Painfully Loving You ~Prolog (FanFic by Choi Arisa)

Tittle               : PAINFULLY LOVING YOU [Prologue]

Author            : Choi Arisa
Main Cast      : Siwon, Hankyung, Donghae, Kyuhyun

Support Cast : Yuri, Sunye, Krystal
Genre
             : Romance, Action
Summary
       : Kehidupan empat pemuda yang memiliki latar belakang beda-beda dan hidup mereka berubah saat cinta datang…

Teka-teki akan tetap menjadi teka-teki.

Bila tidak ada yang bisa menemukan jawabannya.

Dan jika pertanyaan hanya bisa dijawab oleh pertanyaan.

Maka itulah ‘misteri’

Siapapun tak tahu apa yang akan terjadi dengan kehidupan ini. Semua orang berlomba-lomba untuk meraih tujuan mereka, tapi ada pula yang tak tahu tujuan hidup mereka. Semua orang berusaha mewujudkan mimpi dan cita-citanya, tapi ada pula yang tak tahu apa mimpi dan cita-citanya. Sungguh ironis.

Ini mengingatkan tentang kehidupan empat pemuda yang selalu menganggap dunia ini hanyalah sampah yang harus dibersihkan. Mereka tak tahu apa tujuan hidup mereka, pemuda ini memang tak punya mimpi atau cita-cita yang dikejar tapi mereka selalu yakin waktu akan menjawab pertanyaan mereka. Dan kini seperti malam-malam sebelumnya, empat pemuda ini berkeliaran. Membuktikan eksistensi mereka di jalanan malam, menganggap diri mereka sebagai penguasa malam.

Namun malam ini, sesuatu akan mengubah kehidupan pribadi mereka..

======================================================================

Yuri melangkahkan kakinya asal. Dimana aku sekarang? Eotteokhe? Masa aku tersesat lagi? Yuri mencoba menelepon nomornya. Sudah berkali-kali tapi tetap nihil. Sekarang ia benar-benar tak tahu sedang ada di mana.

Ia merutuki dirinya karena terlambat pulang ke rumah sampai larut malam begini. Ia memang suka lupa waktu setiap kali mengerjakan maket. Tapi tidak biasanya sampai selarut ini. Ia melirik arlojinya yang ternyata menunjukkan waktu 11.50.

Srek.

Yuri mendengar seperti langkah kaki yang diseret. Ia menoleh ke belakang, namun tidak ada siapapun.

Srek.

Sekali lagi Yuri mendengarnya. Gadis itu sedikit merasa ciut.

Srek. Srek.

Suara seretan kaki itu semakin terasa jelas. Kali ini Yuri tidak berani menoleh ke belakang. Ia mempercepat langkah kakinya.

“Hahaha….” Terdengar suara laki-laki yang tertawa keras. Yuri menoleh dan menemukan sumber suara itu. Segerombolan preman berjalan dengan lemas ke arahnya sekarang.

“Sepertinya ada makanan untuk hari ini bos. Lihat itu!” salah satu pria yang memegang botol mengacungkan jarinya. Sontak Yuri langsung lari dan bersembunyi.Tapi sebelum ia lari, seorang pria sudah memegang tangannya.

“Lepas! Lepaskan aku!” ronta Yuri. Ia berusaha untuk melepaskan genggamannya tapi ia kalah kuat.

“Ayo gadis manis. Kau pasti akan suka. Hahaha…” semua gerombolan kini sudah ada disekelilingnya. Mereka ada enam orang. Mereka tertawa puas. Dari bau nafasnya, Yuri tahu mereka sedang mabuk. Bau araknya begitu menyengat.

Yuri memukul dan menendang sekeras mungkin. Akhirnya ia bisa lari dari mereka. Tapi lagi-lagi ia kalah kuat. Yuri ditarik kembali dan ditampar oleh salah seorang dari mereka.

“Kau! Berani-beraninya kau kabur! Rasakan kau!” darah mengalir di ujung bibir Yuri. Pria yang menamparnya tadi menatap Yuri dengan pandangan penuh nafsu, membuat Yuri gemetar hebat.

Ia ingin berteriak minta tolong, tapi tak sepatah katapun yang bisa keluar dari mulutnya. Yuri berusaha melawan, tapi kekuatannya tak sebanding dengan pemabuk itu. Kini wajah mereka hanya berjarak beberapa inchi. Yuri tidak berani membuka matanya, ia terlalu takut. Ia hanya bisa berharap seseorang akan datang menolongnya.

Bugh !!

Pria mesum itu terguling ke samping Yuri. Saat Yuri membuka mata, yang dilihatnya kini adalah sekelompok lelaki muda yang tengah memukuli segerombolan preman  yang hampir menodai Yuri tadi. Darah preman itu berceceran, menimbulkan bau anyir. Yuri beberapa kali menutup mata karena tak tega melihatnya.

Tak butuh waktu lama untuk membuat gerombolan preman itu tumbang. Yuri menelan ludah, berusaha mencerna semua kejadian yang berlangsung singkat barusan. Seorang lelaki di antara keempat pemuda itu, yang memakai jaket coklat muda dan mengenakan tudung hingga menutupi sebagian wajahnya, mengeluarkan sebuah plaster dan memberikan padanya.

Kemudian seorang berbadan kekar mengeluarkan sebuah kaleng pilox. Ia kemudian menyemprotkan isi kaleng itu ke baju para preman yang sudah tidak berkutik tadi. Membentuk dua buah garis diagonal, sebuah tanda silang berwarna biru terang. Yuri hanya mampu terdiam memperhatikan mereka. Laki-laki bertudung itu tersenyum menyeringai ke arah Yuri. Dan bagai menyelesaikan tugasnya, keempat pemuda tersebut meninggalkan Yuri. Pandangan Yuri terus mengikuti mereka.

Yuri tersenyum seiring menghilangnya bayangan mereka di kegelapan.

=================================================================

Krystal berdiri mematung di balik semak-semak. Tubuhnya ia sandarkan pada pohon tua di belakangnya. Mata indahnya sibuk mengawasi keadaan jalan. Empat lelaki muda yang ia kenal betul tengah beraksi di jalanan malam. Menunjukkan kekuasaan dan ke-eksisan mereka, menunjukkan pada semua orang bahwa mereka adalah pahlawan. Tapi toh hanya itu yang orang-orang tahu. Sementara gadis berkulit pucat ini, tahu segalanya tentang ke empat pembuat ulah tersebut. Hanya ia lah yang memegang kartu as mereka selama ini. Dan tak sekalipun ia berniat membuka kartu itu.

BABO. Begitu pikir Krystal setiap kali melihat tingkah mereka seperti saat ini. Terlebih pada lelaki dengan tudung jaket cokelat muda yang menutupi sebagian wajahnya. Krystal menatap miris pada lelaki yang sedarah dengannya tersebut.

Seorang diantara ke empat lelaki itu, menyadari kehadiran Krystal. Lelaki itu melirik pada teman-temannya yang masih sibuk mencorat-coret tembok bangunan yang hampir rubuh. Tak ada satupun yang menyadari kehadiran Krystal selain lelaki itu.

Dan bukan sekali ini lelaki bermata tajam itu memergoki kehadiran Krystal di setiap aksi malam yang mereka lakukan. Tapi bukan berarti ia keberatan. Lelaki itu justru menyukainya. Ia melempar senyum ke arah Krystal. Menunjukkan senyuman memikat andalannya, berharap kali ini Krystal akan berbalik tersenyum padanya. Sayangnya Krystal tidak tertarik pada lelaki itu. Krystal menggerakkan tangannya ke leher seolah memberi isyarat bahwa ia akan memenggal leher lelaki itu. Lelaki itu tertawa pelan. Ia kemudian menyemprokan isi kaleng pilox-nya ke depannya. Seolah menggambarkan sebuah nama di udara. Sesuatu yang diyakini lelaki itu sebagai kata keramat untuk membuat Krystal kembali ke rumah. Sesuatu yang sangat Krystal benci.

Krystal berdecak kesal setelah mengejanya. Ia pun perlahan mundur meninggalkan ke empat lelaki itu.

===========================================================

Saat itu masih subuh, semua orang masih tertidur dan memulai aktivitas apapun. Di sebuah rumah terlihat seorang yeoja duduk sendiri dan memandang keluar jendela kamarnya. Sepertinya dia sedang menunggu sesuatu. Selang beberapa menit kemudian sekawanan namja datang, mereka berlari-lari sambil bergurau. Saling mendorong dan mulai bermain pilox, tak peduli coretan pilox itu mengenai pembatas jalan beton. Pandangan Sunye terus mengikuti mereka.

“Kumohon berhentilah,” ujar Sunye sangat berharap.

Dan Sunye pun tersenyum senang karena kini ia bisa lebih lama lagi melihat kawanan namja itu. Seorang namja yang paling pendek terlihat sedang meneguk habis minumannya. Mungkin ia takut minuman berharganya akan direbut teman-temannya. Sunye masih saja tersenyum. Alasan ia duduk disini adalah memandang namja pendek itu. Sudah satu tahun ini memandangi namja itu, ingin sekali ia berkenalan dengannya.

Beberapa menit kemudian dua orang namja beranjak dari duduknya, dan diikuti yang lainnya. Empat namja itu pun pergi. Sunye sedih namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia akhirnya berdiri dan menutup jendela kamarnya agar cahaya matahari tidak dapat masuk dan beranjak tidur.

“Selamat pagi,” ujar Sunye.

Tanpa diketahuinya, namja pendek tadi memandangi jendela kamar Sunye dengan tatapan susah diartikan. Ia berhenti sejenak, tak peduli dengan teman-temannya yang kini mulai meninggalkannya. Ia ingin sekali menunggu disini sampai tirai jendela kamar itu terbuka. Ia terlalu penasaran dengan yeoja yang selalu saja mencuri pandang geng-nya. Mungkin dari tiga temannya, hanya dia saja yang menyadarinya.

“Gadis misterius,” ujar namja itu.

“YA! Kau ingin mati!” teriak seseorang sambil menjitak kepala namja pendek itu.

“Bisakah kau bersikap lebih sopan lagi terhadapku,” balas namja pendek.

“Aku lebih tua darimu jadi aku berhak berbuat apapun,” sahut orang tadi tak mau kalah.

Namja pendek tadi ingin membalas perkataan teman satunya ini. tapi kalau ia lakukan sekarang bisa-bisa mereka akan terlambat pulang ke rumah. Dengan acuh namja pendek itu berbalik dan memilih untuk mengejar kedua sahabatnya yang sudah jauh di depan.

====================================================================

5 thoughts on “Painfully Loving You ~Prolog (FanFic by Choi Arisa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s