Polkadot ~Part 6 (FanFic by Sachakarina)

Part-6

Sekarang ku sering melamun,
Dan juga ku senang bercermin,
Oh, mengapa ini?
(Apa Kata Bintang by Gita Gutawa)

***

Kenapa?

Satu kata tanya itu terus memancing Kyuhyun untuk menghasilkan banyak kalimat tanya yang lain.

“Kalian benar-benar berpacaran?” Siwon bertanya lagi untuk memastikan. Dia tidak ingin menyimpulkan bahwa hubungan Leeteuk dan Kencana menjadi agak renggang karena Si Magnae satu ini.

“Ah, aku hanya bercanda, Hyung. Tapi kami memang agak dekat sekarang. Dia sudah berjanji menjadi temanku,” ujar Kyuhyun lalu mulai membereskan laptopnya, dia ingin segera masuk kamar tapi Siwon lagi-lagi menahannya. “Begini, aku ingin meminta bantuanmu.”

“Apa?”“Hubungan mereka sedang renggang, jadi aku dan Ghassany sedang berusaha membantu memperbaiki hubungan mereka. Kau kan juga dekat dengan Kencana, jadi kau bisa membantu!”

“Itu urusan pribadi mereka, aku tidak mau mencampurinya.”

“Kyuhyun-a. Ini juga demi Teuki Hyung, masa kau tidak mau membantu?”

Kyuhyun terdiam lagi. Dia memang dikenal sebagai magnae yang jahil dan kadang bertindak berlebihan pada Hyung-nya (baca: kurang ajar) tapi bahkan sekalipun dia tidak pernah ingin merebut apa yang dimiliki Hyung-nya. Terutama jika itu berhubungan dengan hati. Dia tidak pernah berniat akan menikam Hyung-nya sendiri dari belakang, memanfaatkan renggangnya hubungan Leeteuk dan Kencana dengan segera merebut gadis itu.

Tapi ego mulai membisikinya pelan hingga dia jadi dilema. Seperti berada di persimpangan jalan, tak tahu harus mengambil jalan ke kanan atau ke kiri karena semuanya memiliki konsekuensi. “Aku tak tahu, Hyung. Biarkan aku berpikir!” katanya lalu masuk ke dalam kamar.

***

Semua urusan pakaian Super Junior kini ditangani Bibi Yura kembali, Kencana berusaha fokus pada tugas akhir yang sudah di depan mata. Musim panas akan segera datang dan jadwal fashion shownya adalah di awal musim gugur nanti.

Tiga bulan lebih sepertinya agak sedikit untuk menyiapkan semua itu, tapi dia harus segera mengejarnya. Ada satu gambar yang belum dikerjakannya sama sekali karena dia kehilangan ide jika menghadapi kertas gambar itu.

Busana pengantin.

Kencana tiba-tiba teringat sesuatu. Dia ingat salah satu rancangan yang pernah dibuatnya di Indonesia, duluuu sekali. Kencana mengingat-ingat di mana dia menyimpan semua barang-barangnya itu. Begitu dia mengingatnya, dia langsung mengambil ponsel dan menyambungkan ke Indonesia.

“Ma, aku mau minta tolong. Di lemari kamarku paling bawah, ada kardus. Isinya rancangan pakaian.” Kencana mengatakan tujuan utamanya setelah saling berbagi kabar dengan Mamanya. Mamanya langsung menuju kamar Kencana dan mencari kardus yang dimaksud.

“Nah, ini isinya banyak. Rancangan yang mana tepatnya?” tanya Sang Mama.

“Rancangan busana pengantin, Ma. Cariin dulu dong. Tolong!”

“Aduh, kamu ngabis-ngabisin duit aja, telepon internasional tuh nggak murah.” bukannya mencari rancangan yang dimaksud, Mamanya malah mengomel. “Aku langsung kirimin kardus ini aja, siapa tahu ada yang masih mau kamu pake lagi. Biar nggak repot-repot lagi nantinya!”

“Oke, Mama. Tolong ya, Ma. Bye.” Mamanya menutup telepon lebih dulu.

Kencana kembali mengamati kertas-kertas pola yang akan diguntingnya, jarum pentul berceceran di atas meja dan ada beberapa yang jatuh ke lantai. Ponselnya kembali berdering dan nama Leeteuk muncul di layar. Dia memang sudah tak menjauhi Leetuk lagi, mereka kadang mengobrol saat bertemu.

Dia merasa bersalah pada dirinya sendiri saat membayangkan dia akan segera bertemu Leeteuk, dan hal itu menstimulasi otot di sekitar bibirnya agar menyunggingkan senyum. Kencana seperti mengkhianati diri sendiri. Merasa mengingkari janji di antara mereka berdua. Meski janji itu sudah diingkari oleh keadaan sejak dulu.

Yeoboseyo?” Kencana segera mengangkat telepon.

“Nana-ya. Apa kau sedang sibuk? Kita bisa bertemu?”

“Untuk apa, Oppa?”

“Boneka milik Rara ketinggalan minggu lalu saat kau membawanya ke sini.”

Ah, boneka itu. Rara pernah menangis karena kehilangan bonekanya, ternyata boneka itu ketinggalan di tempat Super Junior saat mereka pergi bersama minggu lalu. Saat itu, Rara memaksa ingin ikut karena ingin bertemu Teuki Oppa-nya. Entah mengapa sepupunya itu sangat suka berada di dekat Leeteuk. Tapi Kencana sungguh tidak bisa ke mana-mana saat ini.

Oppa, apakah tidak bisa besok saja? Aku sedang sibuk saat ini.”

“Besok aku tidak bisa, kami harus ke Singapura. Aku hanya punya waktu hari ini saja.”

Kencana berpikir sejenak, satu-satunya jalan adalah Leeteuk datang membawa boneka itu ke apartemennya. “Ummm, kalau boneka itu Oppa bawa ke apartemenku bagaimana?”

“Alamat yang sama saat aku mengantarmu dulu?” tanya Leeteuk, dia memang tak tahu-menahu mengenai kepindahan Kencana ke tempat yang baru.

“Bukan, aku sudah pindah. Aku tinggal sendiri saat ini. Aku akan memberikan alamatku.”

“Oh, baiklah. Kirimkan padaku lewat SMS saja.”

“Aku merepotkanmu, Oppa. Padahal boneka itu adalah milik sepupuku.“Tidak apa-apa. Aku senang bisa membantumu. Aku akan berangkat ke sana sejam lagi. Sampai jumpa, Kencana.”

Dada Kencana berdesir hangat. Kencana. Leeteuk memanggilnya Kencana. Hampir semua orang di Korea yang mengenalnya memanggilnya Kencana, dia juga memaksa Kyuhyun memanggilnya Kencana, tapi semuanya tak pernah berefek seperti ini pada dirinya sendiri.

Kencana teringat senyum Leeteuk. Apakah Leeteuk tersenyum saat menyebutkan namanya tadi? Seperti dia yang saat ini tersenyum senang karena mendengar nama lengkapnya digumamkan oleh Leeteuk.

Kencana berusaha mencari-cari, yang dirasakannya sekarang sepertinya tidak asing. Pencarian itu berhenti saat menatap apartemennya yang nampak berantakan seperti kapal pecah. Gelas-gelas bekas minum, gulungan kertas di mana-mana, kertas bekas yang dikoyaknya tercecer di lantai begitu saja, tempat sampah yang meluap kepenuhan, mistar, pensil, pewarna, pakaian, semua tidak berada pada tempat yang benar. Dia tidak mungkin menerima tamu disaat seperti ini. Dengan segera, Kencana mulai membenahi apartemennya. Dia memutuskan tidak membuka tempelan rancangan di dinding karena agak repot jika harus menempelkannya lagi nanti. Leeteuk pasti mengerti.

Kencana hilir-mudik di ruangan itu, tanpa sengaja dia berpapasan dengan cermin. Kencana terhenti, mengamati refleksi dirinya sendiri. Dia tampak kucel. Rambutnya yang dikepang sangat berantakan, banyak anak-anak rambut yang keluar dari jalurnya. Matanya tampak sayu karena kelelahan. T-shirt yang dipakainya tampak lusuh sekali, kulitnya pun tampak kusam. Di cermin itu, kening Kencana tampak berkerut karena dia ngeri dengan penampilannya sendiri.

Apakah dia selalu seperti ini setiap saat dan baru tersadar sekarang? Ouch, mengerikan!

Kencana langsung berlari ke kamar mandi. Setelah membasuh mukanya dengan air dan mengeringkan dengan handuk, Kencana masuk ke kamar. Dimulailah ritual perawatan yang belakang terlupakan olehnya. Kencana segera memasang masker di mukanya lalu berbaring di tempat tidur, tidak lupa potongan timun untuk menutupi mata. Dia masih memiliki waktu sejam untuk semua itu.

Kencana nyaris terlelap saat dia bangkit dengan tiba-tiba. Timun yang menutupi matanya jatuh, Kencana juga segera melepas maskernya. Untuk apa sih dia bertingkah seperti itu? Dia hanya akan kedatangan tamu bernama Leeteuk, bukan menjadi model utama sebuah fashion show desainer ternama. Apakah Leeteuk akan peduli pada perubahan yang terjadi padanya jika dia terus mengenakan masker itu? Dan sejak kapan dia peduli komentar Leeteuk tentang dirinya?

Cukup! Kencana kembali ke ruang tengah, dia teringat belum mengirimkan Leeteuk alamat rumahnya. Setelah alamat itu terkirim, Kencana kembali menatap gambarnya lama. Lama sekali, tapi tak ada sedikit pun yang dilakukannya. Dia hanya memandang hampa gambar itu sedangkan pikirannya sedang bermain-main di labirin bernama khayalan. Melamun.

“Akrggghhh.” Kencana berteriak frustasi sambil menggeleng-geleng. Dia menepuk-nepuk pipinya, berharap dengan begitu dia bisa mendapatkan kembali konsentrasi yang lari entah ke mana, ke bayangan Leeteuk sepertinya.

Tapi yang terjadi berikutnya sama saja, Kencana kembali melamun. Mungkin dia tersesat di labirin itu.
Kencana terlonjak kaget saat bunyi bel pintu berdenting nyaring, sebelum membuka pintu, Kencana berkaca pada layar ponselnya yang bisa menampilkan bayangannya. Jantung Kencana mengentak seketika, bahkan dirinya saja kaget dengan semua itu.

Dulu jantungnya juga sering mengentak seperti ini, apakah penyebab semua itu sama? Hanya saja dia mengakui bahwa di hatinya saat ini, telah tumbuh sesuatu. Mungkin sejenis taman bunga yang akan segera bermekaran.

“Maaf, jika ruangannya agak berantakan.” kata Kencana setelah mempersilakan Leeteuk masuk. Leeteuk mengamati tempelan gambar rancangan yang tertempel di dinding.

“Kau yang merancang semua ini?” tanya Leeteuk kagum, Kencana mengangguk pelan lalu masuk ke dapur untuk menyiapkan suguhan untuk tamunya. Tidak berselang lama, Kencana datang dengan mug berisi cokelat.

“Aku hanya punya cokelat saja, apa tidak apa-apa?” Kencana hanya memiliki satu jenis minuman itu di apartemennya saat ini, lagipula dia tak tahu apa yang disukai oleh Leeteuk sebenarnya.

“Tidak apa-apa, terima kasih,” ujar Leeteuk saat menerima mug yang disodorkan Kencana padanya. “Ini milik sepupumu.” Beruang teddy milik Rara disodorkan pada Kencana.

“Terima kasih, Oppa. Sudah merepotkanmu.”

“Tidak apa-apa, aku senang bisa membantumu. Jadi, kapan acara fashion showmu ini akan diadakan?”

“Mungkin awal musim gugur nanti tapi aku belum menyelesaikan sebagian besar rancangan. Aku mulai pusing bagaimana menyelesaikannya. Saat ini aku sedang menunggu kiriman rancangan lamaku dari Indonesia, aku harap aku bisa memakai beberapa di antara rancangan-rancangan itu.” Ini adalah kalimat terpanjang yang Kencana katakan ketika dia berbicara dengan Leeteuk. Leeteuk tidak menyangka bahwa Kencana ternyata bisa juga mengucapkan lebih dari dua kalimat. Gadis ini tidak sependiam yang dia kira.

Kencana sendiri berbicara panjang lebar seperti itu untuk melenyapkan rasa gugup yang mendekapnya. Pria di hadapannya ini pernah menjadi kekasih pura-puranya. Kencana menepis cepat saat pikirannya mulai melanglang buana membayangkan bagaimana jika dirinya dan Leeteuk benar-benar berpacaran.

“Kencana-ya,” Leeteuk menyapa saat melihat Kencana tampak melamun. Kencana langsung tersentak, bukan karena lamunannya terganggu tapi karena nama panggilan itu. Dia agak tidak suka jika Leeteuk memanggilnya ‘Kencana’. Karena rasa aneh itu terus menyelinap tanpa bisa Kencana cegah.

Oppa, panggil aku ‘Nana’ saja. Tak usah memanggilku ‘Kencana’!” pinta Kencana akhirnya.

“Kenapa? Aku suka namamu.” Kencana tak tahu harus beralasan apa.

“Aku tidak suka kau memanggilku ‘Kencana’, karena setiap kali kau melafalkan nama itu, otakku tiba-tiba terasa hampa, bahkan cara bernafas pun aku sepertinya bisa lupa. Dan juga, jika kau melafalkan nama itu, kau seperti memanggil ribuan kupu-kupu di perutku yang berlomba-lomba ingin keluar menemuimu, sehingga aku merasa mual karena kepakan sayapnya.” Jangan pernah berpikir bahwa Kencana akan mengatakan kalimat panjang itu dihadapan Leeteuk langsung, semua itu hanya ada di benaknya saja. “Agar terdengar lebih akrab saja, jadi panggil aku Nana saja.” kata Kencana akhirnya.

“Aku merasa lebih akrab denganmu jika aku memanggilmu Kencana, memanggilmu Nana seperti sedang memanggil mantan pacarku saja.” Mantan pacar pura-pura lebih tepatnya.

Jleb. Kencana tak bisa berkata apa-apa, dia hanya menatapi Leeteuk dengan tatapan tidak percaya. Jadi perbicaraan mereka kali ini akan berujung pada hubungan pura-pura itu lagi?

“Ghassany pernah memberitahuku arti namamu. Dalam bahasa Indonesia arti Kencana adalah emas. Nama yang bagus, aku berharap semoga kau bersinar seperti namamu.”

Kencanana terpaku lagi mendengar perkataan Leeteuk, pria itu tersenyum, membuat Kencana meleleh, seperti cokelat yang terkena panas. “Terima kasih, Oppa.” respon Kencana atas doa yang dilontarkan Leeteuk untuknya.

Mereka lalu larut dalam sebuah pembicaraan yang menyenangkan. Leeteuk adalah orang yang sangat menyenangkan diajak mengobrol. Kencana agak menyesal baru berusaha mencoba sekarang.

***

Kencana kembali bergulat dengan persiapan fashion shownya, membereskan gambar-gambar dan membuat pola, dia juga sudah memulai tahap produksi. Saat sedang pusing-pusingnya, Bibi Yura datang untuk menitipkan Rara karena dia akan ke luar kota dan tak mungkin mengikutsertakan Rara.

Onnie, aku mau nonton film.” pinta Rara setelah bosan bermain sendirian. Kencana menghela nafas panjang lalu bangkit menyalakan TV dan memutarkan DVD film anak untuk sepupunya. Dia lalu kembali memfokuskan diri pada pekerjaan yang tak kunjung selesai. Tidak berselang lama Rara kembali muncul.

Onnie, aku mau susu.” Kencana merutuk kesal karena merasa terganggu namun akhirnya dia tetap bangkit menuju dapur untuk menyiapkan permintaan Rara. Mungkin Rara merasa kesepian dan terabaikan, Kencana sejak tadi hanya menatapi gambar dan mengeluh sekali-kali tanpa memperhatikan Rara. Makanya anak itu mencari perhatian.

“Ini susu buat Rara, minumnya sambil nonton aja, jangan ganggu Onnie dulu yah!” Rara mengangguk lalu melangkah pergi.

Kencana menyambung dua kertas koran untuk digambari pola pakaian, dia memindahkan kertas itu ke lantai karena mejanya tidak muat. Kencana mulai memainkan mistar siku, mistar lengkung, rader dan sebagainya.

Rara datang lagi sambil membawa gelas susunya untuk meminta diputarkan film lain karena film yang ditontonnya tadi sudah selesai, tiba-tiba Rara tersandung tumpukan koran bekas yang tercecer di lantai, Rara tidak jatuh, tapi susu cokelat yang ada di dalam gelas sukses pindah ke gambar pola yang sedang berusaha diselesaikan Kencana.

“Arghhhh.” Kencana hanya bisa berteriak melihat cairan cokelat itu menggenang di atas pola setengah jadinya, kertas koran yang tipis tak mampu menahan sehingga cokelat ikut merembes ke lantai.

Rara hanya bisa menatap takut. Tangisnya mulai pecah begitu Kencana mulai berteriak lagi, “Rara, aku udah bilangin jangan ganggu aku dulu, nonton DVD aja. Kalau udah kayak gini gimana?” Rara menangis semakin keras. Sebelumnya, Kencana tak pernah memarahinya. Kencana menghela nafas berat lalu mengambil kain pel dan mulai membersihkan lantai kotor. Polanya dia angin-anginkan dia atas sandaran kursi.

Bel pintu berbunyi lagi, Kencana meninggalkan Rara yang juga tak henti menangis menuju pintu.

Oppa,” desisnya tak percaya melihat Leeteuk berdiri di hadapannya saat ini. Angin apa yang membawa Leeteuk datang ke apartemennya siang ini padahal mereka tak pernah ada janji. Bahkan Kencana mengira Leeteuk masih berada di Singapura saat ini.

“Siapa yang menangis itu? Rara?” tanya Leeteuk langsung, tangis ketakutan itu terlalu menarik perhatian Leeteuk. Tanpa permisi Leeteuk langsung masuk ke dalam.

Dia menemukan Rara menangis sesegukan, Leeteuk langsung memeluk dan menenangkan. Membujuk agar tangisannya berhenti.

“Kenapa sayang?” Rara tidak menjawab pertanyaan itu.

“Dia menumpahkan susunya ke pola pakaianku.” Kencana-lah yang menjawab. Leeteuk beralih mengamati pola basah milik Kencana yang tersampir di sandaran kursi. Leeteuk punya ide menarik.

“Ayo kita menghabiskan hari ini dengan bersenang-senang,” usul Leeteuk. Kencana menatapnya dengan tatapan bertanya. Leeteuk membersihkan muka Rara yang belepotan air mata sebelum melanjutkan, “Kita akan ke Lotte World hari ini.”

Mwo? Tidak.. Tidak! Aku tidak mau ikut, aku ingin menyelesaikan pekerjaanku. Kalian berdua saja yang pergi!” tolak Kencana tegas. Dia tidak bisa membuang-buang waktunya begitu saja.

“Malah kau yang seharusnya pergi. Kau sebenarnya stress dengan tekanan deadline itu sehingga melimpahkan semuanya pada Rara. Kaja!” Leeteuk langsung menarik tangan Kencana, Rara berada di gendongannya.

Oppa! Tidak. Aku tidak mau!” teriak Kencana dan Leeteuk tetap menariknya keluar meninggalkan apartemennya. “Oppa, tunggu! Aku lupa ponselku.” Leeteuk tak memberikan reaksi, malah semakin bagus jika Kencana tidak membawa ponsel, tak akan ada yang mengganggu mereka. “Oppa, ponselku!” Kencana diseret masuk ke dalam mobil.
Oppaaa..” mobil Leeteuk melaju membelah keramaian kota Seoul.

***

Lotte World tampak ramai, tapi Leeteuk sudah menyamar menggunakan topi dan kacamata. Mereka bisa bersenang-senang tanpa gangguan. Mereka mencoba semua permainan (yang tidak begitu mengerikan) dan mainan favorit mereka adalah bianglala.

Setelah lelah berkeliling mereka beristirahat sambil menikmati es krim.

“Bagaimana perasaanmu?” tanya Leeteuk pada Kencana. Kencana langsung tersenyum.

“Sepertinya lebih baik. Gomawo Oppa.”

Ne, Kencana-ya.” panggilan itu lagi, yang membuat kupu-kupu di perut Kencana tak mau berhenti berontak. Kencana tergiur melihat toping blueberry di atas es milik Rara, dia langsung mencicipinya. Kencana menyimpulkan bahwa cokelat jauh lebih enak.

“Kau tidak mau mencicipi punyaku?” Leeteuk menyodorkan es krim strawberry-nya ke arah Kencana yang langsung menggeleng. Apa-apaan sih Leeteuk ini, membuatnya menjadi salah tingkah saja.

“Ayo, kau harus mencoba ini juga. Jangan cuma cokelat saja.”

“Tidak usah, Oppa!” tolak Kencana pelan.

“Ini enak kok, rasanya tidak kalah dengan cokelat.” Ini bukanlah masalah rasa, tapi masalah malu, masalah hati. Dengan pipi yang nyaris sewarna dengan es krim yang ada di hadapannya, Kencana mencicipi makanan dingin itu dengan ragu-ragu.

Rasa es krimnya? Kencana tidak bisa mendefenisikannya, karena ada rasa lain yang lebih mendominasi. Dia sudah benar-benar ‘jatuh’ sekarang.

Dia menyukai Leader Super Junior ini.
“Kau tidak risih menjadi artis, Oppa? Jika penggemarmu selalu mengikutimu ke mana pun kau pergi.” Kencana bertanya, selama ini dia penasaran apakah menjadi artis itu tidak membuat risih atau jengkel.

“Tidak,” jawab Leeteuk. “Aku malah bersyukur memilih pekerjaan ini, karenanya hidupku terasa lebih berwarna. Seperti motif polkadot berwarna-warni di atas kain putih. Semua itu, pekerjaanku, grup-ku, keluargaku, sahabatku dan ELF seperti kumpulan titik-titik dengan berbagai macam warna yang menghiasi hidupku.”
Kencana sangat suka motif polkadot itu, dia suka melihat motifnya yang berwarna-warni. Tapi dia tidak menyangka, Leeteuk malah menganalogikan hidupnya seperti motif itu. Masuk akal juga.

“Ayo, kita pulang. Rara sudah tertidur.” Leeteuk bangkit dan meninggalkan tempat itu menuju tempat parkir, Kencana mengekor di belakangnya, menatap punggung Leeteuk dengan kagum. Semua orang pasti bisa dengan mudah mencintai pria itu.

Lalu adakah penggemar yang tidak mengenali idolanya??

***v

To Be Continue
@sachakarina

Posted with WordPress for BlackBerry.

27 thoughts on “Polkadot ~Part 6 (FanFic by Sachakarina)

  1. Jyaaaahhhh… Akhirnya dia suka jg ma Leader-nim.. Yg di harapkan suka ma Evil magnae.. Krn karakternya dia blm ada prnh coba mengeksplore lebih..

    Oh well overall it good ^^

    • hehehe, evil magnae ada saatnya nanti :p

      Terima Kasih Onnie udah nyempetin baca dan ninggalin komentar 🙂🙂

  2. mau punya Oppa sperti Leeteuk Oppa ^^
    mau dech gantiin Rara ^^
    hehe… reader byk maunya *abaikan*

    Brp part lagi nich?

    Ditunggu lanjutannya ^^

    Semangat author!!! *teriak pake toa*

  3. hidupny teuki oppa sprti motif polkadot warna- warni diatas kain putih?
    wuidih ..ck..ck..ck.. chingu keren!!! kpikirn ttg hal kyk gtu, klo teuki oppa dgr gmn nie..
    lnjut..lnjut..lnjut.. aksiny kyu blm kan, wah bkal bkin sesi brikutny gempar nie.. jgn lma2 y ^^

  4. polkadot.

    rasanya aku juga gemes sama rara…. tapi lebih gemes sama teuki oppa.
    hahhhhh

    lanjutannya ^__________^

    • nggak gemes sama authornya Onnie? hahaha *dilempar sendal rame2*

      makasih ya Onnie, udah baca dan komentar.

      lanjutannya segera🙂🙂🙂🙂

  5. Cuma satu kata buat part ini….Eeennnvvvyyyyyyyyy……..
    Envy liat Rara yg di sayang bagai anak sendiri ma Leeteuk [emang udh cocok nih c Oppa gendong bayi,dah..buruan deh Oppa,jgn lama”]
    Envy liat Kencana yg lg falling in love ma Leeteuk..
    Envy mu ikutan jalan” k Lotte World,kpn ya aq kesana???
    Envy ma es krim stawberrynya…,qo aq ga ditawarin c Oppa? *sapa lw??*

    Ahh….tapi jd kacian liat Kyu.Gmn nasib hatinya Kyu selanjutnya Eonn?
    Tar jangan” ada penggemar yg tau klo yg d Lotte World itu Leeteuk……teruz?WOW…..

    Udah ah commentnya,byk omong nih reader.Katanya satu kata,tau” jadi byk bgni…haha
    Next part jgn lama” ya Eonn,🙂🙂

    • next part pasti ketahuan ada apa. hehehe

      Author suka banget kalau komentar panjang gini. hihihi

      thanks ya🙂🙂🙂

  6. G tw nich mw komen pa
    Kencana jtuh cinta bowwww n
    Q suka…
    N brsa bgt Q jd kencana..hehehe
    lanjut y..

  7. yah, Kencana nya jatuh.. kasian.. ditolongin ga tuh sama Leader-nim?
    ditolongin dong.. iya kan? *maksa*
    wkwk

    trus nasibnya Kyu gmana tuh?
    Lanjutannya ditunggu onn..🙂
    oiya, oot dikit, hwaiting buat KKN nya😀

    • bagusnya Leader-nim nya jatuh juga kali ya??? jadi saling nolong nantinya. hihihihi

      nasibnya Kyu pasti baik2 aja. hahaha

      thank u, Vie udah baca+komentar dan terutama thx buat semangatnya *peluk erat banget* 🙂🙂

  8. kasian kyupa…….
    *poppo kyu*
    brhubung mbak nana uda jth hti ma teukpa,kyupa ma sung young (baca:aku) aj dah…….ung mbak nana uda jth hti ma teukpa,kyupa ma sung young (baca:aku) aj dah…….

    • Kyu akan punya jalan sendiri *jiaahhh* hahahaha

      thank u yah udah nyempetin baca dan komentar 🙂🙂

  9. Pingback: [FANFICT] Polkadot | Sebuah Rumah Untuk Cinta

  10. yaaakkk..saya komennya paling telat..*maafkn sy author

    pingin ikut jln2 k Latte World aplgi sm Teuki Oppa..^^

    Kyuhyun lg ngumpet y..hee..^^
    semngat buat lanjutannya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s