Nomu Nomu Nomu Nomu Saranghae Part 1

ini adalah FF pertama saia, dan baru pertama bikin udah bersambung ceritanya mencoba hal baru gituu.

“Hwa, telat lagi!!!” teriakku saat ku lihat jam yang ada di ponselku. Kurang dari sepuluh menit aku sudah siap untuk ke kampus. Pagi ini aku ada kuliah tambahan, padahal seharusnya hari ini aku libur, tapi karena minggu kemarin dosenku tidak masuk maka dengan seenaknya dosen itu memutuskan untuk memberikan kuliah pengganti di hari kamis. Padahal tadinya aku sudah berniat untuk berhibernasi, karena aku benar-benar merasa kelelahan akibat kuliah sekaligus bekerja part time. Aku terpaksa melakukan pekerjaan part time untuk mencari uang tambahan karena jujur saja aku tidak bisa hidup tanpa uang.

Sesampainya di kampus, aku langsung menuju ke ruang kelasku yang berada di lantai dua dan perlu diketahui bahwa waktu yang aku punya hanya tinggal dua menit lagi. Pasti sekarang Profesor itu sedang berjalan menuju ke ruang kelas.

Sampai di depan kelas aku berusaha mengatur nafasku yang sudah sama seperti orang-orang yang baru saja selesai mengikuti lomba marathon keliling kota Seoul. Aku langsung membuka pintu kelas dan Jreng… Aku menengok kiri dan kanan, ada yang aneh di sini, kenapa isinya berbeda? Aku lalu menutup pintu kelas itu dan buru-buru mengeluarkan ponselku dari dalam tas guna memastikan jam dan ruangan kuliah tambahan.

Lohaa…kita akan ada kuliah pengganti hari kamis jam sepuluh pagi di ruang X-3,”

Whats??!!! Seketika tubuhku terasa seperti disiram oleh air dingin yang membuat tubuhku langsung membeku. Aku langsung melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Sial ternyata masih jam delapan. Hwa ternyata aku salah kelas dan jam. Aku memang babo! Tahu hal ini yang akan terjadi, harusnya aku tadi sempat mandi. Perlu diketahui bahwa tadi aku hanya mencuci muka dan menyikat gigi saja, setelah itu aku menyemprokan banyak perfume di tubuhku tanpa sempat mandi sama sekali.

Kalau saat ini pulang, aku pasti akan terlambat, lebih baik aku pergi ke apartemen Yejin saja, untuk numpang mandi. Aku langsung mengeluarkan ponselku guna mengirim pesan singkat pada temanku itu dan dia menyetujuinya. Aku langsung melangkahkan kakiku menuju apartemen Yejin yang berada tidak jauh dari kampus. Jarak kampus ke apartemen Yejin hanya memakan waktu 15 menit saja.

Sesampainya di apartemen Yejin, aku langsung masuk ke dalam kamar mandi guna mandi. Setelah selesai mandi aku langsung menceritakan semuanya pada Yejin. Yejin langsung tertawa tanpa henti setelah mendengar ceritaku tadi.

“Sepertinya kalau kau tidak melakukan kesalahan sekali saja, mungkin akan turun hujan badai di sini,” ujarnya di sela tawanya.

Aku adalah orang Indonesia, tepatnya orang Jawa. Aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2-ku di Korea dan ini adalah tengah tahun pertama. Sebenarnya Appa dan Amma tidak rela anak perempuan satu-satunya kuliah jauh di negeri seberang. Kata mereka, kalau masih di Indonesia Appa dan Amma akan memberikan ijin, tapi kalau di negeri, mereka masih merasa sangat berat. Bagaimana kalau kamu sakit? Bagaimana kalau Appa dan Amma kangen? Selalu itu yang mereka katakan. Dan dengan sabar aku menjelaskan pada mereka kalau saat ini teknologi sudah sangat berkembang. Aku meminta kedua orang tuaku itu untuk memasak webcam jadi kami bisa mengobrol. Dan aku banyak memberikan penjelasan panjang sampai akhirnya mereka memberikanku ijin melanjutkan kuliah di sini.

Aku berangkat ke Korea bersama dengan empat orang mahasiswa Indonesia yang di sebar di berbagai universitas yang ada di Korea, dan aku sendiri mendapatkan tempat kuliah di pusat kota Seoul. Memang sangat menyenangkan, namun aku harus banyak mengeluarkan uang untuk biaya hidupku. Biaya hidup di kota jauh lebih mahal di bandingkan dengan biaya hidup di daerah. Karena itulah untuk mensiasati biaya hidupku, aku sengaja bekerja part time. Sebenarnya dari beasiswa ini aku mendapatkan asrama, tapi aku tidak mau masuk ke asrama, aku lebih memilih untuk tinggal di tempat lain. Jadi aku menggunakan uang biaya asrama untuk menyewa tempat tinggal lain yang harganya jauh lebih murah, dan sisa dari uang saku yang diberikan untuk beasiswa aku tabung untuk kebutuhan mendadak atau kalau tiba-tiba aku harus pulang ke Indonesia.

Yejin adalah teman sekelasku, dia orang asli Korea, tepatnya dia berasal dari Busan. Dia cantik, matanya perfect dan pastinya dia memiliki kelopak mata. Menurut pengakuan Yejin, kelopak itu dibuat sewaktu dia masih SMA dan menurutku melakukan operasi plastik sah-sah saja asal untuk membuat sesuatu lebih baik. Tapi itu bukan berarti aku ingin melakukan operasi plastik. Yejin pernah bertanya padaku bagaimana kalau aku mengoperasi hidungku? Dan dengan polosnya aku mengatakan kalau aku mau saja mengoperasi hidungku, namun aku takut kalau aku pulang ke Indonesia nanti kedua orang tuaku tidak mengenaliku sebagai anaknya, dan itu bisa berakibat aku kehilangan rumahku. Mendengar itu Yejin langsung tertawa.

“Vin, sepertinya ini sudah waktunya kita untuk berangkat,” seru Yejin.

Ne… arasseo,” aku langsung berlari menyusul Yejin yang sudah keluar dari apartemennya. Kami pergi ke kampus dengan menggunakan skuter, sehingga kami bisa lebih menghemat waktu.

“Vin, bagaimana pendapatmu tentang pria Korea?” tanya Yejin saat kami dalam perjalanan menuju kampus.

Wae? Kenapa kau bertanya seperti itu?”

Anio, just want to know,” ujar Yejin sambil tertawa. “Apakah kau punya kekasih di Indonesia?”

Anio, I don’t have boyfriend dan menurutku pria Korea keren dan ganteng,” jawabku.

“Lalu yang sering chat denganmu itu siapa?”

“Oh itu, dia sahabatku, kami sudah seperti Spongbob dan Patrik, dia itu sahabatku saat sekolah dulu, kami sudah berteman hampir delapan tahun.”

“Kau tidak menyimpan perasaan padanya?” tanya Yejin lagi.

Hening sesaat dan yang terdengar hanya deru suara mobil saja. Aku menghela nafas panjang dan berkata, “Hm, sayang sekali Yejin, kita terpaksa harus menghentikan pembicaraan kita.”

Wae?” protes Yejin.

“Hya! Tidakkah kau tahu kalau kita sudah sampai,” teriakku. “Apa kau tak mau turun?”

“Oh…” gumam Yejin. “Arasseo, aku akan turun,” Yejin lalu turun dengan wajah yang merona merah.

“Hwa kamu sedang malu, ya Yejin-a? Wajahmu merah seperti Tomat,” godaku sambil menunjuk wajah yejin yang memerah.

“Sudah-sudah jangan menggodaku lagi,” ujar Yejin. “Ayo kita masuk.” Yejin mengajaku masuk. Aku tertawa melihat tingkah temanku itu dan langsung menyusul Yejin yang sudah berjalan lebih dulu.

Sebenarnya aku tidak merasa seperti orang yang sedang melanjutkan kulaih S2, karena aku masih merasa seperti remaja saja, begitu juga dengan Yejin. Aku sungguh senang mendapatkan teman yang klop. Namun, ada hal yang membuatku kembali merasa sebagai mahasiswa S2, apalagi kalau bukan tugas yang bertumpuk dan tesis-ku. Kalau mengingat kedua hal itu kepalaku langsung terasa pening.

—————————-oo00oo—————————-

Hoam….Aku menguap.

“Ngantuknya…” ujarku sambil menutup mulutku dengan tangan kanan. “Sempet tidur ngga ya??” gumamku. Setelah selesai empat jam mengikuti kuliah pengganti aku merasa mengantuk. Benar-benar mengherankan kalau mengingat kuliah tambahan yang berlangsung selama empat jam, aku rasa professor itu sedang semangat untuk membagi ilmu-nya pada kami semua.

Tadi hanya terdapat lima belas mahasiswa di dalam kelas, dan itu membuatku tidak bisa tidur di dalam kelas, karena professor akan mudah mengetahuinya. Jadi untuk menghilangkan rasa kantukku, aku berjalan ke perpustakaan untuk tidur. Aku berjalan sendirian menuju perpustakaan yang ada di gedung sebelah, Yejin tidak pergi bersama denganku, karena saat ini dia harus mengikuti kuliah lagi.

Perpustakaan di kampus ini benar-benar tempat yang bagus, karena perpustakaan itu terletak di bagian paling atas gedung dan perpustakaan itu dilengkapi dengan taman indoor yang menjadikan perpustakaan tempat paling cocok untuk tidur.

Aku bergerak menuju pojok perpustakaan tempat aku biasa tidur, namun sayangnya tempat itu sudah ditempati oleh orang lain. Aku mengedarkan pandangan mencari pojok lainnya, dan akhirnya aku menemukan satu pojokan yang kosong. Aku lalu berjalan cepat menuju tempat itu dan langsung mengatur posisi untuk tidur.

———————————-ooo000ooo—————————-

Wah… Mama masak sayur lodeh, Hore…. Siap makan… Tepat pada saat aku akan memasukan makanan itu ke dalam mulutku, tiba-tiba aku mendengar suara.

Neaga michyeyo michyeyo Baby… tak lama terdengar lagi bunyi yang sama lengkap berserta getar-getar, tersadarlah aku kalau itu adalah bunyi ponselku, dan langsung saja sayur lodeh buatan Mama hilang dari hadapanku. Aku menatap layar ponselku dan mendapati nama bos-ku pemilik restoran tempat aku bekerja part time ada di sana.

Annyeonghaseyo dengan rumah makan Jjajangmyon di sini, ada yang bisa dibantu?” ujarku.

“Hya Vinda! Cepat kau datang ke sini, kami butuh bantuanmu, restoran sedang ramai sekali,” ujar bos-ku, dari belakangnya aku bisa mendengar suara hiruk pikuk pengunjung.

Ne, aku segera ke sana,” jawabku. Tanpa basa basi aku langsung turun dengan menggunakan escalator yang disediakan oleh kampus. Kampus ini memang bagus sekali, fasilitasnya sangat lengkap, berbeda dengan kampus tempat ku study S1 dulu.

Sesampainya di restoran, kedua mataku langsung melebar. Wow! Ramai sekali, ada apa ini? perasaan ini sudah lewat dari jam makan siang, tapi kenapa pengunjung banyak sekali? Aku langsung masuk ke dalam restoran dan Heejin, laki-laki yang berada di meja resepsionis langsung menyambutku dengan lambayan tangannya.

“Hya nuna! Cepat ke meja lima, tanyakan mereka mau pesan apa,” seru Heejin, aku membalas seruan itu hanya dengan anggukan kecil dan langsung menuju meja yang dimaksud Heejin.

“hya, sebenarnya ada apa sie? Kenapa restoran bisa ramai begini? Tidak seperti biasanya?” tanyaku saat berpapasan dengan heosun.

“Aku juga tidak tahu oniee, tapi yang pasti dua hari lagi, ruang meeting di booking dari jam delapan pagi sampai jam sepuluh malam dan besok akan nada perayaan,” jawab heosun. “Tapi hari ini sepertinya ada anak SMA yang sedang merayakan sesuatu, ada dua kelas yang datang kemari, jadi kita kerepotan,” tambahnya. Aku hanya mengangguk-angguk kecil sambil kembali mengingat, dua hari lagi adalah malam minggu dan aku kebagian jadwal kerja malam. Dari jam tujuh sampai jam sebelas. Hah! Itu tandanya besok aku akan lelah sekali.

“vinda Nuna, apa kau dengar? Meja nomor tujuh butuh bantuanmu…” teriak Heejin. Dengan cepat aku langsung bergegas menuju meja yang dimaksud.

Setelah satu jam bergumul dengan kesibukan, akhirnya para tamu pergi. Dan akhirnya aku bisa sedikit bersantai, tiba-tiba terdengar telephone di restoran berdering dengan sangat nyaring. Aku sudah hendak mengangkat telephone tersebut namun atasanku sudah terlebih dahulu mengangkatnya dan raut wajahnya langsung berubah cerah ceria yang artinya uang untuk kita.

———————–ooo000ooo————————

Segar sekali. Itulah yang aku rasakan setelah selesai membersihkan diriku. Sambil memakaikan lotion anti nyamuk di tubuhku, aku kembali mengingat kalau rasanya sudah lama sekali aku tinggal di Korea, jauh dari Appa, Amma dan juga kedua oppa-ku. Aku rindu pada semuanya, rindu jalan-jalan dengan menggunakan kereta api ke Tanah Abang, main bersama teman-teman, dan masih banyak hal yang aku rindukan dari Negara asalku. Rasa rindu ini benar-benar membuncah dalam dadaku dan tanpa aku sadari ada cairan hangat keluar dari kedua mataku.

“Ya Alloh, jagalah kedua orang tuaku di sana dan juga kedua kakaku berserta keluargaku. Lalu jaga juga teman-temanku. Sampaikan pada mereka kalau aku sangat merindukan kehadiran mereka… Amin,” aku mengakhiri doaku.

Aku jadi ingat salah satu buku karangan Raditya Dika yang judulnya entah apa, di sana terdapat kata-kata “Bulan yang sekarang gue liat pasti juga bulan yang dia liat di sebrang laut sana.”

Dan kata-kata itu berlaku juga padaku sekarang. Bintang dan bulan yang aku lihat sekarang sama dengan bintang dan bulan yang mereka lihat di Jakarta.

—————————–0000———————————

Hwa, segar sekali, dan tumben sekali tidurku semalam benar-benar efektif, jadi sekarang badanku terasa sangat segar dan nyaman. Biasanya kalau sedang tidak lelah, aku lari pagi keliling blok tempat tinggalku. Kali ini aku berencana untuk lari lebih jauh, aku bermaksud untuk sekaligus pergi ke pasar. Aku mau membeli sayuran untuk membuat sayur lodeh kesukaanku. Aku benar-benar rindu dengan makanan itu.

Saat aku sampai di pasar, keadaan pasar belum terlalu ramai. Banyak terdapat ikan dan sayur-sayuran segar. Aku merasa seperti sedang berada di pasar Kebayoran Lama yang ada di Jakarta. Aku lalu membeli tempe, tahu, cabai, bawang merah dan bawang putih, dan tak lupa santan. Aku menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk berbelanja. Semua barang belanjaan itu aku masukkan ke dalam ransel yang tadi pagi sengaja aku bawa untuk menyimpan air minum, dompet dan juga ponsel, setelah itu aku sudah siap untuk pulang. Baru sepuluh menit berjalan, tiba-tiba aku merasa perutku sakit.

Aduh…aduh…aduh…bagaimana ini? bagaimana? Bagaimana? Aku harus segera mencari toilet. Aku mengedarkan pandanganku sambil melompat-lompat dan berlari-lari berharap sakit perutku hilang, namun tiba-tiba…

BRUKKKK!!!!

Aku langsung jatuh terjengkang ke belakang. “Aish! Sakit banget! Aaaaawwwwww….sakit banget!!! Asem banget!!! Cumiiiii!!!” aku mengumpat dalam bahasa ibu.

Gwaenchana??” tanya seseorang. Sedangkan aku masih saja mengusap-usap kepalaku

“Hwa!!! Santen gue…..!!!!” seruku. Dan orang yang menabrakku semakin bingung mendengar aku yang terus mengoceh dalam bahasa Indonesia.

Ahjussi, ini semua karenamu, ini salahmu, lihat makananku hancur semua!” semprotku pada pria yang menabrakku tadi.

Mwo?! Ahjussi??? Kau memanggilku apa?? Ahjussi?? Hei, lihat aku dulu, apakah pantas aku di panggil ahjussi?!” teriak pria itu tak kalah galaknya denganku. Mendengar itu aku langsung reflek menengok ke arahnya

“Hwa, mana aku tahu kau Ahjussi atau bukan, yang pasti makananku hancur semua,” seruku. “Lihat ini…lihat!!” aku menyodorkan tas ranselku yang basah karena santan yang aku bawa pecah.

Sabar … sabar… masih terlalu pagi untuk bertengkar,” aku mengurut dadaku. Aku menatap pria yang di hadapanku yang tampak mengerutkan kening karena tidak mengerti dengan omonganku tadi. Dan seketika aku sadar saat sudah jelas melihat wajah pria itu.

“Aaaarrrrrggggghhhhtttt…..!!!” aku berteriak sambil menunjuk wajahnya.

“Waeyo???” pria itu ikut berteriak.

Anio,” jawabku. “Gundae Ahjussi, kau anggota Super Junior kan?” tanyaku, saat ini aku merasa lututku lemas. “Yesung-ssi??” ujarku sambil menunjuk jam tanganku yang bergambar kartun Yesung.

“Sudah aku bilang, aku ini bukan Ahjussi, aku baru saja berusia dua puluh tujuh tahun,” ujar pria itu. “Ne, aku memang Yesung Super Junior, lalu apa maumu?” tanya pria yang berwajah mirip Yesung itu.

“Ah kau pasti berbohong, masa bisa secepat itu kau mengaku,” ujarku. “Lagipula perlu kau tahu, usia dua tujuh tahun itu sudah pantas disebut Ahjussi,” tambahku.

“Heh Ahjumma! Diam kau!! Aku ini Yesung, Yesung Super Junior, kau tidak percaya???”

Mwo?! Ahjumma?! Aku masih berusia dua puluh lima tahun, apa pantas aku dipanggil Ahjumma??” seruku. “Huh! Aku tidak percaya kalau kau adalah Yesung Super Junior, kau pasti sudah melakukan operasi plastik agar bisa mirip dengan Yesung Oppa, benar kan? Ayo mengaku saja!!”

“Hya! Sembarangan kau!” elak pria itu.

“Baiklah *sambil atur nafas*, aku minta maaf karena sudah memaki-makimu tadi, dan tenang saja kau tidak perlu minta maaf, karena aku sudah memaafkanmu yang sudah menabrakku dan menghancurkan makananku,” ujarku. “oiya Maaf juga atas sikapku yang tidak tahu sopan, tapi kau bukan Yesung Oppa kan??”

“Baiklah aku pamit sekarang, karena perutku sakit sekali, annyeonghigaseyo,” aku membungkuk dan langsung meninggalkan pria yang mengaku bernama Yesung

“Hya! Aku Yesung Super Junior!! Kenapa kau tak percaya??!!” teriak pria itu.

Ne, aku percaya…kalau kau Yesung Oppa dan aku adalah Gyuri…bye!!” aku melambai ke arahnya.

Samar-samar aku masih mendengar suara laki-laki itu berteriak berusaha menyakinkanku kalau dia adalah Yesung Super Junior. Ckckckckck ada-ada saja, memang deh di Korea banyak sekali yang mirip. Dokter bedah plastik di sini memang hebat sekali.

Santanku yang pecah langsung aku buang dan aku pindahkan semua isinya ke dalam tas kain yang baru saja aku beli. Kemudian aku memasukkan santan instant yang baru saja aku beli di minimarket dekat lokasi tabrakanku tadi ke dalam tasku. Untung saja aku bisa menemukan santan instant di minimarket itu dan untung saja tempe dan tahu yang sedikit hancur masih bisa di selamatkan.

Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, aku sampai juga di rumah. Aku lalu mandi dan memasak.

Neaga michyeyo michyeyo Baby…ponselku berbunyi, aku melirik nama yang muncul di layar ponsel. Yejin.

Ne yejin, ada apa?”

Anio, kau ke kampus kan hari ini?”

Ne, waeyo?”

“Aku jemput ya, sekalian kita sarapan, lalu berangkat,” ajak Yejin.

“Wah Yejin kau tepat sekali, aku baru saja mau sarapan, kalau kau mau sekarang kau ke tempatku, kita makan bersama, aku masak nih.”

“Hya… tapi aku belum mandi.”

“Sudah, kau mandi di tempatku saja, oke?”

“Baiklah, aku berangkat sekarang. Kau jangan makan dulu,” pesan Yejin.

Ne, hati-hati Yejin, tidak usah mengebut,” ujarku.

“Hya Vinda, super deliciousnomu nomu nomu delicious… aku tidak menyangka kalau kau pintar memasak. Padahal aku sudah menyiapkan roti dan susu, siapa tahu masakanmu tidak bisa kita makan,” puji Yejin.

“Huh! Kau baru tahu kalau aku pintar memasak??” protesku. Yejin langsung tertawa. Kami berdua memang bukan tipe orang yang bisa diam kalau sedang makan. Bahkan kalau sedang tidur pun kami tidak diam. Hanya di depan dosen dan pria tampan saja kami diam, tapi itu juga tidak bisa bertahan lama. Paling lama kami diam selama tiga menit tapi kemudian kami akan tertawa lagi.

“Yejin, tahukah kau kalau tadi pagi aku bertemu dengan orang yang benar-benar mirip dengan Yesung Oppa,” ceritaku.

“Hah! Apa maksudmu?” tanya Yejin.

“Tadi saat aku lagi lari pagi, aku menyempatkan diri untuk pergi ke pasar, dan saat pulang aku di tabrak oleh seorang pria yang sangat mirip dengan Yesung Oppa. Sumpah demi apapun dia mirip sekali, aku tadi hampir saja mau meminta tanda tangan dan foto bersama,” jelasku.

“Bagaimana kalau dia benar-benar Yesung Oppa?” tanya Yejin.

“Dan aku adalah Park Gyuri,” sahutku cepat.

“Kau tadi bilang begitu?” kedua mata Yejin membesar.

Ne, hebatkan aku.”

Yejin langsung berdecak. “Sudah kuduga kalau kau sakit jiwa.”

————————————-OOOooOOO————————————-

BRAK!!!! Yesung masuk ke dalam dorm dan langsung menuju meja makan. Dia kesal sekali sekarang.

“Oh hyung, kau sudah pulang,” ujar Ryeowook.

“Wookie, tolong ambilkan aku air,” pinta Yesung.

Hyung gwaenchanayo? Biasanya kau lama kalau lari pagi? Tapi kenapa sekarang cuman sebentar? Kau sudah lelah kah?” tanya Ryeowook sambil menyerahkan air pada Yesung.

Yesung langsung menegak habis air yang diberikan Ryeowook tadi. “Kau tahu, tadi aku bertemu dengan gadis aneh. Huh! Mimpi apa aku semalam?” omel Yesung.

“Kau tidak mimpi Hyung, kau kan tidak tidur,” celetuk Eunhyuk yang baru saja keluar dari toilet.

“Iya Hyung, kau tidak tidur. Apa yang salah Hyung dengan gadis tadi?” tanya Ryeowook.

“Saat aku menuju dorm, aku lewat jalan lain, aku berharap menemukan suasana baru dan benar saja aku bertemu dengan suasana yang baru sekaligus membuatku kesal di pagi hari,” jelasku dengan kesal.

Waeyo??” tanya Ryeowook dan Eunhyuk serempak.

“Saat aku pulang tadi, aku menabrak seorang gadis,” ujarku.

“Wooowww…” seru Ryeowook dan Eunhyuk bersamaan. “Lalu…lalu…lalu???”

“Dia terjatuh dan parahnya makanan yang dia bawa hancur. Tadinya aku berniat untuk menggantinya, tapi… Hah! Kesal sekali aku!”

“Tapi apa Hyung?” sahut Ryeowook dan Eunhyuk.

“Tapi dia malah mengomel dengan bahasa yang tidak aku mengerti dan lebih parahnya aku di panggil Ahjussi!!! Kau tahu Ahjussi…dan…”

“Hahahahahahaha…” Ryeowook dan Eunhyuk langsung tertawa terbahak-bahak. “Lalu apa lagi Hyung?”

Shireo! Aku tak mau cerita lagi!” tolakku.

“Yah… Hyung, ayo cerita lagi,” paksa Ryeowook dan Eunhyuk.

“Aaaaa… kalian berisik sekali. Sikuro!” teriak Kyuhyun.

“Kyu, bantu kami cepat,” ajak Eunhyuk. Bak air datang, gayung pun ikut bergoyang. Mau tak mau kalau evil maknae sudah ikut memaksa, Yesung harus kembali menceritakan kejadian tadi pagi.,/p>

“Gadis itu saat melihatku dia berteriak dan mengatakan, ‘kau Yesung Oppa Super Junior kah?’, aku kira dia akan minta tanda tangan dan foto bersama denganku, tapi…”,
“Tapi apa Hyung???”

“Saat aku meng-iyakan pertanyaannya dia malah tertawa dan mengatakan kalau aku bohong,” ceritaku.

“Hahahahahahaha…” ketiga Dongsaeng Yesung tertawa terbahak-bahak. “Lalu apa lagi Hyung?”

“Dia pergi dan sebelumnya minta maaf karena sudah tidak sopan. Dan bodohnya dia mengatakan dia juga sudah memaafkanku karena aku mirip Yesung. Huh! Benar-benar sial sekali aku pagi ini!”

“Apa Hyung tidak mencoba untuk klarifikasi?” tanya Ryeowook.

“Sudah, aku sudah berteriak dan dia malah balas berteriak kalau dia adalah Gyuri.”

“Hahahahahaha…” ketiga Dongsaeng Yesung makin tertawa.

Hyung, kau benar-benar tidak beruntung pagi ini.”

BRAK!!!

“Hya! Kenapa kalian berisik sekali??!! Tawa kalian sampai ke lantai atas!!” tiba-tiba Heechul datang.

Hyung, kau tidak tahu dengan apa yang Yesung Hyung alami pagi tadi,” ujar Eunhyuk. “Wah, ini akan menjadi berita besar di radio,” tambah Eunhyuk.

“Hya Yesung, nanti saat aku siaran kau akan ku hubungi untuk menceritakan hal ini,” kata Heechul.

Andwe! Aku akan menceritakan hal ini di radioku terlebih dahulu Hyung,” sahut Eunhyuk.

Anio, jam tayangnya kan duluan aku,” ledek Heechul.

“Hwa andweandwe Hyung, kau tidak boleh melakukan itu,” ujar Eunhyuk. Dia sudah hampir menangis.

“Bagaimana kalau kalian melakukan suit saja? Yang menang yang berhak menceritakan hal ini,” Ryeowook memberikan solusi.

“Hya! Kalian keterlaluan! Apa aku mengizinkannya?” protes Yesung.

“Ah Yesung berbagi ceritalah sedikit pada penggemarmu,” bujuk Heechul.

“Iya Hyung, ini bisa menjadi pukulan telak untuk gadis itu,” tambah Eunhyuk.

bersambung…..

mohon mohon dengan sangat tuk meninggalkan jejak…  demi tuk perbaikan ke depan kritik dan saran sangat di butuhkan karena ini adalah cerita pertama yang saia buat…

tidak lupa aku ucapkan terimakasih yang mendalam buat editor saia, yang walupun sibuk tetep mau mengedit tulisan, dan memberi masukan, serta 2 orang yang udah koment di blog akuu tentang ini FF… komen lagi dunggg *liriik nana ama oniee jihan* >> FF udah di lempar ke pasar ^^dan orang-orang yang udah baca FF ku di My blog *Lirik Karina Sacharissa*

32 thoughts on “Nomu Nomu Nomu Nomu Saranghae Part 1

  1. whaaa.. kalo q ketemu orang yg mirip yesung oppa dipasar, pasti langsung q kantongin, trus q seret pulang dah tuh..
    nah ini, Gyuri nya malah ninggalin gitu aja.. sepertinya setuju sama katanya Yejin >> “Sudah kuduga kalau kau sakit jiwa.”
    wkwkwkwk

    lanjutkan onn..!!😀

    • iya yah kenapa kudu ke temu di pasar??? ga ada keren2nya acan… wkwkwkwkwkw. pertemuan ke 2 enaknya di mana ya??? *dirumahhhh kuuuuu* haghaghaghaghaghaghag

  2. weits,ada namaku jg diucapan terima kasihnya.hehehe

    FF pertamanya aja udah gini,gmn yg kudua dst dst..

    sukaaa!
    lanjutannya kapan nih? penasaran sangat!! ^^

  3. Hwa..ha..ha..ha.. klo mang kejadianny tu bnrn, nyesek bgt tuh yesung oppa.
    author keren… LANJUT y, jgn lma2 coz sepertiny blog ni sudh lma dtinggal penghuniny hmpir ribuan thn, biz pd hilg gtu aja pdhl FFny bgs2 loh..

    • “jgn lma2 coz sepertiny blog ni sudh lma dtinggal penghuniny hmpir ribuan thn, biz pd hilg gtu aja pdhl FFny bgs2 loh..” >>>> Hiks hiks Hiks…

      insyaAlloh di lanjut kok, coz aku juga penasaran sendiri haghaghaghaghag

  4. Arasseo..
    Lucu, ceritanya ckp menyenangkan..
    Inget omongannya Heenim wkt di wawancara brng Kangin di 3 Women..
    Heenim blng ‘ak prnh menyapa gamer, ak blng anneyeong cho Kim Hee Chul dan mrka akn lngsg menjwab ya dan ak adalah Jang Dong Gun..’

    Hahahaha.. Tp feel ff ini dptlahh.. ^^

  5. kalau nggak salah nama videonya Happy Together deh,sy pernah nonton di Utube *nimbrung* *nggak ada yg nanya*,

  6. hahahahahaha. Aku baca awalnya doang, trus skip k ending dan ketawa ngakak. Hahahahaha.. Sama kaya jihan onnie, aku ingt kejadian yg heenim crta pas dia maen games online brg kibum trus mereka ngaku kl mereka super junior tp ga ad yg percaya.. Aku liatnya brgan ma icha, di happy day kl ga slh, thn 2007 gtu..
    Tp ntar deh di pastiin lg, soalnya aku lg ol dr hp…
    Skrg, ulang baca lg ahh dr awal..
    Btw, msh ada typo nia, hehe..

    • terlalu banyak hal yg ga penting ya on…?? *asikk dapet koreksian plus* ntar di perbaiki lagi di part ke 2…

      typo again hahhh… haruss jelii haruss jelii… *lebarkan mata*

      masih ada kaga ya tuh video

      dan terimakasihhh onieee ^^

  7. o iya lupa, aku jg udh bkn ff utk pertama kalinya, tp malu mau publish, hahahaha…
    Kalo aku yg ktmu org mirip sungmin, aku jg ga lgsg percaya kl dia ngaku2 sungmin, hahaha. Tp bs dgr dr suaranya atau minta dia nyanyilah buat buktiin, kan jarang wajah dan suara dua2nya mirip, hohohohoho…

  8. Finally nie FF berani juga di posting di blog ini…see I told you before Onnie, banyak yang suka kan sama FFnya Onnie, bahkan kayaknya lebih banyak dari FF buatan Nana hihihihihihi….

    Yg part 2-nya nanti dulu yah Onnie, diriku sedang meng-editnya biar terlihat sedikit rapi dan baik untuk dibaca hihihihihihi :p

  9. nia onnie nia onnie,
    ff nya bagus nih..
    Tp ada yg ga sinkron deh critanya ato aku aja yg ga nyambung :
    Kuliah penggantinya hr kamis tp diponsel hr jum’at. Aku pikir si vinda salah hari, tp critanya cm salah kls dan jam.
    Aku jadi smpet bingung, dan bc ulang.
    Tapi aku lanjut bc aja, gapen jg sih, yg penting ceritanya menarik.
    Ayo lanjut onnie, Semangat ya!!🙂

    • hahahahahahaha makasihh ade kuuuu….

      udah aku perbaiki… iang bnr kamissss…. ckckckckckckck

  10. nia buruan lanjut, kl ga aku lanjutin sendiri, hahaha..
    Bnyk ide bgt nieh aku, haha..
    Ntar pas denger young street bru vinda tepok jidat, begonya dia ga ngenalin suara yesung oppa, hahaha

  11. mbaaaaa,,,,,,cepetan di sambungin critanyaaaaaaaaaaaa……….!!!!!!!!!!!!!!!!
    whuahahahahahahahaha…bisaaaaaaaa ajaaaaa unni ku yg satu ini

  12. unn
    cuma 1 kata
    LANJUTIIIIIN

    hwahaha sumpah lucu bnget, apalagi bagian anda ngaku2 jadi Gyuri :)) …hehe pertahaniiiiin!!! (pertahanin sisi narsisi itu maksudnya)

  13. aku baru tau kalo ada FF baru… *plaaaak* kemana aja ayee?…
    kyaaaaa…!! Nia eonnie… FFnya seruuuuu…!!
    asiiiknya Vinda Eonnie dapet beasiswa S2 di Korea,, impian aku juga tuh,, *YaAllahKabulkanlahdoaku*😀

    ngebayangin ekspresinya Bang Yes pas dibilang ngaku-ngaku jadi Super Junior Yesung bikin aku ketawa-ketiwi… ahahahaha…
    udah gitu diledek pula sama dongsaeng-dongsaengnya,, yang sabar yaaa Bang yes…

    okelah.. aku baca part selanjutnya dulu yaaa eonnie..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s