White Lily and Caramel Macchiato (FanFic by Freelance)

FF ini adalah FF buatan temen SD aku gitu, dan asli aku langsung jatuh cinta sama FF ini, makanya aku minta sama authornya biar bisa di re-post di blog ini, biar para reader bisa juga baca FF romantis ini ^^
Aku mohon tidak ada bashing yah, karena di FF ini castnya dua-duanya artis jadi no bashing… Happy reading all^^Cast: Super Junior’s Lee Donghae, Wonder Girls’ Min Sunye
Other Cast: Super Junior’s Cho Kyuhyun.
Disclaimer: I only own the plot. It’s belongs to my imagination. Lee Donghae and Cho Kyuhyun belong to SM Entertainment. Min Sunye belongs to JYP Entertainment.
Author: Gianchovy

Mata indah yang lagi-lagi menatap kosong itu mengalihkan perhatian Donghae dari list panjang pesanan tamu café siang itu. Gadis cantik itu tampaknya tidak pernah sadar kalau Donghae selalu memperhatikan gerak-geriknya sejak dua minggu yang lalu.

Sudah dua minggu berlalu sejak gadis cantik berwajah tirus ini selalu datang ke Brown Crème Café tempat Donghae bekerja setiap harinya sebagai waiter. Setiap kali gadis itu datang, yang dilakukannya selalu sama sampai Donghae hapal rangkaian kegiatan itu di luar kepala. Datang, memesan satu cangkir besar  caramel macchiato dingin, lalu larut dalam dunianya sendiri sehari penuh.

Dunia yang ingin sekali Donghae sambangi. Untuk mengetahui secuil saja apa maksud dari tatapan kosong itu.

Ia selalu duduk di tempat yang sama. Meja kecil dengan dua kursi di beranda café. Di sekitar meja itu terdapat beberapa rumpun bunga matahari besar. Tempatnya yang agak tersudut, sedikit menyamarkan keberadaan gadis itu. Tapi Donghae tahu pasti spot itu adalah spot favorit semua orang yang ingin menyendiri dan menyembunyikan diri dan pikiran mereka dari dunia. Dunia yang terkadang terasa tidak adil bagi sekumpulan orang malang.

Gadis itu juga selalu memasang ekspresi wajah yang sama setiap hari. Ekspresi kehampaan tergambar jelas di matanya yang kosong. Pipi tirusnya pucat, tanpa sentuhan warna sedikitpun. Tulang pipinya yang tinggi semakin terlihat jelas di wajahnya yang kurus. Walaupun begitu, Donghae tetap mengakui kalau gadis ini cantik, bahkan dengan kekosongan dan kehampaan yang terlukis sempurna di wajahnya.

“Kyuhyun-ah? Bisakah kau meng-handle pesanan meja nomor 19? Aku ingin menyapa seseorang sebentar.”

Cho Kyuhyun, rekan sekaligus junior Donghae hanya melirik gadis yang sedang melamun di beranda café lalu melirik Donghae dan mengangguk tanda ia sudah mengerti maksud Hyung-nya ini. Kyuhyun mengambil kertas pesanan dari tangan Donghae lalu melesat pergi untuk membuat pesanan yang tertera di sana.

Donghae dengan cekatan langsung membuat secangkir besar caramel macchiato lalu pergi mendekati gadis itu.

“Selamat siang, Agasshi. Secangkir caramel macchiato untuk Anda.” ujar Donghae sambil meletakkan cangkir itu secara perlahan di meja gadis itu. Gadis itu terlihat terkejut sebentar lalu mendongak, menatap Donghae dengan tatapan bingung.

“Maaf. Tapi bukankah aku belum memesan apapun?” tanya gadis itu. Suaranya lirih, agak serak, namun lembut dan enak didengar.

Donghae hanya tersenyum sambil menaruh beberapa lembar tissue di sebelah cangkir bergaya Victorian itu.

“Sedikit kejutan untuk pengunjung setia kami, Agasshi. Apakah ini minuman yang ingin Anda pesan?”

Gadis itu hanya mengangguk kecil kemudian berkata lirih.

“Terima kasih.”

Donghae masih tidak puas dengan respon singkat gadis itu.

“Ah,  Agasshi juga tidak perlu membayar untuk secangkir caramel macchiato itu. Gratis untuk hari ini.”

Gadis itu hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih sekali lagi. Donghae menghela napas perlahan dan beranjak meninggalkan gadis itu dengan rasa penasaran yang masih menggunung dalam hatinya.

Ia kembali memperhatikan gadis itu. Gadis itu kini sudah larut kembali dalam lamunannya. Kembali dalam kekosongan dan kehampaannya. Ekspresi yang kini sudah tercetak di atas selembar foto polaroid di tangannya. Donghae mengambil spidol hitam dan menulis di bagian bawahnya.

Hari ke-14. Hampa dan kosong.

“Yah, Hyung! Dasar stalker!” ujar Kyuhyun yang sudah kembali dari tugasnya. Baki dan serbet masih ada di tangannya.

“Aku bukan stalker, Kyuhyun-ah. Aku hanya penasaran padanya.” Kyuhyun hanya memutar bola matanya mendengar jawaban Donghae.

“Apa perbedaannya? Sudah empat belas hari ini kau mengambil foto gadis itu secara diam-diam dan menyimpannya di apartemenmu. Apa namanya kalau bukan stalker?”

Donghae hanya menanggapi ucapan bernada protes dari Kyuhyun itu dengan senyuman. Biarlah si evil itu menyimpulkan apapun tentang kebiasaannya ini. Toh Donghae hanya membutuhkan satu hal dari gadis yang kini sedang asyik menyeruput minumannya. Satu hal yang anehnya sangat membuatnya penasaran.

Setelah itu, Donghae akan melupakan gadis misterius ini. Ia berjanji.

***

Ini hari ke-16.

Sudah dua minggu lebih Donghae menikmati kebiasaan barunya ini. Menatap gadis itu melamun dan membuatnya turut larut dalam lamunannya sendiri. Otaknya kini sibuk mencari-cari sebuah hal yang sebenarnya tidak penting untuk dilakukan. Sebab gadis ini melamun dan menatap kosong keadaan sekitarnya. Mencari sebab-sebab yang mungkin, mengapa gadis ini kini berubah menjadi patung cantik yang sedang menopangkan wajahnya di telapak tangannya. Mengaduk caramel macchiato-nya perlahan.

Hyung, café sedang ramai. Cepat bergerak kalau tidak mau bos tiba-tiba memarahimu.” suara Kyuhyun terdengar selintas dan tidak jelas. Donghae masih larut dalam lamunannya.

“Apakah aku harus mengusir gadis cantik itu agar Hyung lebih berkonsentrasi bekerja?” tanya Kyuhyun lagi.

Donghae menoleh cepat ke arah Kyuhyun.

“Yah! Apa maksud ucapanmu itu? Berani-beraninya kau mengusir tamu!”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya sedikit melihat Donghae yang menanggapi ucapannya dengan nada tinggi dan ekspresi wajah yang sedikit marah.

“Kalau gadis itu terus di sini, ia akan membuat Donghae Hyung selalu tidak bisa berkonsentrasi, banyak melamun, dan akhirnya mengabaikan pelanggan. Aku saja heran bos belum juga menegurmu.”

Donghae menghela napas perlahan.

“Dan itu urusanku kan? Kalau aku sampai dipecat apakah kau ikut dipecat juga? Tidak kan?”

“Astaga, Hyung. Mengapa menanggapi ucapanku dengan pernyataan bernada marah seperti itu? Aku hanya khawatir melihatmu seperti ini. Kau bukan Donghae Hyung yang bersemangat seperti yang kutahu dulu. Dan somehow, aku tidak suka melihatmu seperti ini hanya karena seorang gadis aneh yang bahkan namanya pun kau tak tahu.”

Lagi-lagi Donghae hanya menghela napas. Kali ini lebih panjang. Entah mengapa ia begitu emosi ketika Kyuhyun mencoba mencampuri urusannya, khususnya yang satu ini. Padahal, gadis itu bukan siapa-siapa. Teman bukan, saudara bukan, apalagi kekasih. Kalau Kyuhyun ingin mengusirnya pergi, seharusnya ia tidak usah ambil pusing.

Tapi jika gadis ini pergi, Donghae merasakan akan ada yang hilang dari kesehariannya. Walaupun kegiatan itu hanya mengamati gadis ini melamun dari jauh.

“Baiklah, Kyuhyun-ah. Ada pesanan yang harus kutangani?”

Kyuhyun tersenyum tipis sambil menyerahkan list pesanan yang baru didapatkannya.

***

“Selamat menikmati, Tuan.” ujar Donghae sambil tersenyum. Ia beranjak meninggalkan pelanggan pria bertubuh gemuk namun berwajah ramah itu. Pria itu pelanggan setia café-nya. Selalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan setelah meminum apapun yang dipesannya. Membuat Donghae selalu bahagia ketika melayaninya. Ia merasa dihargai.

Gadis itu baru datang. Bersiap melewati hari kedelapanbelasnya di café ini. Ia menduduki tempat duduk yang kini seperti singgasananya. Sejak gadis itu datang, tidak ada pelanggan lain yang menduduki tempatnya. Seakan mengerti kalau gadis ini lebih membutuhkan tempat duduk tersudut yang terhalangi rumpun bunga matahari itu.

Donghae kembali larut dalam pekerjaan sampingannya delapan belas hari terakhir ini. Membiarkan matanya terpancang pada gadis yang tampak cantik dibalut gaun selutut berwarna khaki dan cardigan rajut berwarna putih. Membiarkan otaknya kembali menebak-nebak segala macam hal tentang gadis itu. Siapa namanya. Dimana ia tinggal. Apa makanan favoritnya. Mengapa ia sangat suka caramel macchiato.

Untuk siapa tatapan mata hampa itu.

Hyung, layani meja nomor 24 itu.” ujar Kyuhyun sambil memberikan buku menu pada Donghae. Donghae melirik meja gadis itu dan tertulis nomor 24 di atas mejanya. Senyum tersungging di bibir Donghae.

“Aku tidak memerlukan buku menu itu.” ujarnya singkat. Kyuhyun hanya tertawa kecil.

“Ya, ya. Aku mengerti. Cepat layani dia sebelum buruanmu itu kabur.” ujar Kyuhyun sambil berlalu. Donghae menjitak kepala Kyuhyun perlahan sebelum laki-laki muda itu benar-benar berlalu.

Mata Donghae tertumbuk pada satu vas bunga lily putih segar yang tadi pagi Kyuhyun siapkan sebagai  penghias dekorasi café yang didominasi warna putih dan krem ini.

Bunga lily putih adalah bunga yang melambangkan cinta sejati yang diliputi duka.

Donghae teringat ucapan bosnya saat pertama kali membawa sebuket besar bunga lily putih ke café ini. Ia ingat kalau perkataan bosnya itu agak janggal. Untuk apa memajang bunga yang berkaitan dengan duka sebagai penghias ruangan café? Tapi bosnya bersikeras kalau bunga itu cocok untuk pelengkap interior café.

Donghae dengan segera membuat secangkir besar caramel macchiato dan menaruhnya di atas baki. Entah mendapatkan insight darimana, Donghae mengambil satu tangkai bunga lily putih itu dan beranjak mendekati meja nomor 24.

“Selamat pagi. Ini pesanan Anda, Agasshi. Secangkir besar caramel macchiato.” ujar Donghae yang lagi-lagi menghasilkan tatapan terkejut di wajah gadis itu. Donghae menyukainya. Karena menghasilkan ekspresi wajah lain di wajahnya selain tatapan hampa dan kosong yang selalu disuguhkan gadis ini.

“Apakah ini bagian lain dari kejutan café ini untuk pelanggan tetap?”

Donghae menggeleng.

“Tidak. Tidak ada promo special apapun untuk hari ini.”

“Lalu? Untuk apa caramel macchiato ini?”

“Aku sudah hapal pesananmu. Selama 18 hari ini Agasshi selalu memesan minuman ini, tidak pernah yang lain,” jawab Donghae sambil tersenyum. Gadis itu tidak menjawab lagi. Ia hanya menatap Donghae. Walau Donghae masih melihat selaput yang belum bisa ia tembus di mata gadis itu, ia tahu kalau gadis ini sedikit.. senang atau tersentuh mendengar ucapannya barusan.

“Kau.. sudah hapal pesananku?” tanyanya perlahan dengan suara lembutnya yang biasa. Donghae mengangguk sambil tersenyum lagi.

“Dan.. ini hadiah untuk Agasshi.” ujar Donghae sambil memberikan tangkai bunga lily putih yang tadi dibawanya. Mata gadis itu melebar ketika menerima bunga itu dari Donghae. Ia menatap bunga itu agak lama sebelum mengucapkan terima kasih pada Donghae dengan suara bergetar menahan tangis.

Donghae mundur teratur meninggalkan gadis itu. Pelupuk mata gadis itu kini penuh dengan airmata. Dan tidak lama kemudian, wajah gadis itu sudah dialiri dua sungai kecil yang mengalir hingga dagu indahnya. Hati Donghae berdesir melihatnya. Rasanya ia ingin datang dan menghapus airmata gadis itu. Tapi kakinya urung bergerak dan terdiam di tempatnya. Ia hanya ingat untuk mengangkat kamera polaroidnya.

Hari ke-18. Lily putih dan air mata.

***

Min Sunye kembali ke café itu lagi. Café yang entah mengapa selalu menularkan atmosfer hangat sampai ke hatinya. Mungkin karena dekorasinya yang didominasi warna krem dan putih. Perpaduan warna favoritnya. Atau mungkin karena dengan menemukan café ini Sunye seperti menemukan rumah keduanya, di samping apartemen mungilnya yang kini ia tempati sendirian. Di sini ia bebas berpikir, merenung, dan meratap. Berpikir tentang kesedihannya, merenungi kesendiriannya, dan meratapi kehampaannya. Toh hidupnya hanya berisi tiga hal itu saat ini. Ia bisa meratapi hidupnya yang kini compang-camping karena kehilangan satu hal asasi yang dibutuhkan semua manusia yang hidup di dunia ini.

Cinta.

Sudah lama sekali rasanya saat ia terakhir kali menyebut kata itu dengan lantang dalam hidupnya. Ya, sejak ayahnya yang sangat ia cintai meninggal dunia dua tahun yang lalu dengan hutang yang sangat menumpuk. Atau mungkin jauh sebelum itu. Empat tahun yang lalu, lelaki yang dicintainya pergi meninggalkannya karena jatuh cinta dengan sahabat baiknya sendiri dan akhirnya mereka menikah. Meninggalkan luka di hatinya yang tak kunjung sembuh.

Dan hanya meninggalkan sebuket besar bunga lily putih untuk Sunye sehari sebelum hari pernikahannya.

Sampai-sampai ia merasa sangat takut sekarang. Ia sangat asing dengan semua hal yang berhubungan dengan cinta. Hatinya kini beku seperti es. Ia merasa bingung dan sendirian. Tidak punya apapun, tidak punya siapa-siapa. Ia hanya harus bekerja keras setiap pagi dan malam untuk menutupi hutang besar ayahnya yang kini masih tersisa setengahnya. Dan mungkin, saat ia sudah berhasil membayar hutang ayahnya, mungkin meninggalkan dunia ini selamanya adalah ide yang bagus. Ia bisa terbebas dari dunia yang menyiksanya.

Ekor mata Sunye menangkap sepasang mata tajam tengah memperhatikannya. Ada kehangatan kecil dan tidak terduga dari café ini. Datang dari seorang waiter asing yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Waiter itu sering sekali memandanginya ketika ia sedang asyik terdiam atau melamun di sini. Sampai puncaknya lusa kemarin, waiter itu mengatakan bahwa ia sangat hapal minuman favorit Sunye dan membawakannya bunga lily putih. Bunga favoritnya, sekaligus bunga yang paling dibencinya seumur hidup. Membuat Sunye bertanya-tanya dalam hati. Mengapa ia merasa waiter itu tahu banyak tentang dirinya.

Caramel Macchiato untuk Agasshi.”

Waiter itu lagi-lagi menghidangkan minuman favoritnya sebelum Sunye sempat memesan. Sunye membaca nama yang tercetak di pelat cokelat yang tersemat di bagian dada kirinya. Namanya Lee Donghae.

“Dan ini.. bunga untuk Agasshi.” ujarnya sambil menaruh setangkai bunga di atas serbet putih. Kali ini bunga mawar dengan warna pink pucat.

“Selamat menikmati.” Waiter itu segera berbalik meninggalkan Sunye yang masih memandangi bunganya dengan penasaran.

“Tunggu dulu.”

Lee Donghae refleks berbalik. Ekspresi wajahnya terlihat sangat terkejut karena Sunye tiba-tiba memanggilnya. Namun sejurus kemudian, ia tersenyum dan mendekati meja Sunye.

“Bunga.. bunga lily putih itu.. dari siapa?”

“Oh? Bunga itu? Dariku.”

“Darimu? Tapi.. kenapa kau memberiku bunga?” tanya Sunye lagi.

Donghae tersenyum tipis sekali lagi sebelum menjawab pertanyaan Sunye.

Agasshi yakin ingin tahu jawabannya?”

Sunye mengangguk perlahan dengan ekspresi wajah yang masih bingung.

“Aku hanya ingin Agasshi tersenyum. Sudah dua puluh hari Agasshi datang ke café ini tapi aku belum pernah melihat Agasshi tersenyum. Tapi, kurasa aku salah langkah. Saat kuberi bunga lily putih kemarin, Agasshi malah menangis.”

Sunye melongo mendengar jawaban simpel namun berarti bagi dirinya. Laki-laki ini ingin melihatnya tersenyum? Biasanya keberadaannya tidak pernah dihiraukan oleh banyak orang di sekelilingnya. Mungkin mereka sudah menganggapnya setara dengan mayat hidup.

Dan Sunye memang merasa kalau dirinya mayat hidup. Berjalan tanpa arah kesana-kemari. Tanpa ada tujuan yang jelas untuk apa sisa hidupnya.

Tapi Lee Donghae ingin melihatnya tersenyum?

“Hari ini aku berusaha lagi, Agasshi. Aku ingin melihatmu tersenyum. Jadi aku beri kau bunga mawar ini. Tapi, apakah aku berpikir terlalu dangkal? Apakah semua perempuan senang jika diberi bunga?” tanyanya sambil menggaruk kepalanya.

Sunye menatap bunga di mejanya sambil mengangguk sedikit.

“Mungkin tidak semua orang. Tapi aku suka bunga. Terima kasih.”

Donghae tersenyum lebar lalu mengangguk.

“Semoga aku bisa melihat senyum Agasshi hari ini.” ujarnya sambil berbalik meninggalkan Sunye.

Sunye masih terdiam lalu mengangkat tangkai bunga mawar pink pucatnya. Ia tidak menyangka akan datang hari ini. Hari dimana ia merasakan sedikit sentuhan kasih dari orang di sekitarnya. Hatinya yang masih membeku kini sedikit berontak.

Atau mungkin ia sedikit berlebihan. Waiter tampan itu hanya menjalankan tugasnya untuk menyenangkan hati pengunjung café. Agar ia kembali datang kesini. Agar ia menjadi pelanggan tetap di café yang cozy ini.

Sunye mencampakkan tangkai bunga mawar itu ke atas meja. Begitu bodohnya ia mau percaya akan datang lagi kehangatan dari cinta yang sudah lama menjauh darinya itu. Hatinya yang membeku kini terdiam kembali.

Ia tidak menyadari kalau tingkahnya barusan menghasilkan tatapan kecewa dari sepasang mata tajam yang tidak melepaskan pandangannya sejak ia meninggalkan meja nomor 24. Kembali menulis lembar polaroidnya dengan hati yang tiba-tiba muram.

Hari ke-20. Nihil, tidak ada senyum.

***

Donghae melangkah bersemangat mendekati meja nomor 24, di hari ke-24 gadis itu menjadi pelanggan setia secangkir caramel macchiato buatan tangannya. Sejak enam hari yang lalu pula, Donghae tidak pernah lupa menaruh sekuntum bunga di atas serbet putih, tepat di sebelah cangkir caramel macchiato yang dipesan gadis itu.

Karena gadis itu menyukai bunga. Donghae ingin sekali membuat gadis itu bahagia dan akhirnya tersenyum. Satu hal yang ingin Donghae saksikan sejak gadis itu datang ke café ini dan membuatnya penasaran setengah mati. Senyum gadis itu.

Ia ingin melihat senyum gadis itu tercetak di lembar polaroidnya. Biarkan itu menjadi lembar polaroid terakhirnya mengenai gadis itu. Asalkan ia bisa membawa senyum itu sebagai sepotong kenangan dirinya tentang gadis itu.

“Secangkir caramel macchiato hangat untuk Agasshi.” ujar Donghae. Entah mengapa hari ini ia sedang gembira. Mood-nya sedang luar biasa bagus. Bahkan tingkah menyebalkan Kyuhyun tidak membuat senyumnya menghilang.

Gadis itu mendongak menatap Donghae.

Caramel macchiato hangat? Bukankah aku memesan yang dingin?” tanyanya heran.

“Udara hari ini agak mendung, Agasshi. Lebih enak meminum yang hangat daripada yang dingin. Aku tidak ingin Agasshi sakit.”

Gadis itu kembali menatapnya dengan pandangan yang nyaris setiap hari ia terima. Ekspresi tersentuh dan senang yang bercampur dengan kabut kebingungan yang kembali belum bisa Donghae sibak.

“Hmm.. begitu? Kalau begitu terima kasih sudah mengkhawatirkan keadaanku. Dan, terima kasih mawarnya.” ujarnya sambil mengangkat tangkai mawar putih yang baru saja Donghae taruh. Seperti biasa, di atas serbet putih.

Donghae mengangguk sambil beranjak meninggalkan gadis itu. Namun kemudian ia kembali ke meja nomor 24. Ia agak ragu sebentar, namun akhirnya memutuskan untuk menarik kursi tepat di hadapan gadis itu. Gadis itu agak terkejut namun kemudian melanjutkan mengaduk minumannya.

Agasshi, bolehkah aku menanyakan sesuatu?” tanya Donghae membuka pembicaraan.

“Apa yang ingin kau tanyakan, Lee Donghae-ssi?” respon gadis itu.

“Kau tahu namaku?” tanya Donghae. Gadis itu meliriknya sebentar lalu mengangguk.

“Tentu aku tahu. Setiap pegawai di sini punya nametag. Begitu juga dirimu. Aku juga tahu nama waiter yang sering mengobrol denganmu. Namanya Cho Kyuhyun.” jawab gadis itu.

Donghae tersenyum lalu mengulurkan tangannya.

“Kalau begitu, siapa nama Agasshi? Bolehkah aku mengetahuinya?” tanya Donghae. Nada bicaranya terdengar agak terlalu bersemangat.

Donghae menangkap kalau gadis itu agak ragu-ragu sambil menatap tangannya yang masih terulur.

“Namaku Min Sunye.” jawabnya singkat sambil menyambut tangan Donghae. Tangan itu bahkan terasa dingin, kosong, dan hanya sekedar terulur. Tapi Donghae berusaha mengabaikannya.

“Mengapa Sunye-ssi sangat menyukai caramel macchiato?” tanya Donghae.

“Karena aku suka rasanya. Rasa manis lebih mendominasi rasa pahit,” jawabnya simpel.

“Hanya itu? Tidak ada maksud lain?”

Sunye hanya mengangguk sambil menatap Donghae bingung. Donghae tersenyum tipis.

“Minuman yang sedang kau minum adalah minuman yang cukup pas untuk merepresentasikan keinginan seseorang tentang kehidupan sempurna.” ujar Donghae. Sunye hanya memperhatikan Donghae seksama. Rasa ingin tahu yang menggunung terpatri dalam ekspresi penasaran di wajahnya.

“Rasa pahit espresso dalam minuman ini tertutup oleh rasa manis susu, vanilla syrup, dan caramel syrup. Menghasilkan satu rasa baru yang menjadi favorit banyak orang, salah satunya dirimu. Begitu pula kehidupan. Semua orang tidak pernah menyukai pahitnya kehidupan, mereka semua ingin merasakan manisnya kehidupan. Namun, manisnya kehidupan pasti pernah ditemani pahitnya kehidupan. Itu yang membuat hidup kita balance dan sempurna. Pahit dan manis bercampur menjadi satu rasa kehidupan yang baru.”

“Berarti hidupku tidak seperti caramel macchiato ini.” respon Sunye sambil menatap cangkir minumannya. Satu kabut duka kini kembali turun menutupi mata indahnya. Membuat Donghae bingung namun senang pada saat yang bersamaan.

“Hidupku adalah espresso ini. Pahit yang tidak berkesudahan.” ujarnya lagi.

“Benarkah? Memangnya hidupmu seperti apa?” tanya Donghae nothing to lose. Tidak berharap Sunye mau membeberkan cerita hidupnya begitu saja padanya.

Tapi ternyata dugaan Donghae salah. Sunye mulai bercerita tentang kepahitan hidupnya. Mulai dari ibunya yang meninggal saat melahirkannya, ayahnya yang juga kini meninggalkannya sendirian, sampai kekasih yang menikahi sahabat baiknya sendiri. Mengukir puncak kedukaan di hati Sunye. Menjadikan hatinya beku, tidak pernah tersentuh cinta.

Setetes airmata luruh di pipi Sunye tapi gadis itu dengan cepat menghapusnya. Bibirnya bergetar sedikit. Donghae bingung harus menanggapi apa. Rasanya ia ingin memeluk Sunye, membuat getaran hati gadis itu mereda.

“Maaf Donghae-ssi. Maaf kalau aku membuatmu.. terkejut. Maaf.”

“Tidak apa-apa Sunye-ssi. Kau tentunya lebih lega setelah menceritakannya padaku.”

Sunye tersenyum, sangat tipis hingga nyaris tidak terlihat.

“Terima kasih sudah mau mendengarkanku.”

“Bukan apa-apa. Dan..” Donghae agak ragu. Tepatkah jika ia mengatakan hal ini pada Sunye? Di saat-saat aneh seperti ini?

“Kalau kau membutuhkan teman untuk berbagi cerita, jangan ragu-ragu untuk menemuiku di sini.” lanjutnya.

Sunye sedikit terkejut lalu mengangguk perlahan. Donghae beranjak berdiri, kembali ke mejanya sendiri. Bersiap menyiapkan beberapa pesanan baru dari Kyuhyun yang mulai tidak sabar dan berkali-kali menoleh ke arahnya.

Donghae menoleh ke arah Sunye. Gadis itu tampak terdiam, seperti memikirkan sesuatu. Ia lalu mengangkat tangkai mawar putihnya, mencium aroma bunga itu.

Lalu ia tersenyum. Benar-benar senyum yang terlihat indah di bibirnya. Membuat mata cantiknya terlihat mengecil. Membuat wajahnya yang biasanya hampa dan kosong kini terlihat lebih berwarna. Membuatnya seratus kali terlihat lebih cantik.

Donghae terpaku menatap lembar polaroidnya. Ia tidak perlu menulis apapun untuk lembar polaroid yang satu ini. Senyum itu telah menjawab semua rasa penasarannya. Dan kini ia terjebak dalam masalah baru.

Rasanya ia jatuh cinta pada pemilik senyum indah ini.

***

Donghae melangkahkan kakinya menuju apartemennya di daerah Gwanghwamun. Ia menatap langit musim semi yang kini mendung itu. Ia menghela napas perlahan. Rasanya ia ingin protes. Mengapa awan kelabu itu sangat tepat menggambarkan suasana hatinya kali ini? Mengapa rasanya alam ikut-ikutan ingin membuat hati kelabunya semakin terasa?

Sejak hari ke-24, Sunye tidak pernah datang lagi ke café-nya. Membuatnya cemas, khawatir, dan sedih pada saat yang bersamaan. Tapi tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya selain menunggu Sunye di café. Karena tidak ada informasi lain yang diketahuinya tentang Sunye selain nama gadis itu.

Petir sesekali menggelegar. Mengirimkan pesan bagi semua penduduk Seoul bahwa hujan sebentar lagi akan turun.  Donghae merapatkan jaketnya, hingga menutupi seragam bernuansa cokelat-putih Brown Crème Café.

Saat mencapai persimpangan daerah Gwanghwamun, ia melihat dua sosok pria tinggi besar dan sesosok perempuan yang rasanya familiar di matanya sedang mengobrol akrab –atau bisa dibilang begitu karena Donghae melihatnya dari jauh- sampai ia melihat salah satu pria tinggi besar itu mendorong –atau menampar- si perempuan hingga jatuh tersungkur ke tanah.

Perempuan itu berteriak kesakitan. Dan suara lirih yang berteriak itu mengingatkan Donghae pada seseorang. Juga mantel berwarna khaki itu. Apakah perempuan itu Sunye?

Donghae melangkahkan kakinya mendekati perempuan itu. Ada suatu urgensi asing di hatinya dan membuatnya kini setengah berlari. Dan benar saja.. Sunye yang terbaring di sana. Dengan ujung bibir yang berdarah dan pipi yang memerah dan menunjukkan bekas tamparan yang jelas di sana.

“Sunye-ssi??!” teriak Donghae. Mata Sunye langsung mencari-cari si pemanggil namanya. Saat matanya sudah melihat Donghae yang berlari mendekat, Sunye langsung menggelengkan kepalanya, seakan menyuruhnya pergi dengan segera dari situ.

Ketika Donghae sampai, kedua pria bertubuh besar itu menatapnya dengan tatapan sangar. Tangan mereka yang berotot dihiasi tato naga hingga menutupi sebagian besar tangannya.

“Siapa kalian? Dan mengapa kalian memukulnya?” tanya Donghae langsung.

“Tidak usah ikut campur. Atau kau akan berakhir seperti dia.” ujar lelaki bertato pertama. Warna kulitnya hitam dan matanya bulat menyeramkan.

“Tapi kalian tidak mungkin kan memukulnya tanpa sebab?”

“Perempuan ini sudah melewati dua minggu dari deadline pengembalian hutang ayahnya. Dan sekarang pun dia tidak punya uang untuk membayarnya.”

Hutang ayahnya? Sunye tidak mengatakan soal yang satu ini pada Donghae.

“Kami akan membawanya pada Bos kami. Entah apa yang ia lakukan pada gadis ini. Kalau beruntung, gadis ini hanya akan dijadikan pelayan di club miliknya. Jika ia tidak beruntung, mungkin dia akan dijual dengan harga mahal.”

Kedua laki-laki itu tertawa terkekeh-kekeh, menyebalkan sekaligus menjijikkan. Membuat Donghae mendengus jijik dan kehilangan kesabaran. Dibantunya Sunye berdiri dan dengan cuek ia menarik Sunye pergi dari situ.

“YAH! Apa yang kau lakukan?” teriak kedua lelaki itu hampir bersamaan. Donghae merasa tautannya dengan Sunye dipisahkan, tangannya ditarik dan dalam sekejap ia merasakan satu pukulan telak di wajahnya. Rasa asin darah menyebar dengan cepat di mulutnya. Ia jatuh tersungkur dan satu tendangan telak menghantam perutnya.

“Donghae-ssi! LARI! CEPAT LARI!” samar-samar Donghae mendengar teriakan Sunye yang dikaburkan oleh suara tetes hujan yang mulai membasahi tanah Seoul.

Diantara titik-titik hujan yang mulai deras menghujam bumi, Donghae melihat Sunye yang kini ditarik menjauh darinya. Dengan mengabaikan kepalanya yang mulai berdenyut nyeri dan perutnya yang mulai berontak untuk memuntahkan isinya, Donghae bangkit berdiri.

Selanjutnya, ia hanya ingat menghujani dua pria besar itu pukulan dan tendangan yang membabi buta. Yang ia ingat di tengah hujan deras itu hanya pukulan, tendangan, lebam, dan cipratan air bercampur darah. Saat kedua pria besar itu jatuh tersungkur, Donghae segera menarik tangan Sunye dan membawanya lari secepat yang ia bisa.

***

Sunye melangkahkan kakinya bolak-balik dari dapur menuju ruang santai di apartemen minimalis milik Donghae. Dengan cekatan, ia mengambil satu baskom air dingin dan handuk. Mulai mengobati lebam-lebam yang kini memenuhi wajah Donghae. Bibir dan pelipisnya sobek dan berdarah. Sementara pipinya dipenuhi dengan lebam yang kini membiru.

“Terima kasih Sunye-ssi. Sepertinya kau sangat handal dalam menangani luka-luka seperti ini.”

Sunye tersenyum tipis.

“Aku sering menangani ayahku saat ia pulang dalam keadaan mabuk dan lebam di seluruh tubuhnya. Jadi, lukamu sekarang belum ada apa-apanya, Donghae-ssi.” jawabnya perlahan.

Donghae menatap duka yang tiba-tiba menghiasi manik mata cokelat itu. Lagi-lagi kabut duka yang selalu terlihat di mata itu. Kapan ia bisa mengubah kabut duka itu berubah menjadi cahaya kebahagiaan sarat yang terpancar di mata Sunye?

“Donghae-ssi, terima kasih banyak. Seharusnya kau tadi tidak menyelamatkanku. Kau jadi babak belur seperti ini.”

Donghae tertawa kecil, terdengar seperti mendengus.

“Kau ini bercanda? Dan mereka akan membawamu pergi? Dan kau bisa-bisa dijual dengan harga mahal? Orang-orang seperti itu seharusnya mendapatkan lebih dari sekedar pukulan atau tendangan, Sunye-ssi.”

Sunye tersenyum sambil mencelupkan handuk itu ke baskom penuh air es dan mengobati lebam Donghae yang lainnya.

“Tapi aku tetap tidak enak padamu. Kita baru saja berkenalan dan kau langsung jadi sasaran para penagih hutang gila itu.”

“Memangnya hutang ayahmu besar pada lintah darat itu?”

Sunye menghela napas pelan.

“Satu juta won. Itu didapatkannya dari hasil berjudi dengan kawanan lintah darat itu. Lebih buruk lagi, kebiasaan judinya itu ditambah dengan kegemarannya mabuk-mabukan. Livernya hancur sebelum sempat membayar semua hutangnya dan membebankannya pada anak semata wayangnya.” jawab Sunye datar. Seakan masalah itu sudah ia hapal di luar kepalanya.

“Dan sekarang kau yang membayar hutangnya?”

“Siapa lagi yang mau membayarnya kalau bukan aku? Sekarang masih sisa setengahnya.”

“Kau bekerja?” tanya Donghae.

Sunye mengangguk sambil mencelupkan handuk itu ke dalam baskom.

“Ya, rasanya semua pekerjaan halal sudah kulakukan. Mengantar susu dan koran di pagi hari sampai menjaga mini market di malam hari. Tapi akhir-akhir ini pengeluaranku bertambah banyak. Aku jadi tidak bisa menyisihkan pengeluaranku untuk membayar hutang itu. Dan akhirnya mereka datang menagih.”

Mereka terdiam beberapa saat. Tidak memiliki kata-kata untuk dilontarkan satu sama lain.

“Baiklah, baiklah. Lebam-lebam di wajahku sudah lebih baik. Saatnya kau beristirahat dan ganti bajumu. Itu basah kuyup.”

“Berganti baju? Dengan apa? Bajumu? Atau baju perempuan yang sering menginap di sini?” tanya Sunye.

Donghae tertawa.

“Yang ada di sini memang hanya bajuku. Ayo, kuantar kau ke kamarku. Obrak-abrik saja lemariku dan cari pakaian yang cocok untukmu.”

Sunye terdiam sebentar sebelum mengangguk dan mengucapkan satu kata terima kasih lagi pada Donghae.

“Terima kasih sekali lagi, Donghae-ssi.” ujarnya sambil tersenyum.

***

Sunye terbangun dengan perasaan nyaman yang tidak bisa dideskripsikan apa penyebabnya. Entah karena ini tidurnya yang paling nyenyak selama beberapa bulan terakhir. Entah karena ia berhasil selamat dari para penagih hutang yang menyeramkan itu. Entah karena perhatian berlebihan dari sang penolong yang menyelamatkannya kemarin.

Atau bahkan perhatian berlebih itu kini membuatnya bimbang. Sudah lama tidak ada orang yang memperhatikannya seperti Donghae membuatnya terjebak dalam atmosfer asing. Ada berbagai macam pikiran yang bercampur dengan perasaan yang membuat otaknya agak terasa limbung tiba-tiba. Tapi ia mengesampingkannya dan membuka tirai yang menutupi kamar rapi namun sederhana itu. Mengernyitkan mata menyambut sinar matahari yang mulai menyoroti kamar tidur Donghae.

Ia merapikan hoodie Donghae yang ia pakai semalaman untuk tidur. Berwarna soft pink dan bergambar tokoh kartun Pororo. Ia sempat tertawa ketika menemukannya semalam, ternyata Donghae mempunyai sisi cute yang tidak terduga. Walaupun si pemilik sudah berkali-kali menyanggah kalau ia tidak pernah memakainya sekalipun. Tapi membayangkan Donghae memakai hoodie ini cukup bisa membuatnya tersenyum.

Sunye meregangkan tubuhnya sedikit. Saat tangannya membentang, ia tidak sengaja menyenggol sebuah kotak sepatu lama yang terletak di atas laci. Kotak itu terjatuh, tutupnya terbuka, dan berlembar-lembar foto polaroid kini berserakan memenuhi lantai.

Sunye tercengang dan otomatis membungkuk dan memunguti foto-foto itu. Hanya dalam sekali lihat, ia bisa tahu kalau wajah yang tercetak di semua lembar foto itu adalah wajahnya. Itu momen-momen dirinya saat rajin mengunjungi Brown Crème Café. Foto-foto itu didominasi ekspresi wajahnya yang tengah menatap kosong. Donghae sangat rajin memberikan caption di setiap foto-fotonya. Hanya satu foto yang tidak memiliki caption. Satu-satunya foto yang terlihat sangat berbeda. Foto saat dirinya tersenyum. Donghae hanya menggambar hati kecil di sudut lembar polaroidnya.

Berbagai macam perasaan campur aduk di hatinya, namun didominasi perasaan kesal bercampur bimbang. Lamunannya putus saat ada yang membuka pintu kamar. Kepala Donghae menyembul dari balik pintu dan pria itu langsung tersenyum pada Sunye.

“Sunye-ssi? Sudah bangun rupanya?” tanya Donghae sambil membuka pintu. Sunye mendongak menatap Donghae dengan beberapa lembar Polaroid masih ada di tangannya. Mata tajam Donghae melebar seketika melihat benda apa yang tengah dipegang Sunye.

“Ah, aku bisa menjelaskan tentang foto-foto itu, Sunye-ssi.”

Sunye mendengus pelan.

“Jadi selama ini kau menjadi semacam stalker bagiku? Apakah aku yang begitu menyedihkan dan melamun berjam-jam di café-mu adalah objek yang menarik untukmu?” Sunye melempar lembar-lembar itu ke lantai.

“Aku bisa menjelaskannya Sunye-ssi. Aku bisa menjelaskannya.”

“Walaupun aku gadis yang terlihat sangat menyedihkan, walaupun hidupku yang pahit tidak berarti apa-apa untukmu, aku masih punya privacy yang harus kau hargai, Donghae-ssi.”

“Maafkan aku, Sunye-ssi. Tapi kumohon dengarkan dulu penjelasanku..”

“Kau tahu, ini sangat menggangguku.” potong Sunye. Ia beranjak bangkit dan berjalan melewati Donghae. Bergegas keluar dari kamar.

“Karena aku jatuh cinta padamu, kau dengar?” ujar Donghae yang membuat langkah Sunye terhenti. Ia menahan diri untuk tidak menoleh dan berhadapan langsung dengan Donghae.

“Sejak aku melihat senyummu beberapa hari lalu atau bahkan saat kau pertama kali datang ke café. Duduk di kursi yang sama setiap hari, melakukan kegiatan yang sama setiap hari.”

Donghae membalikkan badannya menghadap Sunye yang masih membelakanginya.

“Aku sangat penasaran dengan senyummu. Awalnya aku berjanji, sekali saja aku bisa melihat senyummu, aku berjanji akan melupakanmu. Tapi ternyata tidak, aku terjatuh lebih dalam lagi. Rela memiliki lebam di sekujur tubuhku demi menyelamatkanmu. Aku mencintaimu, Sunye-ssi.”

“Kita baru beberapa hari berkenalan. Jangan sok mengatakan kau mencintaiku.”

“Tapi ini kenyataannya. Ini perasaanku yang sesungguhnya. Aku mencintaimu.” jawab Donghae.

Sunye mengepalkan tangannya. Matanya mulai basah.

Cinta.

Ia kini hadir lagi dalam hidup Sunye. Datang dari seorang asing yang baru beberapa hari ia kenal. Akankah ia siap menerima cinta lagi dalam hidupnya? Akankah cinta itu tidak akan pergi lagi meninggalkannya? Ia sudah bosan ketika ia disapa oleh cinta, menikmati cinta dengan sepenuh hatinya, tapi cinta yang selalu ia agungkan itu sendiri yang mencampakkannya.

Sunye menghela napas perlahan. Setitik kehangatan membasahi pipi tirusnya.

“Maaf. Tapi aku belum siap untuk semua ini, Donghae-ssi. Maaf.” bisiknya lirih. Ia menatap kosong sambil merasakan hatinya yang mulai bertingkah aneh. Berdenyut nyeri di saat ia mengatakan kalimat itu. Kalimat yang ia tahu sendiri kenyataannya. Bohong besar.

Sunye melangkahkan kakinya keluar dari kamar Donghae, sedangkan Donghae masih berdiri diam, terpaku di tempatnya. Suara pintu yang ditutup kencang terdengar. Pertanda Sunye sudah meninggalkan apartemennya.

Donghae menghela napas perlahan. Merasakan kehampaan besar di hatinya yang tiba-tiba terasa.

***

Senja menjelang. Menghasilkan temaram warna oranye yang mulai merangsak masuk melalui sela-sela jendela dan ventilasi apartemen kecil itu. Menambah suasana semakin dramatis. Ditambah si pemilik kamar tidak beranjak dari posisinya sejak pagi tadi. Duduk termenung, melipat lututnya, dan menaruh dagunya di situ. Matanya kosong tapi otak dan hatinya sedang berperang. Berperang untuk memutuskan. Menerima atau menolak cinta yang ditawarkan Donghae padanya.

Satu hal yang pasti adalah ia tahu cinta yang ditawarkan Donghae tulus padanya. Di saat orang-orang tidak peduli pada perempuan miskin dan tidak mempunyai masa depan sepertinya, Donghae malah dengan sukarela mengulurkan tangan bahkan mengulurkan cintanya untuknya. Sekarang masalah utama hanya tinggal hatinya. Apakah ia siap atau tidak untuk kembali membuka hatinya untuk cinta itu.

Saat langit semakin gelap, Sunye beranjak berdiri untuk menyalakan saklar lampu. Memberikan penerangan di tengah apartemennya yang turut gelap. Saat itulah ia mendengar suara-suara kecil di depan pintu apartemennya. Lalu ia mendengar ketukan kecil di pintunya, tapi setelahnya sunyi. Dan terdengar suara seorang pria yang bersenandung.

Ia mendekati pintunya untuk mendengarkan lebih jelas. Suara itu mengalun lembut, menyanyikan syair dari salah satu lagu favoritnya. Sejak dulu ia selalu bermimpi akan ada satu orang laki-laki yang akan menyanyikan lagu ini untuknya.

Your cold hands; your trembling lips,
You bear it as if nothing has happened
Are you afraid of reminiscing somebody?
Forcing yourself to swallow the words you wish to speak
Your disregard is starting to melt away, just like the white snow

Like the stars which don’t leave the darkened sky,
Being together forever by the faith of love,
If I could be that person,
I’ll embrace your solid heart with eternal warmth

Even if your heart is in pain, after confronting with reality,
At the end of each tears, there’s a stream of light,
Which will light up the dark, and sink into time

In the unbearable heart, which has stopped,
We can feel each other with this warmth

The scars and sighs everybody holds,
Everybody is looking for a place to embrace them,
I, just to one person, just to you,
I’ll be part of your beautiful world

Like the stars which don’t leave the darkened sky,
Being together forever by the faith of love,
If I could be that person,
I’ll embrace your solid heart with eternal warmth

-=Love In The Ice – DBSK=-

Sunye merasakan tangannya gemetar sambil memegang gerendel pintu yang kini menjadi satu-satunya sandarannya. Airmatanya kembali menetes. Ia tahu suara ini. Ia tahu siapa yang menyanyikan lagu itu untuknya. Tapi tangannya tidak bergerak untuk membuka pintu apartemennya dan memeluk pria itu. Ia masih terdiam di tempatnya. Terlalu bingung dan tersentuh untuk melakukan hal yang sudah ingin ia lakukan sejak Donghae pertama kali mengatakan cinta padanya.

Ia mendengar helaan napas panjang lalu sunyi sekali lagi. Kali ini tidak terdengar apapun. Dengan pikiran yang masih limbung, ia membuka pintu dan menemukan bungkusan kecil di depan pintunya. Hanya berisikan pakaian yang kemarin ia pakai saat menginap di apartemen Donghae. Yang kini sudah wangi dan terlipat rapi.

Rasa penyesalan yang datang sangat tiba-tiba menyelusup di hatinya. Anehnya, Sunye merasakan lagi rasa yang ia rasakan saat kekasihnya mengajaknya bertemu dan memutuskan untuk menikahi sahabat baiknya. Rasa kehilangan yang kini mulai merayap memenuhi rongga dadanya.

Apakah ia sudah terlambat? Apakah ia tidak bisa mengejar Donghae dan mengatakan bahwa..

Ia juga menyayangi Donghae.

***

Perjalanan menuju Brown Crème Café kali ini terasa sangat panjang. Jalan dari perempatan Gwanghwamun hingga lokasi café itu terasa sangat jauh dan ia tidak sampai juga, sekalipun Sunye melangkahkan kakinya cepat-cepat. Ia tidak sabar ingin sampai di café cozy itu dan menemui satu orang yang sudah memenuhi pikirannya akhir-akhir ini.

Apa maunya Lee Donghae itu?

Ia sudah rela mendapatkan lebam di sekujur tubuhnya hanya untuk menyelamatkan Sunye. Lelaki itu sudah menawarkan cinta yang tulus untuknya, tetap datang padanya lalu menyanyikan salah satu lagu favoritnya walaupun Sunye sudah menolak cintanya secara sepihak. Dan sekarang coba tebak apa yang dilakukannya? Donghae datang pada kawanan lintah darat itu dan membayar lunas semua hutang ayahnya yang masih tersisa. Membuat para penagih hutang yang biasanya memasang tampang seram ketika Sunye datang pada mereka, kini tersenyum ramah padanya.

Airmata sudah memenuhi pelupuk mata Sunye.

Apalagi yang akan dilakukan lelaki itu? Apalagi yang bisa Sunye minta darinya? Semua itu sudah membuktikan kalau Donghae mencintainya secara tulus, kalau tidak ada lagi yang diharapkan Donghae selain sambutan perasaan dari Sunye. Ini ketulusan bernilai sempurna yang pernah ditawarkan seseorang dalam hidupnya.

Langkah kaki Sunye melambat saat pelataran Brown Crème Café sudah terlihat. Kini matanya sibuk mencari-cari Donghae diantara waiter yang sedang berlalu-lalang kesana kemari. Tapi tidak ada seseorang berseragam cokelat-putih ber-nametag Lee Donghae yang ia cari.

“Maaf, Agasshi mencari seseorang?” tanya waiter yang kebetulan sedang lewat di dekatnya. Sunye menoleh dan menemukan Cho Kyuhyun sedang tersenyum padanya. Senyum tulus yang jarang terukir di bibir laki-laki ini. Biasanya hanya cengiran jahil yang ia lihat di situ.

“Cho Kyuhyun-ssi, apa kau melihat Lee Donghae-ssi? Mengapa sejak tadi aku tidak melihat sosoknya? Apakah ia tidak masuk kerja hari ini?” tanya Sunye cepat.

“Ah, Donghae Hyung? Kebetulan ia memang sudah tidak masuk kerja tiga hari terakhir ini. Ia mengambil cuti satu minggu. Katanya ada urusan pribadi yang super penting dan harus segera diselesaikannya. Bos kami menduga ia sedang mempersiapkan pernikahannya.” jawab Kyuhyun santai. Tidak mempedulikan Sunye yang kini sedang ternganga mendengar jawabannya.

“Per.. pernikahan?”

Kyuhyun tersenyum kecil. Itu cengiran jahilnya yang biasa. Sayang Sunye terlalu panik untuk menangkap senyum Kyuhyun yang satu itu.

“Itu hanya dugaan Bosku saja, Agasshi. Jangan terlalu terkejut seperti itu. Donghae Hyung pergi ke Ansan. Entah apa yang dilakukannya di sana. Mungkin hanya mengunjungi saudara dekatnya sambil mencari suasana baru.”

“Ansan? Kapan dia pulang?”

“Mungkin tiga sampai empat hari lagi. Mungkin ia akan pulang akhir minggu ini.”

Tiga sampai empat hari lagi? Apakah Sunye bisa sabar menunggu selama itu? Apa Sunye mau menunggu hingga Donghae pulang ke Seoul empat hari lagi?

Tidak. Ia tidak mau.

“Terima kasih banyak, Kyuhyun-ssi. Kurasa aku harus buru-buru pulang sekarang.”

“Baiklah, hati-hati di jalan Agasshi. Jangan terlalu terburu-buru, kereta ke Ansan akan berangkat sekitar dua jam lagi!” teriak Kyuhyun yang entah terdengar atau tidak oleh Sunye yang kini sudah setengah berlari ke perhentian bus terdekat.

Kyuhyun tersenyum tipis. Ia tahu kalau Sunye memiliki perasaan yang sama dengan Donghae. Saat Kyuhyun menyebut kata ‘pernikahan’ gadis itu langsung pucat dan terburu-buru pulang. Dan Kyuhyun yakin, kini Sunye akan menyusul Donghae menuju Ansan.

Donghae Hyung, kau berhutang padaku. Bisiknya dalam hati.

***

Bunga-bunga cherry yang berguguran langsung menyambut Sunye saat ia sampai Ansan. Atmosfer musim semi yang manis bercampur langit senja yang kini menggelap menambah indah suasana Ansan. Aura romantis juga langsung terasa saat ia berjalan tanpa arah dari stasiun. Ia memutuskan untuk berjalan menuju taman besar yang sepertinya menjadi pusat aktivitas musim semi di tanah bunga ini.

Ansan Central Park. Begitu masyarakat di sini menyebut taman besar itu. Taman itu semakin marak karena dipenuhi warna-warni bunga musim semi yang mulai berkembang. Berpadunya cerah kuning bunga Gaenari dan romantis merah muda Azalea memanjakan mata semua yang melihat. Banyak muda-mudi yang berpasang-pasangan terlihat asyik menghabiskan waktu dan menikmati suasana musim semi di Ansan yang memang sangat menyenangkan.

Sedangkan Sunye sendirian, masih berjalan tanpa arah dan hanya mengikuti kemana kakinya ingin melangkah. Terlihat berbanding terbalik dengan keadaan sekitarnya. Tapi untungnya atmosfer manis dan romantis ini bisa membuat Sunye tersenyum. Di tengah kesibukan matanya mencari-cari sosok yang dicarinya di tengah keramaian ini.

Langkah kaki Sunye terhenti saat matanya menangkap sesuatu yang aneh namun menarik tepat di tengah taman. Ia tersenyum melihat pemandangan di hadapannya. Dua pohon besar terletak bersebelahan dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Salah satu juluran cabang rantingnya masing-masing terjulur, melengkung, dan bertemu di tengah-tengah. Dua pohon itu seakan membentuk sebuah bentuk hati yang sangat besar. Sunye membaca papan kayu yang terletak di dekat pohon itu.

The Tree of Love. Found your love under this magical tree.

Beberapa lampion beraneka warna tampak digantung di beberapa rantingnya. Menambah kesan magis pohon unik itu yang kini terlihat indah dengan dilatarbelakangi campuran langit senja dan sapuan tipis gelap dari malam yang akan segera datang. Sunye berjalan beberapa langkah mendekatinya. Sampai matanya menangkap sosok seorang laki-laki yang sedang duduk di bangku taman, tepat di tengah pohon ‘cinta’ itu.

Tanpa sadar Sunye tersenyum. Laki-laki itu tampak tengah menikmati semilir angin musim semi yang sesekali menerpa wajahnya. Telinganya disumbat earphone dan kakinya secara perlahan mengikuti beat lagu yang sedang didengarnya. Di tangannya terdapat sebuket bunga lily putih besar. Seakan sedang menunggu kekasih yang dicintainya, memberikan buket itu kepadanya, dan mereka akan menikmati musim semi ini bersama-sama.

Laki-laki itu menoleh dan matanya langsung tertumbuk menatap mata Sunye. Matanya melebar ketika melihat Sunye namun sedetik kemudian matanya mengecil karena ia kini tersenyum lebar.

”Mengapa kau baru datang sekarang? Aku sudah menunggumu di sini sejak dua hari yang lalu.” ujar laki-laki itu. Nada ucapannya terdengar sangat gembira.

Sunye masih terdiam dan tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya berjalan mendekati laki-laki itu. Menyentuh pipi laki-laki itu. Meyakinkan dirinya kalau ini kenyataan dan bukan mimpi. Saat ia benar-benar menyentuh Donghae, Sunye tersenyum tipis sambil menatap mata tajam di hadapannya.

“Aku ini bodoh. Tidak bisa melihat seseorang melakukan hal yang begitu tulus untukku.”

Donghae hanya tersenyum. Ia sudah sangat merindukan suara lirih namun lembut itu, yang sudah beberapa hari ini tidak didengarnya. Karena Sunye tidak datang lagi ke café-nya, tidak mau berbicara dengannya.

“Kejadian masa lalu memang membuatku asing dengan kehangatan cinta dari orang lain. Aku butuh cinta, tapi cinta itu selalu menjauh dariku. Aku masih takut, masih gemetar kalau aku akan dibuatnya terpuruk kembali, akan dibuangnya begitu saja.”

Donghae menggenggam tangan Sunye yang memang terasa gemetar dan dingin di tengah suasana hangat musim semi. Ia tersenyum sedikit.

“Kau pernah bilang kalau hidupmu sepahit espresso. Tapi kau tidak pernah tahu kapan Tuhan akan memberikan beberapa campuran vanilla syrup, susu, dan caramel syrup ke dalam hidupmu. Dan, mungkin aku salah satunya. Seseorang yang ingin selalu membuatmu sadar kalau hidupmu tidak selalu pahit. Dan senyum di wajahmu sekarang adalah jawabannya. Akhirnya kau bisa merasakan manis dalam hidupmu kan?”

Sunye tersenyum lagi. Lebih lebar. Lebih tersentuh.

“Dan.. Apakah aku.. belum terlambat? Untuk.. err.. menerima cintamu?” tanya Sunye sedikit terbata.

Donghae hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan Sunye itu. Sunye pun hanya memiliki beberapa mili detik kesempatan untuk menutup matanya. Karena Donghae menjawab pertanyaannya disertai dengan kejutan untuknya.

Donghae menghadiahi kecupan kecil di bibirnya.

“Tidak pernah ada kata terlambat untuk yang satu itu, Sunye-ya.” ujar Donghae sambil mengedipkan matanya. Sunye yang masih belum tersadar dari keterkejutannya hanya bisa melongo mendengar perkataan Donghae.

Donghae mengambil buket lily putihnya lalu menyerahkannya pada Sunye.

“Orang bilang bunga ini adalah bunga yang melambangkan cinta sejati namun diliputi kedukaan. Tapi bunga yang kuserahkan padamu ini tidak seperti itu. Ini lambang cinta sejatiku padamu, tapi aku berjanji akan menghilangkan kedukaan itu dari hidupmu.”

Sunye tersenyum sambil menerima buket itu. Bunga lily putih sempat menjadi bunga favoritnya dan sempat pula menjadi saksi bisu bagaimana cinta mengkhianatinya. Tapi malam ini, bunga ini menjadi lambang cinta tulus dari Donghae untuknya.

“Jadi, mulai detik ini, jangan memanggilku Donghae-ssi. Panggil aku Chagiya atau Yeobo juga boleh.”

Sunye tergelak sedikit.

“Tidak mau. Memanggilmu Oppa rasanya terdengar lebih special dan romantis bagiku.” ujarnya.

“Baiklah, baiklah terserah padamu ingin memanggilku apa. Tapi, aku telah mempersiapkan tempat terbaik bagi sepasang kekasih baru untuk menikmati suasana musim semi yang romantis. Jadi, ayo berjalan-jalan denganku malam ini.” ujar Donghae sambil menggenggam tangan Sunye yang mulai terasa hangat. Ia melirik kekasihnya yang kini tengah tersenyum bahagia. Akhirnya ia bisa menyibak kabut duka yang selalu terlihat di situ. Dan akhirnya, ia bisa melihat pancaran sinar kebahagiaan dari mata Sunye.

Dan Sunye tidak pernah merasakan kebahagiaan yang begitu membuncah seperti malam ini. Donghae sudah memperlihatkan padanya kalau masih ada kebahagiaan di dunia ini yang bisa ia rengkuh. Masih ada cinta yang mau menghampirinya dan melumerkan kebekuan hatinya dan menariknya dari kegelapan hidupnya selama ini.

Sunye melirik buket lily putihnya. Mulai malam ini, bunga ini kembali menjadi bunga favoritnya. Bahkan lebih.

The End

Posted with WordPress for BlackBerry.

18 thoughts on “White Lily and Caramel Macchiato (FanFic by Freelance)

  1. Gia… Berkali-kali baca FF ini dan baerkali-kali juga deh diriku jatuh cinta hehehehehe ngedit FF ini juga jadi sangat menyenangkan karena cerita bagus gitu…

    I adore you Gia hehehehehe ƪ(•̃ε •̃ )ʃ

  2. Sooooo……..romantic….
    Coba ada film ato drama korea kaya gini..wiihh…pasti bagus banget deh!!

  3. so sweet..

    ngebayangin donghae pke baju pelayan kyk d It’s Okay Daddys Daughter aja..hee..

    Good job..^^

  4. ahem ahem. *celingak celinguk*

    waaaawwww nana sayang thanks ya ff aku udah di repost.
    jadi lebih banyak yang komeenn.
    SENAANNGGGGG~

    terima kasih semuanyaaa.
    thanks juga nggak bashing sunye, hihi.

    GOMAWOOO~~
    #bowingbowing~

    • Authornya muncul hehehehehe…

      Sama-sama Gia sayang, Nana juga makasih banget sama Gia udah ngasih ijin FFnya di repost disini

      Dan seperti yang kita harapkan no bashing ke Sunye hehehehehe….

      Kalo aja FF yang laen cast SJ pasti udah Nana minta repost disini juga hehehehehehe

  5. Kyaaaaa~ baca ni FF dari awal sampai akhir ga bikin bosen.. Kata2nya indah, rapih, beneran bikin betah bacanya..😀. Keren!! Sukaaaaaaaa..😀 Ceritanya juga ngalir.. Aheeeem,, Sunye Eonnie how lucky you are, bisa mendapatkan pria baik hati seperti Lee Donghae Oppa. Utk Eonnie author,, salam kenal yaaa.. ^^ mauuu dong baca karya2nya Eonnie yang lain,, heuheu..

  6. annyeong authorrrrrrrrrrrrrr……..new reader nieh😀😀
    salam kenall……….*hug author

    huaaaaaaaaaaaaaa ceritanya daebak,,,curiga nieh,,jgn2 authornya penulis profesional yah..

    bahasanya,,,enak banget buat di baca,,,simple tapi bermakna *kirim 10ribu jempol gajah buat author q^_^p

    ya ampun so sweeeeeeeeeeeeeeeettttt banget,,,apalagi pairingnya sunhae *jiwa sunhae shipper muncul wkwkwkwkw #mian buat fansnya fishy

    _bow_

  7. Huaaaa…keren ff nya,romantis
    Kata2nya bagus,jadi bacanya bisa ngebayangin..
    Lee donghae,he is my bias,sarangHAE
    Sunye-shi..tolong jaga my fishy,dy pria berhati lembut yg punya mimpi besar untuk kebahagiaan alm.ayahnya

  8. waw daebak.. keren banget ni cerita,,
    wah apalagi baca koment yg diatas yg bilang kalo ni ff pasti bangus banget kalo di jadiin film..
    hehe,,,

    romantisnya FFUUULLLL…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s