigeun akan menungguku, aku bahkan tidak keberatan sedikitpun. Entahlah, tapi aku merasa Jigeun akan aman berada di tangannya.

Aku langsung menyiapkan makanan yang kami beli saat di perjalanan tadi dan Leeteuk Oppa membaringkan Jigeun di kamar. Jigeun sepertinya lelah sekali sampai tertidur lama seperti ini. Saat Leeteuk Oppa keluar kamar, makanan sudah terhidang di atas meja.

“Woaa, massitta” katanya saat melihat makanan yang terhidang.

Mian, hanya bisa makan seperti ini,” ucapku sedikit malu.

“Seperti apa maksudnya? Makanan ini sepertinya enak sekali,” jawabnya sumringah lalu mulai melahap makanannya.

Enak? Apanya yang enak? Aku bahkan sudah bosan makan makanan ini. Aku terpaksa hanya membeli ini karena tadi aku yang turun dari mobil untuk membelinya. Leeteuk Oppa tetap di dalam mobil sedangkan Jigeun tertidur di jok belakang. Apa daya uangku pas-pasan, dan hanya inilah yang bisa aku beli. Tadi Leeteuk Oppa sempat menawarkan diri untuk membayar dengan uangnya saja, tapi aku menolak.

Emm, Shiyeon-ah…” panggilnya saat mereka selesai makan.

Ne?”

“Apakah ayah Jigeun masih menjalin komunikasi dengan kalian?” tanyanya dengan nada yang tidak bisa kuartikan. Seperti mencari jawaban negatif. Aku menatapnya sejenak.

“Aku tidak ingin membahasnya,” jawabku singkat.

Kuakui, aku memang sensitif jika ditanya mengenai ayah Jigeun. Untuk apa membicarakannya jika dia saja tidak peduli bahwa sudah ada Jigeun di dunia ini. Aku tidak suka membicarakan orang tidak berperasaan sepertinya.

Tapi di sisi lain, aku bersyukur ayah Jigeun tidak peduli pada Jigeun. Itu artinya aku tidak perlu bersusah payah memperebutkan Jigeun dengannya, karena Jigeun hanya milikku.

Mianhae…” ucapnya pelan.

Gwaenchana” ucapku lalu tertunduk. Bukan maksudku menolak pertanyaannya, tapi aku bahkan tidak pernah menceritakan pada orang lain tentang ayah Jigeun selain keluargaku dan Hyosan.

Tiba-tiba pintu kamar Jigeun terbuka. Jigeun muncul dari balik pintu sambil mengusap matanya.

Eomma, aku mau makan,” katanya lalu menghampiri kami. Dari siang Jigeun belum makan. Mungkin dia terbangun karena lapar. Aku melihatnya sesekali masih menguap saat berjalan ke arah kami.

“Anak Eomma sudah bangun. Jigeun lapar ya?” tanyaku padanya.

“Sini Jigeun-ah, makan bersama Ahjussi,” panggil Leeteuk Oppa dan Jigeun langsung minta duduk dipangkuannya.

Sekali lagi, aku terkesima dengan pemandangan di depanku saat ini. Leeteuk Oppa yang menyuapi makanan ke dalam mulut Jigeun dan Jigeun menyandarkan tubuhnya manja di tubuh Leeteuk Oppa. Dan anehnya, Jigeun seperti menghiraukan keberadaanku lagi. Bukan Jigeun saja, tapi Leeteuk Oppa juga seakan-akan lupa bahwa di meja makan ini bukan hanya ada mereka berdua saja. Mereka seperti punya dunia sendiri.

*TBC

Di tunggu komennya..

Yang komen dapat pahala karena sudah menghargai yang nulis.

Kamsahamnida ^o^

8 thoughts on “Sorry I Love You Both ~Part 1 (FanFic by Rryfishy)

  1. Like usual I will be the first commentator here hahahahaha….

    Kemajuan yang cukup pesat, dari Juinnim, jadi Leeteuk-ssi, dan langsung berubah jadi Oppa….

    Seperti biasa, mau deketin Mama-nya, anaknya duluan yang dijadiin batu pijakan, nice tuh caranya hahahahaha

    • heh? nana ganti ID..??
      hehee.. nana slalu jd komentator pertama

      Leeteuk Oppa gak mau lama2 tuh, makanya lgsg aja jd Oppa..

      hahahaaa..,, cara klasik tp slalu d pake d mana2, dketin anaknya dl baru mama-nya supaya sang mama gak bs nolak,,

      makasih na, dh posting n slalu jd komentator pertama, xixixiixiii..

      • Hihihihihi kemaren abis komen di blog pribadi pake ID itu terus lupa di ganti lagi jadi ID yg thecuties :p

        Emang itu 오리 ngga sabaran pisan ㅎㅎㅎㅎㅎ ㅋㅋㅋㅋㅋ

    • ini cuma 15 lembar lho.. aslinya 30 lembar lebih
      tp karena kpanjangan makanya d potong..

      makasih y udh baca n ninggalin komen..^^

  2. Lebaran baru buka blog..
    Wow bnyk bgt postingan ff..
    Mw ucapin met idulfitri y yeorobun..
    Lgsg komen ah..

    Huah sbnr’a bsa dblang gr2 kyu,uri leader ktmu cwe cantik..hoho^_
    waduh artis SM bsa bebas pcaran dkantor..*nak’a*..
    Ehmm asli’a kya gtu jg g y..

    Mang deh klo bkin ff kya gni,psti yg kbyang leadernim,.
    Cucok sangat..klo member lain mgkn feel’a krang..*pndpat sya loh*hehehe_^

    • iya benar, secara gak langsung kyu dh buat teuki oppa ktemu cantik..

      artis SM bebas pacaran d kantor itu cm fiksi aja, klo memang benar kyk gt, kayakx bnyak fans2 yg bakal nongkrongin gedung SM dch cz penasaran..

      ho’oh, leadernim emank udah cocok bngt jd ayah, apalagi klo lht dia gendong anak d hello baby edisi terbarunya,, mantap dch..

      gomawo dwi, udah baca n nnggalin komen^^

  3. Annyeong haseoyo eonnie / oppa ^^
    FF nya daebak!! Aku suka sama FF nya author ^^
    Oh iya, mianhae nih ya. Boleh aku re-post FF nya di FP ku? ^^ kalo boleh, pasti banyak elf di FP ku yang suka sama FF nya author. Kalo ngga bisa juga gapapa kok. Jujur aku bener” suka sama FF nyaa❤ daebak buat author *give thumbs* ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s