Too Perfect (FanFic by Freelance)

Tidak ada kesempurnaan yang hakiki

Karena kesempurnaan hanya milik Tuhan semata

Dunia memang tak akan pernah memiliki kesempurnaan

Namun dunia dapat merasakan kesempurnaan dengan caranya sendiri

~oOo~

Kau tau kenapa? Karena kau terlalu sempurna untukku

Bagaimana bisa kau berpikiran bahwa aku terlalu sempurna untukmu?

Karena aku selalu bersyukur memilikimu…

~oOo~

Drrrt drrrt~

Ponselku bergetar, tanda bahwa ada pesan masuk. Aku mengambil ponsel yang tergeletak di meja dan membuka pesan itu.

From : My Hope

Hyo~ kau dimana?

Aku kemudian menekan keypad ponselku dan membalas pesannya.

To : My Hope

Aku sudah sampai Oppa… Kau dimana?

Neo gateun saram tto eopseo juwireul durebwado geujeo georeohdeongeol eodiseo channi Neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun ma eum neo gatchi joheun seonmul

Belum sampai aku meletakkan ponselku, ia kemudian bergetar dan melantunkan lagu kesukaanku. Aku melihat layar ponselku dan tersenyum.

Ne, Oppa,” kataku setelah menekan tombol answer.

“Hyo, kau sudah sampai?” tanya orang di seberang.

“Ne, aku sudah sampai. Apakah kau masih lama?”

“Maaf Hyo, sepertinya aku tidak bisa datang. Manager Hyung memberitahuku, ada yang ingin bertemu denganku dan membicarakan masalah iklan.”

Senyumku yang awalnya mengembang, kini telah pudar setelah mendengar apa yang diucapkan kekasihku. “Begitu? Baiklah, jaga dirimu baik-baik.”

“Pasti. Kau juga. Jaga dirimu baik-baik.”

Ne,” balasku singkat.

“Baiklah, bye!”

Bye!”

Aku menghela nafas panjang setelah sambungan telepon terputus. Tak tau apa yang harus aku lakukan sendirian di tempat ini, akhirnya aku memilih untuk pulang.

~oOo~

Hwan Jihyo, itulah namaku. Umurku 25 tahun. Kesibukanku sekarang adalah mengurusi usaha yang sudah aku rintis sejak 4 tahun yang lalu. Aku memiliki seorang kekasih yang merupakan leader dari salah satu boyband terbaik Korea yang popularitas dan kemampuannya tak perlu diragukan lagi. Semua tau siapa yang aku maksud, bukan? Ya, benar sekali, Super Junior. Aku menjalin hubungan dengannya sejak 3 tahun yang lalu. Namun selama 3 tahun juga, hubunganku dengannya tidak diketahui publik, karena memang kami sengaja untuk tidak membeberkan hubungan kami. Untungnya kami saling mengerti dan menjaga kepercayaan. Dua bulan lagi, kami berencana untuk melangsungkan pernikahan kami. Sehubungan dengan rencana kami itu, akhirnya mau tak mau kami perlahan menjelaskan pada para fans Super Junior tentang hubungan kami. Meskipun awalnya mereka banyak yang tak dapat menerima, tapi sekarang mereka sudah bisa menerima keputusan kami itu. Semuanya tentu berkat bantuan member Super Junior yang lain. Tapi sepertinya ada yang aneh dengannya. Beberapa minggu belakangan, dia terlihat seperti menghindariku. Apakah ada yang salah?

~oOo~

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamarku tanpa menghiraukan adikku yang memanggil-manggilku. Aku merebahkan tubuhku di kasur dan memejamkan mata, merasakan setiap rasa lelah yang menjalar ke seluruh tubuhku. Kembali kutarik nafas panjang, dan kukeluarkan lagi. Begitu seterusnya sampai kurasakan ada yang membuka pintu kamarku.

Eonni, kau kenapa? Sepertinya suntuk sekali,” kata adikku sambil melangkah masuk ke dalam kamarku dan duduk di sebelahku.

Aku merubah posisiku. Sekarang aku duduk bersandar di kasur. “Hanya merasa lelah,” jawabku sambil memaksakan sudut bibirku terangkat.

“Jangan bohong, aku mengenalmu. Tidak biasanya kau seperti ini. Cerita saja, apakah ada masalah dengan Teuki Oppa?”

Pertanyaan adikku kali ini tepat sasaran. Sejenak aku diam untuk mencari jawaban yang tepat. Aku tidak ingin adikku mengetahui kegelisahan yang aku rasakan. “Tidak, aku baik-baik saja dengan Teuki Oppa, tenang saja,” ujarku sambil mengacak rambutnya pelan.

“Benarkah?” tanyanya menyelidik.

Ne,” jawabku sambil menunjukkan senyum paling manis yang aku punya, “Hyunjin-ah aku lelah, bisakah aku istirahat?”. Sebenarnya aku ingin sendirian, tapi tidak mungkin aku mengusir Hyunjin secara terang-terangan.

Terlihat keraguan di wajah adikku ini. Apakah dia tak mempercayaiku? Ah, mungkin hanya perasaanku saja. “Baiklah, selamat tidur, Eonni,” dia melangkah keluar kamarku dan menutup pintu.

Kembali kulakukan kegiatanku, sama seperti sebelum Hyunjin datang. Memejamkan mata dan sesekali mengambil nafas panjang. Entahlah, sepertinya ini dapat membantu menenangkan pikiranku sekarang. Tanpa terasa, aku terus melakukan hal itu, sampai aku tertidur.

~oOo~

Pagi ini terasa sangat dingin, matahari tak menampakkan wujudnya. Sinarnya yang dapat menghangatkan dunia, seakan menghilang seiring membekunya hati. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku meminta kejelasan padanya?

Aku memutuskan untuk menghubunginya. Kuambil ponselku dan mulai menuliskan angka yang sudah sangat kuhafal. Kudekatkan ponsel pada telingaku dan menunggu jawaban dari seseorang di seberang. Nihil. Sampai beberapa kali aku mencoba menghubunginya, tetap tak ada respon. Aku memutuskan untuk mengiriminya sebuah pesan, dan berharap dia membacanya.

To : My Hope

Oppa, aku menghubungimu tapi tak ada jawaban. Bisakah kita bertemu nanti malam?

Kuletakkan ponsel di meja dekat tempat tidurku, kemudian bersiap untuk mengunjungi butikku.

~oOo~

Di ruangan inipun aku hanya dapat diam dan melamun, memikirkan apa yang sedang membuatku gelisah.

Eonni, ini desain baju dan sepatu yang baru, bagaimana menurutmu?” suara Hyunjin membuyarkan lamunanku. Aku memang memintanya membantu usahaku disini.

“Eh? Mworago?” tanyaku sedikit gelagapan.

“Kau melamun lagi, ya? Ini desain baju dan sepatu yang baru. Bagaimana menurutmu, Eonni-ku sayang?” katanya sedikit menggoda yang membuatku tersenyum.

Aku melihat desain yang dibawa oleh adikku. Namun tetap saja, pikiranku tak dapat fokus pada benda yang sedang aku pegang.

“Bagus, aku setuju,” kataku sambil menyerahkan kembali desain pada adikku.

“Baiklah, terimakasih Eonni,” kata Hyunjin sambil tersenyum dan meninggalkan ruanganku. Sesampainya di depan pintu, dia berbalik dan berkata, “Tidak baik melamun terus, ceritakan saja jika kau ada masalah,” dia kemudian keluar dan menutup pintu.

Aku tersenyum mendengarkan apa yang dikatakan adikku. Apakah aku terlihat seperti orang yang sedang mengalami masalah? Kuacak rambutku frustasi. Aku juga tak ingin terlalu memikirkan hal ini, aku berharap ini semua hanya perasaanku saja, karena aku sangat mencintainya.

Drrrt drrrt~

Aku mengambil ponselku dan segera membuka pesan yang baru saja masuk. Jantungku berdetak lebih cepat, berharap pesan ini darinya.

From : My Hope

Baiklah, nanti jam 8 malam kita bertemu di tempat biasa.

Reflekku bekerja dengan baik, sudut bibirku terangkat setelah membaca pesan itu. Akhirnya aku bisa bertemu dengannya. Rasanya sudah sangat lama saat terakhir kali aku bertemu dengannya. Berbagai perasaan muncul seketika. Dan dari berbagai macam perasaan itu, aku menyadari sesuatu. Aku sadar bahwa aku… sangat merindukannya.

~oOo~

Aku duduk di salah satu meja yang memang disiapkan untukku dan Teuki Oppa. Meja yang tak semua orang bisa menempatinya, karena meja ini disediakan khusus untukku. Restoran ini milik sahabatku, dia yang mengatur tempat untukku dan Teuki Oppa bertemu agar tak diketahui orang. Entah kenapa, sekarang ini jantungku bekerja lebih keras dari biasanya. Kurasakan semakin lama jantungku berdetak lebih cepat. Aku mengenalnya sudah lebih dari 3 tahun. Selama itu pula aku tak pernah merasakan hal semacam ini, kecuali saat dia memintaku untuk menjadi kekasihnya dan saat dia melamarku. Kulirik jam tangan yang kukenakan. Beberapa menit lagi aku akan bertemu dengannya. Ya Tuhan, kuatkan aku.

15 menit berlalu, hingga akhirnya…

“Hyo,” panggil seseorang yang sangat kukenali suaranya, seseorang yang beberapa hari ini membuatku kelimpungan dengan sikapnya.

Aku mendongakkan wajahku dan menatap wajahnya. Dia tersenyum, senyum yang sangat aku rindukan. Dia mendekatiku, memelukku, dan mencium keningku, hal yang selalu dilakukannya setiap bertemu denganku, dan itu sudah merupakan rutinitas wajibnya. Kurasakan mataku memanas. Apa ini? Aku tak boleh menangis sekarang. Aku berusaha untuk menahannya.

“Maaf terlambat. Sudah lama?” Teuki Oppa membuka percakapan.

Aku menggelengkan kepalaku sebagai jawaban atas pertanyaannya. “Bagaimana keadaanmu? Kau makan dan istirahat dengan baik, kan?”

Dia hanya tersenyum kecut. Mau tak mau aku juga ikut tersenyum kecut karena aku memang paham seperti apa kesibukannya. Sebagai leader Super Junior, aku tau, bisa makan teratur dan tidur 4 jam dalam sehari saja, itu pasti sudah merupakan hal yang sangat indah baginya.

“Kau sudah pesan makanan?”

“Belum Oppa, aku menunggumu,” kataku dan dibalas dengan senyumnya.

“Kau mau pesan apa?”

“Terserah Oppa saja.”

Setelah kami memesan makanan, terjadi keheningan beberapa lama diantara kami. Ah, aku benci saat-saat seperti ini. Aku sangat merindukanmu Oppa. Apakah kau tak tau itu? Katakan sesuatu yang bisa mengobati rasa rinduku padamu.

“Bagaimana keadaan butikmu? Semuanya baik-baik saja kan?”

Aku mengangguk. “Baik sekali Oppa, rencananya aku akan membuka satu cabang lagi,” kataku dengan senyum yang mengembang. Demikian juga dengan orang yang sekarang berada dihadapanku. Dia menunjukkan tawa cerianya.

Selama hampir satu jam kami membicarakan tentang kabar dan kegiatan kami masing-masing. Aku merindukan saat seperti ini. Saat bersamanya, saat kami tertawa bersama, saat kami berbagi suka dan duka.

Sepertinya ini waktu yang tepat untuk menanyakan hal yang beberapa hari ini mengganggu pikiranku. Saat aku hendak membuka mulut, tiba-tiba ponsel Teuki Oppa berbunyi dan ia segera mengangkatnya. Aku menunggunya selesai, dan aku harus segera menanyakan hal itu. Aku tak ingin pikiranku ini berlarut-larut.

“Hyo, aku harus segera pergi. Manager Hyung baru saja menelepon dan memintaku untuk segera menyiapkan diri untuk Sukira.”

“Begitu? Baiklah, kau pergi saja Oppa, jaga dirimu baik-baik,” pesanku padanya.

“Mau kuantar?” tawarnya.

“Bukankah kau harus segera menyiapkan diri untuk Sukira? Aku naik taksi saja,” kupaksakan bibirku terangkat dan membentuk seulas senyum.

“Kau yakin?” tanyanya memastikan.

“Tenang Oppa, aku baik-baik saja.”

“Baiklah, aku pergi, jaga dirimu baik-baik,” katanya sambil melakukan rutinitasnya wajibnya.

Aku tersenyum miris melihat punggungnya yang semakin menjauh. Baru saja senyum dan tawaku kembali, sekarang mereka telah menghilang. Hah, apa yang harus kulakukan disini sendirian? Tak ada? Berarti aku harus pulang. Kuambil tasku dan berjalan keluar restoran.

~oOo~

Satu minggu kemudian

Setelah pertemuan singkatku dengan Teuki Oppa saat itu, dia kembali sulit dihubungi. Apakah dia menghindariku? Dulu dia selalu memberikan kabar padaku setiap hari. Entah melalui telepon, atau melalui sms, dia selalu menyempatkan sedikit waktunya hanya sekedar untuk memberi tau bahwa dia baik-baik saja, atau mengingatkanku untuk makan dan istirahat yang cukup. Aku merindukan saat-saat seperti itu.

Aku sudah tak bisa bertahan dengan perasaanku ini. Aku harus segera mencari jawaban yang pasti. Masalah ini bisa membunuhku bila terus berada di dalam otakku tanpa menemukan jawaban yang pasti. Tapi siapa yang bisa membantuku? Ah, aku teringat seseorang yang mungkin bisa membantuku. Kuambil ponselku dan segera menghubunginya.

Yoboseyo,” jawab pria di seberang.

Yoboseyo, Oppa.”

“Ah, Jihyo-ya, ada apa?”

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan. Apakah kau ada waktu?”

“Sepertinya hari ini aku sibuk. Apakah ini ada hubungannya dengan Teuki Hyung?”

“Iya Oppa, aku ingin menanyakan sesuatu padamu tentang Teuki Oppa. Bagaimana kalau besok?”

“Besok sepertinya bisa. Sebelum siaran Sukira, aku tak ada acara.”

“Baiklah, besok aku akan menemuimu. Dimana tempatnya?”

“Terserah kau saja. Kau ingin kita bertemu dimana?”

“Terserah Oppa saja.”

“Baiklah, nanti akan kukirimkan alamatnya.”

Ne, terimakasih banyak, Oppa.”

“Sama-sama Jihyo-ya.”

~oOo~

Setelah mendapat pesan dari Yesung Oppa, aku langsung bersiap menemuinya. Aku berharap semoga dia bisa membantu menjernihkan pikiranku yang akhir-akhir ini kacau.

Sudah 30 menit aku menunggu Yesung Oppa, tapi dia tak juga menampakkan dirinya. Aku sadar, mereka memang memiliki segudang aktivitas sehingga kecil kemungkinannya mereka datang tepat waktu. Tapi aku yakin, mereka bukan tipe orang yang suka mengingkari janji.

“Jihyo-ya,” sapa seseorang yang berada di belakangku.

Aku membalikkan badan dan tersenyum melihat siapa yang datang. “Ah, Yesung Oppa.”

“Kau sudah lama? Maaf, aku terlambat,” katanya sambil sibuk membereskan jaket dan bawaannya.

“Tidak apa-apa, Oppa,” ujarku sambil tersenyum sembari menunggunya selesai melakukan aktivitasnya.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Yesung Oppa membuka percakapan.

Aku diam sejenak, ragu menyelimutiku. Apakah aku harus bertanya padanya tentang Teuki Oppa yang kurasa akhir-akhir ini sikapnya berubah? Aku harus tau kejelasannya.

“Maaf Oppa, apakah kau merasa sikap Teuki Oppa akhir-akhir ini berubah?”

Dia terlihat berpikir sejenak, kemudian menggeleng. “Aku rasa tidak ada yang berubah. Teuki Hyung masih tetap seperti biasanya. Wae?”

Ani~ aku hanya merasa akhir-akhir ini sikapnya padaku berubah”. Aku menghela nafas panjang setelah mengutarakan apa yang kurasakan beberapa minggu belakangan pada Yesung Oppa.

“Berubah?” tanyanya memastikan. Aku hanya mengangguk lemah.

“Berubah bagaimana maksudmu?”

“Dia berubah. Teuki Oppa sekarang sulit dihubungi. Dia juga tak pernah memberikan kabar padaku. Padahal dulu dia selalu menghubungiku dan memberiku kabar sesibuk apapun dia,” jelasku.

Aku menjelaskan semua yang aku rasakan. Yesung Oppa mendengarkan dengan seksama. Dengan sabar dia mendengarkan dan menanggapi semua ceritaku. Tapi tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak.

“Jihyo-ya, maafkan aku, aku harus mengatakan hal ini. Beberapa hari yang lalu dia berkata padaku bahwa dia sekarang sedang ragu.”

“Ragu?” tanyaku berusaha mencari makna dari perkataan Yesung Oppa. Dia mengangguk. Dari raut wajahnya, dia terlihat seperti menyesal telah mengatakan hal itu padaku.

“Teuki Oppa ragu mengenai apa? Mengenai rencana pernikahan kami?” Yesung Oppa hanya mengangguk.

Jantungku seakan berhenti berdetak. Ya Tuhan, apakah yang aku dengar ini benar? Aku berharap bahwa ini semua hanya mimpi.

“Jadi itu yang membuat sikapnya berubah? Apakah dia mencintai gadis lain?”. Kurasakan mataku memanas. Suaraku bergetar saat menanyakan hal itu. Tolong jawab bahwa dugaanku ini salah, Oppa. Tolong aku untuk menghapus semua mimpi buruk ini.

 “Maaf, aku tak tau tentang masalah itu. Cobalah berpikir positif.”

Kurasakan sesuatu yang hangat mengalir menuruni pipiku dan membentuk sungai kecil. Akhirnya air mata ini jatuh.

“Jangan menangis Jihyo-ya. Maafkan aku telah mengatakan hal ini padamu.”

Yesung Oppa hanya dapat memandangku dengan iba dan berusaha menenangkanku, sedangkan aku tak berani mengangkat wajahku. Aku harap nanti aku akan terbangun dan menyadari semua ini hanyalah mimpi burukku. Tapi kenapa rasa sakit ini begitu nyata? Tuhan, aku mohon, sadarkan aku bahwa ini semua hanya mimpi.

~oOo~

Beberapa hari ini aku merasa hidupku seakan tak berarti. Entah kemana rohku berada. Hanya ada raga yang tak mampu berbuat. Kata-kata Yesung Oppa beberapa hari yang lalu selalu terbayang dipikiranku. Benarkah apa yang dikatakannya? Semoga saja tidak.

Apakah kau telah menemukan penggantiku, sehingga kau selalu menghindariku? Aku rindu pelukanmu, Oppa. Aku rindu caramu mencium keningku. Aku rindu caramu memperhatikanku. Aku rindu caramu membantuku berdiri saat aku jatuh. Aku rindu suaramu. Aku rindu senyummu. Aku rindu tawamu. Bahkan aku rindu tangismu. Aku rindu semua yang ada pada dirimu. Tidakkah kau menyadari sesuatu? Tidakkah kau menyadari bahwa aku sangat merindukanmu? Tidakkah kau menyadari bahwa aku sangat mencintaimu?

Aku sudah lelah menangis selama beberapa hari. Aku sudah lelah dengan semua pikiranku ini. Dan aku tau, Teuki Oppa pantas mendapatkan seseorang yang setara dengannya, bukan gadis sepertiku yang memiliki terlalu banyak kekurangan. Haruskah aku merelakanmu? Aku rasa tidak. Aku tidak bisa kehilanganmu.

~oOo~

Berkali-kali aku mencoba menghubunginya dan berkali-kali juga aku tak mendapatkan respon darinya. Aku hanya ingin menjelaskan ini semua. Aku tak ingin masalah ini berlarut-larut. Apakah aku harus menyerah dengan keadaan ini?

Kurebahkan tubuhku di atas kasur, berharap mata ini segera terpejam dan melupakan segala masalahku. Saat aku asik dengan fantasiku, kudengar Hyunjin mengetuk pintu kamarku.

Eonni, apa yang sedang kau lakukan? Aku memanggilmu dari tadi.”

“Aku hanya tiduran Hyunjin-ah. Wae?”

“Cepat turun. Teuki Oppa sudah menunggumu dari tadi.”

Aku membulatkan mataku. Hey, sepertinya aku tadi ketiduran dan mulai bermimpi. Ya! Hwan Jihyo, cepat bangun!

Eonni, mau sampai kapan kau bengong seperti itu? Kau mau Teuki Oppa jamuran menunggumu?”

Op… Oppa dibawah? Kau yakin?”

“Iya, Eonni-ku sayang. Cepat turun!” katanya sambil menutup pintu.

Sepeninggal adikku, selama beberapa menit aku masih diam. Benarkah dia disini sekarang? Perasaan apa yang harus aku rasakan sekarang? Apakah aku harus senang? Senang karena dia masih mengingatku. Atau aku harus takut? Takut jika dia meninggalkanku.

Kuputuskan untuk menemuinya. Apapun yang akan terjadi hari ini, aku harus menerima keputusannya.

Oppa,” panggilku.

Dia membalikkan badannya dan terlihat seulas senyum dibibirnya. Senyum malaikat yang mampu meluluhkan hatiku. Setelah menatapku beberapa lama, dia segera melakukan rutinitas wajibnya. Lagi-lagi kurasakan mataku memanas. Tuhan, aku minta hentikan waktu sekali ini saja. Aku sangat merindukannya. Biarkan aku memeluknya, mungkin untuk yang terakhir kali.

“Hyo, aku sangat merindukanmu,” katanya masih memelukku. Aku hanya diam menikmati hangatnya pelukan kekasihku ini.

“Mau jalan-jalan?” tawarnya.

“Kemana?”

“Ke taman.”

~oOo~

Teuki Oppa mengajakku ke taman yang dulu sering kami kunjungi. Jujur, aku merindukan saat-saat seperti ini. Saat dimana hanya ada aku dan Teuki Oppa, tanpa ada yang mengganggu waktu kami. Kami duduk disalah satu bangku taman, dibawah temaram lampu dan cahaya bulan.

“Hyo, kau tau? Aku merindukan saat-saat seperti ini,” kata Teuki Oppa padaku, namun tak memandangku. Dia memandang langit yang memang sedang cerah malam ini. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

Hening~

Kulihat Teuki Oppa sedang memejamkan matanya seakan menikmati setiap hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Aku tau, dia pasti merasa amat lelah pada segudang aktivitasnya itu. Ingin kupeluk tubuhnya, tapi rasa takutku mengalahkannya.

Oppa.”

Dia tak menjawabku, namun segera menoleh dan menatapku.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Tentu saja.”

Aku tak yakin apakah aku kuat untuk mengungkapkan apa yang mengganggu pikiranku. Aku begitu takut. Tapi mau sampai kapan aku berada pada situasi seperti ini?

“Apakah kau menemukan penggantiku?”

Seketika raut wajahnya berubah. “Hyo, apa yang kau katakan?”

“Maafkan aku, Oppa. Akhir-akhir ini kau berubah seakan kau tak peduli lagi padaku. Seakan kau selalu menghindar dariku,” kutahan tangisku sehingga mengakibatkan suaraku bergetar.

Dia tak bergeming, seperti menungguku selesai mengatakan apa yang ada di hatiku. Kulanjutkan perkataanku lagi, “Aku dengar, akhir-akhir ini kau merasa ragu. Apakah kau ragu dengan rencana pernikahan kita, Oppa?”

“Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu, Hyo?”

“Maafkan aku, kemarin aku menanyakan hal ini pada Yesung Oppa, dan itulah jawabannya.”

Beberapa lama aku menunggu jawabannya. Sepertinya Teuki Oppa juga sedang memikirkan hal yang sama denganku.

“Jujur, iya. Aku memang ragu dengan rencana itu. Tapi aku tak mengatakan pada Yesung apa alasanku.”

Aku tak sanggup lagi berkata-kata. Kurasakan mataku memanas dan air mata yang kutahan habis-habisan, akhirnya mengalir dengan derasnya. Benarkah dia menemukan penggantiku? Kurasakan ada sepasang tangan yang meraih tanganku. Itu tangan kekasihku, Teuki Oppa.

“Hyo, dengarkan aku.”

Aku mendengarkanmu Oppa. Tapi aku tak sanggup menatapmu. Maafkan aku.

“Aku ragu dengan rencana pernikahan kita ini, karena aku merasa tak pantas berada di sisimu.”

Aku langsung mengangkat wajahku dan mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya. Apa aku tak salah dengar? Dia merasa tak pantas berada di sisiku? Bukankah aku yang seharusnya mengatakan itu padanya?

Tangannya meraih kedua pipiku. Dia menatap mataku dalam, sekilas kulihat, matanya seakan berkata ‘tatap mataku Hyo, aku sama sekali tak berbohong’. Sampai kapan aku bisa bertahan menatap kedua matanya?

“Kau tau kenapa? Karena kau terlalu sempurna untukku.” Saat mendengar kalimat yang dilontarkan kekasihku ini, tanpa permisi air mataku mulai mengalir lagi, bahkan semakin deras. Ya Tuhan, apakah aku sedang bermimpi lagi?

“Kau terlalu pintar. Kau terlalu baik. Kau selalu ada saat aku membutuhkanmu. Kau selalu mendengarkan semua keluh kesahku. Kau selalu bisa mengembalikan semangatku ketika aku terjatuh dan terpuruk. Kau selalu sabar mendengar semua ceritaku, tanpa mengeluh. Kau selalu setia merawatku saat aku sakit. Kau selalu mengerti keadaanku. Kau selalu bersedia menghapus air mataku. Kau tak pernah mengeluh ketika aku tak memiliki banyak waktu untukmu karena jadwalku yang sangat padat. Kau selalu memberikan senyummu padaku, bahkan ketika aku membuatmu marah dan kesal. Kau tak hanya mengerti aku, tapi juga mengerti member Super Junior yang lain. Dan kau bisa melakukan apa yang tak bisa kulakukan.”

Tangisku semakin menjadi setiap Teuki Oppa mengatakan hal itu. Hentikan Oppa, aku tak sesempurna itu.

“Dan kau tau? Aku ragu, karena aku tak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan ketika menjadi pendampingmu kelak. Aku tak setegar dirimu, Hyo. Itu yang membuatku merasa ragu. Aku merasa ragu dengan pernikahan ini, karena calon istriku, Hwan Jihyo, dia terlalu sempurna untukku.”

Dia  menyelesaikan kalimatnya dengan sempurna. Dia memelukku dengan sangat erat, seakan tak ingin melepaskanku.

“Maafkan aku, Hyo.”

Aku menangis dalam pelukannya. Aku tak peduli apa yang dia pikirkan tentangku, karena aku tak sanggup lagi membendung air mataku.

Jadi ini yang kau pikirkan selama ini, Oppa? Kenapa kau begitu bodoh sampai menganggapku terlalu sempurna untukmu?

Oppa,” panggilku tanpa melepaskan pelukannya.

“Hmm,” jawabnya.

“Bagaimana bisa kau berpikiran bahwa aku terlalu sempurna untukmu?”

“Karena aku selalu bersyukur memilikimu…”

Aku yang tak paham dengan maksudnya, langsung melepaskan pelukannya dan menatapnya seakan bertanya ‘maksudnya?’.

Dia tersenyum dan mengusap air mata yang tersisa di pipiku. “Kita akan merasakan dan memahami apa itu ‘sempurna’ ketika kita selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki.”

Aku rasa otakku tak sanggup lagi mencerna kata-katanya. Persetan dengan apa yang dia katakan. Yang jelas, aku sekarang sangat bahagia, ternyata apa yang aku pikirkan selama ini tidak benar.

Dia mengangkat daguku dan perlahan wajahnya mendekati bibirku. Apa yang akan Teuki Oppa lakukan? Aku sedikit menjauhkan wajahku, takut sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Kurasakan dia mencium keningku, lalu kembali memelukku. Aku sangat menikmati saat seperti ini, andai aku bisa, akan kuhentikan waktu sekarang juga.

~oOo~

Satu bulan kemudian

Saya, Park Jungsoo, menyambut engkau, Hwan Jihyo, sebagai istriku, dan berjanji bahwa saya akan menerima segala kelebihan dan kekuranganmu, bahwa saya akan setia kepadamu dalam suka dan duka, bahwa saya akan memelihara engkau dengan setia sampai maut memisahkan.

Saya, Hwan Jihyo, menyambut engkau, Park Jungsoo, sebagai suamiku, dan berjanji bahwa saya akan menerima segala kelebihan dan kekuranganmu, bahwa saya akan setia kepadamu dalam suka dan duka, bahwa saya akan memelihara engkau dengan setia sampai maut memisahkan.

Prosesi acara pernikahan kami berjalan dengan lancar dan kami sekarang adalah pasangan suami istri. Setelah semua rangkaian acara selesai, kami berdua memutuskan untuk segera pulang karena merasakan kelelahan yang amat sangat. Apakah kau selalu merasakan kelelahan seperti ini mengingat jadwalmu yang super padat itu, Oppa?

Saat ini aku duduk di depan kaca dan sedang menyisir rambutku. Setelah membersihkan diri, badanku terasa jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Aku tak menyangka, sekarang aku menjadi Nyonya Park Jungsoo. Untungnya para fans Super Junior menyetujui pernikahan kami, meskipun melalui proses yang lumayan lama dan rumit. Itu semua juga berkat member Super Junior yang membantu kami untuk meyakinkan mereka. Aku tersadar dari lamunanku, karena Teuk Oppa tiba-tiba melingkarkan tangannya dipinggangku, memelukku dari belakang dan menopangkan dagunya pada bahuku. Benar-benar manja. -___-

“Hyo,  aku yakin kau adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan untukku.”

“Jangan gombal!”

“Kapan aku bisa menggombal?”

“Baru saja.”

Dia tersenyum, memamerkan lesung pipi yang sangat aku kagumi itu.

“Hyo, aku berjanji, aku takkan melepaskanmu dan aku akan berusaha keras menjadi yang terbaik untukmu dan selalu menjagamu. Kau tau kenapa?”

Wae?”

“Karena kau sempurna.”

Teuk Oppa membalikkan badanku dan menarik tanganku hingga aku berdiri menghadapnya. Dia meraih kedua tanganku, tangan kiriku diletakkannya pada pinggangnya dan tangan kananku pada bahunya. Kemudian tangan kirinya meraih daguku dan mengangkat wajahku sedikit ke atas, sedangkan tangan kanannya menutup kedua mataku. Kurasakan hembusan nafas semakin dekat dengan wajahku. Omo~ apa yang ingin dilakukan orang ini? Andwaaaaaeeee  >_<

END

~oOo~

Annyeong ^^

Saya kembali lagi, tp bukan dengan lanjutan FF yang lama… Maaf banget soalnya aku memang sama sekali blum ada ide buat lanjutannya L.. Yang ada malah jadi nih FF… Ceritanya sinetron banget ya? Aku ngerasanya gitu.. wkwkwk

Mohon kritik dan sarannya ya, karena semua kritik dan saran dari readers sangat berarti bagi author…

Kamsahamnida *deep bow*

~Vie~

41 thoughts on “Too Perfect (FanFic by Freelance)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s