Star fo My Heart ~Part 8 Ending (FanFic by Violetkecil)

Part 8 (Ending)

Ketika aku takut malam yang pekat dan sepi datang, aku berharap sore tidak berakhir menjadi gelap. Cukup berhenti hingga jingganya langit berpendar dan menghangatkan hatiku.

“Ini untukmu.”

Aku menoleh dan mengambil ice cream yang diberikan Wookie Oppa untukku. Kemudian kulihat dia duduk di sampingku. Dia mengenakan kacamatanya dan sepertinya tidak ada yang mengenalinya. Taman ini memang cukup sepi tapi sangat sejuk. Berbeda dengan taman yang aku kunjungi dengan Kyuhyun Oppa kemarin. Deg, aku merasakan ada sentilan kecil di hatiku mengingat nama Kyuhyun Oppa. Setelah apa yang terjadi malam itu, aku berharap dia akan baik-baik saja.

“Menyenangkan rasanya seperti ini,” kata Wookie Oppa memecahkan keheningan.

Ne, sore yang indah,” sahutku sambil menghabiskan ice creamku. Dingin , manis dan ketika meleleh di mulutku rasanya sangat menyenangkan. Aku ingin berlama-lama menikmati sore ini. Menikmati hembusan lembut angin dan irama detak jantungku sendiri. Selalu seperti ini jika Wookie Oppa di sampingku. Jantungku selalu berdetak kencang dan hal apapun yang Wookie Oppa lakukan mampu membuat pipiku bersemu merah. Tapi sekali lagi aku akhirnya menyadari ini perasaan yang berbeda. Aku memejamkan mataku dan sekarang aku bisa mendengar tarikan nafas teratur Wookie Oppa. Begitu dekat berhembus karena ternyata dia menaruh kepalanya di pundakku. Aku tidak berani bergerak karena takut mengganggunya. Tanpa kata-kata Wookie Oppa meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku masih terdiam. Ini seperti apa yang Kyuhyun Oppa lakukan. Mengapa mereka berdua seperti ini? Aku menggelengkan kepalaku pelan. Tiba-tiba Wookie Oppa berdiri dan menarik tanganku,”Gaja!!”

“Kemana?” tanyaku heran.

Wookie Oppa hanya tersenyum, “Ikutlah saja.”

***

Wow!!!” pekikku kagum. Ini benar-benar indah. Sejauh mataku memandang hanya melihat langit dengan semburat jingga. Tampak pemandangan kota Seoul di bawah sana. Ini gedung yang paling tinggi di sekitar sini dan kami berada di atap gedung. Pemandangan yang sangat indah. Aku tersenyum senang melihatnya. Aku menoleh dan mendapati Wookie Oppa sedang menatapku dengan senyum manisnya itu.

“Kau suka?” tanyanya.

Aku mengangguk senang. “Ne, gomawoyo Oppa.”

Wookie Oppa kemudian menarik kedua tanganku dan membuatku berdiri menghadapnya. Matanya menatap lekat mataku. Aku tidak bisa mengaihkan tatapanku dari matanya. Mata itu hangat dan memancarkan kelembutan. Aku bisa melihat pantulan diriku di matanya dan caranya melihatku dengan penuh cinta. Aku menunduk kaku dan merasakan lagi-lagi jantungku memompa darah terlalu banyak hingga membuat pipiku merah. Aku mengalihkan pandanganku pada kedua kakiku yang mulai terasa lemas dan tanpa kusadari Wookie Oppa menyentuh daguku dan memaksaku untuk menatapanya. Aku malu dan kemudian Wookie Oppa justru tersenyum jahil. “Oppa…” rengekku sambil memukul pelan dadanya.

Dia menangkap tanganku dan tertawa pelan “Aku suka melihatmu seperti ini,” katanya.

Aku tersenyum senang mendengarnya. Wookie Oppa selalu bersikap dan mengatakan hal-hal yang manis. Aku suka melihatnya. Melihatnya pipi chubbynya jika tersenyum dan tatapan matanya yang hangat. Aku suka mendengar suaranya. Mendengarnya benyanyi dan tertawa lepas. Aku menyukainya tapi apakah aku mencintainya?

Aku masih tenggelam dalam pikiranku ketika kemudian Wookie Oppa mengajakku makan malam di sebuah café kecil. Suasana di café itu jauh lebih romantis dengan dentingan lembut piano. Aku mulai membayangkan Wookie Oppa memainkan sebuah lagu untukku dan menyatakan cintanya untukku. Hal yang selalu ada dalam pikiranku tapi nyatanya tidak terjadi seperti itu. Wookie Oppa kemudian mengantarkanku pulang.

Apartemenku sudah ada di depan tapi aku berharap mobil ini tidak berhenti disana. Aku berharap waktu berhenti saat ini. Bukan karena aku masih ingin bersamanya tapi aku hanya ingin memastikan perasaanku padanya. Tapi semua itu tidak mungkin. Mobil berhenti dan aku membuka pintu mobil. Aku ingin beranjak keluar dari mobil ketika tangan Wookie Oppa menahanku. Aku menoleh dan mendapati wajahnya begitu dekat. Aku bisa mendengar tarikan nafasnya yang tidak beraturan. Aku melihatnya membuka mulut dan ingin mengatakan sesuatu. Aku menunggunya bicara dan perlahan menarik diriku menjauh darinya. Tapi aku tidak bisa bergerak karena Wookie Oppa menarikku dalam pelukannya.

“Sebentar saja seperti ini. Aku ingin mendengar detak jantungmu. Aku ingin tahu apakah berdetak sama dengan jantungku. Aku ingin merasakan hembusan nafasmu karena aku ingin hembusan nafas itu yang memenuhi paru-paruku. Aku lelah dan kehabisan nafasku karena terus mengejarmu tapi kau tidak menoleh sedikit pun. Aku lelah mengendalikan diriku sementara kau tidak sedikit pun menyadarinya. Aku lelah…”

Wookie Oppa melepaskan pelukannya dan menatapku, “Aku lelah menyimpan perasaan ini sendiri. Saranghae,” lanjutnya.

Aku tidak terkejut kali ini. Aku bisa merasakan itu tapi aku takut dan aku masih belum bisa memastikan perasaanku kepadanya. Aku buru-buru keluar dari mobil. Aku merasakan mataku mulai memanas. Kenapa yang bisa kulakukan hanya menangis? Aku ingin protes. Aku menyukainya tapi aku tidak bisa mencintainya. Aku ingin membiarkannya menjadikanku miliknya tapi aku merasakan ada yang manahanku. “Kenapa aku tidak bisa?” gumamku putus asa.

Wookie Oppa keluar dari mobilnya dan menghampiriku. Aku menghapus air mataku buru-buru tapi aku yakin Wookie Oppa pasti melihatnya. Dia berdiri di depanku dan menggenggam kedua tanganku. Matanya menatapku dengan penuh pengharapan. Aku masih bisa melihat dia tersenyum untukku dan aku hanya bisa membalas senyumnya dengan getir.

This night is a blessing, the day that we met.
The moon is out in the sky and the stars are smiling.
I wish that your smile won’t be erased as I pray
for these happy days to continue

Dulu aku berharap bisa melihat senyumnya. Selalu. Dan kali ini kau berharap ini menjadi hari yang paling membahagiakan untuk kami berdua. Tapi sekali lagi aku tidak bisa. Memikirkan hal itu membuat dadaku semakin sesak. Aku tidak mau menangis di depannya.

Mata itu masih menatapku hangat, “Maukah kau menemaniku melewati hari-hari, melewati semua kesulitan yang ada bersama?” tanyanya lembut.

I do,” jawabku dalam hati tanpa mampu kusuarakan. Mungkin harusnya aku mengatakan itu. Aku menatap mata Wookie Oppa. Dia ada disini sekarang untukku. Tapi bisakah aku ada untuknya?

Aku membalikan badanku dan berjalan menjauh tanpa bisa mengatakan satu pun. Aku berjalan menuju apartemenku. Dan selanjutnya aku hanya bisa terduduk di belakang pintu. Airmataku jatuh. Aku bingung airmata ini untuk apa. Bahagia karena dicintai dua orang bintang yang dulu bahkan hanya muncul dalam mimpiku. Sedih karena aku telah membuat mereka seperti ini. Hatiku tidak pernah bisa berbohong tidak bisa. Ada banyak bintang sekarang tapi aku hanya perlu satu bintang untuk hatiku.

“Minah baboya!” runtukku dalam hati. Aku sudah bertindak bodoh lagi malam ini. Aku meninggalkan Wookie Oppa begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun. Aku melukai satu hati lagi. Tapi aku jauh lebih terluka kali ini. Diriku menolak untuk berkata tidak tapi hatiku memaksa berkata lain. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa mengelak. Aku sangat menyukai Wookie Oppa. Lebih dari aku menyukai Kyuhyun Oppa. Tapi aku terlalu serakah dan juga egois. Jika aku memilih salah satu diantara mereka, aku tidak akan bisa memiliki mereka berdua seperti sebelum semua ini terjadi. Tapi bukan itu alasannya. Bukan karena keegoisanku maka aku melakukan hal bodoh ini. Rasa sukaku itu tidak cukup untuk meyakinkan hatiku. Aku masih menunggu. Masih menunggu dengan semua ketegaran yang aku punya. Aku sudah berulang kali mengatakan pada diriku, aku hanya perlu satu bintang untuk hatiku. Dan bintang itu masih terus kutunggu sampai detik air mataku ini jatuh. Masih seperti itu. Selalu.

Seseorang memencet bel apartemenku. Aku mengusap airmataku yang belum kering dan membukakan pintu.

Oppa?”

***

Sohee mengibaskan tangannya di depan wajahku. Mataku menatap ke depan dengan kosong. Aku menopang daguku dengan kedua tangan. Segelas coklat hangat di depanku sama sekali belum tersentuh dan sudah berubah menjadi coklat dingin. Aku kehilangan sesuatu dan menyisakan kekosongan. Tidak, aku tidak kehilangan tapi justru aku yang menghilangkannya.

“Minah-a, gwenchana?” tanya Sohee khawatir.

Ne,” jawabku singkat. Aku menelungkupkan kepalaku. Rasanya benar-benar aneh. Terulang, lagi dan lagi. Bintang itu ada, mendekat, aku mendapatkannya dan dia ada untukku. Sampai disitu semua sama tapi selanjutnya terlalu takut untuk aku bayangkan. Apakah bintang itu akan menghilang juga? Aku terlalu takut hingga membuatku menggantung semuanya tidak jelas seperti ini.

“Kau masih menunggunya?” tanya Sohee hati-hati.

Aku menghembuskan nafasku berat, “Bagaimana aku tidak menuggunya jika dia memintaku menunggu?” tanyaku balik.

“Tapi akhir-akhir ini kau sepertinya sudah melupakannya. Kau terlihat bahagia jika sedang bersama Kyuhyun Oppa atau Ryeowook Oppa?”

“Aku bahagia bersama mereka saat itu bahkan sampai saat ini, tapi aku jauh lebih bahagia ketika dia datang dan berdiri di depan pintu apartemenku. Kenapa dia harus kembali disaat seperti ini? Dia benar-benar jahat. Bahkan sangat jahat dan membuatku menjadi orang jahat yang tega melukai perasaan orang lain. Aku…” Tangisku pecah dan aku tidak mampu melanjutkan kata-kataku lagi. Semua perasaanku belum tertumpahkan tapi aku sudah tidak mampu lagi. Sohee memelukku dan mencoba menenangkanku. Aku menangis sejadi-jadinya, air mata ini justru memutar semua kenangan yang berusaha aku hapus.

My heart, my tears, again the memory of you
Drop by drop they fall onto my chest
I cry and cry, and with these memories that won’t be erased
Today my empty heart is drenched again

Dialah sesungguhnya bintang untuk hatiku. Seorang bintang yang aku kenal ketika aku sedang liburan, jauh sebelum dia menjadi bintang. Mengenalnya dan dekat dengannya ketika dia kembali ke Seoul. Aku menjadi seseorang yang selalu berusaha menyemangatinya. Orang pertama yang dia beritahu ketika dia akan debut. Aku tetap di belakangnya dan menyembunyikan diriku. Selama itu aku belum tertarik pada grupnya. Aku hanya menyukainya sebagai pribadi yang aku kenal. Dia menjadi bintangku sejak saat itu dan tidak seorang pun yang tahu. Kami masih bersama pada saat dia memutuskan istirahat dan fokus pada karirnya yang lain. Dan entah berawal dari mana aku menyukai grup itu dan dia selalu saja tersenyum senang mendengar ketertarikanku itu atau terkadang cemburu jika aku menyukai member yang lain.

Oppa, bukankah suara Kyuhyun Oppa sangat bagus. Aku ingin meleleh mendengarnya. Wookie Oppa juga bagus suaranya.” Dia akan langsung menjitak kepalaku jika aku berkata begitu dan kulihat wajahnya pasti agak cemburu. Aku suka melihatnya seperti itu. Saat sedang cemburu pun dia sangat tampan. Cemberut atau tersenyum sama-sama membunuh.

“Kibum Oppa, kenapa kau meninggalkanku tapi memintaku menunggu?” ucapku lirih. Tangisku mulai reda dan kilasan-kilasan kenangan itu aku hentikan. Cukup, kenangan selanjutnya terlalu menyakitkan. Aku menghapus sisa air mataku. Aku membuang pandanganku jauh ke depan. Ada sebuah taman di depan sana dan itu justru membuka lembaran kenangan itu lagi.

Taman yang rindang dan sejuk. Kami biasanya menghabiskan waktu luang di sore hari dengan duduk sambil memandang birunya langit. Aku menyenderkan kepalaku di pundaknya. Dia pasti akan mengelus lembut rambutku dan tersenyum hangat. Senyum yang mampu membunuhku karena menbuat jantungku berdetak di luar batas normal. Dan sore itu setahun yang lalu adalah saat terakhir kami bertemu. “Maukah kau menungguku kembali?”

Aku menepis semua kenangan itu. Itu kalimat terakhirnya yang membuatku menunggu. “Kibum Oppa baboya, aku seperti jutaan ELF di luar sana yang menunggumu kembali. Aku menunggumu tapi kenapa baru datang sekarang di saat seperti ini?”

Aku mulai kacau, mataku sudah bengkak dan ini sangat memalukan. Untung saja cafe ini sedang sepi dan kami duduk di pojok café yang agak tertutup, “Sohee-ya. Gomawo,” kataku pada Sohee. Aku merasa bersalah sudah membuatnya mendengar semua keluhan dan tangisanku.

It’s okay. Aku tahu kau masih menunggunya dan dia akan datang,” jawab Sohee sambil tersenyum dan melirik seseorang. Aku mengikuti arah lirikannya dan ya itu dia.

“Aku pulang duluan,” pamit Sohee.

Aku terdiam membeku. Kenapa dia harus datang lagi dan melihatku dalam keadaan seperti ini. Sudah cukup ketika malam itu dia melihatku terpuruk. Aku mengambil tasku dan buru-buru berdiri untuk pergi. Aku tahu dia menatapku sekarang tapi aku tidak berani menatapnya balik.

“Aku pulang dulu Oppa…”

Mianhae…” katanya dan menarikku dalam pelukannya. “Mianhae, jeongmal mianhae,” katanya lagi dan semakin mempererat pelukannya. Aku menangis lagi dalam pelukannya. Aku menyerah dalam keputus-asaanku. Aku masih mencintainya.

***

Aku memainkan selembar daun yang jatuh sambil menunggu di sebuah taman, “Kenapa kalian lama sekali?” tanyaku ketika melihat dua orang itu datang.

“Kau tahu kan kami sangat sibuk, masih untung kami mau datang,” kata Kyuhyun Oppa.

“Kau makan dengan baik kan? Kau terlihat pucat,” kata Wookie Oppa khawatir.

Aku mungkin gadis paling bodoh yang telah mengabaikan dua orang luar biasa di depanku ini. Hari itu, setelah seharian menguras habis airmataku, aku memutuskan untuk menjadikan mereka berdua Oppaku saja. Dan mereka berdua ini benar-benar namja luar biasa mau menerimanya.

“Kyuppa, Wookie Oppa, aku boleh memiliki kalian berdua kan?” tanyaku manja.

Hya, kau egois sekali. Kami milik ELF,” sahut Kyuhyun Oppa.

“Tapi aku kan juga ELF,” protesku.

“Bolehkan Wookie Oppa?” tanyaku meminta pembelaan.

Ne,” sahut Wookie Oppa. Aku tersenyum senang. Sore yang akan selalu aku ingat. Menghabiskan sisa waktuku di sini dengan mereka. Aku menggenggam tangan Wookie Oppa dan Kyuhyun Oppa. Aku akan selalu mengingat mereka. Aku memejamkan kedua mataku dan menghirup udara dalam-dalam. Aku mencoba mengingat aroma lembut ini. Meskipun ini bukan cinta tapi ini jauh lebih dari itu. Perasaanku jauh lebih hangat sekarang.

***

Aku melangkahkan kakiku dengan berat. Selembar tiket pesawat ada di tanganku. “Paris,” gumamku. Langkah kakiku semakin berat seakan ada banyak hal berusaha menahanku tetap di Seoul. Aku mencoba tersenyum mengingat semuanya. Ada banyak cerita yang akan aku tinggalkan. Cerita cinta yang begitu manis tapi juga menyakitkan. Bukankah tidak semua cerita cinta berakhir bahagia?

“Minah-a!!!”

Seseorang meneriakan namaku. Aku menoleh dan mendapati orang itu langsung memelukku. Pelukan ini hangat dan selalu aku rindukan. Aku membalas pelukannya. Aku pasti akan merindukan ini. Dia melepaskan pelukannya, “Bisakah kau tidak pergi? Aku sudah kembali tetapi kenapa justru kau yang pergi?”

Aku mencoba tersenyum menjawabnya, “Sama seperti waktu itu. Oppa memintaku untuk menunggu. Kali ini maukah Oppa yang menunggu untukku?”

“Aku tidak bisa,” jawabnya dan menarikku lagi dalam pelukannya. Dia mengecup puncak kepalaku. Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya.

“Aku bisa menunggumu. Dan lagi satu tahun bukan waktu yang terlalu lama,” jawabku dan dia hanya menatapku sedih. “Oppa, aku harus pergi,” lanjutku dan berbalik meninggalkannya.

I finally set my heart to leave
And it came to me like a harsh storm
It might be a fate that will wash away like the rain
I was sick with a love fever

Aku benci saat seperti ini. Aku benci berada di bandara. Berada di sini hanya untuk dua pilihan, datang atau pergi. Menunggu orang yang disayangi datang atau meninggalkannya pergi. Menemui orang yang disayangi atau ditinggalkan pergi. Aku menghapus airmataku yang mulai jatuh lagi. Aku mencoba memantapkan langkahku. Aku harus pergi. Meninggalkan semuanya jauh dibelakang. Bintang-bintangku, biarlah mereka tetap bersinar dengan caranya sendiri. Aku percaya suatu saat nanti ada bintang yang bersinar hanya untukku seorang. Dan aku hanya perlu satu bintang untuk hatiku.

***End***

17 thoughts on “Star fo My Heart ~Part 8 Ending (FanFic by Violetkecil)

  1. Hahahahahaha ending yang sama sekali tidak bisa ditebak… Itu Kibum datang ujung-ujung aja gitu yah ngga ada angin dan ngga ada ujan hahahahaha

  2. Pas lihat tag-nya ada Kibum.. Jangan2..?? Eh trnyata benar..

    B’arti prediksiQ sbelumnya ada yg bnr ada yg salah,
    Minah pilih eternal magnae tp Kibum bkn wookie, kekeekee…

    Nice..^^

  3. Waduh tlat nich komen’a,.
    Lgsg komen d ending y..part7 g nggalin jejak..hehehe

    part7 kyu dtolak aku pkir bkal nerima wookie..
    Tanpa dsangka kibum muncul tba2..kok g da crta knpa da kbum y!
    Sx’a da cma dkit.hehe
    (mksud krang detail crta kbum’a)apa sya krang ngerti..
    Tu pd tw g y wookie ma kyu klo sbner’a yg dtggu kbum..
    Tp akhr’a g dplih smw kan!
    (eh btul g y.
    kyk’a mesti bca ulang nich,akibat bca ngebut)hehehe

    • ehm… kibum kan masa lalunya Minah dan agak yg tau kalo mereka pernah deket *kecuali Sohee
      habisnya Minah ga bisa pilih salah satu ^^

      makasih udah baca n komen *bow*

  4. wah… telat bgt komentny, maf y na.. = P

    tuh eternal magnae romantis bgt ngomong kyk gtu [ngebayangin dulu] ehmmmm kykny ga mugkin d scr dia kan evil kedua stlh kyu diSUJU… Impissible.. tp ska bgt ma kta2ny ck..ck..ck.. nie FF semedi brp thn na mpe bs merangkai kta wat Wookie sperti tu?

    eh lnjutn Teuk2ppa mn nie?

  5. aku tidak mengira kalau dia sama si Kibum. .
    well, endingnya impas aja.
    sorry aja ya bukannya aku silent reader, aku cuma pengen menikmati ceritanya.
    tapi, aku udah komen di part terakhir.

    ceritnya bagus😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s