Love Tester ~Part 3 (FanFic by Arvie)

“Mianhae Hyorin-ssi…”

Terlihat ekspresi kaget dan takut di wajah Hyorin. Belum kulanjutkan perkataanku, Hyorin sudah memotongnya.

“Apa maksudnya Jongwoon-ssi? Maaf untuk apa? Kau tidak berbuat macam-macam padaku kan semalam?”

“Kau pasti berpikir yang aneh-aneh,” jawabku.

“Tentu saja, apapun bisa terjadi disaat dua orang lawan jenis berada di satu tempat yang sepi, apalagi mereka hanya BERDUA,” dia menekankan kata ‘berdua’.

Aku berdiri dan berjalan mendekati tempat tidurku. Aku duduk di sebelah Hyorin, dia tampak ketakutan.

“Hyorin-ssi, maaf karena aku membawamu kerumahku. Itu karena aku tak tau dimana rumahmu. Kau jatuh pingsan, mana mungkin aku meninggalkanmu begitu saja. Jadi kubawa kau kerumahku. Sesampainya dirumahku, aku baru sadar kalau bajumu basah saat menungguku.”“Lalu…??”

“Lalu aku meminta bibi Hwang datang kemari dan mengganti bajumu. Tapi tenang saja, saat bibi Hwang mengganti pakaianmu, aku berada di luar.”

“Bibi Hwang…??”

“Beliau yang membantuku mengurus rumah ini. Rumahnya hanya berjarak beberapa blok dengan rumahku. Dia datang pagi hari, siang harinya bibi Hwang kembali kerumahnya,” jelasku.

“Begitu? Syukurlah…” akhirnya dia bernafas lega. Aku tersenyum melihat ekspresinya. Tak tahan, akhirnya ku cubit pipinya. Dia malah memukulku dengan bantal.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Kau menantangku?”, tanyaku sambil mengambil bantal yang ada disebelahku dan bersiap membalasnya.

“Ah, tidak Jongwoon-ssi, aku hanya bercanda,” katanya sambil tersenyum menunjukkan deretan giginya, mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V.

Kuletakkan bantal yang tadi kupegang. Aku meninggalkan kamarku dan menuju dapur, menyiapkan bubur ditambah dengan coklat panas untuk Hyorin.

“Jongwoon-ssi, kura-kura ini, kura-kura yang dulu ingin kau berikan padaku?” teriak Hyorin dari dalam kamarku.

“Ne, kenapa Hyorin-ssi? Kau mau memilikinya?”

“Ani, aku hanya ingin tau, kenapa kau membelinya padahal kau tak tertarik padanya,” sekarang aku bisa mendengar suaranya dengan jelas tanpa dia harus berteriak, karena sekarang dia ada di belakangku.

Aku membalikkan badan dan menatapnya. Dia terlihat sangat lucu mengenakan piyamaku. Ukurannya sama sekali tidak pas dengan ukuran tubuhnya. Terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang mungil. Ditambah lagi dengan ekspresi wajahnya dan rambutnya yang acak-acakan.

“Hyorin-ssi, kau terlihat sangat aneh mengenakan pakaian itu,” kataku menahan tawa.

“Ini kan keinginanmu Jongwoon-ssi. Bukankah kau yang meminta bibi Hwang mengganti pakaianku dengan pakaian ini?”, jawabnya, “Ngomong-ngomong, dimana bibi Hwang? Aku tidak melihatnya.”

“Hari ini dia tidak datang. Semalam bibi Hwang bilang, hari ini akan menjenguk saudaranya yang sedang sakit di luar kota.”

“Oo, begitu… Kau membuat apa Jongwoon-ssi?”

“Duduk saja di meja makan. Disana ada bubur, makanlah.”

“Untukku? Kau membuatnya sendiri? Wuaaahh, pasti enak,” katanya penuh semangat dan segera menyantap bubur yang sengaja kubuat tadi.

Selesai membuat coklat hangat, aku menemaninya di meja makan. Dia terlihat sangat menikmati makanannya. Ternyata tidak sia-sia aku membuatkan bubur untuknya. Aku sangat senang untuk ini.

“Siapa nama kura-kuranya?” tanya Hyorin di sela-sela makannya.

“Haruskah aku memberi nama untuknya?”

“Tentu saja Jongwoon-ssi. Kau akan lebih dekat dengannya jika kau memberi nama padanya.”

“Aku tak ada ide untuk namanya. Kau ada ide?”

“Bagaimana kalau Ddangkoma? Aku rasa itu nama yang bagus,” katanya sambil tersenyum.

“Ddangkoma? Baiklah, karena kau yang mengusulkan nama itu, aku akan menamainya Ddangkoma.”

==========================

Setelah beberapa bulan mengenalnya, sedikit banyak aku mengetahui beberapa hal tentangnya. Hyorin adalah seorang gadis yang menyenangkan. Tidak seperti awal mengenalnya, sekarang dia lebih ceria. Hyorin memiliki sifat manja dan cenderung cerewet. Tapi yang aku suka darinya, dia bisa bersikap sesuai dengan keadaan. Dia tau kapan harus cerewet, kapan harus bersikap manja, dan kapan harus mandiri. Itu yang membuatnya terlihat menarik bagiku. Secara fisik, Hyorin memang kalah dibandingkan dengan gadis-gadis yang ada di masa laluku. Tapi dia memiliki kepribadian yang sangat berbeda dengan mereka.
Hyorin adalah gadis mandiri karena dari kecil dia sudah terbiasa hidup tak bergantung pada orang tuanya. Kedua orang tuanya tinggal di Busan. Hyorin sebenarnya adalah sosok gadis ceria dan ramah. Sifat cueknya terhadapku saat baru mengenalnya dulu terjadi karena dia memiliki kenangan pahit bersama kekasihnya. 3 tahun dia menjalin hubungan dengan kekasihnya, namun ternyata semuanya sia-sia. Saat Hyorin menaruh harapan besar pada kekasihnya, dia justru tersakiti dengan perasaannya. Kekasihnya pergi meninggalkannya disaat hari pertunangan mereka. Belakangan dia tau, mantan kekasihnya itu sekarang sudah menikah.

Selama dua tahun dia menutup diri dari dunia luar. Dia menjaga jarak dengan laki-laki yang baru dikenalnya. Terlepas dari hal itu, aku tau Hyorin sangat merindukan seseorang yang bersedia menjaganya apapun keadaannya.

“Jongwoon-ah, bagaimana kabar Hyorin?” tanya Sangwoo.

“Mungkin baik-baik saja, sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengannya”.

“Wae?”

“Karena dia tidak bisa dihubungi. Dia juga tidak ada di tempat kerjanya. Pegawai lainnya bilang, mereka tidak tau kemana Hyorin pergi”.

“Kenapa bisa begitu? Aneh sekali tiba-tiba dia menghilang seperti itu,” gumam Sangwoo sambil berfikir.

“Molla…” kataku sambil mengangkat bahu, “Mana Wookie?” tanyaku.

“Dia sedang makan bersama Ji Eun”.

“Ji Eun…?”

“Yang Ji Eun, pegawai baru bagian administrasi”.

Aku mengerutkan kening, “Wookie sedang makan bersamanya? Apakah dia berniat mendekati Ji Eun?”

“Sepertinya begitu”.

Kami menghentikan pembicaraan kami saat beberapa makanan pesanan kami datang. Topik pembicaraan beralih pada masalah pekerjaan.
Dimana kau Hyorin? Kenapa kau menghilang? Apakah kau pergi jauh? Tapi kenapa kau tidak memberi tauku? Pertanyaan itu terus terlintas di benakku.

==========================

Sudah dua minggu sejak Hyorin menghilang. Aku sama sekali tak bisa menghubunginya. Apa yang harus aku lakukan?

TING TONG

Bel rumahku berbunyi. Siapa yang datang malam-malam seperti ini? Tidakkah dia tau aku sedang sibuk? Dengan malas aku membukakan pintu untuknya.

“Wookie? Ada apa malam-malam seperti ini kau datang kerumahku?”

“Ani, aku hanya ingin menginap disini saja. Tidak boleh? Baiklah, aku pulang”.

“Ya ya ya!!! Siapa yang menyuruhmu pulang? Cepat masuk!”

Kami berdua duduk di ruang tengah. Ditemani dengan kacang dan segelas coklat panas.

“Hyung, aku dengar Hyorin menghilang?”

“Iya, bisakah kita tidak membicarakannya sekarang?”

“Tidak bisa hyung, bisakah kau cerita bagaimana Hyorin menghilang?”

“Tidak bisa,” balasku.

“Baiklah, aku juga sudah mendengar ceritanya dari Sangwoo hyung,” jawab Wookie. Aku hanya menatapnya sebal.

“Lebih baik besok kau mencoba mencarinya lagi, hyung”.

“Kemana aku harus mencarinya? Aku hanya tau dimana tempatnya bekerja”.

“Cari disana saja. Siapa tau ada kabar tentangnya”.

“Tidak mau”.

“Baiklah, kalau begitu kau tidak akan tau kenapa dan kemana dia menghilang”.

Aku terdiam mendengar perkataan Wookie… Apakah aku harus mencarinya lagi? Kenapa aku khawatir padanya? Ah, kenapa aku terlalu memikirkannya?

==========================

Sejak pagi aku gelisah, tak tau apa yang harus kulakukan. Mungkin jika perabot rumahku bisa berbicara, mereka semua akan meneriakiku bersamaan karena terlalu lelah melihatku mondar-mandir tak karuan. Kurebahkan tubuhku sejenak di atas kasur dan menghela nafas panjang. Sejurus kemudian mataku telah terpaku pada ponsel yang tergeletak di sebelah tempat tidurku.

Ku raih ponselku dan mulai memencet tombol. Kudekatkan ponsel itu ke telingaku. Nihil. Tetap tak bisa dihubungi. Seketika aku mengambil kunci mobil dan meninggalkan kamarku.

“Bibi Hwang, aku pergi dulu,” kataku sambil tergesa-gesa.

“Ne? mau kemana Tuan?”

“Menemui seseorang.”

“Lalu, Tuan Wookie?”

“Biarkan saja, suruh dia pulang kalau dia sudah bangun,” jawabku asal. Aku tak lagi menghiraukan apa yang dikatakan bibi Hwang, karena sekarang aku telah melajukan mobil meninggalkan pelataran rumahku.

==========================

Sudah lama aku tidak datang ke tempat ini. Apakah dia ada di dalam? Aku menghela nafas panjang dibalik setir mobilku. Enggan rasanya melangkahkan kakiku ke dalam toko itu. Saat aku ingin meninggalkan tempat itu, aku melihat Hyorin berada di dalam. Tapi benarkah itu Hyorin?

“Kau…??? Kemana saja kau Hyorin-ssi? Kenapa tak bisa dihubungi?”, tanyaku khawatir sekaligus senang karena dapat melihatnya kembali.

“Mian Jongwoon-ssi, pamanku meninggal dunia, jadi aku harus pulang ke Busan. Saat perjalanan, aku kehilangan ponselku. Entah kemana, mungkin jatuh,” jelas Hyorin.

“Ah, mianhae, aku turut berduka cita Hyorin-ssi.”

“Ne, gomawo Jongwoon-ssi,” balas Hyorin sambil tersenyum.

“Kapan kau kembali dari Busan?”

“Dua hari yang lalu. Tapi aku baru masuk kerja hari ini. Wae?”

“Ani… Apakah nanti kau ada acara?”

Hyorin tampak berpikir sejenak. Tak lama kemudian dia menggelengkan kepalanya. “Sepertinya tidak. Ada apa Jongwoon-ssi?”

“Bisakah kau menemaniku makan es krim?”

Dia tampak menahan tawa. Melihat ekspresinya seperti itu, aku merasa seperti orang bodoh.

“Hey, kenapa kau menertawakanku? Apakah ada yang lucu?”

“Tidak ada Jongwoon-ssi. Baiklah nanti aku akan menemanimu makan es krim, tapi kau yang traktir kan?”, kata Hyorin sambil menunjukkan deretan giginya.

“Tenang saja,” jawabku sambil mengacungkan ibu jariku.

==========================

Sekarang aku dan Hyorin berada di salah satu toko yang menjual beraneka macam es krim. Kami duduk di sudut ruang, di tempat yang tak banyak diketahui orang.

“Hyorin-ssi…”

“Ne…??”

“Bisakah aku berbicara sedikit serius?”

“Tentu saja Jongwoon-ssi, katakan…”

“Ehm… Aku tahu mungkin ini terlalu cepat, tapi bisakah… aku… menjadi…,” kuhentikan kata-kataku.

Hyorin menatapku sambil mengangkat sebelah alisnya, seakan menunggu aku melanjutkan kalimatku.

“Baiklah, lupakan saja, bukan sesuatu yang penting,” kataku sambil menunjukkan senyum yang kupaksakan.

“Eh? Katakan saja Jongwoon-ssi… kenapa kau terlihat gugup seperti itu?”, tanya Hyorin sambil memakan es krimnya. Tepat mengenaiku. Benar, aku memang gugup sekarang, tapi kenapa aku gugup? Aku sendiri tak tau. Aku diam sesaat.

“Bisakah aku menjadi seseorang yang special bagimu?”. Bagaimana bisa aku mengatakan kalimat itu selancar ini? Oh Tuhan, sudah terlanjur. Apa yang harus aku lakukan. Kenapa tiba-tiba aku mengatakan hal itu?

Seketika mata Hyorin membulat dan menatapku. Selama beberapa detik dia mematung, namun selanjutnya, dia terlihat bingung dan salah tingkah.

“Hyorin-ssi…,” panggilku.

“Ne?”, mau tak mau sekarang dia menatapku.
Aku hanya diam menatapnya dan memasang ekspresi seolah-olah sedang resah menunggu jawaban.

“Benarkah apa yang kau katakan tadi serius?”, tanya Hyorin, dan aku mengangguk.

Hening~~ Beberapa menit kami mematung, tak ada kata yang terucap dari kami.

“Kenapa kau tiba-tiba mengatakan hal itu?”

Benar. Kenapa aku mengatakan hal bodoh seperti itu? Sepertinya aku benar-benar gila. Apa yang harus kukatakan padanya?

“Aku tidak tahu Hyorin-ssi. Tapi selama beberapa bulan aku mengenalmu, aku merasa kau gadis yang berbeda. Saat kau menghilang tempo hari, entah kenapa aku merasa khawatir padamu.”

“Mianhae Jongwoon-ssi, bisakah aku meminta waktu untuk memikirkannya?”

“Berapa lama waktu yang kau butuhkan?”

==========================

“Jadi kau sudah mengatakannya, hyung?”, tanya Wookie sambil mengambil minuman di dalam lemari es.

“Begitulah…,” jawabku santai, “Aigoo~ lelah sekali,” kataku sambil merebahkan tubuhku di sofa.

“Ku harap kali ini kau tak main-main Jongwoon-ah,” kata Sangwoo yang kemudian duduk disampingku. Aku hanya tersenyum kecut mendengarnya. Apakah aku pernah main-main?

“Tapi menurutku ini lain dari biasanya hyung,” timpal Wookie yang juga mengambil tempat disebelah Sangwoo, “Selama aku mengenal Jongwoon hyung, baru kali ini dia bersikap seperti ini pada seorang gadis.”

Aku dan Sangwoo saling menatap dan sejurus kemudian menatap Wookie bersamaan yang mungkin jika tatapanku dan Sangwoo dapat diartikan, akan berarti ‘Apa maksudmu…???’

“Aku rasa kali ini Jongwoon hyung benar-benar jatuh cinta pada gadis itu,” kata Wookie dengan ekspresi penuh percaya diri. Sangwoo yang awalnya mengernyitkan alisnya, tiba-tiba beralih menatapku sambil tersenyum jahil.

“Ya! Apa-apaan kalian? Mana mungkin aku jatuh cinta padanya? Kekasihku yang dulu bahkan lebih cantik darinya.”

“Benarkah??,” tanya Ryeowook dan Sangwoo bersamaan.

“Tentu saja. Akan kubuktikan nanti,” jawabku mantap.

“Aish~ lupakan!! Ini bukan waktunya bercanda Jongwoon-ah.”

==========================

Sudah 4 hari aku tak berkomunikasi dengan Hyorin. Dia memintaku untuk tak menemuinya dan menghubunginya selama satu minggu. Kenapa? Karena dia meminta waktu satu minggu untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan bodoh yang aku lontarkan saat Hyorin kembali dari Busan. Dan sepertinya, selama empat hari ini, banyak hal yang terjadi.

Ting Tong~ Bel rumahku berbunyi.

“Siapa yang datang pagi-pagi begini?”, tanyaku lebih pada diriku sendiri. Hari ini hari libur, aku ingin menikmati hari ini. Kenapa harus ada yang menggangguku. Namun pada akhirnya aku tetap membukakan pintu untuknya.

“Annyeong”, sapa gadis yang sekarang berdiri dihadapanku.

“Nuguya…??”

“Park Yerin imnida,” katanya sambil membungkukkan badan.

Gadis yang cantik. Tinggi, putih, memiliki mata yang bulat dan berambut panjang. Secara fisik, dia sempurna. Tapi kenapa dia disini? Bahkan aku tak mengenalnya. Untuk beberapa saat aku hanya bisa mematung, memandangi makhluk sempurna bernama Park Yerin.

“Hey, kau tak menyuruhku masuk?,” katanya sekaligus membuyarkan lamunanku.

“Ah, silakan masuk.”

Aku mempersilakan dia masuk dan mengambilkan beberapa kaleng minuman ringan untuknya. Sepertinya aku harus menyelidiki asal usul gadis ini. Siapa tau dia adalah hantu yang menyukaiku kemudian menyamar menjadi gadis cantik. Aku bergidik ngeri membayangkan kalau hal yang aku pikirkan tadi ternyata adalah benar.

“Maaf nona, ada perlu apa anda kemari?”, aku membuka percakapan.

“Kim Ahjussi menyuruhku untuk datang kemari. Apakah kau tidak diberi tahu beliau?”

Kim Ahjussi? Appa? Menyuruh gadis ini datang kemari, tapi tak memberi tahuku lebih dulu? Lalu kenapa appa menyuruhnya datang kemari?

“Maksudmu, Appaku yang menyuruhmu kemari?”. Dia hanya mengangguk.

“Aku permisi sebentar.”

Aku masuk ke kamarku dan mengambil ponselku. Kutekan beberapa digit nomor dan mendekatkan ponsel ke telingaku.

“Yoboseyo,” kata orang di seberang.

“Yoboseyo. Appa, ada seorang gadis datang kerumah dan mengaku kalau appa yang menyuruhnya kemari. Benar?”

“Ah, apakah aku belum memberi tahu? Sepertinya aku lupa. Dia adalah anak dari rekan bisnisku. Bagaimana menurutmu? Cantik?”

“Cantik. Sangat cantik. Sempurna. Lalu?”

“Temani dia kemanapun dia mau.”

“Tapi aku belum mengenalnya,” protesku.

“Itulah tujuanku menyuruhnya datang. Mulai sekarang, berusahalah mengenalnya sebaik mungkin.”

“Wae? Apa untungnya bagiku?”

“Karena dia calon istrimu. Perlakukan dia dengan baik, Baiklah, aku sedang sibuk. Ingat pesanku.”

“Ya! Apa-apaan ini. Tapi aku…”

Tut… tut… tut…

Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, appa sudah memutuskan sambungan. Apa-apaan ini? Memang aku harus segera menikah mengingat usiaku dan perusahaan appaku. Tapi apa harus dengan cara seperti ini?

“Park Yerin… Ternyata appa mempunyai selera yang bagus.”

Aish~ kenapa aku berkata seperti itu…

==========================

Sebelumnya author minta maaf karena part ini lamaaa banget, ini dikarenakan om ilham tak kunjung menemuiku… wkwkwk
Jangan lupa ninggalin jejak ya J
Tapi alangkah senangnya saya jika readers berkenan memberikan kritik dan saran demi kemajuan cerita ini.
Khamsahamnida… *bow*
~Vie~

Posted with WordPress for BlackBerry.

8 thoughts on “Love Tester ~Part 3 (FanFic by Arvie)

  1. Akhirnya ada juga lanjutannya hehehehe….

    Kalo aq boleh ber-spekulasi itu ntar pasti pas Hyorin mau nerima Jongwoon, Hyorin liat Yerin dan akhirnya batal deh heheheheh betul g???

    aq tunggu kelanjutannya aja deh hehehe ^^

    • eh nana onnie udah nebak aja kelanjutannya gimana..
      pdahal q blum tau gimana kelanjutannya..
      wkwkwk *penulis gagal*

      selamat menunggu kelanjutannya yg ga tau kpan bakal keluar yaa onn :p *ditabok*

  2. aish,telat baca karena menggalau akibat KIMCHI *curhat* #abaikan.

    hmm,kirain Hyorin kemana ternyata pamannya meninggal.

    sebenarnya pengen nebak2 jg kayak Nana Eonni tapi gak kebayang. mungkin Hyorin sekongkol dgn Yerin?

    ah,sudahlah.nanti jg ada lanjutannya.hehehe

    semangat nulisnya ya🙂

    • iya, q juga menggalau berhari2 gr2 KIMCHI *toss*

      ayo deh main tebak2an.. tp g bkalan ada jwban bnar ato ga, soalnya ceritanya emg blum dibikin lanjutannya.. wkwkwk

      diusahakan secepatnya, tp ga brani janji :p
      makasih onn udh bca+komen..😀

  3. klo Hyorin tau Jongwoon dh pnya calon istri bs2 Hyorin trauma lg sama cwok..
    ksmpatan Jongwoon berkurang buat dptin Hyorin.
    Jongwoon semangat y.. *lhoo…
    buat author mdh2an om ilham sering mampir y..hihiii..

    • iya, semangat ya bang jong😀 *ikut2an*

      aaammmiieeeennn…
      makasih yaa doanya.. nanti klo om ilham mampir, aku cencang aja biar ga bs kabur.. hehe #abaikan -__-

      mkasih udh baca+komen🙂

  4. hahahahahah ada orang ke 3…. makin asik nih

    TBC selalu hadir disaat2 yng tidak tepat

    hahhh

    SEMANGKA!! ditunggu lanjutannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s