Polkadot ~ Part 5 (FanFic by Sachakarina)

yang menunggu kelanjutan dari Fanfiction Polkadot seperti aku, buruan baca!! dan jangan lupa buat Komen ya! karena Komen itu begitu sangat berarti, dan menyenangkan penulis dan yang ngepost ^^. Haram Jadi SR lohh!!  Langsung aja ya… Selamat Membaca ^^

Part -5-

Kutanyakan pada malam hari:

“Apakah di dalammu terdapat rahasia yang penuh dengan pembicaraan dan hal-hal yang rahasia?”

***

Kencana menyesap cokelat hangatnya sambil mengamati gambar-gambar rancangan yang sengaja ditempelkan di dinding agar lebih mudah untuk diamati. Dia menilai satu persatu desain yang berhasil diselesaikannya, adakah yang perlu diubah sebelum dia merealisasikannya di atas kain.

Perhatian Kencana seketika beralih ke arah ponselnya yang bervibrasi di atas meja. Semalam dia sengaja mengganti profilnya menjadi silent agar tidak mengganggu saat berkutat dengan pensil dan kertas gambar.

“Halo Oom?” sapa Kencana riang. Yang menelepon adalah Oomnya, suami Bibi Yura.

“Kamu bisa ke rumah sakit dulu nggak?”

“Hah? Rumah sakit?” tanpa sadar Kencana berteriak. “Siapa yang masuk rumah sakit?”

“Bibimu. Gejala tipus.”

“Ya ampun. Sejak kapan? Kenapa aku nggak dikabarin lebih cepat?”

“Masuknya juga baru kok ini. Kamu bisa ke sini sebentar kan?”

“Iya. Aku langsung ke sana deh!” begitu sambungan telepon terputus, Kencana buru-buru menyambar handuk yang tadi dia sampirkan di sandaran kursi dan masuk ke kamar mandi. Tidak lebih dari lima belas menit dia sudah menyelesaikan rutinitas paginya yang biasanya memakan waktu lebih dari setengah jam. Kencana menyeruput sisa cokelat yang tersisa lalu meninggalkan apartemennya menuju rumah sakit.

Setengah jam kemudian Kencana sudah berada di ruangan tantenya dirawat.

“Rara mana?” tanya Kencana saat melihat Sang sepupu tidak ada di ruangan itu.

“Rara ke sekolah. Na, aku mau minta tolong ini.” ujar Bibi Yura lemah. Titik-titik cairan menetes jatuh memasuki pembuluh darahnya melalui jarum yang membuat Kencana bergidik ngeri. Dia suka jarum tapi bukan jenis jarum yang digunakan untuk menusuk tubuh seperti itu.

“Mau minta tolong apa? Pasti dibantuin kok, Bi. Kalau aku bisa sih.”

“Kamu bantu Sun mengurus butik selama aku dirawat, bisa kan?” Sun adalah salah satu pegawai di butik yang sudah lumayan lama bekerja di sana dan sudah menjadi kepercayaan Bibi Yura. Kencana mengangguk pelan. Dia memang tak keberatan dengan itu. “Dan karena sekarang butik kita yang mengurus seluruh kostum Super Junior, jadi kamu yang tangani itu yah.” Mata Kencana langsung melebar.

Mwo?” Saking terkejutnya, Kencana sampai tidak sadar mendesiskan kalimat itu diluar kebiasaan: menggunakan bahasa Korea.

“Kamu nggak bisa, Na?” tanya Bibi Yura kecewa.

“Bukan nggak bisa, Bi. Kenapa bukan Sun Onnie aja yang nanganin itu? Dia kan juga udah lama kerja sama Bibi.”

“Aku percaya kamu bisa ngurus semua itu. Cuma sementara kok. Lagian Sun juga ada pekerjaan lain yang harus dia selesaikan.”

Kencana hanya diam. Memangnya dia ada pilihan lain? Dia tentu tak bisa menolak permintaan Bibinya yang selama ini selalu baik dan sudah menjadi seperti ibunya selama dia di Seoul. Apalagi Bibinya sekarang sedang sakit.

“Kamu nggak ada kuliah hari ini?” tanya Bibi Yura lagi. Kencana yang sibuk memandang keluar jendela menoleh dan menggeleng pelan. Dia lalu beranjak menuju sofa yang ada di ruangan itu. “Emm, kamu bisa jemput Rara sekarang nggak? Appanya nggak bisa jemput. Tapi bawa ke apartemen kamu aja dulu. Nanti dijemput di sana aja.”

“Ok.” kata Kencana lalu mengambil tasnya. “Cepat sembuh, Bi” lanjutnya lalu menutup pintu. “Biar aku cepat lepas dari keharusan bertemu Super Junior” gumam Kencana resah, di dalam hati.

***

Kreekkk

Terdengar bunyi kain sobek, tatapan semua orang yang ada di ruangan langsung terfokus pada satu titik pandangan. Shindong. Yang ditatap hanya bisa nyengir saat baju yang berusaha dipakainya malah sobek. Shindong melepas kembali bajunya yang tiba-tiba kekecilan. Sobekannya pun lumayan luas.

“Sobek,” ujar Shindong sambil tersenyum antara malu dan heran. Apakah dia semakin gemuk? Asisten yang bertugas mengurusi kostum mereka jadi panik seketika karena tidak lebih dari dua jam Super Junior harus tampil.

Otthoke.. Otthoke?” wanita muda itu tak tahu sama sekali apa yang harus dia lakukan. Dia hanya langsung menerima pakaian dari butik. Dia jadi heran kenapa pakaian itu jadi tidak muat di badan Shindong. Padahal beberapa hari sebelumnya mereka sudah mengepas pakaian itu dan tak ada masalah sama sekali.

Dia langsung menelepon pemilik butik Iris. Terdengar pekikikan panik saat Asisten itu mengetahui bahwa Sang Pemilik butik sedang dirawat di rumah sakit. Dia kembali mengetikkan beberapa digit nomor yang tadi diberikan padanya. Bersamaan dengan terdengar nada sambung di ponsel Asisten panik itu, Donghae masuk ke dalam ruangan setelah dimake up.

“Di mana pakaianku?” teriaknya.

“Itu! Itu!” tunjuk Si Asisten lalu kembali fokus ke sambungan teleponnya. Donghae berjalan mendekati pakaiannya sambil bersiul pelan.

Donghae mulai mencari label namanya di pakaian yang tersisa. “Hyaa, Nuna, tidak ada pakaianku di sini!” teriaknya. Dia lalu membaca satu persatu label nama yang menempel di setiap pakaian dengan keras. “Yesung. Sungmin. Ryeowook. Shindong. Tidak ada punyaku di sini!” protesnya.

Omona.” Si asisten langsung menekap mulutnya dengan tangan.

Shindong yang mendengar namanya disebutkan oleh Donghae dalam daftar kepemilikan barang langsung mencari label nama dari pakaian yang sudah dirusakkannya. Dan benar saja. Nama Donghae tertulis dengan sangat jelas di sana. Dia asal main sambar saja tadi dan tidak memperhatikan dengan baik. Kata ‘Dong’ yang ada di dalam nama mereka berdua ternyata bisa menjadi sumber kekacauan.

“Ini pakaianmu.” Shindong menyodorkan pakaian itu pada Donghae yang langsung memekik, “Hyaa, Hyung. Kenapa pakaianku sobek begini?”

“Pakai saja. Fansmu pasti suka jika mereka bisa melihat badanmu.” saran Kyuhyun yang sedang sibuk bermain game di laptopnya dan disambut tawa geli dari member yang lain.

***

Kencana menggandeng tangan Rara saat mereka meninggalkan halaman sekolah anak itu menuju halte. Langkahnya terhenti saat ponselnya berdering nyaring.

Yeoboseyo?” jawabnya.

“Kencana-ssi? Aku Ha Yeon, asisten Super Junior. Ada sedikit masalah di sini. Pakaian yang ternyata milik Donghae sobek karena tanpa sengaja dikenakan oleh Shindong. Jadi bisakah anda ke sini untuk membereskannya? Aku tidak tahu harus melakukan apa.” seruan panik wanita itu langsung memenuhi gendang telinga Kencana.

Kencana pernah membaca bahwa panik itu juga bisa menular, saat ini dia sudah tidak meragukan kebenaran artikel itu lagi.  Baru beberapa jam setelah dia dilimpahkan tugas mengurusi butik, dia sudah dihadapkan pada sebuah masalah.

Ne. Aku akan ke sana segera. Di mana tempatnya?” wanita itu menyebutkan sebuah alamat lalu menutup telepon.

Kencana langsung mencegat taksi pertama yang lewat. Setelah di tengah perjalanan dia baru berpikir, apa yang akan dia lakukan nantinya? Dia tak mungkin membuat baju yang baru hanya dalam hitungan jam. Dia hanya berharap semoga sobekan itu tidak begitu parah hingga bisa ditisik. Dan Kencana juga baru tersadar bahwa Rara juga ikut bersamanya. Semoga Rara tidak menyusahkan nantinya.

Tidak lama kemudian Kencana akhirnya sampai di tempat tujuan. “Rara duduk di sini dulu ya, Onnie mau menyelesaikan beberapa urusan dulu.” bisik Kencana yang mendapat anggukan Rara. Kencana lalu masuk menuju sebuah ruangan untuk menemui wanita yang tadi meneleponnya, meninggalkan Rara di kursi yang ada di depan ruangan itu.

Langkah Leeteuk terhenti saat melihat Rara duduk di kursi yang ada di depan ruangan yang akan dimasukinya, gadis kecil itu sedang menikmati cokelat dengan ceria, mukanya agak sedikit belepotan, Rara duduk sambil mengayun-ayunkan kaki karena kaki pendeknya tidak mencapai lantai. Leeteuk tersenyum lalu duduk di samping Rara, membatalkan niatnya untuk masuk ke ruangan.

“Kenapa duduk di sini? Kau sendirian, Gadis Cantik?” sapa Leeteuk.

“Tidak. Aku datang bersama Onnie-ku. Dia sedang bekerja. Apa Anda bekerja di sini juga, Ahjussi?”

Aigo,” ujar Leeteuk gemas lalu mencubit  pipi Rara. “Jangan memanggilku Ahjussi. Aku tidak setua itu. Panggil aku Teuki Oppa, Ok! Rara mengangguk mengerti, Leeteuk kemudian mengangkat tangan untuk mengajak Rara ber-high five ria. “Siapa namamu?”

“Namaku Rara, Oppa.

Tepat saat itu Kencana muncul. “Rara..” panggilnya. Kencana langsung termangu begitu melihat Leeteuk sedang bercanda bersama Rara. Kedua orang itu menoleh, Leeteuk langsung bangkit begitu melihat Kencana.

Onnie.” Rara lompat dari kursi lalu mendekati Kencana. Kencana membungkuk dan menyapa Leeteuk, “Annyeonghaseyo, Oppa.

Hal yang sangat tidak biasa. Tapi Kencana berusaha menebus tingkah-agak- bodohnya beberapa waktu lalu ketika dia membawa makanan untuk Siwon dan tanpa sengaja bertemu Leeteuk. Dia tidak ingin Leeteuk menganggapnya aneh.

Annyeong, Nana-ya. Ada pekerjaan di sini?” tanya Leeteuk, pandangannya beralih pada pakaian yang dipegang Kencana, Kencana mengikuti arah pandang itu. Di tas Kencana selalu ada peralatan menjahit seperti jarum benang dan gunting, yang sungguh berguna dalam keadaan genting seperti sekarang. Dia akan segera menyelesaikan tapi sebelumnya akan mengajak Rara masuk ke dalam ruangan dulu.

Ne, pakaian Donghae-ssi sobek, jadi aku harus menjahitnya segera.” Kini perhatian Kencana kembali pada sepupunya yang sudah belepotan coklat. “Aduh, kenapa sampai belepotan begini?” Kencana mengambil tissue dari dalam tas yang terus diselempangnya sejak datang tadi.

Leeteuk langsung menahan tangan Kencana dan mengambil tissue basah itu dari sana. Kencana tersentak pelan dan menarik tangannya. Seperti ada aliran listrik yang dialirkan Leeteuk lewat sentuhan itu, mengirim elekron-elektron menuju seluruh penjuru tubuhnya dengan cepat, berakhir di dadanya yang seketika berdesir hangat.

Harusnya tidak ada yang seperti ini.

“Lanjutkan saja pekerjaanmu, aku bisa menemani sepupumu sampai kau selesai bekerja, itu juga bisa membuatku repot nantinya kalau kostum Donghae tidak selesai,” Leeteuk mulai membersihkan pipi Rara dengan menggunakan tissue. Tahu-tahu Rara mengecup pipi Leeteuk dan meninggalkan noda cokelat di sana. Rara terkikik. Leeteuk memandangi Rara dengan gemas, lalu menyentuh pipinya dengan hati-hati, noda cokelat itu ikut berpindah ke jarinya.

Aigo. Kau jahil sekali. Sekarang make up-ku jadi rusak” ratap Leeteuk. Kencana yang menonton adegan itu hanya bisa tertawa dan kembali masuk ke dalam ruangan. Berselang beberapa menit, Leeteuk ikut masuk sambil menggandeng Rara.

***

Tugas baru.

Kencana diminta ikut kegiatan Super Junior KRY untuk mengurusi kostumnya. Awalnya Kencana menolak, tapi desakan terus-menerus dari asisten yang kini jadi paranoid sejak kejadian hari itu membuatnya terpaksa menyetujui.

 Hanya sehari, tapi di luar kota.

Malam semakin pekat, tapi Kencana betah duduk di taman belakang hotel tempat mereka menginap. Memandangi bunga yang baru saja bermekaran seiring datangnya musim semi, Kencana suka warna-warni dan semerbak wangi bunga. Temaram lampu taman memungkinkannya tetap melihat semua keindahan itu. Dia mendadak kangen Indonesia. Kangen pada keluarga dan sahabat-sahabatnya yang penuh warna.

“Kau tidak merasa dingin?” Kencana menoleh dan melihat Kyuhyun sudah duduk di kursi sebelahnya, mereka dipisahkan oleh meja kecil. Kencana sudah bertekad tak ingin lari lagi. Lagipula mereka selalu berada dalam jarak yang berdekatan, tidak mungkin dia terus menghindar. Apa sih sebenarnya yang dia takutkan selama ini?

“Sedikit, tapi itu tidak masalah.” Kyuhyun agak terkejut, tidak pernah Kencana berbicara sepelan itu padanya, biasanya Kencana berujar dengan ketus. Sepertinya ini kesempatan baik.

“Lalu kenapa kau tidak masuk saja? Kau merasa kesepian?” tanya Kyuhyun. “Aku bisa menemanimu.” lanjutnya meyakinkan.

Kencana mengangkat kakinya ke atas kursi dan memeluk lutut “Aku suka di sini. Aku ingin memandangi bunga-bunga itu. Terlihat jauh lebih cantik dengan siraman sinar bulan dan lampu taman.” Kencana jadi bertanya-tanya apa sih yang membuatnya menjadi sok puitis begini, di depan Kyuhyun pula. Dan entah mengapa peristiwa Leeteuk menyentuhnya dengan tidak sengaja dulu itu, langsung terlintas dan ditepisnya lagi dengan segera.

Dia teringat sikap kasarnya pada Kyuhyun selama ini. “Maaf. Aku kadang agak kasar kepadamu selama ini.”

Kyuhyun terkejut lagi mendengar permintaan maaf yang tiba-tiba itu. Gadis satu ini memang agak mengejutkan. Tidak putus akal, Kyuhyun langsung memanfaatkan keadaan itu. “Aku memaafkanmu jika kau berjanji menjadi temanku.”

Mwo?

“Kau tidak tahu selama ini aku merasa sedikit sakit hati jika kau menghardikku? Padahal aku tidak memiliki salah apa-apa.” Kyuhyun berkata sendu, Kencana jadi semakin merasa bersalah. “Padahal selama ini aku hanya ingin berteman denganmu.”

“Bukan begitu, aku tidak bermaksud…” Kencana tak tahu harus beralasan apa. Tiba-tiba dia merasa kesal dengan keadaan yang menyudutkannya saat ini, seolah yang salah memang hanya dirinya. “Kau juga sih yang membuatku kesal. Kau membuatku menunggu lama saat aku membawakan pakaian untuk kalian, kau juga membuatku harus ikut dikejar-kejar fans, dan saat di bandara, aku terhimpit kerumunan penggemar yang ingin melihatmu. Bagaimana aku tidak kesal?” sembur Kencana. Kyuhyun pasti tidak tahu mengenai peristiwa di bandara itu, tapi Kencana tetap mengatakannya agar pembelaan dirinya semakin kuat.

“Tenang… Tenang…” Kyuhyun langsung mengambil minuman Kencana dan menyodorkan kepada Si Pemilik. Kencana menyambut dan meneguknya banyak-banyak. Setelah melihat Kencana lebih stabil, Kyuhyun mencoba lagi, “Jadi kita berteman?”

“Jika kau tidak menyebalkan.” putus Kencana akhirnya. Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan.

“Aku senang kau mau menjadi pacarku.”

Mwo?” Kencana langsung berteriak. “Aku tidak mengatakan aku ingin menjadi pacarmu. Aku seharusnya tidak percaya padamu.” Kencana bangkit berdiri, Kyuhyun langsung panik dan menahan lengan Kencana.

“Aku cuma bercanda. Kau serius sekali.”

 “Terserahlah.” Kencana melepaskan genggaman itu kemudian berlalu pergi meninggalkan taman belakang. Kyuhyun segera mengikutinya.

Hya, Kencana-ya. Jangan marah, kenapa kau pergi?”

“Aku mau tidur.”

Kyuhyun tidak mengikuti lagi, dia pun kembali ke kamarnya.

***

Kencana sedang membaca majalah di ruang tunggu, sejujurnya dia agak pusing membaca lembaran yang penuh hangul itu. Menulis, membaca dan berbicara dalam hangul adalah tiga hal yang berbeda, dan semuanya terasa agak sulit mengingat dirinya harus memulai kembali setelah tinggal di Indonesia selama lima tahun. Jadi dia hanya mengamati gambar-gambarnya saja serta membaca judul tulisan. Jika menarik, dia membacanya lebih lanjut. Semua itu dia lakukan untuk membunuh rasa bosan.

Di sebelahnya, Kyuhyun ikut melongokkan kepala dan membaca artikel yang dibaca Kencana. Awalnya Kencana berusaha mengabaikan tapi lama-lama dia merasa terganggu juga, apalagi jika Kencana sudah ingin membuka lembaran selanjutnya tapi Kyuhyun malah menahan. Kencana langsung menutup majalah dengan kesal.

Hyaa, Kyuhyun-a. Jangan menggangguku. Apa kau tidak punya pekerjaan lain?” seru Kencana sambil melotot ke arah Kyuhyun, mata itu perlahan menyipit saat melihat yang dipelototi ternyata tidak memperdulikannya, tapi memperhatikan sesuatu di lehernya. Tangan Kencana implus terangkat menyentuh leher.

“Apa yang kau lihat?” tanya Kencana risih, juga agak penasaran.

“Ada urat yang menonjol di lehermu jika kau berteriak-teriak seperti tadi.” jawab Kyuhyun enteng.

Runtuh sudah semuanya. Kencana menyesal sudah merasa penasaran.

Hya!” hardik Kencana. Tenggorokannya terasa agak kering karena berteriak-teriak sejak tadi. Beberapa orang memperhatikan mereka tapi dia tak ingin peduli.

“Tunggu! Kau memanggilku siapa? Kyuhyun?” kata Kyuhyun tiba-tiba. “Kapan kau lahir?”

“Kenapa? Aku lahir tanggal 8 Februari 1988.” Kencana agak curiga ada sesuatu, tapi dia tetap menjawab.

“Aku lahir tanggal 3 Februari 1988. Jadi, kau tidak boleh memanggilku Kyuhyun, kau harus memanggilku ‘Oppa’. Aku lebih tua darimu!” Kyuhyun menekankan kata ‘lebih tua’ itu.

Andwae. Kita seumuran. Aku tidak akan memanggilmu ‘Oppa. Aku tidak mau!”

“Tapi aku lebih tua. Kau harus memanggilku ‘Oppa’!”

“Tidak. Kita cuma berbeda lima hari saja.”

“Itu berarti aku lebih tua. Panggil aku ‘Oppa’!” Keduanya tak satu pun yang ingin mengalah. Kyuhyun yang terus memaksa ingin dipanggil Oppa, dan Kencana yang tidak mau menuruti. Dia menduga, Kyuhyun akan bertindak sewenang-wenang padanya jika dia meluluskan permintaan itu. Oh, jangan harap!

Perdebatan tidak penting itu terus berlanjut bahkan setelah Kyuhyun selesai tampil di panggung. Ryeowook yang sudah mendengar mereka berdebat sejak tadi memilih menjauh dari keributan. Lebih baik dia menemui Yesung.

“Nana-ya, kau harus memanggilku Oppa!” mendengar nama kecilnya disebut-sebut, Kencana jadi semakin murka. “Hyaa, jangan memanggilku Nana. Panggil aku Ken-ca-na.” Kencana sengaja memenggal namanya agar lebih jelas didengar Kyuhyun.

“Kalau begitu, panggil aku ‘Oppa, Nana.” Ha-ha-ha, Kyuhyun menemukan satu lagi kelemahan gadis itu.

“Tidak!”

“Kalau begitu aku akan terus memanggilmu Nana. Nana. Nana. Nana.” Kyuhyun malah berdendang. Kencana sudah tak tahan lagi.

“Baiklah. Baiklah. Aku akan memanggilmu Oppa. Tapi jangan memanggilku Nana. Kau puas, Kyuhyun Oppa?”

Kyuhyun menyeringai. Soal ngotot-ngototan ternyata dia jauh lebih jago dari Kencana. “Ne, Kencana-ya. Aku puas!

Kencana tidak rela tapi juga tak berdaya. Panggilan ‘Nana’ itu hanya untuk orang-orang terdekatnya saja. Kyuhyun tidak termasuk di dalamnya.

***

Kyuhyun terkikik-kikik geli melihat layar ponselnya. Dia sedang chatting dengan Kencana dengan menggunakan aplikasi WhatsApp. Kyuhyun suka mencandai Kencana karena kemarahan Kencana gampang sekali tersulut, dia suka melihat Kencana mengomel.

Hampir semua member heran melihat Kyuhyun, biasanya dia tak pernah berpisah sedikitpun dengan gamenya, tapi hari ini komputer itu terabaikan begitu saja. Dinyalakan tapi tak tersentuh. Si Pemilik sedang asyik di dunia maya.

“Kau sedang apa sih?” Siwon akhirnya bertanya, mewakili yang lain.

“Mengerjai seseorang.” kata Kyuhyun kemudian kembali tergelak setelah membaca kalimat pendek yang baru masuk di ponselnya.

“Siapa itu?” Siwon melongokkan kepala dengan penasaran, Kyuhyun dengan senang hati memperlihatkan ponselnya. Siwon membaca apa yang tertulis di sana.

“Kencana?”

Ne.” Kyuhyun mengangguk, tak melihat ekspresi kaget Siwon yang agak berlebihan. Kyuhyun tetap saja mengetikkan beberapa kata di ponselnya untuk membalas. Dia membayangkan, Kencana pasti sudah misuh-misuh sendiri di apartemennya.

“Kencana? Nana? Yang sering datang membawa pakaian? Kalian akrab?”

Kyuhyun mengangguk lagi menanggapi serentetan pertanyaan yang berjejer seperti kereta api.

“Kami bersahabat, atau mungkin bisa dibilang berpacaran.” Kyuhyun berkata melebih-lebihkan supaya Siwon makin kaget. Dia memang pernah meminta Kencana menjadi pacarnya tapi Kencana menolak.

“Kau jangan sembarangan bicara. Kencana itu pacar Teuki Hyung!

Kyuhyun tidak berkata apa-apa, dia hanya menatapi Siwon. Berusaha mencari kebenaran, dan itulah yang dia baca dengan sangat jelas di sana.

Kencana adalah pacar Hyung-nya? Kenapa dia tidak pernah tahu? Kenapa mereka berdua terlihat jarang mengobrol dan kadang terlihat canggung satu sama lain? Kenapa Kencana tidak berkata apa-apa?

Lalu kenapa dia harus menyukai Kencana?

***

To Be Continue

Terima kasih sudah membaca, dan jangan lupa meninggalkan jejak ^_^

FF by sachakarina

Pesen yng ngepost : JANGAN PERNAH JADI SR atau PEMBACA GELAP mending BACA TERANG-TERANGAN. Silent Reader Go Away. Buat yang udah Komen, Terimakasihhh banget tambah cinta deh saia ^^

24 thoughts on “Polkadot ~ Part 5 (FanFic by Sachakarina)

  1. Hhahaa,, Evil magnae memang tidak pernah kalah dr hal yg ‘ngotot’ hadeehh,,

    Part selanjutnya, kynya bakal lama nih😀

    • Hahaha
      Part berikutnya nggak lama2 amat kok Onnie.
      Sama kayak biasa. Sebenarnya FFnya udah selesai aku buat, tinggal kirim aja. Hehe

      Makasih Onnie🙂

  2. aaaa keduluan onieeee..

    gile bener shindong oppa untung kaga ketuker ama wookie… heheheheh

    aigoo saiya cemburu sama RARA… mauuuu jugaaaa

    part 6 nyaaaaa *garuk2 tanah*

    • Kalau bajunya Wookie yang ketukar sama Shindong bisa2 bajunya nggak bisa diselamatkan lagi. Hahaha

      Makasih Onnie, udah baca dan bantu posting juga🙂

  3. Eeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrrrrrr………..
    Gregetan bgt ma TBC….
    Kyu emang seneng diajak adu mulut y,puas bgt pasti tuh tampangnya..huahahahaha
    Mas Kadir udah cocok jadi bapak tuh..,berasa Rara anaknya dy deh.ehem ehem…

    Apa yg bakal terjadi selanjutnya??
    Jangan lama” ya Eonn part selanjutnya….,Hwaiting ^_^

  4. Jadi inget ada yang bilang kalo Teuki Oppa emang deket banget ma anak kecil dan dia adalah ayah yang baik tapi bukan suami yang baik hahahaha

    Kyu emang deh paling bebal deh, demen banget maksa orang :p

  5. hahahahaha mw ktwa yg puas dulu ah..
    y ampun ni part bner2 bkin aku ktwa n senyum2 sndiri!!

    Aigoo!! Kyu evil sangat mpe Kencana pun dbkin stress..ckckckck
    hmmm leadernim penyayang sx,,jd iri sma Rara!

  6. yaa ampyun kyu oppa ^^ niat bener maksa nya ^^ keluar bgt kan jadinya evil nya, hehe…

    part selanjutnya donk author ^^ *maksa nich* *ketularan Kyu oppa^^ *

    author hwaiting!!!! *teriak pake toa* (^_^)v

  7. part ini lbh banyak kyuhyun’s pov nya..
    klo urusan ngotot2an emang si evil g bs d kalahin

    Rara sadar jg y ada Ahjussi ganteng, jd lngsung d cium..

    Lanjutannya d tunggu..^^

    • Kemarin2 Pov Kencana ama Leeteuk mendominasi.
      Sekarang saatnya Kyuhyun berkuasa.hahaha

      Makasih ya🙂

  8. dLuar dugaan, story teuki oppa sedikit dgntikn evil magnae.. ck..ck..ck.. kencana dpt siapa nie klo 22ny (teukyu) pke perasaan gtu
    lanjut..lanjut..lanjut.. palli..palli..palli.. chingu ^^

    • Pasti dapet salah satunya. Wkwkwks *jawaban macam apa ini!* *dilempar*

      sabar ya, lanjutannya segera.
      Makasih ya🙂

    • Ok, lanjutannya segera.
      Btw, harusnya aku yang ngucapain banyak terima kasih karena udah mau baca ceritaku.

      Makasih ya🙂🙂

  9. itu Kyu semangat banget deh berantem sama Kencana..
    lucu ih tapi.. hihihi

    hayoooo, Kyu, Kencana itu pacar Hyung mu.. gimana dong..?? *edan*

    next part ditunggu ya onnie😀

  10. Pingback: [FANFICT] Polkadot | Sebuah Rumah Untuk Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s