Love Taster ~Part 2 (FanFic by Arvie)

Aku menjalankan mesin mobilku menuju toko kue langgananku. Sangwoo ingin membeli sebuah kue special untuk adiknya. Sesekali kami tertawa kecil dalam perjalanan karena membicarakan masa lalu yang memang membuat orang tertawa jika mengingatnya. Tiba-tiba aku berhenti tertawa dan teringat akan sesuatu. Sudah lama aku tidak mampir ke toko kue itu. Semenjak kejadian satu tahun lalu, aku memang berusaha untuk tidak pergi ke tempat itu lagi.

[Flashback]

“Oppa, kau dimana? Bisa jemput aku sekarang? Pekerjaanku sudah selesai,” kata yeoja diseberang.

“Aku masih di kantor. Sebentar lagi aku menjemputmu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu,” jawabku.

“Ne, oppa. Aku tunggu. Hati-hati ya, saranghae.”

Klik. Aku mematikan telepon, meraih jasku dan segera menuju ke sebuah toko kue. Ya, dia kekasih-ku, Keyna. Dia bekerja di toko itu. Aku baru sekitar satu bulan menjalin hubungan dengannya. Dia gadis yang sangat manja. Dia bahkan bilang bahwa dia ingin aku menjadi yang terakhir dalam hidupnya. Haruskah aku memupuskan harapannya?

Aku keluar dari mobilku dan masuk ke dalam toko kue itu. Sebelum aku sempat mengedarkan pandanganku, aku mendengar seseorang berteriak, “Oppa,” tiba-tiba dia berlari memelukku sebentar dan menatapku dengan senyuman di bibirnya. Aku membalas senyumannya dan mengacak rambutnya pelan. “Bisa kita bicara sebentar?”, tanyaku. Dia mengangguk dan mengajakku duduk di sebuah kursi di samping toko kue itu.

“Ada apa, Oppa? Apakah ada sesuatu yang penting?” tanyanya manja sambil terus mengaitkan tangannya dilenganku.

Aku menundukkan kepalaku sejenak dan mengambil nafas dalam-dalam. Aku mulai menatapnya dengan wajah serius dan menjelaskan semuanya. Setiap kalimat ku ucapkan dengan hati-hati, berusaha untuk tidak menyakitinya. Tapi aku sadar, selembut apapun aku mengatakannya tidak akan berpengaruh, karena aku tau dia pasti sangat membenciku sekarang.

“Andwae… Aku tidak mau. Kenapa tiba-tiba kau mengatakan hal itu, Oppa? Apakah aku membuat kesalahan? Kau tau bahwa aku sangat mencintaimu kan. Tapi kenapa kau tega mengatakan hal ini padaku? Wae Oppa? Wae?”, tanyanya bertubi-tubi sambil menangis dan memukul-mukul lenganku.

“Maafkan aku Keyna. Aku tau kau membenciku. Tapi aku yakin ini yang terbaik untukmu. Kau pantas mendapatkan pria yang lebih baik dariku, mianhae,” aku berusaha menenangkannya. Tanganku hendak menghapus air matanya, namun ditepisnya.

“Apa kau menemukan gadis lain yang membuatmu lebih bahagia?”, tanya Keyna, “jawab aku Oppa! Kenapa kau diam saja?”. Dia masih menangis. Aku hanya bisa menatapnya dalam. Sama sekali tak menjawab pertanyaan Keyna. Ya Tuhan, aku melakukannya lagi.

“Baiklah kalau itu maumu. Aku akan pergi dari kehidupanmu kalau itu membuatmu senang. Jangan pernah menemuiki lagi!” kali ini dia berbicara dengan nada tinggi. Dia mengambil tas yang berada disampingnya dan mulai beranjak. Aku menahannya. Aku memegang tangannya, namun sia-sia. Dia menghentakkan tangannya dan peganganku lepas. Aku hanya bisa melihat punggungnya yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang. Sejak saat itu aku tidak pernah kembali ke toko kue itu.

[Flashback End]

Sangwoo menatapku heran dan melambaikan tangannya di depan wajahku. Aku tersadar dan tersenyum kepadanya. “Jangan melamun kalau sedang menyetir. Sayang kan kalau ada gadis cantik, kau akan kehilangan kesempatan untuk melihatnya,” katanya.

Aku tertawa mendengar alasan anehnya itu dan berkata, “Tidak bisakah kau mencari alasan yang lebih keren?”. Dia tertawa, begitu juga aku. Tanpa sadar, kami telah sampai di toko kue itu. Aku keluar dari mobil dan mematung tepat di depan toko itu. Chocolate Bakery. Rasanya enggan melangkahkan kakiku masuk ke dalam toko itu. Aku takut akan membuatnya lebih membenciku. Apakah dia masih bekerja disini? Apa reaksinya jika bertemu denganku lagi?

“Kenapa  kau hanya berdiri disini? Kau tidak mau masuk ke dalam?” Sangwoo menepuk bahuku dan membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum dan mengikuti langkahnya. Dengan ragu aku membuka pintu, dan melangkahkan kakiku. Satu langkah. Aku mulai mengedarkan pandanganku namun aku tidak menemukannya.

Seorang pelayan menghampiriku dan bertanya, “Ada yang bisa dibantu Tuan?”. Aku bertanya padanya, “Apakah ada pegawai bernama Keyna disini?”.

Pelayan itu diam sejenak dan mengerutkan keningnya. Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Tidak ada Tuan. Dulu memang ada pegawai yang bernama Keyna. Tapi dia sudah mengundurkan diri setahun lalu. Ada apa Tuan?”.

“Ah, tidak ada apa-apa Noona,” jawabku sambil tersenyum.

“Baiklah, jika Tuan memerlukan sesuatu, silakan memanggil salah satu diantara kami”.

“Ne, khamsahamnida,” jawabku. Pelayan itu berlalu dari hadapanku. Aku bisa bernafas lega sekarang. Aku berjalan mendekati Sangwoo.

“Sudah dapat kuenya?” tanyaku dengan wajah ceria. Ditambah lagi dengan berbagai jenis kue yang ada dihadapanku sekarang. Begitu manis, seakan mereka mengerti perasaanku.

“Belum. Aku belum mendapatkan yang cocok,” jawabnya. Dia menatapku heran dan berkata “Sepertinya kau senang sekali. Seperti seseorang yang baru mendapatkan undian”. Aku hanya tersenyum dan meninggalkannya.

Aku berkeliling untuk mencari kue. Tiba-tiba aku juga ingin makan kue. Begitu banyak kue yang berjajar, sampai-sampai bingung memilihnya. Hingga aku menemukan sebuah kue yang sangat menarik perhatianku. Sebuah kue dengan cherry, jeruk, kiwi, strawberry dan sepotong coklat diatasnya. Dilihat saja sudah menarik, sangat ceria. Aku memutuskan untuk memesan kue itu. Didepanku ada seorang pelayan yang membelakangiku, sepertinya sedang melakukan sesuatu. “Permisi, bisakah aku memesan kue ini?”, tanyaku sambil menunjuk kue yang aku inginkan.

“Ne. Yang mana Tuan? Yang ini?” tanya pelayan itu.

“Iya, yang itu Noona,” mataku masih terpaku pada kue itu. Hingga aku mengangkat wajahku dan wajah pelayan yang mengambilkan kueku itu terlihat samar. Wajahnya nampak familiar, sepertinya aku pernah melihatnya.

“Silakan, Tuan,” katanya ramah dan mengangkat wajahnya. Dia terlihat kaget.

“Kau?”, spontan aku menunjuknya. Ternyata benar, aku memang pernah bertemu dengannya. Aku tersenyum dan melambaikan tanganku “Hyorin, annyeong. Kau masih ingat padaku?”. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Annyeong,” balasnya pendek.

“Kau bekerja disini?” tanyaku menyelidik. “Ne,” balasnya. Lagi-lagi dia menjawab singkat pertanyaanku.

“Oh iya, ada yang ingin ku tanyakan padamu. Kenapa tadi kau terus tersenyum melihat akuarium di pet shop?”

Lagi-lagi dia tersenyum. Senyum yang membuat jantungku berdetak lebih kencang. Ya Tuhan, kenapa dia terus-terusan menunjukkan senyumnya itu. Aku bisa gila karnanya. “Aku hanya suka dengan hewan itu,” jawabnya polos. Aku memiringkan kepalaku dan mengerutkan keningku. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. “Tunggu sebentar!”, aku keluar menuju mobilku, mengambil sesuatu, dan segera kembali kedalam toko. Sekarang aku berdiri dihadapannya dengan sebuah benda ditanganku. Hyorin menatapku heran, sama seperti yang kulakukan beberapa waktu lalu.

“Apa itu?”, tanya Hyorin penasaran. Aku hanya tersenyum dan menyodorkan barang yang aku bawa. Dia diam sejenak, kemudian menatapku. “Apa maksudnya?”, tanyanya. Benar-benar gadis yang polos.

“Jika kau menyukainya, itu untukmu,” jawabku. Dia menggeleng dan mengembalikannya kepadaku.

“Mian Jongwoon-ssi, aku tidak bisa menerima sesuatu dari seseorang yang belum ku kenal”.

“Bukankah kita sudah saling mengenal? Aku bahkan sudah tau namamu,” jawabku.

“Ah, bukan begitu maksudku. Aku tidak bisa menerima sesuatu dari orang yang tidak benar-benar mengenalku”. Dari cara menjawabnya, aku tau dia bingung dan gugup.

“Begitu? Lalu, kenapa tidak kau biarkan aku lebih mengenalmu saja?”, tanyaku sedikit menggoda.

Hyorin langsung memandangku, namun sedetik kemudian dia mengalihkan pandangannya. Aku tau, dia malu. Wajahnya memerah. Dia kelihatan bingung, pandangannya tidak fokus, seperti mencari sesuatu. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Baru kali ini aku menemukan gadis yang benar-benar polos seperti ini. Aigo~ kyeopta. Oh Tuhan, perasaan apa ini?

Aku merasakan seseorang menepuk pundakku. “Apa yang kau lakukan disini?”, Sangwoo melihat tingkah aneh Hyorin dan kembali bertanya padaku, “Apa kau mengenalnya?”.

Aku mengangguk dan memperkenalkan Sangwoo pada Hyorin. Setelah mengobrol sebentar, Sangwoo mengajakku untuk membayar kue di kasir. Ekspresi lega terlihat di wajah Hyorin. Setelah membayar, aku kembali menatap Hyorin dan melambaikan tanganku “Annyeong”. Terlihat senyum tersungging di bibirnya, kemudian dia membungkukkan badannya.

===========================

“Sepertinya kalian sudah akrab?” Sangwoo membuka percakapan.

“Siapa? Hyorin?” tanyaku. Dia mengangguk. “Dia gadis aneh yang tadi kutemui tadi di pet shop. Dan ternyata aku bertemu lagi dengannya di Chocolate Bakery”.

“Gadis aneh yang membuatmu membeli hewan aneh itu?” tanya Sangwoo seraya menunjuk benda yang berada di jok belakang mobilku. Aku tersenyum kecil dan mengangguk.

“Dan sepertinya, sebentar lagi kau juga akan menjadi aneh. Dari tadi kau selalu tersenyum,” kata Sangwoo. Aku menatapnya dan berhenti tersenyum. “Apa maksudmu? Bukankah senyum itu ibadah?”, jawabku enteng.

“Kalau intensitas senyummu itu melebihi batas wajar, apakah itu bisa dikatakan ibadah?”, ujarnya seakan tak mempercayai jawabanku. “Tentu saja,” jawabku mantap dan tersenyum kembali.

“Dasar orang aneh,” gumam Sangwoo.

===========================

Restoran, Jam Makan Siang

“Kalian sudah memesan makanan?”, tanyaku yang mengagetkan mereka.

“Sudah hyung, kenapa kau baru datang?”, jawab Wookie sekaligus mengajukan pertanyaan.

“Tadi ada rapat mendadak dan baru saja selesai. Sepertinya kalian tadi sedang membicarakan sesuatu? Ada yang menarik?”

“Kau mau beraksi lagi hyung? Siapa lagi yang menjadi korbanmu? Bukankah aku sudah berkali-kali mengingatkanmu untuk menghentikan kegiatan tak wajarmu ini,” cecar Wookie. Sangwoo yang berada disampingnya hanya bisa menahan tawa. Aku menatapnya tajam dan seketika dia menghentikan tawanya.

“Kau pikir aku ini penjahat?”, tanyaku sewot.

“Bukan begitu hyung. Ah, lupakan. Sangwoo hyung bilang kau kemarin membeli seekor hewan aneh gara-gara gadis aneh? Hewan apa yang kau beli? Gadis aneh bagaimana maksudnya? Apakah dia lebih aneh darimu?”

“Bisakah kau bertanya satu-satu? Jika kau bertanya sebanyak itu, mana bisa aku mengingat pertanyaan-pertanyaanmu?”, jawabku.

“Ne… Arra,” jawabnya malas, “jadi bagaimana ceritanya?”, Wookie memandangku menunggu jawaban yang keluar dari mulutku. Aku mulai menceritakan kejadian kemarin.

“Jadi kau membeli kura-kura dengan harga selangit hanya karena gadis yang kau bilang namanya Hyorin itu? Kemudian kau mau memberikan hewan itu padanya, tapi dia menolaknya?”, cerocos Wookie. Aku mengangguk.

“Aigo~ Sepertinya keadaan sudah berubah. Bagaimana pendapatmu hyung?”, tanya Wookie pada Sangwoo dan dijawab dengan anggukan Sangwoo. Mereka berdua tersenyum bersama, tapi ada yang aneh dari senyum mereka. Senyum yang cenderung… menggoda?

“Wae? Apa ada yang aneh di wajahku yang tampan ini? Atau ada yang salah dengan penampilanku kali ini?”, tanyaku heran.

Sangwoo dan Ryeowook menatapku. “Aniyo~ Tidak ada yang aneh pada wajahmu yang tampan itu, dan tidak ada yang salah dengan penampilanmu,” jawab Sangwoo.

“Tapi kau yang aneh hyung. Benar-benar aneh. Baru kali ini aku melihatmu seperti ini.”

“Lalu? Apa yang aneh pada diriku? Aku masih seperti dulu Wookie-ah.”

“Nanti kau juga akan tau sendiri hyung,” lagi-lagi Wookie menjawab pertanyaanku, namun bukan membuatku paham, malah membuatku tambah bingung.

Apakah aku berubah? Apakah aku menjadi aneh? Sepertinya aku biasa saja. Kenapa mereka bersikap seperti itu seolah-olah menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh aku ketahui. Atau ini hanya perasaanku saja? Hah, terserah mereka mau bilang apa, kenapa harus diambil pusing. Aku mencoba menepis pikiran burukku pada kedua sahabatku itu.

“Aku ingin membeli kue. Kalian mau ikut?”

“Sepertinya aku dan Sangwooo hyung sedang sibuk, jadi tidak bisa menemanimu hyung. Ayo kita kembali ke kantor. Kajja,” ajak Wookie pada Sangwoo. Aku hanya bisa mengerutkan kening melihat tingkah mereka berdua. Apa maksudnya? Kenapa mereka meninggalkanku sendirian disini?

“Lebih baik aku pergi menemuinya saja,” gumamku seraya mengambil kunci mobilku dalam saku jas.

===========================

Sudah dua minggu aku mengenalnya. Sejak saat itu aku sering bertemu dengannya. Tepatnya, aku yang menemuinya. Aku sendiri tak mengerti kenapa aku terus-terusan ingin bertemu dengannya, sampai aku bingung saat dia menanyakan maksudku menemuinya. Ya Tuhan, aku benar-benar sudah gila.

“Hyorin-ssi, apakah kau ada acara besok?”

“Ehm, sepertinya tidak ada Jongwoon-ssi. Wae?”

“Ani, aku hanya ingin mengajakmu makan malam. Besok ku jemput setelah pekerjaanku selesai. Jadi, tunggu aku ya,” kataku sambil tersenyum.

“Ne,” jawabnya sambil membalas senyumanku. Dia selalu menjawab pertanyaanku seadanya. Kenapa dia sangat cuek kepadaku? Apakah dia bersikap sama kepada namja lain?

“Baiklah, aku pergi dulu, sampai ketemu besok. Annyeong,” kataku sambil melambaikan tangan. Dia hanya membalas dengan senyumannya sambil membungkukkan badan.

Perlahan aku melajukan mobilku meninggalkan Chocolate Bakery tempatnya bekerja. Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar, merebahkan diri dikasurku yang empuk sambil membayangkan apa yang akan terjadi besok. Tersadar dari lamunanku, aku memukul kepalaku sendiri. Kenapa aku jadi seperti orang gila? Tersenyum tanpa alasan yang jelas. Benar-benar aneh.

===========================

Aku melirik jam tanganku, “Sudah jam berapa ini? Ah, sial. Kenapa rapat ini lama sekali. Hyorin pasti marah denganku. Pasti dia sudah pergi sekarang,” gumamku.

Selama rapat berlangsung, aku tidak dapat konsentrasi. Entah apa yang dibahas pada rapat kali ini. Yang kupikirkan hanyalah rapat ini segera berakhir, dan aku segera menemuinya. Aku sudah telambat dua jam. Diluar hujan sedang turun dengan derasnya. Dengan keadaan yang seperti ini, mustahil dia masih menungguku. Pasti dia sudah pulang. Bodohnya, aku tak memiliki nomor ponselnya. Bagaimana aku bisa menghubunginya?

Dengan ragu aku melajukan mobilku ke tempatnya bekerja. Tak peduli ada atau tidak dia disana, setidaknya itu membuatku tenang. Sesampainya aku ditempat itu, aku melihat seseorang sedang duduk di bangku yang terletak disamping toko. Itu Hyorin? Kenapa dia masih disini?

“Hyorin-ssi, kau belum pulang? Maaf, aku terlambat. Tadi ada rapat mendadak,”  kataku sembari duduk disampingnya.

“Gwenchanayo, bukankah kau kemarin bilang bahwa kau akan menjemputku?”, jawabnya sambil tersenyum. Dengan keadaan seperti ini, dia masih bisa tersenyum padaku?

“Ne, tapi bukankah kau bisa pulang duluan dan tak menungguku disini? Bahkan kau tak memakai jaket. Kau pasti kedinginan,” kataku sambil mengenakan jasku padanya. “Kau babo sekali Hyorin-ssi. Bagaimana jika aku tak datang kesini? Apa kau akan tetap menungguku dan membiarkan tubuhmu menggigil seperti ini? Kau terlihat sangat pucat,” kataku yang menghawatirkannya.

“Aku percaya padamu Jongwoon-ssi. Makanya, aku menunggumu disini.”

Aku hanya bisa tersenyum mendengar jawabannya, “Gomawo,” jawabku singkat. Dia ikut tersenyum.

“Baiklah, kita pergi sekarang?” tanyaku dan dijawab oleh anggukannya.

Saat aku berdiri dan hendak melangkah, aku merasa tanganku tertahan. Aku menoleh, ternyata tangan kanan Hyorin memegang lenganku, sedang tangan kirinya memegang kepalanya.

“Gwenchanayo Hyorin-ssi?” tanyaku, namun tak mendapat jawaban darinya. Tiba-tiba dia ambruk. Beruntung, aku sigap menangkapnya, sehingga dia tak sampai jatuh. Apa yang harus kulakukan? Aku bahkan tak tau dimana rumahnya. Haruskah kubawa dia kerumahku?

===========================

Perlahan ku angkat tubuhnya keluar dari mobil menuju kamarku. Suhu badannya tinggi sekali. Kurasa dia demam. Setelah kurebahkan Hyorin di kasurku, aku menyelimutinya dan mengompresnya. Aku merasa bersalah, karena aku dia jadi seperti ini. Sekilas kulihat wajahnya, “Benar-benar gadis yang polos,” gumamku. Tunggu!! Kenapa tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat saat ku lihat wajahnya? Apa yang harus kulakukan?

Kuberanikan diri untuk menyentuh wajahnya. Saat tanganku hendak bersentuhan dengan kulit wajahnya, tanganku terhenti sejenak. Sedetik kemudian, tanganku bergerak kembali. Kubelai pipinya, lembut sekali. Namun kulitnya terasa sangat panas. Kuraih tangannya yang dingin dan kuhangatkan dengan tanganku. Bajunya basah, sepertinya terkena butiran-butiran air hujan saat menungguku tadi. Kalau aku membiarkannya dengan pakaian seperti ini, demamnya bisa bertambah parah. Otthokae?

===========================

Paginya, aku membuatkan bubur untuknya. Aku tak tau lagi apa yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku kemarin yang telah membuatnya menungguku saat hujan lebat. Setelah bubur matang, aku melihat kondisi Hyorin. Suhu badannya sudah normal. Sebaiknya dia segera mengisi perutnya, tapi dia sedang tidur dan aku tak tega untuk membangunkannya. Baiklah, akan kutunggu sampai dia bangun. Kemudian aku beranjak menuju sofa yang ada dikamarku sambil bermain dengan kura-kura yang dulu kubeli.

Beberapa saat kemudian, kulihat Hyorin terbangun. Dia menggeliat sebentar dan langsung duduk. Dia melihat sekeliling dan menemukanku duduk di sofa sambil tersenyum melihat kearahnya. Seketika dia berteriak dan menarik selimut sampai dibawah dagu.

“Jongwoon-ssi, kenapa aku ada disini? Apa yang kau lakukan padaku?” tanya Hyorin. Belum sempat aku menjawab, dia berteriak lagi. “Kenapa aku bisa memakai baju ini? Baju siapa ini? Dimana bajuku?” tanyanya bertubi-tubi. Dia kelihatan seperti orang yang bingung dan takut.

“Mianhae Hyorin-ssi…”

===========================

TBC~

Masih anehkah ceritanya?

Seperti biasa, tolong meninggalkan jejak pada FFku yang aneh ini… Boleh berupa kritik atau saran. Karena itu sangat berharga bagi author… J

Khamsahamnida^^

~ Vie ~

14 thoughts on “Love Taster ~Part 2 (FanFic by Arvie)

  1. Masih aja shock kalau mengingat sifat uri Jongwoon disini yang jadi flamboyan banget…..>,<

    Oh jadi karena Hyorin uri Jongwoon beli itu kura-kura….bener-bener deh dia udah bingung gimana caranya ngabisin uang hahahahahahahaha

    Kayaknya Hyorin kok ‘gampangan’ yah di part ini, padahal di part 1 kemaren Hyorin keliatan cuek gitu dan kayak yg ngga peduli sama Jongwoon hehehehehehehe mana sampe rela nungguin ujan-ujan gitu….*mian*

    Itu siapa yang ngegantiin bajunya Hyorin??? Jangan bilang uri Jongwoon….hwa Andwe…..>,<

    Ya deh Vie, aku tidak akan mengeluarkan kata-kata yang paling membuat author sedikit gelagapan deh disini….take your time yah author hehehehehe *baik kan aq* :p

    • iya kah onn, Hyorin keliatan begitu?
      mian yaa kesannya jd gitu, sebenernya ga gitu lho😀

      yg gantiin bajunya Hyorin?
      nanti di part selanjutnya ada kok.. jadi, tungguin aja yaaa *promosi*
      wkwkwk

      oke deh, nana onnie yg baik hati, part selanjutnya kaya’nya agak lama, coz q lagi sibuk nyiapin buat praktik.. hehe

  2. Klo part 1 alurx msh mulus2 aja,, yg part 2 dh mulai bkn penasaran.. Lg asyik d baca, eh malah udh selesai..
    Part 3 d tunggu scpatx.. Hwaiting.!!

  3. 2 kata : Makin Seru… !!!

    Btw,, koq aku jadi ngiler yaa pas bayangin kue-kue yang ada di Chocolate Bakery,, kkkk XDD

    TBC di saat lagi penasaran-penasarannya…
    lanjutannya ditunggu… SMANGAT..!!!🙂

  4. mungkin karena cuma dr sudut pandang Jongwoon kali yah,n bukan dr sudut panjang Hyorin,jd ngasih kesan Hyorin yg awalnya cuek tiba2 berubah drastis.
    hehe

    omo,siapa yg ngegantiin pakaiannya Hyorin?gak bisa ngebayangin. huah..

    keep writing,ditunggu kelanjutannya! ^^

    • iya onn, karena cm dr 1 sudut pandang, jdinya persepsinya macem2..
      tp dr awal niatnya emg pake 1 sudut pandang aja.. hehe
      oke, makasih, lanjutannya diusahakan secepatnya😀

  5. akhirnya baca juga nih FF…. mian baru bisa baca sekarang…

    hahhh *ngurut2 dada*

    paham2 yang di lakuin hyorin nunggu jongwoon, ini bukan berubah dari cuek jadi manja tapi karena sudah janji. dan janji harus di tepati… >> sok tau bgt ya aye…. tapii bnr kan janji kudu di tepati….. kekekekekeke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s