Star for My Heart ~Part 6 (FanFic by Violetkecil)

Part 6

Aku terduduk di bangku taman. Aku berusaha mengendalikan emosi yang mulai meletup-letup. Cukup sudah semua yang aku lihat. Aku tidak ingin mengingatnya. Aku menggelengkan kepalaku berulang kali tapi hasilnya tidak ada.

“Apakah Minah menyukai Kyuhyun?” batinku resah.Aku ingat. Di salah satu sisi dinding kamarnya yang penuh poster Super Junior, hanya poster kami bertiga belas dan poster Kyuhyun yang paling besar. Minah terlihat sangat senang bersama Kyuhyun. Aku rasa otakku mulai bekerja tidak baik. Mengapa juga aku harus memikirkan hal-hal yang tidak pasti. Bisa saja Minah cuma sekedar mengidolakannya. Bukankah semua ELF memiliki biasnya masing-masing?

Aku beranjak dari kursi dan memilih untuk pulang. Aku membatalkan rencanaku untuk menemani Minah hari ini. Toh, Kyuhyun yang sudah menemaninya. Aku pulang ke apartemen dan langsung menuju kamar. Aku ingin menenangkan emosiku sebentar saja.

“Ryeowook, kau baik-baik saja?” tanya Leeteuk Hyung dari depan pintu kamarku.

Ne Hyung,” jawabku malas.

Leeteuk Hyung masuk ke kamarku dan mengajakku bicara. Aku menutupi wajahku dengan bantal.

“Kau kenapa? Benar kau baik-baik saja?” tanyanya.

“Apakah aku terlihat baik-baik saja Hyung?” tanyaku balik.

“Bagaimana aku melihat ekspresi wajahmu kalau kau tutupi bantal seperti itu?” jawabnya sambil menarik bantalku. “Hya! Jangan katakan kau sedang patah hati?”

Aniyo Hyung.”

“Jangan berbohong. Aku tahu tanda-tanda orang yang sedang patah hati.”
“Jelas saja Hyung tahu. Hyung kan sudah sangat berpengalaman.”

Hya! Kau ini. Ayolah cerita pada Hyungmu ini.”

Aku kembali menutupi wajahku dengan bantal, “Hyung, apa yang akan kau lakukan jika gadis yang kau sukai justru menyukai dongsaengmu?

Mwo?” tanyanya terkejut.

“Aku hanya bertanya seandainya Hyung,” jawabku menekankan kata ‘seandainya’.

“Apakah kau sudah yakin? Jika belum kau harus memastikannya dulu. Sebelum dia jadi milik orang lain kau harus berusaha.”

“Tapi Hyung…”

“Tidak ada tapi-tapian dalam urusan cinta,” potong Leeteuk Hyung. “Ayolah. Kau saja tidak mau cerita, bagaimana aku bisa membantumu?”

Aku tidak menjawab dan hanya diam.

“Baiklah. Aku akan mendengarkannya kalau kau sudah siap bercerita,” katanya sambil keluar dari kamarku.

Pikiranku semakin kacau. Aku mengambil ponselku dan mengetikkan sebuah pesan.

Maaf aku tidak bisa datang lagi. Cepatlah sembuh. Wookie Oppa.

Aku menekan tombol send dan memejamkan mataku, “Semoga dia baik-baik saja,” batinku.

Tanpa sadar aku tertidur dan terbangun ketika hari mulai gelap. Aku beranjak menuju dapur untuk mengambil segelas air.

“Aku pulang. Hyung ingin memasak?”

“Kau? Darimana saja?” tanyaku sedikit kesal. Aku teringat lagi kejadian tadi siang.

“Menjenguk seseorang Hyung,” jawabnya riang.

“Bisa kita bicara sebentar?” tanyaku sambil berjalan menuju sofa di ruang duduk.

Ne. Ada apa Hyung? Apakah Hyung ingin mengajakku bermain game?”

Aniyo. Duduklah,” jawabku. Aku berusaha menekan nada kesal dalam suaraku.

Aku menghirup napas dalam dan berusaha mengeluarkan apa yang ingin kuungkapkan dengan kepala dingin, “Apakah kau tadi baru menjenguk seorang gadis?”

Ne Hyung.”

“Kau menyukainya?” tanyaku. Aku berusaha menahan emosiku untuk menanyakan hal ini dan harus siap dengan jawabannya.

Kyuhyun menatapku penuh tanya, “Hyung tahu darimana?”

“Kau jawab saja. Iya atau tidak?” Aku mulai kesal mendengarnya. Pertanyaan itu seakan-akan adalah jawaban iya.

“Iya Hyung. Aku menyukainya.”

“Apakah dia juga menyukaimu?” tanyaku lagi.

“Entahlah Hyung. Aku takut salah mengartikan sikapnya. Dia begitu baik pada semua orang.”

“Oh…” aku tidak mampu melanjutkan kata-kataku. Rasanya emosiku akan mulai meledak. “Hya! Kyuhyun-a kenapa kau harus menyukai dia juga?” batinku.

“Sudahlah.” lanjutku.

Aku berdiri dan berjalan menuju ke kamarku. Aku tidak ingin melampiaskan kemarahanku saat ini. Aku tidak bisa menyalahkan Kyuhyun telah menyukai gadis yang juga aku sukai. Tapi tiba-tiba perkataan Kyuhyun menahan langkahku.

Hyung mengenal gadis itu? Hyung juga dekat dengannya? Hyung juga menyukainya? Apakah gadis itu Minah temannya Sohee?”

Kyuhyun memberondongku dengan pertanyaan yang semua jawabannya iya. Aku menatapnya dengan marah, “Kau mau aku menjawab apa? Iya?”

“Aku mengenalmu Hyung. Aku tahu itu.”

“Darimana kau tahu? Dan apa pedulimu?” tanyaku ketus.

“Maaf aku tidak sengaja mendengarnya dari pembicaraan Sohee beberapa hari yang lalu. Aku…”

“Sudahlah. Semua itu tidak penting lagi,” potongku sambil beranjak menuju kamarku.

Hya!!! Wookie Hyung, apakah kau akan menyerah semudah itu?” teriak Kyuhyun.

“Siapa yang bilang aku akan menyerah?” jawabku kesal.

“Aku tidak akan mengalah untukmu Hyung,” teriaknya lagi.

“Begitu juga aku. Kau pikir aku akan mengalah untukmu dan membiarkan Minah menjadi milikmu? Tidak akan!” teriakku balik sambil menutup pintu kamarku dengan keras.

Untung saja saat ini hanya ada kami berdua di apartemen. Sesaat kemudian hanya keheningan yang ada. Aku mulai berpikir. Ini bukan cara yang baik untuk menyelesaikan masalah. Aku membuka pintu kamarku dan ternyata Kyuhyun sedang berdiri di sana.

“Ayo kita bicarakan,” ajakku.

Mianhae Hyung. Aku tidak bermaksud …”

“Sudahlah. Tidak apa-apa. Kau benar-benar menyukainya?” tanyaku memastikan.

Kyuhyun mengangguk, “Aku menyukainya. Aku merasa semua yang aku cari selama ini ada padanya. Dia membuatku merasa nyaman dan membuatku menjadi diriku apa adanya. Dia melihatku sebagai Cho Kyuhyun bukan seorang Kyuhyun Super Junior.”

Aku hanya terdiam mendengarkan penjelasannya, “Aku tahu itu. Lalu kau ingin kita bagaimana? Tidak ada istilah mengalah untuk hal ini.”

“Mari kita bersaing secara sportif Hyung,” ajak Kyuhyun sambil mengulurkan tangannya.

“Kau?” tanyaku bingung. “Baiklah. Dan siapapun nanti yang akan Minah pilih, jangan samapi merusak hubungan kita di Super Junior dan tetaplah seperti dulu,” lanjutku sambil menyambut uluran tangannya.

“Setuju,” jawab Kyuhyun semangat.

Hya!!! Tapi jangan kau anggap ini seperti gamemu Kyuhyun-a.”

Ne Hyung. Arasseo.”

***

Sudah dua minggu berlalu sejak aku dirawat di rumah sakit. Selama tiga hari aku dirawat di rumah sakit Wookie Oppa hanya menemaniku di hari pertama. Selebihnya hanya Sohee dan Kyuhyun Oppa.

“Apakah Wookie Oppa saat ini sangat sibuk?” batinku resah.

Aku membolak-balik majalah yang sedari tadi aku pegang. Ada satu artikel yang menarik perhatianku. Benarkah ini? Aku senang akhirnya Wookie Oppa ikut serta dalam musikal, tapi benarkah apa yang tertulis ini? Apakah Wookie Oppa akan melakukannya? Aku tahu ini tuntutan profesi mereka, tapi kenapa aku jadi merasa cemburu?

“Apakah aku mulai menyukai Wookie Oppa?” batinku.

Aku bingung. Awalnya aku mengira akan menyukai Kyuhyun Oppa. Tapi aku berusaha menyadarkan diriku bahwa aku hanya mengidolakanya. Tidak lebih. Aku berusaha meyakinkan itu. Tapi untuk yang kali ini bagaimana?

“Tidak!!!” teriakku sendiri.

Shining Star! Like a little diamond, makes me love
Naegen kkoomgyeolgateun dalkomhan misoro nal barabomyeo soksagyeojweo
Hangsang hamkke halgeora till the end of time

Aku menatap layar ponselku dan tertera nama Kyuppa di sana.

“Kyuppa.”

“Minah-ssi, kau sibuk malam ini?”

Aniyo. Ada apa Kyuppa?” tanyaku.

“Aku akan menjemputmu malam ini. Kau siap-siap ya.”

“Kemana Kyuppa?” tanyaku polos.

“Aku akan mentraktirmu makan. Berdandanlah yang cantik,” jawabnya sambil tertawa kecil.

“Kyuppa?”

Annyeong Minah-ssi. Sampai jumpa nanti malam.”

Klik. Kyuhyun Oppa langsung menutup teleponnya. Aku masih bengong. Kenapa aku harus berdandan yang cantik? Bukankah makan malam cuma hal biasa. Ataukah? Hya! Aku mulai berkhayal yang tidak-tidak. Bagaimana kalau terjadi seperti yang aku tulis di blogku. Tentang mimpiku jika bertemu idolaku. Dia akan mengajakku makan malam dan menyanyikan lagu Marry U untukku.

Stop. Lupakan semua mimpi konyol itu,” batinku.

Aku harus sudah siap sebelum Kyuhyun Oppa datang. Jika tidak, dia akan mengomeliku. Aku bergegas berlari ke kamar mandi. Entah keinginan hati kecilku atau bagaimana aku ingin terlihat cantik malam ini.

Aku menatap bayangan diriku yang terpantul di cermin, “Apakah Kyuppa akan menyukai penampilanku?” batinku.

Bel apartemen berbunyi. Aku bergegas membuka pintu dan Kyuhyun Oppa sudah berdiri di sana dengan tampannya.

Kyuhyun Oppa tersenyum padaku, “Kau cantik sekali malam ini.”

“Cuma malam ini Kyuppa?” tanyaku polos.

“Tidak. Kemarin, besok dan selamanya. Ayo kita pergi!” ajaknya sambil menarik tanganku.

Aku tersenyum senang. Tapi juga merasa bingung. Kenapa malam ini sikap Kyuhyun Oppa sangat manis? Ada yang salah dengannya?

Tapi sudahlah. Aku cukup menghiraukan rasa senangku saja. Hal-hal yang dulu hanya bisa kubayangkan atau hanya muncul dalam mimpiku sekarang jadi nyata. Aku merasakan senyumku terus mengembang. Tapi mengapa aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku merasa nyaman berada di dekat Kyuhyun Oppa. Jantungku berdetak normal. Dan hal ini sangat berbeda ketika aku bersama Wookie Oppa.

“Kenapa kalian harus datang bersamaan?” batinku.

Selama perjalanan kami lebih banyak diam. Aku memikirkan hal-hal yang tidak jelas. Rasanya semua ini membingungkan sekali. Kyuhyun Oppa tiba-tiba mengagetkanku, “Kita sudah sampai.”

Kyuhyun Oppa kemudian turun dari mobil dan membukakan pintu untukku. Kemudian dia memegang tanganku dan mengajakku masuk ke restoran. Aku berjalan mengikutinya tapi kemudian aku berhenti.

“Ada apa?” tanyanya.

“Apakah tidak terjadi sesuatu pada Kyuppa?” tanyaku ragu.

Kyuhyun Oppa menggelengkan kepalanya, ”Aniyo. Ayolah!” ajaknya masih menggenggam tanganku.

“Kyuppa,” panggilku. Kyuhyun Oppa menoleh ke arahku dengan mata penuh tanya.

“Kenapa Kyuppa terus menggenggam tanganku? Aku kan …”

“Karena aku tidak ingin kau tertinggal dan menghilang,” potongnya.

“Tapi…”

“Aku tidak ingin melepaskannya karena aku takut kau tertinggal dan menghilang ke genggaman tangan orang lain,” katanya sambil tersenyum.

Aku semakin bingung. Tadi itu benar Kyuhyun Oppa yang berkata? Apakah kepalanya baru terbentur?

“Ayolah!” ajaknya lagi dan kali ini genggaman tangannya lebih erat.

Saat ini sudah memasuki musim panas tapi entah mengapa aku merasa tanganku justru sangat dingin, “Tuhan, ada apa ini sebenarnya?” batinku.

Kyuhyun Oppa memesankan makanan dan kami makan sambil membicarakan banyak hal. Salah satunya tentang game. Kyuhyun Oppa memang selalu semangat kalau menyangkut urusan game. Aku merasakan ada yang berbeda dengan Kyuhyun Oppa malam ini. Tapi apa ya?

“Kita sudah selesai makan,” katanya.

“Kita pulang sekarang?” tanyaku.

“Sebentar. Aku punya sesuatu untukmu. Kau tunggu sebentar di sini,” jawabnya.

Aku menatapnya heran dan Kyuhyun Oppa membalasnya dengan senyum evilnya. Dia meninggalkanku sendirian di meja. Satu menit. Dua menit. Dan kemudian aku sangat terkejut melihat apa yang dilakukannya untukku.

To be Continued

Posted with WordPress for BlackBerry.

12 thoughts on “Star for My Heart ~Part 6 (FanFic by Violetkecil)

  1. beh berantem nih evil magnae sama eternal magnae… *pegang Eternal magnae*

    Leeteuk di mana2 jadi tong sampah ya… *plakkk* haghaghaghag…

  2. yah yg bginini bkin senewen…lgi asyik2 TBC..ckckckck

    asyik pertarungan dmulai…
    tp sya msh bgung ma c minah ni..
    suka ma spa y dia..KYU pa Wookie..
    dtggu aja deh..!!!-__-

    • iya unnie ^^ yg ada mah author yg pusing (loh?)

      tenang eon, ga akan bikin leader-nim pusing koq ^^ paling2 leader-nim jadi puyeng (?) hehe…

      makasih udah dipost eon ^^

  3. hiaaa…. uda hampir mati penasaran nih….
    mpe berapa part author ???

    wookie kug ga nangis….
    kan dia gampang bgt nangis… hehehehe…

    enag bener ya jadi minah….
    aq mmmaaaawwwww…………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s